
Hancur hati tidak terkira, ia menyesal karena pernah menuruti keinginan keluarganya untuk melepas dan mencoba merai sesuatu yang bahkan ia tidak bisa sentuh. Kini hanya tinggal penyesalan yang tertinggal di relung hati Dini. Ia menyesal sudah mengabaikan ucapan Bright yang memintanya untuk tetap tinggal dan ia yang akan bertanggung jawab untuk kebutuhannya, tetapi ia tidak peduli dan seakan abai dengan kilauan harta yang akhirnya tidak ia dapatkan jua.
Mata Dini yang basah oleh air mata segera ia basuh dengan air. Ini saatnya bagi dirinya untuk melayani keinginan Bright dan ia harus kembali memakai topeng wajah Mentari yang sangat diinginkan oleh Bright.
Dini mengintip dari pintu dan ia sebenarnya sejak tadi tahu kalau mood Bright sedang tidak baik. Ia mendengar beberapa kali Bright mengumpat karena tadi di proyek ia tidak bisa mendapatkan Mentari kembali. Padahal mereka sudah begitu dekat namun sayang sekali Mentari terus saja menghindar dan belum lagi ada orang yang ditugaskan Zio untuk mengawasi Mentari.
Bright sudah berbaring di tempat tidur dan menanti Dini untuk segera melayaninya. Wanita hamil itu pun menguatkan hati, setidaknya ia harus melakukan ini agar tetap mendapat tempat tinggal dan juga perlindungan dari Bright. Hanya Bright tempat yang bisa ia jadikan rumah untuk pulang. Tetapi rumah ini sudah ia lepaskan dan tinggal menunggu waktu ia akan terusir dari sini.
Wajah penuh kesedihan itu pun diatur sedemikian mungkin hingga terlihat ia sangat bahagia dan bergairah. Dini mulai melakukan tugasnya dengan melucuti setiap kain yang menempel di tubuh Bright. Semua ia yang melakukannya dan pemanasan pun dirinya yang melakukan sedangkan Bright hanya menerima saja.
__ADS_1
Permainan panas pun terjadi dan kini Bright yang memegang kendali. Ia begitu kasar malam ini sebab hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia melampiaskan segalanya pada Dini dan wanita itu terus merintih kesaktian. Ia meminta Bright untuk berhenti tetapi pria itu tidak mendengarkan dan ia bahkan semakin bersemangat menggempur Dini dengan tiada rasa belas kasihnya.
Dini yang sudah tidak tahan lagi dengan sisa tenaganya mendorong Bright hingga pria itu jatuh dari tempat tidur.
"Dini! Lu cari mati!" bentak Bright yang kini sudah berdiri dan bersiap mencekik Dini.
Dini menggeleng, ia memegangi perutnya yang terasa sakit dan Bright bisa melihat wajah Dini terlihat pucat dan keringat sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.
Mendengar ucapan Dini tersebut Bright langsung tersadar. Ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya, karena walau bagaimanapun ia mencintai anak itu. Dengan cepat Bright memakai pakaiannya dan juga ia memakaikan pakaian untuk Dini. Bright menggendong Dini keluar dari apartemen dan membawanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Bright mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, melihat Dini yang terus merintih kesakitan membuat Bright semakin ketakutan. Ia tidak ingin kehilangan darah dagingnya yang sudah ia nantikan kehadirannya.
"Bertahanlah amor, sebentar lagi kita akan segera sampai," ucap Bright dengan sebelah tangannya menggenggam tangan Dini, ia mengecup berkali-kali punggung tangan Dini dan berharap perlakuannya tersebut bisa membuat Dini kuat.
Dalam rintihannya Dini menangis haru. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kasih sayang Bright. Jika pun ia akan mati detik ini juga, ia merasa bahagia sebab Bright kembali, pria yang dulu sangat mencintainya itu kembali peduli padanya.
'Terima kasih Bright, setidaknya aku merasa lega karena kamu kembali bersikap seperti dulu padaku. Aku sangat mencintaimu, Bright. Sangat!'
Perlahan-lahan kesadaran Dini menghilang dan tangannya yang digenggam oleh Bright jatuh lemas.
__ADS_1
"Dini, sayang, amor, bertahanlah. Kita akan segera sampai di rumah sakit. Maafin aku sudah membuatmu dan bayi kita sakit. Maafkan aku," lirih Bright kemudian ia kembali memacu kecepatan mobilnya di atas rata-rata.