
Dini menyeringai begitu melihat senyuman Bright yang sangat meyakinkan. Kali ini ia benar-benar yakin kalau rencana Bright akan berhasil, karena selama ini ia yang menjalankan rencana sendiri dan selalu berujung dengan kegagalan dan hanya sekali pernah berhasil, itu pun atas saran dari Bright, yaitu kejadian di mana ia dan Zio melakukan one night stand.
Dini pun mulai melakukan gerakan-gerakan yang bisa memicu birahi Bright, namun pria itu justru hanya menatapnya datar sehingga Dini menjadi salah tingkah sendiri.
Padahal biasanya jika Bright memberikan sebuah janji, maka ia akan langsung menagih bayarannya lebih dulu. Namun kali ini bahkan tidak ada tanda-tanda jika Bright ingin menyentuhnya, padahal Dini sudah sangat siap.
"Apa kau tidak ingin menyentuhku?" tanya Dini sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Bright.
Bright mengumpat dalam hati. Entah mengapa ia tiba-tiba menjadi sadar bahwa wanita yang selama ini ia tiduri dan ia cintai ternyata bukanlah wanita yang baik-baik karena seringnya tidur bersama dengan pria lain di belakang Bright. Hanya saja ia yang buta hati dan lumpuh logika selama ini, karena begitu mencintai Dini yang selalu mampu memuaskannya di ranjang.
Aku baru tahu ternyata yang lebih pendamping itu adalah wanita yang tidak pernah disentuh sekalipun sama lelaki seperti Mentari. Dan inilah sejatinya seorang pria, dia selalu ingin bermain akan tetapi dia juga menginginkan yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya. Gue ingin seperti Zio, save the best for the last. Dia sangat pandai menyimpan Mentari untuk menjadi pendampingnya setelah puas berpetualang ranjang.
Bright menggeleng, ia kemudian mengatakan kepada Dini jika hari ini ia begitu lelah dan tidak membutuhkan sentuhan Dini. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah Bright mulai merasa muak terhadap Dini dan ingin cepat-cepat wanita ini pergi dari hadapannya.
Hanya saja, Bright masih mengingat bahwa di dalam rahim wanita itu terdapat benihnya. Ia sangat yakin karena selama tiga bulan sebelum ia tahu Dini hamil, Dini hanya bermain dengannya saja.
"Oh?" Dini sempat melongo karena Bright yang biasanya selalu penuh dengan tenaga dan staminanya seakan tidak pernah ada habisnya itu mendadak merasa lelah. Di sudut hati Dini yang terdalam, ia merasa kecewa karena Bright menolak untuk menyentuhnya.
"Aku nggak tahu ... tapi mendadak aku merasa sedih jika kamu tidak menyentuhku," ucap Dini dengan suara yang lirih. "Apakah mungkin ini keinginan bayi kita?" imbuhnya sambil mengelus perutnya yang terlihat mulai membuncit, hanya saja ia selalu menutupinya dengan menggunakan pakaian yang longgar.
Mendengar calon anaknya dibawa-bawa oleh Dini dan melihat bagaimana wajah Dini berubah menjadi sepolos itu membuat Bright tidak tega. Bright sudah banyak membaca artikel tentang ibu hamil dan kali ini ia bisa menebak jika Dini tidak hanya sedang menggodanya saja tetapi mungkin saja karena bawaan bayi.
Bright langsung mendekat ke arah Dini. Ia yang tadinya duduk di hadapannya, langsung membawa wanita itu ke dalam dekapannya sambil satu tangannya mengelus perut Dini. Ia tersenyum, terharu karena merasakan perut ini sudah mulai membesar dan ia yakin calon anaknya itu sedang tumbuh dengan baik di dalam rahim ibunya.
"Apakah dia tidak menyusahkanmu?" tanya Bright.
Dini menggeleng, ia kemudian memeluk Bright namun dalam hatinya ia berusaha untuk melawan apa yang ada di pikirannya, karena ia tidak ingin terbawa perasaan bersama Bright sebab yang ia inginkan hanyalah Zio semata.
Tolong bekerjasamalah denganku, aku tidak ingin begitu dekat dengan ayahmu karena aku memiliki cinta yang lain. Aku masih membiarkanmu berada di dalam perutku karena ingin menjerat pria yang kuinginkan. Jadi kumohon bekerja sama lah, ucap Dini dalam hati kepada sang calon anak.
__ADS_1
Andaikan Bright mendengar apa yang ada di dalam hati dan pikiran Dini, mungkin saat ini ia sudah membunuh wanita ini. Dini sangat pandai memainkan emosi Bright, sehingga pria ini mau tidak mau pasti akan luluh padanya. Terlebih lagi ada calon anak yang sedang Bright nantikan di dalam sana.
Dini mulai menyentuh area-area sensitif Bright akan tetapi pria itu berusaha untuk menahan hasratnya sebab Ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menyentuh Dini walaupun di dalam sana ada bayinya yang sangat ingin untuk ia kunjungi.
Bright harus tahan demi mendapatkan wanita yang terbaik nantinya, walaupun sesungguhnya ia sudah tidak layak untuk wanita terbaik akan, tetapi apa salahnya untuk dicari.
Bright kemudian melepaskan pelukannya dari Dini hingga wanita itu merasa benar-benar ditolak. Dini sama sekali tidak mengerti mengapa Bright melakukan hal ini padanya. Bahkan ia sudah berusaha untuk membangkitkan hasrat Bright, akan tetapi tetap saja pria itu tidak ingin menyentuhnya padahal Dini sangat ingin berolahraga ranjang saat ini.
"Aku pernah membaca jika di awal kehamilan maka akan sangat berisiko tinggi jika kita selalu berhubungan badan, amor. Sebaiknya di tunda dulu karena aku tidak ingin bayiku di dalam sana kenapa-napa. Kau tahu sendiri jika aku mulai bergerak maka aku akan sangat sulit untuk berhenti," ucap Bright berusaha memberikan jawaban yang diplomatis agar Dini tidak merasa begitu kecewa padanya.
Dini menghela napas. Dan sesungguhnya memang benar apa yang dikatakan oleh Bright karena ia juga sudah membacanya sendiri diartikel. Dini sendiri sebenarnya tidak merasa rugi jika sampai terjadi sesuatu pada bayi ini, karena ketika ia sudah berhasil menikah dengan Zio dalam waktu dekat ini, maka ia akan berusaha mencari cara agar bisa menggugurkan kandungannya tersebut, karena tidak akan selamanya ia menyimpan rahasia dalam kehidupan rumah tangganya nanti.
"Ya sudah jika memang begitu. Lalu apakah boleh malam ini aku menginap denganmu?" tanya Dini lagi, dalam hati ia benar-benar merasa jengkel karena bayinya terus saja membuatnya merasa ingin terus dekat dengan Bright.
Dasar calon anak sialan! Gue ini cintanya sama Zio, bukan sama ayah lu! Kalau bukan karena gue butuhin lu, udah lama gue singkirin dari hidup gue. Lu adalah satu-satunya cara buat gue dekat dan mendapatkan cinta gue itu, umpat Dini dalam hati.
"Aku juga sangat ingin tidur bersamamu, amor. Akan tetapi kau sendiri yang bilang besok kau akan pergi bersama Zio. Bagaimana jika nanti kita kebablasan dan kau akan bangun kesiangan, apakah tidak akan membuat Zio curiga?"
Bright menjeda ucapannya, ia harus menyusun kata-kata yang bagus agar Dini percaya padanya.
"Sebaiknya hindari dulu hal-hal yang membuatnya curiga sampai kau berhasil mendapatkannya," usul Bright yang tidak akan kehabisan kata-kata untuk menjauhkan diri darinya.
Sekali lagi aku hanya ingin bayi yang ada di dalam kandungan Dini itu. Aku tidak peduli jika tidak menikah dengannya. Jika nanti bayi itu lahir, aku akan mengambilnya, walau bagaimanapun dia adalah darah dagingku. Aku memang bukan orang yang baik, akan tetapi aku tidak akan membunuh keturunanku sendiri! gumam Bright dalam hati.
.
.
Wajah kakek Rasyid merah padam begitu mendengar penjelasan Zio tentang hubungannya dengan Mentari yang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tadi memang Zio meyakinkan dirinya untuk berkata jujur terhadap pria ini, karena ia yakin kakeknya pasti akan memberikannya saran yang baik, mengingat pria ini sudah banyak menelan asam garam kehidupan.
__ADS_1
"Mengapa kau senekat itu? Sebenarnya kakek menjadi ragu dengan Mentari karena dia bahkan mau menikah denganmu padahal dia sendiri tahu kalau kau sedang terlibat masalah dengan Dini. Apa ini caranya untuk mengambil jalur instan dengan menikah denganmu dan mengamankan posisinya! Kakek sangsi dia benar-benar mencintaimu Zio," ucap kakek Rasyid sambil menatap cucunya yang terlihat seperti dengan memikul beban berat di pundaknya.
Mendengar ucapan kakeknya tersebut mata Zio melebar. Ia sangat tidak suka jika ada seseorang yang mencela Mentari, apalagi mengatakan jika semua ini dilakukan Mentari karena ada motifnya, termasuk kakeknya sekalipun.
"Tari itu adalah wanita yang baik dan pernikahan kali ini terjadi karena aku sendiri yang menginginkannya, sedangkan Mentari sama sekali tidak tahu-menahu. Kakek sudah mendengar sendiri 'kan apa yang aku katakan tadi, semuanya murni keinginanku bukan karena Mentari. Sebenarnya disini yang mengamankan posisi itu adalah aku. Aku menikahi Mentari lebih dulu supaya aku bisa mengikatnya."
Lebih lanjut Zio kembali menjelaskan kepada kakeknya bahwa ia menikah dengan Mentari agar ketika nanti masalahnya dengan Dini mencuat ke permukaan, maka Mentari tidak bisa lari lagi darinya karena sudah terikat pernikahan yang sah di mata hukum dan agama serta diakui oleh Negara.
Kakek Rasyid menepuk pundak Zio. Dia bisa melihat dengan jelas betapa besarnya cinta Zio kepada gadis yang bernama Mentari itu. Jauh dari lubuk hatinya, ia sangat mendukung karena melihat hubungan Zio dan Mentari mengingatkannya pada masa mudanya, dimana dulu ia pernah mencintai wanita seperti sosok Mentari, hanya saja ia tidak bisa memilikinya karena strata sosial mereka berbeda dan kedua orang tuanya sangat menentang mendapatkan menantu yang tidak sesuai dengannya.
Namun pada akhirnya ia juga jatuh cinta pada istrinya yang tidak lain adalah nenek Zio, walaupun mereka merupakan produk hasil perjodohan. Dan hingga akhir hayatnya, ia hanya mencintai satu wanita itu saja dan berhasil melupakan cinta masa lalunya.
Ingin sekali Kakek Rasyid menyuarakan bahwa ia tidak ingin apa yang telah terjadi padanya terulang kembali kepada cucunya, namun masalah yang tengah membelit cucunya ini sungguh rumit, ia tidak tahu harus memberikan saran apa.
"Jika bisa, temui lah istrimu dan katakan padanya yang sebenarnya terjadi. Bukankah kau sudah bilang kalian sudah pernah membahas hal ini sebelumnya, semoga dia mengerti dan kakek tidak akan memberitahukan kepada siapapun tentang pernikahanmu ini sebelum semua masalah diselesaikan. Dan ingat kata-katamu tadi Zio, kau akan menikahi Dini jika benar terbukti wanita itu sedang hamil."
Sebenarnya aku sangat tidak tidak setuju jika dia bersama Dini. Terlebih lagi Aku sudah mengetahui seperti apa sebenarnya keluarga Harun vindex. Akan sangat bodoh jika aku kembali menjerumuskan cucuku ke dalam lembah yang akan membuat masa depannya menjadi begitu suram dan penuh dengan tekanan. Semoga saja keyakinan Zio tidak pernah salah.
.
.
Waktu pulang kerja sudah berlalu setengah jam yang lalu akan tetapi Zio sama sekali tidak datang untuk menjemputnya, bahkan sama sekali tidak ada kabar dari suaminya tersebut, hingga membuat Mentari memutuskan untuk menaiki kendaraan umum saja sebab ia tidak membawa motornya.
Mentari sangat maklum dengan pekerjaan Zio, mungkin saja suaminya itu saat ini sedang disibukkan dengan banyaknya pekerjaan. Atau sedang mengadakan rapat penting sehingga tidak sempat membuka ponselnya untuk memberi kabar.
Begitu Mentari masuk ke dalam taksi, mobil Zio juga memasuki halaman perusahaan. Ia kemudian turun dan melihat pintu perusahaan sudah ditutup dan itu artinya sudah tidak ada lagi karyawan yang berada di dalam kantor.
"Sial! Gue telat jemput Tari, tapi sekarang istriku itu dimana? Mana ponsel gue kehabisan daya lagi. Ah sial, apa gue pulang aja dulu ya ke rumah, mungkin Tari udah pulang tadi sama Mawar."
__ADS_1