CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~126


__ADS_3

"Tapi kamu jangan bilang-bilang sama keluarga dulu kalau kita udah jadian. Kata kamu itu surprise biar nanti diumumin kalau kamu udah dapat IPK 4,00 di semester satu. Kamu 'kan katanya nggak mau ketahuan pacaran yang akan membuat waktu belajar kamu jadi tersita," ucap Juan mencoba untuk mencuci pikiran Lidya.


Yang benar saja Juan membiarkan Lidya bertanya ini dan itu pada keluarganya terutama Mentari, ia pasti akan dibully atau paling tidak akan menjadi bahan ejekan dari mereka.


Juan harus pintar mengambil kesempatan ini. Dan lagi ia harus bisa mendapatkan hati Lidya sebelum ingatan gadis ini kembali lagi dan akhirnya kebohongannya terungkap.


Lidya sendiri hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia memang membenarkan setiap ucapan Juan yang dirinya takut ketahuan punya kekasih. Tapi mengenai kejutan dan tentang nilai IPK semester satu, Lidya sepertinya merasa asing dan tidak merasa pernah berkata demikian.


Wajah bingung Lidya tentu saja diperhatikan oleh Juan. Ia meringis pelan sembari memalingkan wajahnya. Ia bingung apakah langkah yang ia ambil ini sudah benar atau tidak. Ia tahu sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga dan begitu pula dengan kebohongan yang Juan ciptakan. Ia hanya berharap Lidya sudah membalas perasaannya ketika nanti ia tersadar dan mengingat masa lalunya.


"Sebaiknya sekarang kamu istirahat ya sayang, nanti besok pagi keluarga akan datang. Harus banyak-banyak istirahat biar cepat pulih dan pulang," ucap Juan yang mulai mendalami perannya.


Pipi Lidya bersemu merah, ia tidak menyangka saja akan dipanggil sayang oleh Juan. Entah kebaikan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu hingga mendapatkan kekasih sebaik dan setampan Juan. Lidya pun bisa melihat jika Juan ini sangat terawat dan bisa jadi ia merupakan pria mapan.

__ADS_1


"A-aku sudah banyak tidur. Rasanya aku tidak ingin tidur lagi sekarang," ucap Lidya menolak permintaan Juan yang menyuruhnya untuk tidur.


Juan hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Lidya yang terdengar kaku dan wajahnya yang malu-malu. Ia pun mengajaknya bercerita sambil sesekali menutup mulutnya karena menguap. Ia sudah sangat lelah karena belum beristirahat seharian penuh. Tubuh Juan sangat lelah dan ia benar-benar mengantuk saat ini, hanya saja ia tidak ingin melewatkan waktu bersama Lidya.


Sementara Lidya yang melihat Juan terus menahan rasa kantuknya pun menjadi kasihan. Ia berpura-pura menguap dan mengatakan jika ia sudah sangat mengantuk. Ia pun berpamitan untuk tidur lebih dulu padahal Lidya hanya berpura-pura menutup matanya saja.


Melihat Lidya yang sudah tertidur, Juan pun akhirnya bernapas lega. Ia mengusap kepala Lidya kemudian ia berjalan ke arah pintu. Lidya pun perlahan membuka matanya dan melirik ke arah pintu yang tertutup karena Juan baru saja keluar. Andaikan ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Juan tidak perlu tidur di luar untuk menungguinya.


Juan tidak mungkin tidur di sampingnya karena saat ini Lidya berada di ruang ICU dan lagi ada banyak alat yang terpasang di tubuh Lidya hingga Juan tidak mau mengambil risiko dalam kesempitan.


Lidya ingin menanyakan hal tersebut kepada Juan, akan tetapi ia khawatir akan menyinggung perasaan Juan. Lidya merutuki dirinya sendiri yang melupakan bagaimana ia dan Juan sampai memiliki hubungan spesial itu. Apalagi melihat kekasihnya yang tampan rupanya semakin menyalahkan dirinya karena tidak mengingat apapun tentangnya dan Juan.


Mungkinkah dia benar kekasihku? Tapi kenapa aku merasa ragu? Aku merasakan perasaan asing terhadapnya, seharusnya aku seperti mengenalnya tapi aku sama sekali tidak mengetahui dia siapa.

__ADS_1


Lidya bertanya-tanya dalam hati, ada rasa khawatir dan juga ketakutan dalam dirinya jika sebenarnya Juan bukanlah orang baik dan hanya memanfaatkan dirinya saja yang sedang sakit.


Namun Lidya tidak bisa berbohong jika ada perasaan nyaman berada di dekat Juan. Ada hal yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata yang ia rasakan saat bersama dengan Juan. Ia merasa bahagia sekaligus resah dalam satu waktu yang sama.


"Hanya Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku harap semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang cidera serius ataupun melakukan hal buruk terhadap aku," ucap Lidya dengan suara yang lirih.


.....


Dini memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia baru saja melakukan sesi percintaan panas dengan Bright. Seperti biasa, ia akan mengenakan topeng berwajah Mentari dan Bright akan menggempurnya dengan habis-habisan.


Dini membiarkan Bright beristirahat dengan sendirinya sedangkan ia harus kembali ke kamar dan mengeluhkan segala isi hatinya pada dinding di kamarnya. Dinding yang merupakan tempat teryaman Dini untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya.


"Entah sampai kapan harus begini?Aku memang sangat membutuhkan banyak uang dan aku harus tahan beberapa saat lagi sampai uangku cukup untuk pindah dan mencari tempat tinggal sendiri lalu hidup bahagia bersama anak ini," gumam Dini kemudian ia menyeka air matanya yang kembali tumpah karena membayangkan nasib hidupnya yang harus jadi seperti ini.

__ADS_1


Dini pun mencoba untuk melelapkan dirinya dalam tidur, hanya saja kantuk itu memang enggan datang dan akhirnya Dini menghabiskan waktu hingga pagi menjelang dengan melamun.


__ADS_2