CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~34


__ADS_3

hari berganti hari, tak terasa sudah 3 hari pasca kematian papanya dan kini Mentari sudah bersiap untuk kembali masuk kerja. selamat 3 hari itu juga ia tidak bertemu dengan ziolifer maupun Juan karena Zio sendiri memiliki pekerjaan penting di luar kota sedangkan oleh pria tidak tahu di mana keberadaan pria telah itu dan jiwa sesekali saling berkirim pesan dengannya.


jika mentari terus berada di rumah maka ia akan terus terpuruk dan sedih mengenang kepergian papanya. tak jarang ya melihat mamanya menangis sembunyi-sembunyi karena teringat belahan jiwanya yang telah pergi lebih dulu meninggalkannya di dunia ini jika mentari terus bersedih, tidak akan ada yang akan menguatkan mamanya sehingga ia memilih menjadi sosok yang lebih tegar agar ada yang bisa menghibur sang mama.


selesai sarapan bersama mentari pun segera berpamitan dengan mamanya dan ia memacu motornya agar lebih cepat sampai ke kantor. iya yang sudah mengabari Juan jika hari ini ia kembali masuk kerja, di lobi perusahaan Juan sudah menunggunya. keduanya berjalan bersama masuk ke dalam lift sambil mengobrol dan menanyakan kabar masing-masing kemudian mereka berpisah karena Juan bekerja di lantai yang berbeda dengan Mentari.


Mentari menyapa Ramon yang sudah lebih dulu ada di ruangannya, Rahman mengatakan bahwa ia turut berbela sungkawa atas meninggalnya papa Mentari dan memohon maaf karena tidak turut hadir sejak acara pemakaman hingga tahlilan karena ia sibuk mengurus perusahaan sedangkan Zio sibuk mengurus Mentari.


Mentari langsung meminta bagian pekerjaannya dari Ramon dan dengan senang hati Ramon memberikan satu tumpukan dokumen untuk dikerjakan oleh Mentari. iya sangat bersemangatku Ma selain ingin menyembuhkan diri dia juga ingin melupakan sejenak kesedihannya yang sudah terjadi berhari-hari.


Saat Mentari sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, Zio yang lewat dengan lesu langsung dibuat semangat begitu melihat keberadaan Mentari di mejanya. Dengan cepat dia menghampiri Mentari.


"Lu kok udah masuk kerja? Gue 'kan kasih lu waktu selama tujuh hari buat cuti. Emang lu udah nggak kenapa-napa?" tanya Zio dengan begitu perhatiannya.


Di dalam ruangannya Ramon mencibir Zio dalam hati setelah mendengar ucapan Zio yang mengatakan jika ia memberi cuti pada Mentari selama tujuh hari padahal selama dua hari ia berangkat ke luar kota, ia terus saja menelpon Ramon dan bertanya apakah Mentari sudah masuk kerja atau belum.


"Saya bosan jika berada di rumah terus Pak. Lagi pula kasihan Ramon jika terus mengambil alih pekerjaan saya," jawab Mentari.


Zio sedikit mengernyit begitu mendengar Mentari yang tiba-tiba berbicara seformal itu padanya. Sedangkan Ramon membetulkan perkataan Mentari walau hanya dalam hati. Ia memang kerepotan selama tiga hari tanpa Mentari karena ia harus mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Namun Ramon tidak bermaksud menyalahkan Mentari karena apa yang menimpa Mentari bisa ia maklumi sebab pernah terjadi padanya dan Zio juga memberinya waktu tujuh hari untuk mengambil cuti.


"Ya udah, lu semangat kerja ya. Gue masuk dulu," ucap Zio kemudian ia melenggang masuk ke dalam ruangannya sambil tersenyum.


Di dalam ruangannya Zio bekerja dengan semangat, sebab penyemangat hatinya sudah kembali masuk kerja Dan ia bisa melihatnya setiap hari lagi. Sesekali ia iseng menelpon Mentari hanya untuk menanyakan dokumen yang Mentari katakan bahwa dokumen itu tidak ada padanya melainkan ada pada Ramon.


Beberapa menit kemudian Zio kembali menelepon Mentari dan ketika Mentari mengangkat teleponnya ia hanya bertanya Mentari sedang apa dan Mentari langsung menutup panggilan tersebut karena Zio meneleponnya tidak benar-benar bertanya soal pekerjaan.


"Dia itu kenapa? Udah gila kali ya," gumam Mentari sambil menatap telepon yang baru saja ia letakkan kembali dengan kepalanya yang ia geleng-gelengkan.

__ADS_1


Satu jam berlalu kembali Zio menghubungi Mentari lewat telepon kantor, Mentari yang sudah menembak jika itu adalah Zio mengurungkan niatnya untuk menjawab panggilan tersebut tetapi telepon tak berhenti berdering hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya saja.


"Ada apa lagi Pak?" tanya Mentari malas.


"Ke ruangan gue sekarang," ucap Zio kemudian ia menutup panggilannya.


Dengan malas Mentari mengetuk pintu ruangan Zio dan ketika ia mendengar suara Zio memintanya untuk masuk, ia langsung membuka pintu tersebut dan segera masuk. Zio meminta Mentari untuk duduk di hadapannya sedangkan ia sibuk memeriksa beberapa berkas.


Beberapa menit Mentari duduk di depan Zio tetapi pria itu sama sekali tidak membuka suara bahkan terkesan mengacuhkan Mentari. Merasa dipermainkan oleh Zio, Mentari memutuskan untuk keluar saja.


"Jangan coba-coba berpikir untuk keluar," ucap Zio tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.


Mentari menggembungkan pipinya, wajahnya cemberut. "Terus bapak menyuruh saya masuk untuk apa?" tanya Mentari mulai kesal.


"Saya masih sibuk memeriksa berkas, jangan diajak ngobrol," jawab Zio berusaha menyembunyikan tawanya.


Untuk apa lu tanya, ya untuk gue pandangi lah. Gue suka mandangin lu dan gue nggak mau jauh-jauh dari lu. Gitu aja pakai ditanya.


"Pak, pekerjaan saya masih banyak. Saya kembali saja, hubungi saya jika bapak memerlukan sesuatu dan sudah selesai memeriksa berkas," ucap Mentari yang teringat pekerjaannya yang masih begitu banyak.


"Ya sudah, bawa komputernya saja ke ruangan saya," jawab Zio asal yang membuat Mentari terbengang.


"Dasar gila!" sungut Mentari.


Zio menatap Mentari, "Kamu mengatai saya gila? Mau kamu saya potong gaji lagi?" tanya Zio yang langsung mendapat gelengan kepala dari Mentari.


Yang benar saja dia, suka banget potong gaji orang seenaknya. Apa ini yang bikin banyak sekretaris mengundurkan diri dari perusahaan ini? Punya bos yang hobi memotong gaji karyawan. Sabar Mentari sabar.

__ADS_1


"Maaf Pak," lirih Mentari.


"Minta maaflah dengan benar," ucap Zio sambil menunjuk-nunjuk pipinya dengan maksud agar Mentari memberinya kecupan di pipi.


Paham dengan maksud Zio, Mentari langsung menatap kesal padanya dan menggebrak meja. "Dasar CEO cabul! Otaknya mesum terus, mending saya keluar!" ucap Mentari kesal dan langsung berdiri meninggalkan Zio yang kini tengah tertawa lepas setelah berhasil memancing emosi Mentari.


Saat Mentari membuka pintu ruangan Zio, ia berpapasan dengan Helena yang juga ingin masuk. Helena mengernyitkan dahinya melihat wajah Mentari yang sedang kesal. Ia mengatakan pada Mentari untuk bersabar menghadapi bos pemarah seperti Zio, sebuah perhatian kecil dari kekasih bosnya merangkap mantan kekasihnya yang bikin Mentari merasa dongkol.


Mentari hanya menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Helena untuk masuk.


Sebelum Mentari duduk, ia menatap sekilas pada pintu yang sudah ditutup oleh Helena. Pikiran Mentari menerawang jauh, ia memikirkan tentang apa yang dilakukan Zio di dalam bersama Helena. Mengingat tingkat kemesuman Zio, Mentari yakin saat ini mereka pasti sedang *****-******* dan memikirkannya saja sudah membuat Mentari kesal.


"Emang dasar gue yang lemah, baru juga dipeduliin sama Zio udah baper. Tapi dia nyium gue lho beberapa hari yang lalu, mana mungkin gue nggak baper. Mana perhatiannya maksimal lagi. Aah tau ah, bodoh amat deh sama Zio. Lagian Helena itu 'kan pacarnya. Wajar kalau mereka bermesraan, yang nggak wajar itu ya gue yang cemburu kayak gini!" gumam Mentari, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal kemudian ia kembali mengerjakan beberapa tugas dari Ramon.


Saat sedang sibuk mengetik, ponsel Mentari berdering dan sebuah notifikasi pesan dari Juan yang mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin kini Mentari baca dan ia langsung membalasnya dengan menyetujui ajakan Juan.


Di dalam ruangannya, Zio menatap Helena dengan sebelah alisnya terangkat. Helena yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah. Ia langsung duduk di hadapan Zio dengan memasang tampang sedih.


"Kenapa lu datang lagi? Gue 'kan udah bilang sama lu kalau gue udah nggak mau ada hubungan apa-apa lagi sama lu," ucap Zio sinis.


Dua hari yang lalu, Zio memutuskan hubungannya dengan Helena setelah ia hampir saja mengungkungi Mentari. Begitupun dengan Bella, Zio juga memutuskan hubungan mereka padahal Zio sama sekali tidak menganggap baik Helena maupun Bella adalah kekasihnya karena mereka hanya sebatas simbiosis mutualisme saja selama ini. Tetapi karena menghargai perasaan mereka walaupun ia tahu itu tetap saja melukai, Zio meminta hubungan mereka diakhiri dengan baik-baik.


Zio hanya ingin fokus pada Mentari saja karena ia benar-benar yakin akan menjadikan Mentari istrinya. Apalagi setelah ia menyadari cintanya pada Mentari masih sebesar dulu begitu tahu Oliver menginginkan mantan kekasihnya itu. Zio harus siaga dengan mengakhiri hubungannya dengan dua wanita itu agar ia bisa bebas melangkah bersama Mentari.


"Zio, aku nggak terima ya kamu putusin kayak gini. Aku udah kasih semua yang kamu mau dan kamu justru mutusin aku kayak gini, aku nggak terima!" bentak Helena.


Zio tertawa sarkas, "Gue juga udah ngasih semua yang lu mau. Mending sekarang lu keluar atau lu bakalan tahu akibatnya. Gue nggak bakalan segan ngelakuin kejahatan sama lu kalau lu tetap keras kepala. Pergi nggak lu dari sini!" bentak Zio yang membuat Helena ketakutan.

__ADS_1


Mentari yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya dibuat terkejut dengan suara bentakan Zio dan juga Helena yang berlari keluar dengan deraian air mata.


"Mereka kenapa? Perang dunia atau Zio KDRT?" gumam Mentari. Ia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya daripada memikirkan urusan rumah tangga Zio dan Helena.


__ADS_2