CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~67


__ADS_3

Mentari menatap pria yang sedang berdiri di hadapannya. Tadi ia baru saja selesai memasak dan mamanya mengatakan jika ada seseorang yang mencarinya sehingga ia dengan cepat keluar karena mamanya sama sekali tidak mengenal tamu tersebut.


Pria yang ditatap Mentari tersenyum tipis, entah apa yang sedang ia pikirkan akan tetapi dia terus menatap Mentari.


"Tu-tuan, Anda mencari saya?" tanya Mentari merasa gugup berhadapan dengan pria yang merupakan calon mertuanya tersebut.


Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa pria ini datang. Oh apakah untuk memberikan ia peringatan untuk menjauhi Zio atau datang untuk menghina dirinya lagi? Mentari tidak siap dengan semua itu akan tetapi ia tidak mungkin mengusir orang ini. Bagaimanapun ia adalah calon mertua jika Tuhan menghendaki hubungannya dengan Zio hingga naik ke pelaminan.


"Ah, apakah kau tidak ingin mempersilahkan saya untuk duduk?" tanya Danu.


Wajah mentari Mentari mendadak memerah, ia merasa tidak enak karena ia belum meminta Danu untuk duduk tapi ia justru langsung menanyakan tujuannya datang ke rumah ini.


"Maaf, tuan. Silahkan duduk," ujar Mentari.


Danu langsung duduk di kursi teras sedangkan Mentari menyusul untuk ikut. Ia memang menghormati orang tua ini, akan tetapi ia juga tidak boleh terlihat lemah di hadapannya. Ia sudah berjanji dalam hatinya jika ia akan memperjuangkan hubungannya dengan Zio. Mentari siap pasang badan kali ini, ia tidak akan melepaskan Zio lagi.


"Aku datang kesini untuk memberikan penawaran," ucap Danu langsung memulai ke intinya.


"Penawaran? Oh, apakah Anda akan meminta saya untuk menjauhi Zio? Jika benar maka saya tidak akan melakukannya karena saya dan Zio saling mencintai. Sekalipun Zio adalah gelandangan maka saya akan mempertahankan semuanya. Saya tidak pernah memandang Zio sebagai orang kaya, saya mencintai orangnya bukan hartanya. Jadi jika Anda datang membawa uang dan mengancam saya atau menyogok saya, maka itu tidak akan mempan!" ucap Mentari dengan menggebu-gebu.


"Oh ya, jika pun Anda akan mengancam saya lewat pekerjaan maka itu juga tidak akan berhasil karena saya sudah tidak bekerja lagi di perusahaan itu. Anda tidak berhak untuk mengancam saya. Dan saya juga melakukannya agar kalian tidak berpikir jika saya ini hanya memanfaatkan Zio dan hartanya. Buktinya, saya memilih bekerja jauh darinya. Jadi Anda pergi saja!" tambah Mentari lagi.

__ADS_1


Danu tersentak mendengar ucapan panjang lebar Mentari. Ia juga kaget ternyata gadis ini memiliki banyak keberanian dan juga cukup cerewet. Entah apa yang disukai Zio darinya, wajahnya memang cantik alami namun ia cukup berisik dan jika diperhatikan gadis ini cukup bar-bar, pikir Danu.


"Saya tadinya memang ingin melakukan apa yang baru saja kamu sebutkan. Akan tetapi tujuan saya datang ke rumah ini dan bertemu denganmu bukan karena itu. Aku membutuhkan bantuanmu dan aku rasa kita bisa bekerja sama," ujar Danu yang kini gantian membuat Mentari terdiam dalam tanya.


Melihat raut wajah Mentari yang terlihat bingung, Danu pun perlahan mulai membuka suara dan ia menjelaskan kerja sama dan bantuan apa yang ia butuhkan dari Mentari. Mentari mendengarkan dan menyimak apa saja yang diucapkan oleh Danu tanpa menyelah sekalipun.


Hal tersebut membuat Mentari syok karena ia tidak menyangka jika calon mertuanya ini akan melakukan hal tersebut. Dalam hati ia memuji pria ini dan merasa semakin cinta kepada Zio.


"Jadi maksud Anda saya harus ...."


Danu mengangguk, "Ya, dan saya rasa keputusanmu resign dari perusahaan itu sudah benar!"


Tak lama kemudian Danu pun berpamitan pulang. Ia masih banyak kegiatan di hari Minggu ini sedangkan Mentari menatap tak percaya dengan pria yang kadang terlihat baik namun juga kadang membuat perasaan menjadi sangat tegang.


.


.


Jika saja ia melakukannya dari tadi, kemungkinan besar ia sudah mendapatkan pekerjaan. Teman-temannya akan sangat merasa senang jika ia bergabung di perusahaan mereka mengingat Zio adalah CEO yang paling sukses dalam circle pertemuannya.


"Sepertinya gue nggak bisa kalau berkerja dengan mereka. Gue harus kerja di tempat yang nggak ada hubungan kerja samanya dengan perusahan gue. Tapi dimana gue cari?" gerutu Zio. Tipe orang yang sudah memiliki jalan mudah akan tetapi justru meilih mencari jalan yang sukar.

__ADS_1


Zio pun mulai mencari-cari lowongan pekerjaan lewat internet. Ada beberapa yang memang membuka lowongan akan tetapi posisinya terlalu rendah bagi Zio. Ia yang terbiasa jadi pemimpin merasa berat hati jika harus menjadi karyawan biasa.


Jika Zio sedang pusing sendiri karena masalah pekerjaan, tak jauh beda dengan yang terjadi di rumah setelah Danu kembali dari rumah Mentari. Ia mengumpulkan semua anggota keluarga yang tersisa dan kini mereka sudah berada di ruang kerja Danu.


Kakek Rasyid sendiri merasa bingung mengapa putranya tiba-tiba mengumpulkan mereka di ruangan ini. Ia berharap Danu akan memberikan kabar baik untuknya mengenai Zio. Hampir semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan cucunya dan juga perjodohan itu.


"Terima kasih karena kalian semua sudah mau berkumpul. Langsung saja, karena mulai besok Zio sudah tidak lagi memimpin perusahaan maka besok Juan yang akan memegang kendali di perusahan. Jika kau keberatan maka mau tidak mau Ayah yang harus menggantikan karena aku juga mengurusi beberapa perusahaan kita dan juga bisnis yang lainnya hingga aku tentu tidak punya waktu untuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh Zio."


Ucapan Danu tersebut membuat Juan dan kakek Rasyid terkejut. Yang benar saja dengan keputusan Danu kali ini. Juan menolak kerena ia memang tidak berniat untuk menjadi seorang CEO. Apalagi kakek Rasyid yang sudah tua renta, mana mungkin bisa mengurus perusahaan sebesar itu.


"Tidak ada penolakan!" ujar Danu, ia langsung menyergah begitu melihat Juan dan ayahnya hendak membuka suara. Ia tahu mereka akan menolak.


"Ta-tapi Pi, Juan nggak bisa jadi CEO. Kak Oliver aja gimana?" tolaknya dan mengusulkan Oliver.


Danu berdecak, "Apakah kau lupa jika kakakmu yang satu itu juga punya perusahaan besar di luar negeri milik daddynya? Kita tidak bisa merepotkan dia walaupun memang disini masih menjadi tanggung jawabnya juga sebagai pewaris. Tapi yang paling diharuskan itu ya kau dan Zio. Berhubung Zio memilih minggat, maka kau atau kakekmu yang besok akan mengisi kekosongan posisi Zio!"


Tidak ada yang berani menyahuti ucapan Danu. Lolita sendiri terdiam karena ia memang lebih banyak diam sejak bangun tidur karena memikirkan nasib putranya. Zio memang memiliki apartemen akan tetapi semua kartu miliknya dan juga mobilnya ia tinggalkan begitu saja di rumah ini. Saat ini putranya itu sudah sana saja dengan gelandangan sayangnya memiliki hunian mewah.


Hal yang sama pula dirasakan oleh kakek Rasyid, hanya saja egonya begitu tinggi dan ia yakin sekali jika Dini adalah calon terbaik untuk Zio. Menurut kakek Rasyid, tidak ada yang kurang dari Dini dan hanya Zio saja yang sudah terjerat cinta buta.


"Juan, mulai besok gantikan kakakmu untuk sementara. Kakek yakin dia akan segera kembali karena dia tidak akan mungkin tahan tanpa memiliki uang di luar sana. Pembicaraan ini selesai dan kalian jangan lupa bahwa perjodohan antara Dini dan Zio akan tetap berlangsung. Paksa dia dia kalau perlu ancam! Aku sudah tidak punya toleransi lagi karena Dini adalah kandidat yang kuat untuk menjadi pendamping Zio!" ucap tegas kakek Rasyid sebelum ia meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Lolita kembali menangis, ia tidak suka jika anaknya diatur seperti ini. Ia akan pergi menemui Dini dan mengatakan bahwa perjodohan ini akan dibatalkan sebha Zio tidak menginginkannya. Namun sebelum itu ia juga akan menemui Zio lebih dulu di apartemennya dan memastikan putra semata wayangnya itu sudah makan dan mengurus diri dengan baik.


"Jika perjodohan ini masih diteruskan maka aku juga akan keluar dari rumah ini. Hidup putraku jangan diatur-atur, karena aku maminya tidak pernah melakukan hal tersebut. Aku tidak main-main dan kau Juan, ayo antar mami ke apartemen kakakmu sekarang!" ucap tegas Lolita.


__ADS_2