CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~100


__ADS_3

Bright terkejut melihat pintu ruangan yang dibuka dengan kasar oleh Dini, ia ingin marah akan tetapi wanita itu tentu tidak akan mengizinkannya sebab ia lebih dulu menunjukkan wajah penuh dengan amarah. Dini langsung menarik kasar kursi yang ada di depannya kemudian ia duduk dengan wajah bersungut-sungut.


Bright menaikkan satu alisnya, tatapannya sudah penuh dengan tanya tanpa ia mengucapkan pertanyaan.


"Kita kecolongan Bright, ternyata Zio dan Mentari sudah menikah. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus gue lakukan sekarang? Zio nggak mau menikahi gue tanpa izin dari Mentari! Bukannya lu yang harusnya ngurusin Mentari, kok lu nggak tahu sih mereka udah nikah?" tanya Dini dengan berbicara tanpa spasi.


Bright langsung tersentak, pulpen yang ia genggam langsung terjatuh di atas meja mendengar ucapan Dini tersebut. Bagaimana ia bisa melewatkan berita sebesar ini, padahal ia selalu bertemu dengan Mentari, akan tetapi ia sama sekali tidak tahu jika gadis itu kini telah berganti status menjadi seorang istri.


Bright tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya menatap Dini dengan begitu datar. Namun siapa yang menyangka jika di pikirannya saat ini sedang merencanakan sebuah pertemuan dan ia akan menanyai langsung kepada Mentari, apakah benar ia sudah menikah dengan Zio atau belum.


Melihat reaksi Bright yang biasa-biasa saja membuat Dini melongo. Ia tidak habis pikir mengapa dalam situasi serumit ini Bright tidak mengeluarkan pendapatnya, padahal Dini datang untuk meminta bantuan darinya.


"Bright speak up!" bentak Dini yang begitu kesal karena sedari tadi Bright hanya diam saja dan terlihat sedang fokus pada dokumen yang ada di mejanya.


"Lu mau gue ngomong apa, amor?" tanya Bright mencoba untuk meladeni Dini dengan baik. Dini tidak tahu saja jika saat ini Bright juga tengah berpikir keras, hanya saja ia tidak ingin menunjukkannya.


Dini menatap tajam ke arah Bright. Ia merasa sia-sia saja datang menemui kekasihnya ini dan justru ia dibuat dongkol karena Bright seolah acuh dengan keluhannya.


Merasa tidak mendapatkan apa-apa dari Bright, Dini memutuskan untuk pulang saja. Percuma ia berada di sini sedangkan Bright sendiri acuh tak acuh padanya.


Selepas Dini pergi, Bright melepaskan tatapannya dari dokumen tersebut. Ia menyandarkan kepalanya di kursi lalu ia memejamkan matanya. Memikirkan Mentari yang sudah menikah dengan Zio membuat kepalanya menjadi pusing, belum lagi ocehan Dini yang semakin menambah beban di pikiran Bright.


"Padahal tadi gue merasa bakalan bisa dapatin hatinya, eh ternyata dia sudah sold out," gumam Bright. "Tapi bukan berarti gue nyerah ya. Apalagi Zio sedang dalam masalah saat ini. Rumah tangga mereka itu sangat renggang dan gue bakalan tetap maju untuk mendapatkan Mentari," imbuh Bright. Ia tersenyum tipis kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


.


.


Brakk ...


Zio yang sedang memeriksa beberapa dokumen dibuat terjungkit karena pintu ruangannya dibuka dengan kasar. Baru saja ia akan marah tetapi ia terdiam karena pelakunya adalah Oliver.

__ADS_1


Oliver berjalan mendekati Zio dan langsung menarik kerah jas milik sepupunya itu hingga Zio berdiri tepat di hadapannya. Bisa Zio lihat saat ini Oliver begitu marah. Ia yakin ini pasti ada kaitannya dengan masalah yang tengah ia hadapi.


"Dasar bodoh! Lu bisa-bisanya nggak ngabarin gue kalau lu ada masalah besar kayak gini. Apa lu lupa kalau masih punya saudara kayak gue?" bentak Oliver, ingin sekali ia memberikan pukulan di wajah tampan Zio, akan tetapi nanti pasti ia akan kena omel Mentari dan bersambung ke Mawar.


"Lu tahu dari mana masalah ini?" Bukannya menjelaskan, Zio malah balik bertanya kepada Oliver. Walaupun sesungguhnya ia tahu pasti sang kakek yang sudah menceritakan kepada saudara sepupunya ini.


Hari di mana ketika Zio dan kakek Rasyid pergi menemui keluarga Harun Vindex, sepulangnya dari sana kakek Rasyid langsung menghubungi Oliver dan memintanya untuk pulang. Ia menceritakan semua masalah Zio karena ia yakin Oliver lah yang paling mampu untuk membantu Zio keluar dari masalah ini.


Dari ketiga cucu lelakinya, Oliver yang paling dewasa dalam menghadapi segala macam masalah. Walaupun kelakuan Oliver sebelas dua belas dengan Zio, akan tetapi pria itu selalu mampu menyelesaikan masalahnya dengan cara yang dewasa.


"Gue udah tahu semuanya, kakek yang udah ceritain sama gue. Dan sekarang gue mau dengar langsung sama lu, apa benar kejadiannya seperti itu? Dan lu yakin gitu kalau anak di kandungan Dini itu adalah milikku?"


Oliver melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Zio, kemudian ia mengajak saudaranya itu untuk duduk di sofa agar mereka bisa berbicara dengan santai.


Zio pun kembali menceritakan duduk perkaranya kepada Oliver, dalam hati ia merasa lega karena kakeknya mengirim bala bantuan tepat waktu. Walaupun Zio terima di ceramahnya panjang kali lebar kali tinggi oleh Oliver, akan tetapi ia yakin saudaranya ini pasti sudah membuat rencana untuk membantunya keluar dari masalah bersama Dini.


"Lu itu orang kaya, banyak duit, kenapa nggak sewa aja gitu detektif atau orang-orang yang handal buat nyelidikin si Dini? Bukannya lu juga udah tahu seperti apa sepak terjang si Dini, lu juga udah tahu kalau si Bright itu mantan pacarnya Dini, emang lu nggak curiga gitu kalau janin itu punya mereka? Dan kenapa lu jadi bego kayak gini sih?"


"Lu bener bro. Kenapa gue nggak sampai kepikiran ke arah sana? Tapi tadi kata dokter, janin itu masih berusia satu bulan dalam kandungan Dini. Dan gue nggak curiga lho kalau itu kerjaan Dini untuk menyogok dokternya, karena kita sama-sama datang dan dia sebelumnya nggak tahu rumah sakit mana yang bakalan gue tuju," ucap Zio menjelaskan lagi.


Oliver menghela napas, ia kembali berpikir cara apa yang paling pas untuk membantu Zio saat ini. Beberapa saat kemudian Oliver sudah menemukan sebuah ide yang menurutnya sangat brilian namun memang sangat berisiko.


Oliver mengatakan kepada Zio bagaimana jika mereka mengumpan Mentari untuk mencari tahu tentang Bright, sedangkan Zio akan mencari tahu tentang Dini. Mereka akan bekerja sama, sedangkan Oliver akan memanggil kenalannya yang merupakan detektif yang handal. Orang itu bisa diandalkan untuk mencaritahu tentang Dini bahkan memecahkan masalah yang sangat sulit sekalipun.


"Lu jangan dulu mikir masalah bayinya, yang sekarang yang paling lu harus utamakan itu adalah masalah video itu. Video itu adalah kartu Ace Dini buat bikin lu bertekuk lutut sama dia. Kita bakalan bagi tugas nanti, nanti biar gue minta Juan buat jadi bodyguard untuk selalu mengawasi Mentari. Istri lu saat ini pasti akan dalam bahaya jika sampai Dini berbuat nekat."


Zio menganggukkan kepalanya, ia paham dengan maksud dari rencana Oliver sekarang. Mereka memang harus mendapatkan video itu terlebih dahulu dari Dini, sebelum nanti video itu akan Dini sebar jika seandainya dia berani macam-macam atau tidak menuruti keinginannya.


"Kalau perlu nanti jika Dini tidak bisa diajak kerjasama baik-baik, kita bakalan culik dia, kita ancam dia dan bikin dia mengaku semua perbuatannya, Bright juga."


Zio mengiyakan ucapan Oliver tersebut hanya saja ia sempat mengajukan protes karena istrinya itu harus dibawa-bawa. Namun Oliver meyakinkan Mentari akan aman karena Juan akan menjaganya. Bright sudah tahu tentang Oliver dan juga Zio yang bersaudara, sedangkan Juan tidak banyak yang tahu tentangnya sehingga Juan bisa dijadikan bodyguard sementara untuk Mentari.

__ADS_1


Tangan Oliver kemudian merangkul pundak Zio. Ia tersenyum tulus pada saudaranya itu. Zio memang seringkali seperti ini, jika masalah bertubi-tubi menghantamnya, ia akan kelimpungan dan bahkan tidak mampu berpikir panjang. Ia bersyukur karena masih bisa membantu Zio, sedangkan Juan sendiri sebenarnya adalah orang yang cekatan, hanya saja ia selalu menunggu perintah karena tidak ingin melakukan kesalahan.


"Gue lebih tertarik kalau kita culik Dini," ucap Zio sambil menyeringai.


Oliver menoyor kepala Zio. "Jangan aneh-aneh dulu deh, rencana pertama dulu. Oh iya, gimana kalau sekali lagi lu ajak dia periksa, tapi sama dokter lain. Lu sendiri 'kan bilang kalau semua itu rencana Dini, bisa jadi dia itu juga udah hamil duluan sebelum berhubungan sama lu, dan kehamilannya itu dia jadiin senjata buat ngejebak lu biar nikah sama dia."


Ucapan Oliver kembali diiyakan oleh Zio. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa berpikir seluas Oliver setiap kali dalam masalah. Untung saja Oliver adalah saudaranya, jika saja Oliver masih menjadi saingannya dalam merebut hati Mentari, bisa ia pastikan Oliver akan menjadi pemenangnya.


.


.


Mentari tersenyum menyambut kedatangan Bright. Pria itu membalas senyumannya namun ia mencari-cari keberadaan Mawar namun ia tidak menemukannya. Bright mengira bahwa Mawar sedang berada di toilet, akan tetapi setelah Mentari mengatakan jika ia datang sendiri sebab Mawar memiliki urusan lain, Bright pun mengerti. Bahkan ia sangat senang karena ia memang ingin mengambil waktu berdua dengan Mentari.


Bright meminta Mentari untuk memesan makanan dan minuman, Mentari pun langsung menurut. Bright merasa ada yang beda dari Mentari, lebih terbuka dan tidak terkesan ketus lagi padanya. Oh ... oh ... jangan lupakan saat pandangan Bright tertuju pada jari Mentari yang dilingkari oleh sebuah cincin yang indah. Hatinya terasa diremas kuat. Terluka dan luka itu diberi perasaan air garam, perih!


"Cincin kamu bagus, kamu udah nikah?" tanya Bright memastikan.


Mentari tersenyum kecut, hal itu tak luput dari pandangan mata Bright. Ia heran, ia pikir Mentari akan sangat bersemangat menceritakan pernikahannya mengingat selama ini Mentari begitu membanggakan Zio.


"Oh, apa saya salah bertanya?"


Mentari menggeleng, ia kemudian terlihat memaksakan senyumannya. "Entahlah, Pak. Saya memang sudah menikah tapi mungkin sebentar lagi akan berakhir. Sebenarnya saya malu kepada Anda ..."


Bright mendengarkan dengan baik, dalam hati ia merasa senang karena ia bisa menebak kemana arah pembicaraan Mentari. "Malu? Kenapa harus malu kepada saya? Memangnya ada masalah apa dengan saya? Oh ya, jika boleh tidak perlu terlalu formal, kita tidak sedang berada di kantor," ucap Bright, berharap di dalam hatinya yang paling dalam ia akan dekat dengan Mentari dan ia ingin menjadi pahlawan kesiangan untuk hati Mentari.


Bola mata Mentari bergerak gelisah, Bright bisa melihatnya dan ia mengatakan lagi jika Mentari tidak siap bercerita maka ia tidak akan bertanya lagi. Sebaiknya mereka membahas tentang pekerjaan saja.


"Baiklah. Maaf sebelumnya karena sudah melenceng dari pekerjaan. Mari kita mulai meetingnya."


Bright kemudian mulai menjabarkan tentang proyek yang mereka rombak secara tiba-tiba. Mentari terus memperhatikannya. Bright pun semakin menunjukkan kepiawaiannya dan juga ingin memperlihatkan kepada Mentari bahwa ia juga merupakan lelaki hebat seperti Zio.

__ADS_1


Andai dia memilih gue, pasti bakalan gue bahagiain. Janji nggak bakalan nyakitin. Mentari, gue jatuh cinta sama lu. Andai lu mau terima gue, janda lu pun gue nggak masalah. Gue bakalan selalu setia disini buat nungguin lu jadi janda dan gue yakin sebentar lagi. Gue bakalan rentangin tangan gue buat nyambut lu ke dalam pelukan gue. Ya Tuhan ... tolong buatlah Mentari berpisah dari Zio, gue mohon ...!


__ADS_2