CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~103


__ADS_3

"Jadi ... kita akan memulainya dari bagian mana sayang?"


pertanyaan Zio tersebut membuat bulu kuduk Mentari berdiri. Mereka saat ini sudah berada di dalam kamar hotel dan Mentari duduk di sofa dan tak berani bergerak sedikitpun. Ia yang tadinya begitu bersemangat untuk memberikan hak suaminya mendadak gugup dan berharap malam ini ia pingsan saja.


Mentari berharap ia datang bulan malam ini, akan tetapi ia kemudian merutuki kebodohannya karena ia baru saja selesai menstruasi beberapa hari yang lalu.


Apa gue pura-pura pingsan aja ya? Sumpah gue gugup banget. Bisa nggak sih ditunda aja? Atau bisa nggak sih Zio berubah pikiran? Tapi itu nggak mungkin karena Zio itu paling menantikan saat ini.


Mentari meremas ujung bajunya dan hal tersebut tak luput dari perhatian Zio. Dalam hati sebenanrya Zio sedang menertawakan Mentari. Ia bisa melihat ketegangan yang terjadi pada istrinya itu, ia juga tidak akan memaksa karena ia tahu Mentari butuh waktu untuk mempercayakan Zio mengambil kesuciannya.


Tak ingin kehilangan momen untuk mengerjai istrinya, Zio yang sedang duduk di tepi ranjang langsung mendekat dan duduk di samping Mentari. Hampir saja Zio tertawa saat Mentari begitu terkejut ketika ia duduk di sampingnya. Mentari refleks menggeser duduknya sedikit menjauh dari Zio.


Mata Mentari melotot saat Zio merebahkan kepalanya di pangkuannya. Ia yang sedari tadi dilanda gugup semakin gugup saja dibuat sang suami. Namun Mentari yang lebih dulu mengajak Zio untuk datang ke hotel dan melakukan malam pertama mereka tak tega jika harus menolak Zio. Ia hanya harus memikirkan cara agar malam ini ia dan Zio gagal melakukannya.


Deggg ...


Jantung Mentari seakan berhenti berdetak ketika Zio dengan sengaja menyentuh buah kembar yang menggantung di dadanya.


"Aku sangat penasaran dengan isi di dalamnya. Dua buah kembar ini sedari tadi seperti manggil-manggil aku buat disentuh. Kamu emang nggak mau bukain biar aku lihat? Kita udah suami-istri tapi aku belum pernah lihat isi di dalam sini," ucap Zio sembari mengusap dada Mentari yang masih terbungkus pakaian.


Mentari menggigit bibir bawahnya ketika Zio memasukkan tangannya ke dalam gaun yang dikenakan olehnya. Tangan Zio yang mulai bergerak nakal mengusap perut rata Mentari membuat gadis yang berstatus istrinya itu menahan napas.

__ADS_1


"Hahaha ... sayang kenapa tidak bernapas? Kau ingin mati?" ledek Zio.


Dengan cepat Mentari menghembuskan napasnya dan meraup udara sebanyak mungkin. Zio yang tadinya berbaring di pangkuannya kini duduk di sampingnya. Pria tampan dan mapan itu menarik Mentari ke dalam pelukannya.


"Aku nggak akan ngelakuinnya kalau kamu belum siap. Aku hanya ingin kita melakukannya karena sama-sama ingin dan ikhlas. Aku bisa menunggu," ucap Zio, ia kemudian mengecup puncak kepala Mentari.


Tangan Mentari melingkar erat di pinggang Zio. pelukan itu bahkan semakin dipererat dan dalam dekapan Zio, Mentari tersenyum haru. Ia menyandarkan pipinya di dada bidang Zio dan bersyukur dalam hati karena mendapatkan suami sepengertian Zio.


Maaf karena aku belum bisa menjadi yang kau mau Zio. Tapi yakinlah kalau aku sedang berusaha untuk itu, gumam Mentari dalam hati. Ia menyeka air matanya yang baru saja berhasil lolos dari bendungannya.


Zio melepaskan pelukannya, ia kemudian meminta Mentari untuk beristirahat di tempat tidur dan ia hendak ke kamar mandi.


"Kamu mau mandi?" tanya Mentari heran sebab Zio dan dirinya tadi sudah mandi sebelum datang ke tempat ini.


"Dia?" cengo Mentari.


Zio mengangguk lalu pandangannya terarah pada bagian bawah dan Mentari mengikuti arah pandang Zio. Ia langsung syok saat melihat sesuatu yang sudah menggembung dibalik celana Zio.


"Gimana? Aku mandi atau kamu yang tidurin dia?" tanya Zio sekali lagi dengan niat hanya untuk menggoda Mentari saja.


Pipi Mentari memerah karena malu, dengan cepat ia menggeleng dan meminta Zio untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Zio terkekeh, ia kemudian menuruti keinginan Mentari akan tetapi dia meminta Mentari untuk naik saja ke tempat tidur dan tidak perlu menunggunya jika memang sudah mengantuk.


Saat Zio sudah masuk ke dalam kamar mandi, Mentari berbaring dalam keadaan terdiam sambil menatap langit-langit kamar. Ia memikirkan tentang dirinya yang lagi dan lagi gagal memuaskan hasrat suaminya dan gagal memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


"Gue itu kenapa sih? Harusnya gue nggak nolak kayak gini dan harusnya sekarang Zio tuh udah miliki gue seutuhnya. Tapi kenapa gue segugup tadi? Gue ini wanita dewasa dan hal seperti ini adalah sebuah kewajaran bagi pasangan menikah. Kasihan Zio, ini salah gue," gerutu Mentari pada dirinya sendiri.


Ia kemudian mencari di internet bagaimana cara menghilangkan rasa gugup saat akan berhubungan suami-istri untuk yang pertama kalinya. Namun semua hasil dari artikel yang ia baca tersebut tak ada satupun yang membuat hatinya merasa tenang dan merasa mampu untuk mempraktikkannya nanti.


Hampir satu jam Mentari berada dalam kebingungan juga dalam penyesalannya. Ia berusaha menutup matanya tetapi kantuk enggan datang menyapa. Ia hanya terus berbalik ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Sepetinya penyesalan itu terus menggerogoti pikirannya sejak tadi ia memutuskan untuk menolak segalanya.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan wangi sabun dan shampo dari tubuh Zio menggugah indera penciuman Mentari. Refleks ia membuka matanya dan menatap ke arah dimana Zio sedang berdiri.


Hampir saja Mentari menjerit saat melihat Zio hanya mengenakan handuk saja dan roti sobek itu terlihat jelas di mata suci Mentari. Hampir saja air liurnya menetes saat menatap tak berkedip pada pahatan indah di perut Zio.


Zio tersenyum tampan, ia tahu saat ini Mentari tengah menikmati pemandangan indah dari tubuhnya. Ia ingin sekali mengerjai Mentari lagi dengan mencoba menggodanya, akan tetapi risikonya adalah ia yang akan mandi lagi.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Zio yang berjalan ke arah Mentari dengan masih mengenakan handuk sebab pakaiannya ia lupa di dalam kamar mandi.


Mentari menggelengkan kepala dan berusaha untuk menekan gejolak yang muncul dalam dadanya.


"Kau kenapa?" tanya Zio dengan sengaja menempelkan tangannya di kening Mentari.

__ADS_1


Mentari menggeleng dan meminta Zio untuk segera mengenakan pakaiannya. Zio menurut saja namun sayang sekali karena ia ceroboh dan sisa air yang jatuh dari rambutnya membuat Zio terpeleset dan akhirnya jatuh terduduk di lantai.


"Huaaaa ... terong super!!" teriak Mentari saat ia turun dari tempat tidur dan menghampiri Zio untuk menolongnya berdiri.


__ADS_2