CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~30


__ADS_3

di saat zeo hendak berkata untuk menjawab pertanyaan Mentari, ponsel Mentari berdering dan Gadis itu langsung tersenyum hingga menarik perhatian Oliver dan juga Zio.


Dengan bibir tersenyum Mentari mengangkat panggilan tersebut, "Halo Juan."


Zio dan Oliver saling menatap, mereka kemudian menatap Mentari dengan tatapan sengit sambil mendengarkan apa yang hendak Mentari bicarakan dengan Juan.


Juan yang saat ini sedang berbaring di kamarnya, dia menatap langit-langit kamar dengan ponsel yang menempel di telinganya. "Gue boleh datang nggak ?"tanya Juan setelah ia menimbang-nimbang dari tadi apakah Ia datang ke rumah Mentari atau tidak. Setelah mengucapkan itu pun ia kemudian menggigit bibirnya, khawatir jika Mentari akan menolak keinginannya.


Mentari menghela napas, dengan dua pria yang ada di dekatnya ini saja ia sudah sama dibuat pusing, apalagi nanti jika Juan pun datang. Mentari tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, padahal saat ini ia sedang dalam suasana duka tetapi entah mengapa Zio dan Oliver bukannya menghibur dirinya malah membuatnya semakin tertekan.


"Oh, nggak boleh ya?" tanya Juan sedikit merasa kecewa ketika ia mendengar hal apa sementara yang terdengar seperti keberatan.


"Oh-oh nggak, bukan gitu. Gue nggak masalah sih kalau lu mau datang, hanya saja gue lagi pengen ketenangan, soalnya dari tadi gue nggak bisa tenang karena ada orang-orang yang bikin gue tertekan di sini." Mentari melirik ke arah Zio dan Oliver dengan tatapan jengah. "Kali aja dengan lu datang gue bisa merasa nyaman. Ya udah kalau mau datang, ya datang aja. Nggak ada yang melarang kok kalau orang ingin melayat," jawab Mentari.


Mentari berpikir mungkin saja dengan kehadiran Juan maka ia bisa menghindari dua pria yang sudah dari tadi berdebat kusir di sampingnya.


Juan kemuliaan mengiyakan ucapan menteri kemudian ia mematikan sambungan telepon tersebut. Juan bergegas turun dari tempat tidurnya dan mengganti pakaiannya untuk bersiap pergi ke rumah Mentari.


Mentari menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan, ia kemudian menatap sengit ke kiri dan ke kanan di mana Zio dan Oliver menatapnya tanpa berkedip.


Zio hendak protes tetapi Mentari lebih dulu membuka suara, "Nah sekarang kalian berdua mendingan pulang deh karena calon belahan jiwa gue bakalan datang. Gue nggak mau dia salah paham sama gue dengan adanya kalian berdua. Gue nggak maksud buat ngusir tetapi daripada kalian berdua berdebat nggak jelas di samping gue dan hanya bikin gue pusing, mendingan kalian pulang aja. Mungkin kalian udah capek dan mengantuk," ucap bentar yang langsung ditolak mentang-mentang oleh Zio dan Oliver.


Oliver saat ini menatap Mentari dengan tatapan yang sulit diartikan. Baru saja tadi ia mengatakan jika Mentari adalah calon istrinya tetapi Mentari justru mengatakan Juan adalah calon belahan jiwanya. Sungguh Mentari sudah menolaknya sebelum berjuang.

__ADS_1


Oliver kemudian menetap Zio, ia mengingat jika Zio mengatakan bahwa Mentari ada hubungan dengan Juan, sedangkan Zio yang ditatap oleh Oliver malah memalingkan wajahnya.


Zio bukan ingin menghindari Oliver, tetapi ia hanya ingin menghindari Mentari agar tidak melihat wajah kesalnya saat ini. siap sendiri merasa aneh dengan dirinya yang menjadi begitu kesal saat Mentari mengatakan jika Juan adalah belahan jiwanya.


Gue yang jaga bertahun-tahun dan orang lain yang bakalan ambil, nggak mungkin lah! Jangan mimpi! Cari mati!


Zio mengumpat dalam hati, selama bertahun-tahun ia berusaha menjaga Mentari dan menghindarkan para pria yang ingin menjadi kekasih Mentari, kala itu dengan cara diam-diam. Dan kini ketika mereka kembali bertemu setelah Zio berhasil menyelesaikan studinya di luar negeri, Mentari justru mengatakan pria lain sebagai belahan jiwanya, tentu saja ia tidak akan senang mendengar hal ini. Saya tidak terima, sekalipun Ia memiliki kekasih tetapi ia tidak ingin Mentari dipacari oleh orang lain.


Sangat egois memang, tetapi seperti itulah Zio. Ia bahkan sudah mengakui di depan Mentari dan Oliver jika selama bertahun-tahun ia ya memantau pergerakan Mentari tetapi Mentari sama sekali tidak peka dengan sikapnya.


Karena begitu kesal kepada Mentari, Zio pun memutuskan untuk mencari pelampiasan saja. Ia kemudian berpamitan pada Mentari dan hendak mencari Bella atau Helena yang akan menemaninya malam ini di apartemennya.


Mentari tersentak ketika Zio berpamitan, tadinya ia mengira jika Zio akan menemaninya hingga pagi nanti seperti perkataannya sebelumnya. Begitu pun dengan Oliver, Ia tidak menyangka jika Zio akan menyerah dan pergi setelah mengatakan jika ia sudah menjaga Mentari selama bertahun-tahun.


"Kok lu pulang sih bro?" tanya Oliver pada Zio yang kini sudah berdiri sambil memegang ponselnya.


Mentari merasa tertawa dengan ucapan Zio barusan. Ia sebenarnya tidak bermaksud mengatakan hal tersebut pada Zio dan Oliver tetapi sang mantan justru mengartikannya demikian. Memang tidak ada yang salah dengan ucapan Zio karena Mentari mengucapkannya secara jelas di hadapan mereka.


Mentari menggigit bibirnya, kemudian ia berdiri hendak meminta maaf kepada Zul tetapi ia langsung mematung ketika Zio menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo Helena, kamu dimana beib? Ke apartemanku sekarang ya," ucap Zio kemudian ia bergegas pergi tanpa menunggu Mentari memberi penjelasan atau bahkan ia tidak berpamitan pada Mentari.


Mentari menatap nanar punggung Zio yang semakin menjauh. Ia baru sadar jika ucapannya tadi sudah membuat Zio terluka padahal pria itu sedari tadi terus bersamanya dan bahkan mereka sama sekali belum makan. Apalagi Zio yang pulang kerja langsung menjaganya di rumah sakit hingga berada di rumah. Mentari mengutuk dirinya sendiri yang tidak peka terhadap perasaan Zio saat ini. Dengan mengatakan jika Zio dan Oliver adalah beban yang membuatnya tertekan dan juga meminta mereka untuk segera pergi karena ia ingin bersama dengan Juan.

__ADS_1


Duh Mentari, kok lu bego banget sih. Bego bego bego!


Mentari langsung menyusul Zio dan langkahnya terhenti ketika melihat Zio sedang mengambil makanan dari kurir yang membawakan makanan pesanan Zio tadi. Mentari baru sadar jika ia dan Zio tadi hendak makan bersama dan kini ia sudah membuat Zio terluka.


Zio menatap Mentari yang berada di sampingnya lalu ia memberikan kotak makanan tersebut, "Lu sekarang makan, jangan sampai nggak makan karena nanti lu bisa jatuh sakit. Lu harus kuat karena nyokap lu pasti sangat rapuh. Gue balik ya," ucap Zio dengan lembut.


Mentari menggigit bibir bawahnya, ia merasa benar-benar menyesal setelah berkata demikian pada Zio. Mantan bangsatnya ini ternyata sangat perhatian dan peduli padanya terlepas dari ia sudah menyakiti hati Zio tadi.


"Lu mau kemana? Makan dulu bareng gue, lu belum makan dari tadi," ajak Mentari dengan suara lirih.


Zio hanya tersenyum, "Gue gampang lah. Lu mending masuk sekarang dan makan. Gue pamit dulu ya," ucap Zio yang langsung melenggang pergi.


Dengan cepat Mentari menarik tangan Zio ketika ia masih bisa menjangkaunya. "Lu nggak boleh pergi kalau lu belum makan. Gue suapin ya? Kita makan dulu yuk," ajak Mentari dengan memelas.


Zio menghembuskan napas dengan perlahan, ia kemudian menatap Mentari dan ia menjadi tidak tega begitu melihat wajah Mentari yang penuh dengan permohonan.


"Ya udah, asal gue disuapin beneran ya," ucap Zio yang langsung diangguki oleh Mentari.


"Ya udah, mending lu duduk dulu biar gue masuk dan ngambil peralatan makan. Ingat duduk di situ, tunggu di sini dan jangan kemana-mana sampai gue datang," ucap Mentari mengancam Zio, pria itu tidak bisa menutupi rasa bahagianya dan ia langsung terkekeh.


Zio kemudian duduk sambil menunggu kedatangan Mentari, tak lupa ia mengirim pesan pada Helena jika ia tidak jadi ke apartemen. Wanita itu tentu saja membuat protes karena ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat Zio dan mendadak kekasihnya itu justru membatalkan pertemuan.


Oliver melangkah keluar, ia terkejut karena melihat Zio yang masih duduk sambil senyam-senyum di kursi.

__ADS_1


"Lu nggak jadi balik bro?" tanya Oliver heran, ia kemudian ikut duduk bersama Zio.


"Nggak, Mentari nggak ngizinin gue buat balik. Nah, sekarang gue saranin lu untuk balik daripada lu payah hati melihat adegan gue sama Mentari nanti. Balik sana!"


__ADS_2