
Tidak pernah ada dalam bayangan Mentari ia akan kembali berciuman dengan Zio. Ia juga merutuki dirinya yang entah kerasukan setan apa sehingga berbuat nekat membalas ciuman Zio. Yakin, setelah ini ia tidak akan lagi bisa menatap Zio setelah aksi nekatnya tadi.
Tapi ... Zio pun sama. Bagaimana bisa CEO merangkap mantan kekasih itu menciumnya secara tiba-tiba. Zio juga menipunya dengan memintanya masuk ke dalam ruangannya dengan alasan ada pekerjaan penting padahal yang terjadi Zio justru berniat mesum dengannya.
"Sudah lah! Sebaiknya gue menyelesaikan pekerjaan ini terus ketemuan sama Juan. Kalau bisa kita nggak usah makan siang di kantin perusahaan. Gue lagi nggak mood banget hari ini. Kenapa sih, semenjak masuk di perusahaan Zio gue terus aja kesal. Apa gue resign aja kali ya? Belum lagi ada pria gila itu disini. Entah dia muncul darimana sampai nyasar di kantor ini. Gue benar-benar sial!"
Mentari menarik napas dalam-dalam kemudian ia keluarkan secara perlahan dan itu ia lakukan beberapa kali. Teknik ini selalu ia lakukan ketika ia harus bekerja sedangkan mood-nya kurang baik. Baginya, walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja semua itu tidak boleh berimbas pada pekerjaannya. Mentari adalah salah satu pekerja yang memang profesional. Ia tidak pernah mencampuradukkan masalah pribadi kedalam pekerjaannya.
Sedangkan di dalam ruangannya, Zio sedang duduk melamun sambil mengingat aksinya yang mengerjai Mentari tadi. Niat membuat Mentari terkena syok terapi dengan ia mencium Mentari kini justru dirinya lah yang mendapatkan syok terapi itu. Tapi ... Zio tentu saja senang karena selain ia berhasil mencium bibir Mentari yang sejak kemarin ia inginkan kini tersampaikan juga bahkan Mentari memberinya ciuman. Sungguh sebuah bonus Tuhan yang menyenangkan bagi Zio.
Bibir Zio terus tersenyum mengingat kejadian tadi. Entah mengapa ia menjadi ingin mengulangnya lagi tetapi ia yakin itu adalah hal yang sangat sulit. Mentari pasti akan lebih berhati-hati dengannya setelah kehadiran tadi.
"Mentari, lu adalah satu-satunya cewek gue yang lepas tanpa gue kungkungin. Lu hebat ya bikin gue main hati sampai gue nggak sampai hati buat nyentuh lu lebih. Kok dulu bisa gitu ya? Mentari, magic apa sih dalam diri lu?"
Zio tersenyum lucu kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya sebelum jam makan siang.
Di luar, Mentari yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sedikit terkejut karena mejanya diketuk oleh seseorang. Mentari awalnya melihat jari-jari di atas meja yang begitu putih dan kuku panjang terawat.
Ini nggak mungkin setan, 'kan?
Mentari menoleh kesamping, ternyata di sebelahnya ada wanita cantik dan terlihat elegan. Pakaiannya sedikit lebih tertutup dibandingkan Bella kemarin. Wajahnya saja lebih cantik dari Bella dan entah kenapa Mentari merasa wanita ini lebih ramah dari Bella.
__ADS_1
Mentari yakin jika wanita ini adalah kekasih Zio karena tidak ada karyawan lain yang akan datang ke lantai ini jika tidak memiliki kepentingan begitupun dengan tamu, hari ini Zio hanya punya dua meeting dan yang satunya sudah selesai bersama pak Santoso tadi.
Wanita cantik dengan rambut diikat satu dan sedikit lebih tinggi dengan leher putih jenjang itu tengah tersenyum pada Mentari. Dengan rasa canggung Mentari membalas senyuman tersebut.
"Anda siapa ya? Mohon maaf, Anda ada urusan apa?" tanya Mentari.
Wanita cantik itu tersenyum lagi kemudian ia berkata, "Aku ingin bertemu dengan Zio, katakan saja aku Helena. Dia pasti tahu," jawabnya dengan ramah.
Mentari seolah meleleh melihat wanita cantik ini. Jika saja ia pria maka ia sudah pasti akan mendekatinya. Zio memag tidak kaleng-kaleng dalam memilih pasangan. Sedikit rasa iri karena Mentari tidak secantik wanita di hadapannya ini.
"Tunggu sebentar ya, pak Zio berpesan kepada saya jika ada seseorang yang mencarinya harus menginformasikan dulu kepadanya.
Zio dengan cepat menjawab panggilan tersebut. Namun ucapan selanjutnya membuat Zio terdiam dan entah mengapa ia tidak senang dengan kedatangan Helena.
Atau ... bisa saja Zio memanfaatkan keduanya Helena untuk mengerjai Mentari. Bella dan Helena memiliki karakter yang berbeda. Jika Bella suka semaunya dan selalu tampil seksi maka semua itu berbanding dengan Helena yang cantik dan ramah serta lumayan pintar walau ujung-ujungnya tetap sama mencari uang tambahan dengan menjadi gundik Zio.
Mentari menatap Helena kemudian ia memintanya untuk masuk ke dalam ruangan Zio.
Setelah memastikan Helena sudah masuk dan tidak ada siapapun lagi di luar selain dirinya, Mentari bertekad untuk segera menyelesaikan laporan kerjanya sebelum jadwal makan siang.
"Gila, ini benar-benar gila. Kemarin Bella dan sekarang Helena. Besok siapa lagi? "
__ADS_1
Mentari tak habis pikir, Zio yang sudah menjadi pemimpin perusahaan masih saja suka bergonta ganti pasangan. Mentari kembali melanjutkan pekerjaannya daripada membahas keburukan seseorang dengan bermonolog saja.
Di dalam ruangan Zio, Helena langsung di pangkuan Zio yang sedang bekerja. Zio menjadi tertawa melihat aksi Helena yang langsung mencium bibirnya dengan cepat. Jika biasanya Zio akan langsung terangsang hanya dengan sentuhan kecil,apa kali ini ia merasa biasa-biasa saja terdapat sosok Helena.
"Aku masih sibuk Lena. Bagiamana kalau kamu minta sekretaris di depan untuk membawakan kamu makanan dan minuman?" usul Zio, ia kali ini beralasan yang sama dengan ketika kemarin Bella datang, ia akan membuat Mentari kepanasan.
Sejurus kemudian, ia menggelengkan kepalanya. Zio juga tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali dan Mentari justru bertemu dengan Juan.
Helena menggeleng, "No Zio. Aku tidak haus atau lapar. Tetapi jika aku diminta untuk memakanmu maka aku akan senang hati," ujar Helena dengan bersemangat.
Zio terkekeh, Helena memang selalu saja begitu. Wanita ini selalu candu dengan sentuhan Zio namun karena ia juga sibuk sebagai seorang pengusaha di bidang fashion, keduanya jarang bertemu. Sekali ya bertemu maka mereka akan menghabiskan waktu berdua di dalam apartemen Zio maupun milik Helena.
"Kau ini. Sabar dong honey, aku masih sibuk. Bagaimana kalau nanti malam saja?" tolak Zio halus, yang sebenarnya ia sedang galau karena sejak berciuman dengan Mentari tadi selerah bercinta Zio menjadi berkurang.
Helena mengerucutkan bibirnya tanda ia tidak terima dengan keputusan Zio tetapi ia bisa apa. Zio kadang saat ia menolak maka tidak akan ada yang berani membujuknya atau memaksakan kehendak terhadapnya. Seluruh wanita kencan Zio pasti tahu jika Zio tidak bisa dibantah, keras kepala dan mendominasi juga angkuh.
"Helena, bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama diluar?" tanya Zio namun seringai di sajaknya tidak terlihat Helena.
Helena langsung mengangguk, "Baiklah, aku duduk di sofa dulu kau bekerjalah," ucap Helena memilih mengalah.
Gue bakalan bawa Mentari untuk makan siang. Biar dia nggak usah ketemu sama Juan. Gue juga mau lihat bagaimana reaksinya jika dia marah berarti dia masih cinta padaku.
__ADS_1