CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~95


__ADS_3

Wajah Harun Vindex langsung terlihat buruk ketika melihat anaknya yang baru saja ia banggakan itu justru saat ini datang dengan keadaan mabuk dan juga didampingi oleh seorang wanita. Belum lagi tatapan tak suka dari kakek Rasyid dan juga Zio, habis sudah harga diri seorang Harun Vindex di depan sahabatnya ini.


"Hei Angel, sebaiknya kau pulang dulu. Pekerjaanmu sudah selesai, bukan?" tegur Damian.


Dengan cepat wanita yang dipanggil Angel itu pun pergi, ia tidak ingin merusak suasana apalagi ia tahu bagaimana perangai tuan Harun Vindex. Padahal selama ini Angel selalu membantu Damian pulang ke rumah setelah mabuk-mabukan, tetapi justru ia yang lagi dan lagi kena getahnya.


Dari pada gue kena semprot si tua bangka, lebih baik gue cabut dari sini. Eh tapi tuh cowok ganteng siapa ya? Kayak pernah lihat, tapi dimana? Ganteng banget lagi!


Angel sempat melirik Zio, namun ketika Zio menatap tajam padanya, wanita itu pun langsung pergi. Zio tertawa dalam hati, sangat lucu rasanya ketika bertemu dengan wanita seperti Angel tersebut. Dan ia juga sangat senang karena ia bisa langsung membuktikan pada kakeknya seperti apa seorang Damian Vindex yang digadang-gadang akan menjadi ayah mertuanya tersebut.


"Apakah dia kekasihmu, Damian?" tanya kakek Rasyid.


Dengan cepat Damian mengibaskan tangannya. "Dia hanya kebetulan saja bertemu dan dia membutuhkan bantuanku, jadi aku sedikit membantu masalahnya," jawab Damian.


Kakek Rasyid tersenyum tipis namun dalam hati ia ingin sekali mengumpati Damian. Siapapun yang melihat Damian bersama wanita tadi, sangat jelas sekali jika wanita itu hanyalah seorang wanita panggilan dan sudah pasti Damian dan wanita itu melakukan transaksi kelenjar dan keringat.


"Jadi, bagaimana kakek Harun? Bisa dijawab pertanyaan saya tadi?" tanya Zio yang sudah tidak sabar ingin segera pergi dari sini. Ia sudah merindukan istrinya.

__ADS_1


Zio melirik jam tangannya dan kurang dari dua jam lagi Mentari akan selesai bekerja dan mereka sudah janjian untuk menjemputnya. Zio tidak boleh telat menjemput istrinya tersebut, ia khawatir jika terlambat sedikit saja maka Mentari tidak akan memberikannya bonus seperti tadi pagi.


Nampak wajah Harun Vindex yang tadinya terlihat masam sekarang justru terlihat ketakutan. Zio menyeringai, sepertinya ini akan sangat mudah karena rencananya untuk menyuntikkan dana pasti akan diterima oleh keluarga Vindex mengingat mereka memang sangat membutuhkannya.


"Sebenarnya memang akhir-akhir ini perusahaan mengalami banyak masalah tetapi kami sudah mulai menyelesaikannya satu per satu. Dan mengenai para karyawan yang dipecat itu, sebenarnya mereka adalah sumber dari masalah yang tengah kami hadapi. Mereka mencoba membelot dan ada beberapa yang mencoba melakukan korupsi dan ada juga yang mencoba membocorkan rahasia perusahaan kepada saingan kami," jawab Harun Vindex dengan suara terbata-bata akan tetapi ia masih mampu menyelesikan sandiwaranya dengan baik.


Zio mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menatap kakeknya dan sang kakek hanya tersenyum tipis sebagai tanda bahwa ia menyerahkan semuanya dibawah kendali Zio. Ia yakin cucunya ini pasti bisa mengendalikan semuanya dan bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.


"Oh begitu ... saya pikir kakek sedang mengalami masalah yang sangat sulit karena itu tujuan saya datang bersama kakek untuk memberikan suntikan dana pada perusahaan kalian. Kakek saya tadi begitu terpukul mendengar kabar tersebut sehingga beliau meminta saya untuk segera datang dan memberikan bantuan pada kalian," ucap Zio lagi, ia harus pandai memainkan drama agar keluarga Vindex mau menerima tawaran mereka tersebut.


Kakek Harun nampak diam begitupun dengan Damian. sepertinya dua orang ini sedang mempertimbangkan ucapan Zio tersebut. Mereka memang sangat membutuhkan bantuan untuk kelangsungan perusahaan mereka dan membayar banyaknya hutang, akan tetapi itu bukan rencana yang sudah mereka susun.


"Tapi aku tidak merasa direpotkan, Harun. Bukankah dulu kau juga pernah membantuku saat perusahaanku hampir bangkrut, lalu apa salahnya jika gantian aku yang menolongmu?" ucap kakek Rasyid, ia harus keukeuh untuk bisa membantu sahabatnya itu.


Selain karena kakek Rasyid memiliki hutang budi kepada Harun Vindex, ia juga ingin melepas cucunya dari bayang-bayang perjodohan bersama keluarga ini. Akan sangat merugikan Zio jika nanti Dini sampai menikah dengan cucunya nanti.


"Saya rasa itu memamg perlu, Yah. Lagi pula perusahaan itu sepertinya akan lebih baik kita menerima bantuan berupa suntikan dana agar keuangan perusahaan bisa stabil kembali. Lagipula Nak Zio 'kan sebentar lagi akan menikah dengan Dini, maka menurut saya Zio memang sangat wajar membantu kami. sebagai calon menantu yang baik, sudah sewajarnya ketika mertuanya dan keluarga calon istrinya ia bantu. Bukan begitu Nak Zio?" ucap Damian dan Zio hanya mengangguk dengan bibirnya tersenyum tipis.

__ADS_1


Oh Tuhan ... Damian bisa merusak semua rencana dan bisa saja dia membocorkan semua rencana ini karena saat ini dia sedang mabuk. haruskah aku memintanya untuk pergi dulu dari sini? Sangat memalukan!


Kakek Harun rasanya ingin menjahit mulut anaknya tersebut, ia hanya bisa menggerutu saat ini di dalam hatinya. Damian memang akan selalu berkata sembarangan dan lebih pada menceritakan isi hati dan pikirannya ketika ia sedang mabuk dan hal itulah yang di khawatirkan olehnya jika saja Damian akan bila suara soal rencana mereka dan perjodohan tersebut.


"Oh itu memang sangat benar, Paman. Jangan sungkan-sungkan padaku," ucap Zio sembari tersenyum penuh makna.


Zio tahu jika Damian adalah sosok dari hancurnya perusahaan tersebut, maka akan lebih mudah lagi bagi Zio untuk membujuk Damian.


"Saya juga punya satu syarat, jika paman mau saya bisa memberikan suntikan dana cuma-cuma dan bahkan bisa membantu perusahaan menjadi maju lagi. Tetapi semua itu tidak gratis," ucap Zio yang baru akan mulai ke inti pembicaraan.


Mendengar uang yang akan Zio berikan itu cukup banyak, tuan Damian langsung tergiur dan dengan tawaran Zio tersebut. Dengan cepat ia mengatakan pada Zio bahwa ia siap menerima apapun syaratnya.


"Baiklah, Nak. Lalu apa syarat yang ingin kau sudah siapkan?" tanya Damian yang seakan ia tidak peduli jika sejak tadi tuan Harun Vindex terusa saja mengode jika Damian tidak boleh menerima tawaran tersebut.


Namun, Damian yang sudah menghayal berapa banyak uang yang akan datang di genggamannya tersebut membuatnya lupa dengan rencana awal mereka.


"Baik, saya akan memberikan suntikan dana dan juga uang tunai yang banyak asalkan perjodohan saya dan Dini dibatalkan. Bagaimana, apakah bisa?"

__ADS_1


Damian lansung tersedak ludahnya sendiri, sedangkan kakek Harun nampak sangat kecewa pada ucapan anaknya tersebut. Rencana yang sudah mereka susun menjadi berantakan karena ulah Damian.


"Tidak bisa! Lu nggak boleh batalin perjodohan ini karena sekarang gue sedang hamil!" teriak Dini yang baru saja menuruni anak tangga.


__ADS_2