CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~28


__ADS_3

Suasana rumah Mentari kini terlihat sepi, hanya ada ia dan mamanya juga kurang dari 10 orang kerabat mereka dan juga tetangga dekat yang masih setia menemani mereka di rumah.


Tak lupa pemilik mebel tempat Rama bekerja juga urut hadir disana dan bertahan untuk menemani mereka, juga mengatakan bahwa ia yang akan menanggung biaya tahlilan selama tiga malam.


Ia merasa bersalah karena Rama adalah salah satu pekerjanya yang begitu baik dan sabar selama ini. Jika saja ia tidak menyuruh Rama untuk menggantikan Hendra yang bertugas untuk mengantarkan orang pesanan mebel sore tadi, maka kejadian ini mungkin tidak akan terjadi.


Namun Maya dan Mentari mengatakan jika dia tidak usah memikirkan masalah ini karena semua sudah merupakan suratan takdir.


Beberapa kerabat sudah rebahan di atas karpet yang disediakan oleh Mentari, sedangkan bapak-bapak yang lainnya berada di luar sambil berbincang-bincang agar mereka tidak mengantuk. Tak lupa Mentari tetap memberikan mereka minuman hangat sebagai bentuk rasa syukur Mentari karena masih banyak yang peduli pada keluarganya dalam keadaan berduka seperti ini.


Banyak pesan yang masuk, panggilan yang tak terjawab di ponsel Mentari yang sedari tadi diabaikan. Ia baru saja mengambil ponselnya dari dalam kamar karena ia ingin membunuh rasa bosan ketika matanya tidak kunjung mengantuk. Sedangkan mamanya yang begitu lelah hati dan fisik sudah tertidur sejak tadi dan kini Mentari memutuskan untuk tidak tidur hingga pagi menjelang.


Mentari menatap tubuh yang ditutupi oleh kain batik panjang dengan mata yang berkaca-kaca. Kembali teringat kenangannya bersama-sama sang ayah dari kecil hingga tadi pagi mereka masih bercengkrama saat di ruang makan. Tidak pernah terpikirkan oleh Mentari sang ayah akan pergi secepat ini tanpa pesan apapun hingga membuat ia dan mamanya begitu terpukul.


Pa kenapa pergi secepat ini sih? Mentari belum sempat bahagiain papa. Papa 'kan rencana mau punya mebel sendiri, tapi kok justru malah pergi sebelum cita-citanya tercapai? Padahal Mentari udah kerja di perusahaan gede, bisa nabung untuk memenuhi kebutuhan mebel papa. Tapi kok udah pergi secepat ini sih. Mentari belum menikah pa, terus siapa dong yang bakalan nikahin Mentari jika papa sebagai wali satu-satunya nggak ada. Pa, Mentari kangen banget sama papa. maafin Mentari belum bisa jadi anak yang baik, maafin Mentari yang selama ini selalu mengeluh karena nama yang papa sematkan di belakang nama Mentari. Tari janji mulai detik ini Mentari nggak akan ngeluh, nggak akan malu lagi dengan nama itu karena itu adalah pemberian papa, kenangan Mentari bersama papa.


Mentari menghapus jejak air matanya namun sayang semakin dihapus semakin deras pula air mata itu keluar dan membasahi pipinya.


Hiks … papa … kenapa papa udah pergi sih Pa. Mentari belum siap. Mentari masih kangen, masih butuh papa di sini. Bangun dong Pa. papa nggak mau lihat Mentari nikah? Bukannya papa pengen gendong cucu ya dari Mentari? Kalau papa bangun lagi Tari janji akan langsung nikah deh hari ini juga, malam ini juga, entah dengan siapapun itu Tari janji pa, asal papa bangun ya, Tari mohon pa.


.


.


Zio melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumahnya, saat ini ia sudah begitu gerah dan rasanya ia ingin berendam di dalam bak mandi tetapi ia tidak mungkin melakukannya karena ia masih ingin kembali lagi ke rumah Mentari. Zio sangat yakin Mentari pasti membutuhkan keberadaannya saat ini di sampingnya untuk menguatkan.


Begitu sampai di anak tangga terakhir menuju ke lantai dua tempat di mana kamarnya berada, ia berpapasan dengan saudaranya seayah yang selalu saja ia benci. Mereka bertatapan sekilas kemudian Zio melangkah berlalu meninggalkannya


"Bagaimana keadaannya* apa dia sudah baik-baik saja?"


Pertanyaan tersebut menghentikan langkah Zio, ia kemudian berbalik ke belakang. "Ada gue yang bisa dampingi dia, nggak mungkin kenapa-kenapa dan nggak mungkin ada apa-apa kalau sama gue. Nggak usah nanya-nanya deh!" jawabnya ketus, kemudian dia kembali melangkah ke kamarnya.


Setelah Zio masuk ke dalam kamarnya, tempat yang ia tuju adalah kamar mandi. Zio tidak membersihkan tubuhnya dengan berlama-lama, ia masih harus segera pergi ke rumah Mentari, ia takut disana Mentari mencarinya.


Mendadak Zio tertawa kecil dengan pemikirannya barusan. Yang benar saja mencarinya, yang ada Mentari justru ingin jauh-jauh darinya, pikir Zio.


Begitu Zio keluar dari kamarnya, ia mendapati Oliver sudah berbaring di atas kasurnya. Zio sedikit kesal pada sepupunya itu bukan karena dia yang nyelonong masuk dalam kamar, tetapi karena Oliver mencintai Mentari padahal mereka baru bertemu dua kali.

__ADS_1


"Lu dari mana sih Bro? Dari tadi gue teleponin nggak dijawab. Gue sms-in, gue chat nggak ada balasan apapun. Lu kemana sih?" cecar Oliver begitu ia melihat Zio keluar dari kamar mandi.


Tanpa memperdulikan pertanyaan Oliver, Zio melenggang masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian ia keluar dengan mengenakan pakaian yang seharusnya ia pakai sedari tadi.


Oliver terbengang melihat Zio yang keluar dengan mengenakan celana jeans sedangkan atasannya mengenakan baju koko.


"Buset, lu mau shalat malam?" tanya Oliver yang kaget melihat penampilan Zio.


"Menurut lu?" tanya Zio balik merasa sewot.


Oliver kemudian berdiri dan berjalan mendekati Zio. Ia berputar-putar mengitari tubuh sepupunya ini sambil berdecak tak percaya.


"Jadi lu beneran mau shalat malam? Lu udah tobat Bro? Masa iya sih secepat itu? Nggak mungkin, gue nggak percaya!" ucap Oliver sambil menatap lekat kedua mata sepupunya itu.


"Berisik lu! Minggir nggak, gue mau pergi. Jangan halangi jalan gue dan nggak usah ikut!" tekan Zio, ia tentu tidak ingin Oliver tahu karena tidak mau Oliver bertemu dengan Mentari dan mengambil kesempatan.


"Lu mau ke masjid Bro! beneran? serius?" tanya Oliver lagi, ia masih tidak percaya dengan Zio yang akan melakukan sholat malam


"Ho'oh. Kenapa? Lu mau ikut, ya udah ayo buruan deh gue tungguin lu ganti baju atau pakai punya gue aja tuh sana, masih banyak dalam lemari," jawab Zio mengajak, karena ia yakin Oliver pasti tidak akan ikut dengannya.


Zio memasang tampang datar kemudian ia berbalik arah dengan mengambil langkah cepat menuruni tangga dan di sana ia bertemu dengan kakeknya yang sedang berbicara dengan saudara yang paling ia benci.


"Dimas Ezio Rasyid, kamu mau kemana?" tanya kakek saat mendapati Zio melewati mereka dengan pakaian yang benar-benar jarang ia lihat dikenakan oleh Zio.


"Mau melayat kek, nggak usah tanya-tanya dulu deh. Aku lagi buru-buru nih kek. Bye," ucap Zio kemudian ia bergegas pergi keluar menuju ke mobilnya.


Kakek menatap cucunya yang ada di sampingnya dengan tatapan penuh tanya.


"Ayah dari mantan kekasihnya meninggal, jadi dia pergi untuk menemani mereka di sana. Mungkin sih kek."


Kakek Rasyid menganggukkan kepalanya, ia sedikit bingung sebenarnya mengapa Zio begitu antusias menemani mantan kekasihnya di rumah duka.


Padahal cuma mantan tapi kenapa Zio begitu memperhatikannya? Aku jadi penasaran seperti apa wanita yang sampai membuatnya menggunakan pakaian sakral tersebut.


.


.

__ADS_1


Mentari terkejut begitu sebuah sapu tangan tersodor di hadapannya. Ia kemudian mengikuti arah asal sapu tangan tersebut dan begitu ia melihat sosok yang mengulurkan sapu tangan tersebut, mulutnya terbuka lebar. Ia tidak percaya melihat Zio lebih tampan dengan setelan baju kokonya.


"Lu di sini lagi? Emang lu nggak butuh istirahat?" tanya Mentari, ia heran saja mengapa bosnya ini masih saja menemaninya di sini.


Zio menghapus jejak air mata yang menggenang di pipi Mentari dengan sapu tangan tersebut. "Lu lagi kayak gini, nggak mungkin gue tinggalin," jawab Zio sekenanya saja.


Mentari tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia membiarkan saja Zio memperlakukannya asalkan tidak kurang ajar seperti tadi pagi kantor.


Ingin rasanya Mentari memasukkan perilaku terhadapnya ini ke dalam hati, akan tetapi ia sadar jika dirinya hanya sebatas teman atau mantan kekasih atau sekretaris baginya. dia tidak boleh melupakan jika ada Bella dan Helena yang merupakan kekasih Zio.


"Lu udah makan?" tanya Mentari pada Zio.


Zio hanya menjawab dengan senyuman, ia bahkan lupa menyentuh makanan malam ini karena terburu-buru untuk kembali menemui Mentari.


"Harusnya gue yang nanya kayak gitu, lu udah makan belum? Dari sore lu belum makan apa-apa, 'kan? Gue perhatiin lho, makan yuk!"


Mentari menggeleng, "Gue nggak lapar," jawabnya lesu.


"Nggak boleh gitu dong, lu harus kuat ya. Gue pesenin makanan ya, nanti biar gue temani lu, makan bareng-bareng kita, oke?"


Mentari tidak menolak tidak pula mengiyakan. Ia hanya mengikuti alur saja karena saat ini ia tidak ingin memikirkan apapun lagi selain berada di samping ayahnya.


Zio pun memutuskan untuk memesan makanan dan melebihkan porsinya karena ia juga mendadak merasa lapar.


Begitu Zio selesai menelpon salah satu restoran favoritnya, ia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu.


"Oliver," lirih Zio tak menyangka jika sepupunya itu bisa sampai di tempat ini.


Mentari mengikuti arah pandang Zio, matanya kemudian bersitatap dengan Oliver, "Pria gila?" lirih Mentari.


Oliver dengan wajah datarnya mendekat ke arah Zio dan Mentari. Ia kemudian ikut duduk sambil menatap sepupunya itu dengan tajam.


"Kenapa lu nggak bilang kalau lu di rumah Mentari? Kalau saja gue nggak ngikutin lu tadi, gue nggak bakalan tahu kalau calon papa mertua gue ternyata udah nggak ada. Lu kok jahat bro? Ucap sarkas Oliver, ia benar-benar kesal pada sepupunya ini yang menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya bukan keluar untuk melakukan shalat malam di masjid melainkan pergi melayat ke rumah Mentari.


"Oh iya, bukannya kita dulu pernah ke sini dan kata lu ini rumah mantan lu. Apa Mentari ini–"


"Mantan gue! Puas lu?"

__ADS_1


__ADS_2