CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~26


__ADS_3

Melihat Mentari dan Fardan terlihat begitu akrab membuat Zio menerapkan siaga satu. Ia tentu saja tidak mau jika Mentari menjalin hubungan dengan pria ini. Sebisa mungkin Zio mencegah keduanya berbincang tentang hubungan asmara.


Zio terlalu cemas hingga ia tidak sadar jika sebenarnya Mentari saat ini tidak sedang memikirkan ke arah sana. Papanya baru saja meninggal dan mayatnya masih berada di rumah, sangat durhaka sekali untuk Mentari jika ia memikirkan percintaan dalam suasana duka.


"Mentari sebaiknya kamu masuk, sangat tidak baik jika kamu berada di luar. Lebih baik kamu temani saja Tante Maya di dalam ya," ujar Zio.


Enak saja dia berbicara aku kamu dengan Mentari, gue juga bisa. Walau terdengar aneh!


Mentari yang mendengar Zio berbicara seperti itu sedikit menaruh rasa heran. Biasanya jika sudah seperti itu pertanda Zio sedang tidak senang dan Mentari sangat hafal sebab selama pacaran dengan Zio, Mentari sudah mempelajari sikap Zio. Tetapi Mentari hanya heran saja, apa yang membuat Zio merasa tidak senang.


"Ah ya, baiklah. Fardan, kamu mau ikut masuk lihat papa atau disini saja? Sekalian biar aku ambilkan minuman," ucap Mentari yang lebih tertarik berbicara pada Fardan.


"Nggak usah. Benar kata atasan kamu ini, sebaiknya kamu masuk karena Tante Maya pasti membutuhkan kamu di sampingnya," jawab Fardan.


Atasan? Gue diperkenalkan Mentari sama mantannya ini sebagai atasan? Wah, lu hebat Tari. Kenapa nggak sekalian lu bilang ke dia kalau gue ini tamu tak diundang! Harusnya lu bilang gue ini mantan lu!


Raut wajah kesal Zio tentu saja diperhatikan oleh Mentari dan Fardan. Tetapi karena mereka tidak paham dengan apa yang terjadi pada Zio saat ini, Mentari malah memilih untuk masuk ke dalam rumah.


Saat ini suasana canggung dan tegang terjadi antara Zio dan Fardan, dua mantan kekasih yang memiliki kesan masing-masing di hati Mentari ini sedang bertatapan sengit. Oh-oh lebih tempatnya Zio yang menatap sengit ke arah Fardhan.


"Halo, perkenalkan saya Fardan. Anda atasannya Mentari ya," ujar Fardan seraya mengulurkan tangannya.


Zio melirik tangan Fardan yang terulur tersebut kemudian ia menyambutnya. "Saya Zio, atasan sekaligus kekasih Mentari dan sebentar lagi akan menjadi suaminya."


Zio dan Fardan sama-sama tertohok mendengar ucapan tersebut. Zio hanya tidak menyangka saja bagaimana bisa ia dengan selancar itu mengatakan jika dirinya adalah calon suami Mentari, sedangkan mereka saja belum ada kesepakatan untuk kembali menjalin hubungan asmara dan bahkan hubungan mereka cukup renggang.


Apa-apaan mulut gue ini, kenapa sembarang berucap. Kalau saja ada Mentari di sini, pasti gue bakalan kena semprot.


Fardan yang seorang dokter kini memahami maksud dari tatapan Zio dari tadi padanya. Ia tahu jika pria ini sedari tadi menahan rasa cemburu dan kesal melihat kedekatannya dengan Mentari. Wajar saja karena dia adalah calon suami Mentari.

__ADS_1


"Oh jadi Anda kekasih Mentari yang bernama Ezio itu. Biar saya tebak Anda pasti Dimas Ezio Rasyid, 'kan? Kekasih Mentari sejak kuliah dulu," tebak Fardan sambil tersenyum menatap Zio.


Zio tentu saja terkejut karena Fardan mengetahui tentang dirinya dan juga Mentari. Bahkan nama lengkapnya juga – kapan ia dan Mentari menjalin hubungan asmara. Kini perasaannya terbagi dua antara merasa jumawa karena Mentari menceritakan tentang dirinya pada mantan kekasihnya atau merasa was-was jika saja Mentari menceritakan tentang keburukan dirinya pada mantannya ini.


Zio harus memilih mengambil sikap seperti apa agar tidak membuat dirinya kalah dari Fardan.


"Kok Anda bisa tahu saya? Apa kita pernah berkenalan sebelumnya?" tanya Zio penasaran dan juga pertanyaannya itu adalah sebuah bentuk pertanyaan diplomatis – ia ingin mencari aman saja.


Fardan tertawa, "Tentu saja tidak, karena saya selama kuliah berada di luar negeri untuk mengambil spesialis saya. Sedangkan Mentari kuliah di kota ini saja. Dulu saya dan dia sering berbagi kabar dan dia menceritakan tentang kekasihnya yang bernama Dimas Ezio Rasyid dan dia selalu menyebutnya dengan kata Zio," cerita Fardan dan Zio merasa sedikit kesal karena pria itu terus saja tersenyum padahal sedang membicarakan dirinya.


"Oh jadi dia juga menceritakan tentang saya ya," ucap Zio.


Apakah dia sedang tersenyum karena mengejek?


Apakah dia tahu seperti apa sepak terjang Zio selama ini?


Ada berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya yang membuat Zio menjadi tidak tenang sendiri karena terus mendoktrin dirinya dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu.


"Hmm … dia hanya mengatakan bahwa dia sudah menemukan pengganti saya setelah kami putus karena tidak bisa long distance relationship. Namun walaupun begitu kami masih sering berbagi kabar dan menjadi sahabat yang baik. Dia suka cerita tentang kamu yang begitu menyayanginya. Wajar saja sih jika kalian sampai saat ini masih bersama dan akan melenggang ke pernikahan, dia sangat mencintai anda dan anda juga begitu selamat ya."


Jawaban Fardan tadi baru saja menohok hati Zio. Ternyata selama ini Mentari tidak pernah menceritakan keburukannya pada siapapun termasuk orang tuanya. Bagaimana dia bisa tahu jika Maya tidak tahu tentang kebusukannya, itu karena sedari tadi sedari di rumah sakit, tidak pernah sekalipun Tante Maya menegurnya atau memarahinya karena telah membuat putrinya menangis.


Ia semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Mentari pada orang tuanya atau orang-orang terdekatnya ketika mereka putus.


Bolehkah saat ini gue merasa jumawa karena Mentari tetap melindungi privasi gue selama kita pacaran sampai kita putus? Kokogue mendadak jadi deg-degan sendiri saat membayangkan wajah Mentari


"Oh ya? Berarti selama kami pacaran, kalian sering berhubungan diam-diam dong!" ucap Zio sarkas padahal ia hanya bermaksud untuk bercanda saja.


Fardan kembali tertawa. "Ya, kami memang sering berhubungan diam-diam tetapi kami tidak menjalin hubungan asmara lagi. Dia begitu setia kepada anda dan saya juga sudah punya kekasih saya yang lain. Jadi hubungan kami hanya sebatas teman baik saja. Tenang, Mentari itu sangat setia dan Anda beruntung mendapatkannya." Jawaban Zio semakin membuat Zio tertohok.

__ADS_1


Nih orang lagi muji Tari, hubungan kami atau lagi nyindir gue sih? Kok ngena banget sih? Telak malah!


Akhirnya Zio hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sudah tidak tahu ingin berbicara apalagi karena ia tidak menemukan sesuatu yang perlu ia khawatirkan dari Fardan. Apalagi pria ini berkata jika dia sudah memiliki kekasih yang lain, tentu saja Zio berada di jalur yang aman.


"Waktu itu kami pacaran sejak SMA, sebenarnya saya sudah naksir dia sejak SMP tetapi kami jadiannya nanti kenaikan kelas 2 SMA. Hubungan kami berjalan dengan baik sampai pada saat orang tua saya meminta saya untuk kuliah kedokteran di luar negeri, akhirnya saya memilih untuk meninggalkan Mentari di negara ini dan melanjutkan studi di sana. Awalnya hubungan kami berjalan dengan baik, sampai beberapa bulan komunikasi kami menurun bahkan tak jarang kami tidak berkomunikasi hingga sebulan lamanya. Saya tidak ingin mengekang Mentari pada saat itu, sehingga saya meminta putus darinya, karena saya tahu masih ada banyak pria yang ingin menyayanginya di tempat ini dan memperhatikannya dan saya tidak bisa mewujudkan hal itu.


"Sejujurnya saya tidak rela putus dengan dia saat itu, hanya saja mata kuliah yang cukup berat dan juga kesibukan saya membuat saya harus memilih antara Mentari dan kuliah saya. Saya bukan merasa Mentari adalah beban untuk saya, tapi saya merasa diri sayalah yang menjadi beban untuknya. Saya tidak ingin dia kepikiran dengan saya yang jarang memberi kabar. Mungkin saja Mentari juga butuh sosok yang bisa menjaga dan melindunginya serta mencurahkan perhatian kepadanya dan itu tidak bisa saya wujudkan sehingga saya memilih membebaskan dia.


"Untung saja dia bertemu dengan Anda dan ketika dia mengatakan kepada saya bahwa dia memiliki kekasih yang sangat tampan, penyayang, perhatian dan sangat menjaganya, tentu saja saya turut berbahagia walaupun sejujurnya hati saya sangat hancur. Sampai detik ini saya pun masih menyimpan rasa untuk Mentari dan berharap bisa kembali dengannya. Apalagi dulu saya tidak sengaja mendengar tante Maya mengatakan bahwa Mentari sudah putus dengan pacarnya, tetapi itu hanya rumor saja. Buktinya kalian berdua masih langgeng sampai saat ini berarti harapan saya pupus ya."


Tanpa Zio menanyakannya, dengan senang hati Fardan menceritakan hubungannya dengan Mentari pada masa itu. Terbesit rasa cemburu di hati Zio, ternyata pria yang bersamanya ini masih menyimpan rasa pada Mentari, sama seperti dirinya. Ia harus memasang siaga satu lagi, jangan sampai Mentari justru berbelok pada pria ini.


"Hahaha … maaf ya saya jadi menceritakan kisah saya dengan Mentari. Karena saya sebenarnya ingin kembali menjalin hubungan dengan dia, tetapi saya tidak menyangka jika dia memiliki kekasih dan itu adalah Anda. Hubungan kalian sungguh awet ya. Saya turut bahagia dan juga merasa kecewa karena ternyata harapan saya tinggal kenangan saja."


Dan andaikan saja Fardan tahu jika ia dan Mentari sama sekali tidak memiliki hubungan apapun saat ini, pasti pria ini akan langsung bergerak cepat untuk mendapatkan hati Mentari. Satu kesyukuran bagi Zio, ia sudah mengatakan jika dirinya adalah calon suami Mentari sehingga pria ini mengurungkan niatnya untuk mengambil Mentari dari sisinya.


Mentari-Mentari … magic apa sih yang ada dalam diri lu? Nggak Juan, Oliver, dan kini Fardan. Semua pingin dapetin lu sedangkan gue yang dulu pernah miliki lu malah nyia-nyiain lu gitu aja. Kokgue mendadak nyesel ya Tari? Kira-kira kita bisa balikan lagi nggak ya? Soalnya gue ngerasa sesak setiap kali lihat orang suka sama lu.


Tak lama berselang, Mentari keluar lagi dengan membawakan Fardan minuman. Walaupun pria itu menolak, nyatanya Mentari sebagai tuan rumah tetap menghargai kedatangan tamunya walaupun hanya dengan memberikan secangkir kopi.


"Kenapa repot-repot sih Tari. Aku 'kan bilang tadi nggak usah," ucap Fardan ketika ia menerima secangkir kopi dari Mentari.


Mentari tersenyum, "Ya nggak masalah, cuma kopi doang kok."


"Oh ya, jadi kapan kalian bakalan nikah? Wah, gue seneng banget ternyata kau dan Zio sampai saat ini masih menjalin hubungan dan bahkan kalian akan menikah. Sayang sekali ya papa kamu tidak sempat menyaksikan pernikahan kalian nanti."


"Menikah? Menikah dengan siapa?" tanya Mentari kaget.


Dan kini Zio rasanya ingin menyembunyikan kepalanya di dalam lubang semut atau menarik Mentari agar menjauh dari Fardan atau mengusir Fardan dari sini agar ia tidak ketahuan berbohong.

__ADS_1


__ADS_2