CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 124


__ADS_3

Maya dan Mentari menunggui Lidya siuman di depan ruang ICU. Mereka juga menunggu kedatangan Juan dan kedua orang tua Lidya, entah apa yang akan mereka katakan nanti, mereka sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa Lidya saat tinggal bersama mereka beberapa hari saja.


Zio pun juga berada disana. Ia khawatir pada kondisi Lidya, ia juga merasa bersedih melihat sang istri tengah bersedih. Tapi satu hal yang paling Zio pikirkan, ia memikirkan Dini yang kabur entah kemana.


Sebenarnya Zio bisa saja mencari Dini ke tempat Bright, akan tetapi ia merasa tidak yakin karena ia tahu Bright sudah tidak menginginkan Dini lagi. Mencari ke rumah keluarga Vindex pun percuma karena Dini tidak mungkin datang ke tempat yang sangat gampang untuk mendapatkannya. Di rumah itu hanya tertinggal asisten rumah tangga saja yang Zio minta untuk tetap tinggal agar rumahnya tetap terawat dan tidak kosong.


Oliver pun belum memberi kabar tentang keberadaan Dini. Sepertinya wanita itu pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun.


Apa dia pergi menembus dimensi lain?


Pertanyaan Zio dalam hati itu membuat dirinya sendiri terkekeh. Hal yang tidak mungkin terjadi dan itu hanyalah sebuah cerita fantasi saja. Tidak terjadi dalam dunia nyata, pikir Zio.


"Sayang, Ma, apakah kalian tidak ingin makan dulu? Di sini ada petugas yang akan menjaga Lidya, mari kita makan sebentar. Jangan sampai kalian yang jatuh sakit lagi. Jangan berkata tidak nafsu makan ya, karena menjaga orang sakit pun membutuhkan tenaga," ajak Zio dengan bahasa yang jelas sekali kalau ia tidak ingin dibantah.


Mau tidak mau Mentari dan mama Maya mengikuti ajakan Zio. Mereka memang belum makan sejak sore dan bahkan Mentari belum makan sejak tadi siang. Ia sibuk memikirkan keadaan Lidya dan lupa memikirkan dirinya sendiri. Untung saja da Zio yang selalu perhatian dan peduli dengannya, suaminya itu tidak membiarkannya menyiksa dirinya sendiri.


Zio hanya mengajak mereka makan di warung tenda yang tak jauh dari rumah sakit. Ia tahu istri dan mertuanya ini tidak akan sanggup berlama-lama di luar dan membiarkan Lidya tanpa pengawasan. Apalagi mereka sedang menunggu kedatangan orang tua Lidya, tentu saja mereka harus stand by di tempat. Mereka tidak ingin orang tua Lidya salah paham akan hal ini.


"Setelah nanti orang tua Lidya datang, aku mohon Mama dan Tari pulang ya. Biar aku dan Juan yang berjaga di rumah sakit. Kalian bisa datang besok pagi dan ajaklah kedua orang tua Lidya untuk beristirahat di rumah. Perjalanan cukup jauh dan melelehkan, mereka pasti butuh beristirahat," ucap Zio dan ia bisa melihat istrinya itu akan melakukan protes.


"Tapi Zio, aku nggak enak sama Om dan Tante kalau sampai kita pulang ke rumah. Ini semua tanggung jawab aku sama mama, Lidya itu tanggung jawab kita," ucap Mentari.


Zio hanya tersenyum saja. Ia tahu jika membuka sesi debat dengan istrinya itu tidak akan pernah selesai jika ia tidak segera mengakhirinya. Mama Maya sendiri ia lebih setuju dengan ucapan Zio hanya saja tidak mengeluarkan pendapatnya.


Beberapa saat setelah mereka kembali lagi ke rumah sakit, Juan pun datang bersama dengan keduaborang lansung tua Lidya. Mama Maya dan kedua saudaranya itu langsung berpelukan. Mama Maya dan Mentari meminta maaf karena mereka lalai menjaga Lidya hingga berakhir di rumah sakit.

__ADS_1


Zio dan Juan memberikan ruang untuk keluarga itu saling menguatkan. Ia mengajak Juan untuk duduk sedikit menjauh karena ia tahu adiknya itu pasti sangat lelah karena seharian ini disibukkan dengan urusan Lidya.


"Setelah ini lu pulang dan istirahat. Biar gue disini yang berjaga sama anak buah gue," ucap Zio sambil menatap Juan yang terlihat tidak menampilkan raut wajah lelah.


"Oh jangan Kak. Ini semua terjadi karena kesalahanku dan aku merasa sangat bertanggung jawab atas Lidya. Biar aku yang menjaganya dan kalian sebaiknya pulang saja ke rumah. Oh ya, kedua orang tua Lidya itu sudah sangat kelelahan, Kak. Mereka seharian bekerja di sawah dan di ladang, belum sempat istirahat dan aku sudah membawanya kemari. Sebaiknya mereka istirahat di rumah Tante Maya saja," tolak halus Juan dan tak lupa ia memaparkan tentang keadaan kedua orang tua Lidya.


Zio menepuk pundak Juan. Ia mengatakan kepada adiknya tersebut jika ini bukanlah sepenuhnya kesalahan Juan. Ini murni sebuah kecelakaan walaupun ada unsur kesengajaan. Zio juga merasa turut andil dalam masalah ini karena tadinya Dwine berniat untuk mencelakainya dan mengira Juan adalah dirinya. Memang wajah mereka terlihat sekilas itu cukup mirip, itulah yang mungkin membuat Dwine berniat menabrak Juan.


"Tapi ... apa benar ini hanya sekadar rasa tanggung jawab dan bersalah? Bukan karena lu tahu kalau Lidya itu sebenarnya sangat cantik?"


Uhukk ...


Zio tersenyum penuh kemenangan setelah ia mendapatkan jawaban Juan tanpa diwakilkan dengan kata-kata. Juan yang terkejut bahkan sampai tersedak ludahnya sendiri, wajah Juan yang memerah malu serta Juan yang salah tingkah sudah menjawab segalanya.


Zaman sekarang para perawan sering terabaikan. Janda memang menggoda, tapi istri orang lebih menantang, guys. Apalagi modelan kayak istri gue, sekelas Bright saja jatuh cinta, apalagi yang lainnya, gumam Zio dalam hati.


Juan tidak mampu berkata-kata, ia juga belum bisa menyatakan diri apakah perasaanya ini benar adanya. Ia khawatir hanya perasaan semu lalu menghilang begitu saja. Biarlah perasaan ini ia simpan dulu sampai akhirnya ia memantapkan hatinya untuk memilih Lidya.


"Oh ya Bro, lu itu nggak usah terlalu kaku ke gue. Hilangin tuh panggilan aku-kamu kalau bareng gue. Bukannya gue udah menerima lu jadi adik gue? Lu nggak perlu takut lagi gue bakalan natap lu dengan sinis, nggak akan lagi kecuali lu berniat rebut istri gue. Lu-gue lebih enak gue dengar. Kita bisa lebih akrab dibandingkan gue dengar lu ngomong sama gue pakai bahasa formal. Lu paham nggak?"


Secepat kilat Juan mengangguk dan Zio langsung merentangkan tangannya. Juan tanpa menunggu lama langsung masuk ke dalam pelukan kakaknya tersebut. Hal yang sudah begitu lama ia impikan, walau hal ini ia dapatkan dari Oliver juga sejak kecil, tapi sangat berbeda jika itu adalah Ezio. Juan sangat bahagia karena kakaknya ini dengan tulus menerimanya walau beberapa waktu belakangan ini memang mereka sangat kompak.


Di belakang mereka ada Mentari yang menangis haru. Ia sangat bahagia melihat dua saudara itu tidak perlu lagi menjaga jarak. Ia tahu jika Zio sudah membuka akses terhadap Juan, hanya saja Juan masih merasa begitu kaku dan masih belum sepenuhnya percaya jika Zio memang mau menganggapnya sebagai seorang adik dari ayah yang sama.


Mentari menghapus air matanya dan ia memanggil Zio dan Juan untuk datang ke area ruang ICU. Dengan posesif Zio memeluk pinggang Mentari dan Juan memang benar-benar merasa jika kini ia tidak lagi merasa cemburu saat melihat Zio bersikap sok romantis pada Mentari.

__ADS_1


Perasaan gue yang dulu kalau lihat Mentari dan kak Zio bermesraan yang bikin gue panas itu udah nggak ada lagi. Mendadak gue berhasil move on dari Mentari. Apakah ini karena keajaiban dari Lidya? Wah jika benar begitu, Lidya adalah gadis keberuntungan gue. Dia bisa membawa warna baru dalam kehidupan gue. Semoga Lidya suka juga sama gue, gumam Juan dalam hati.


Juan masuk ke dalam ruang ICU, ia tersenyum menatap Lidya yang masih betah berada di alam bawah sadarnya. Setelah mengambil keputusan dan kesepakatan bersama kalau Juan saja yang akan menjaga Lidya, ia pun langsung masuk ke dalam ruangan ini sedangkan yang lainnya pulang dengan menaiki mobil Zio.


Juan duduk sambil menggenggam tangan Lidya yang begitu lemah. Ia mendaratkan satu kecupan di punggung tangan tersebut lalu ia terkekeh karena sudah sangat berani menyentuh Lidya saat orangnya sedang berjuang untuk kembali sehat.


"Lidya, lu bangun nggak? Gue bakalan cium lu sekarang kalau lu nggak bangun," ancam Juan mencoba menirukan adegan-adegan yang biasanya paling ampuh digunakan di setiap film romantis.


Namun sama sekali tidak ada pergerakan dari Lidya. Juan hanya bisa menghela napas karena apa yang ia lakukan memanglah sia-sia. Lidya tidak mungkin bangun hanya karena ia mengancam akan menciumnya.


"Lu itu cantik, tapi lu lebih cantik lagi karena berhasil menyembunyikan kecantikan lu ini. Gue salut sama lu dan maafin gue karena sempat nggak suka sama penampilan lu itu. Gue bahkan sampai mual melihat lu dandan kayak gitu. Tapi setelah hari ini dan setelah lu sembuh nanti, gue sendiri yang bakalan minta lu buat tetap dandan kayak gitu sampai akhirnya kita menikah. Gue udah jatuh cinta sama lu, lu mau 'kan jadi bagian dari hati gue?"


Juan terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Ia merasa dirinya sudah cukup gila karena menyatakan cinta pada seseorang yang tidak mungkin mendengarnya. Ya, Juan sebenarnya hanya latihan saja karena jika dihadapkan langsung dengan Lidya, bukan tidak mungkin Juan akan kehilangan kata-katanya.


Juan bukan pria berpengalaman seperti Zio dan Oliver. Ia sendiri bahkan merasa geli saat mendengar ucapan cintanya yang seakan terlalu lebay. Entah nanti Mentari atau yang lainnya akan menertawakan dirinya jika saja mereka mendengar apa yang tadi Juan ucapkan.


"Lidya ... lu tahu nggak—"


Ucapan Juan terhenti begitu ia melihat jari-jari Lidya mulai bergerak. Dengan cepat Juan menekan tombol untuk memanggil perawat yang berjaga. Awalnya Juan merasa lega karena Lidya akan segera sadar, tetapi mendadak tubuh Lidya kejang-kejang dan itu membuat Juan panik.


"Lidya lu kenapa? Gue mohon lu bertahan dan dokter sebentar lagi bakalan datang. Lidya bertahan, gue sayang sama lu!"


Beberapa saat kemudian perawat yang bertugas untuk menjaga pasien di ruang ICU datang. Ia kaget karena melihat keadaan Lidya yang mendadak kejang-kejang. Dengan cepat ia meminta temannya untuk memanggilnya dokter agar segera datang memeriksa keadaan Lidya. Beberapa saat kemudian dokter pun datang.


"Dokter tolong dia, Dok. Tolong selamatkan Lidya, jangan sampai dia kenapa-napa. Saya sangat menyayanginya Dokter," pinta Juan yang sudah begitu panik ketika dokter datang untuk melihat keadaan Lidya.

__ADS_1


__ADS_2