
Maya hampir saja tumbang namun dengan cepat Zio menangkapnya. Belum sempat Maya menangis, Zio langsung mengatakan jika ia baru saja berbohong karena ingin segera dinikahkan dengan Mentari. Awalnya Maya tidak percaya, tetapi karena dibantu oleh Mentari dan juga empat warga tersebut akhirnya Maya bisa bernapas lega karena ternyata Zio emang hanya berbicara asal saja.
"Maaf Tante, tapi ini adalah kesempatan yang baik untuk menikah. Anak Tante selalu saja menolak jika diajak menikah, jadi Zio berpikir cara instan saja. Sekali lagi maaf ya, Tan. Tenang saja, selama pacaran sama Zio, Tari masih aman dan nggak pernah diapa-apain kok," ucap Zio dengan bangganya, ia memang sempat menyesal karena asal berbicara dan tidak memikirkan dampaknya.
Maya menghela napas, ia maklum dengan keinginan Zio. Padahal sebenarnya justru lebih baik menyegerakan niat baik, akan tetapi sampai detik ini juga Maya tidak pernah mendengar Mentari mengatakan padanya jika Zio hendak melamarnya sehingga Maya mengira hubungan mereka masih jalan di tempat saja.
Melihat masalah ini sepertinya belum akan berakhir, Mentari berinisiatif untuk membuatkan minuman hangat untuk semuanya. Saat ini sudah hampir pukul dua dini hari dan rasa kantuk justru lenyap karena ulah Zio yang memaksa ingin menikah di tangan hansip. Sungguh tidak pernah ada di bayangan Mentari seorang Dimas Ezio Rasyid bertingkah konyol seperti ini.
Sedangkan di ruang tamu, Zio sibuk membujuk Maya dan empat warga tersebut untuk menikahkannya dengan Mentari. Ia bahkan membocorkan tentang lelaki bernama Bright yang menyukai Mentari dan berencana buruk terhadapnya. Zio terus membumbui ceritanya agar mereka semua percaya dan mau menikahkannya dengan sang kekasih. Cerita ini pasti akan membuat Maya menjadi tidak tenang dan pastinya akan setuju untuk menikahkan mereka agar ada yang menjaga Mentari.
Jika bisa sekarang mengapa harus menunggu dua hari lagi. Nggak masalah nikah dimana aja dan dengan cara apa saja yang penting gue sama Tari sah, gumam Zio dalam hati.
"Jadi gimana nih Bu Maya?" tanya Pak Sahar.
Maya masih diam, ia harus berpikir keras karena walau bagaimanapun Mentari adalah anak satu-satunya dan ia berharap anaknya ini menikah dengan cara yang baik-baik dan juga akan sangat berkesan seumur hidup mereka. Walaupun Maya tahu Zio bukan orang sembarangan, tetapi ia juga tidak setuju jika menikah dibawah tangan hansip seperti ini.
"Begini Nak Zio, tante sebenarnya nggak mau kalian menikah dengan cara seperti ini, tetapi tante juga khawatir sama keadaan Mentari. Apalagi kata kamu orang itu sering datang mengintai Tari, tante sangat khawatir. Tapi jika kalian ingin menikah maka Tante nggak akan ngelarang. Semua keputusan ada di tangan Tari, tante hanya bisa merestui," jawab Maya, ia percaya pada Zio yang pasti akan mampu membahagiakan Mentari baik secara lahir maupun batin.
Mentari yang membawa nampan berisi minuman hangat itu cukup kaget kerena ibunya justru merestui mereka. Ia pikir mamanya itu akan menolak keras, tetapi ternyata ia salah besar. Semua berkat cerita dramatis dan tragis dari Zio.
"Jadi gimana Neng Tari, mau nggak dinikahkan subuh ini juga?" tanya pak Urip.
Mentari yang sudah duduk di samping mamanya langsung menautkan alisnya kemudian ia menggeleng perlahan. "Ya tidak mau lah, Pak."
.
.
__ADS_1
Tidak berhasil dengan rencananya, Mentari yang membatalkan rencananya untuk menikah dua hari ini dan kini Zio tidak habis akal. Ia sudah merancang rencana baru dan ia yakin pasti berhasil. Ia sendiri merutuki dirinya yang tidak berpikir hal ini sebelumnya, jika saja ia sadar sejak dulu maka ia dan Mentari sudah menjadi pasangan suami istri.
Zio tidak marah karena hari ini Mentari menolak diantar ke kantor, menolak makan siang bersama dan juga menolak pulang bersama. Tidak masalah karena Zio memang sudah memiliki kejutan untuk Mentari.
Di ruangannya ia menghubungi Ramon dan memintanya untuk masuk. Tak lama kemudian nampaklah Ramon masuk dan Zio lansung menanyakan perihal rencananya.
"Semua sudah aman, Tuan. Apakah kita akan segera pergi kesana?"
Zio menganggukkan kepalanya, ia kemudian keluar dan mengatakan pada Juan -- yang sekarang menjadi sekretasinya menggantikan Mentari bahwa ia akan keluar bersama Ramon karena ada urusan penting. Juan sendiri tahu kalau tidak ada jadwal meeting di luar tetapi ia tidak ingin memusingkannya karena Zio pasti punya urusan lainnya.
"Kalau wanita ular itu datang, bilang aja gue ada meeting diluar," pesan Zio kepada Juan.
"Tentu Kak. Siapa juga yang mengharapkannya untuk datang ke kantor ini," ucap Juan, bagian mengusir Dini tentu adalah kesenangan pria yang sampai detik ini masih menjomblo.
Zio pun pergi bersama Ramon, keduanya pergi untuk melaksanakan rencana Zio dan memang hanya mereka berdua saja karena sisanya sudah Ramon siapkan untuk waktu yang sudah ditentukan oleh Zio sesuai dengan instruksi dari sang pemilik rencana tersebut.
Ramon sempat merasa ide dari bosnya ini begitu gila, namun ia bisa berkata apa pada orang yang sedang dimabuk cinta. Ubarat kata 'jatuh cinta itu tidak buta hanya saja ia melumpuhkan logika' dan seperti yang terjadi pada Zio saat ini.
Dan semoga tidak akan ada yang akan meniru rencana tuan Zio kali ini. Entah mengapa aku merasa begitu lucu dengan rencananya dan aku juga heran kenapa aku begitu excited menunggu waktunya. Semoga kekasihnya tidak terkejut dengan semua ini. Ya ampun Mentari ... kamu harus sabar menghadapi tuan Zio yang tidak bisa terduga seperti ini.
Setelah semua urusan yang dilakukan oleh Zio dan Ramon rampung, keduanya kembali ke perusahaan dan juga mengatakan bahwa Ramon harus memastikan agar seluruh rencananya berjalan dengan baik hingga waktunya tiba.
Saat mereka sampai di kantor, tepatnya di depan ruangannya, Juan mengatakan kepada Zio kalau tadi Dini sempat datang akan tetapi ia mengusirnya dengan cepat.
"Wanita ular itu selalu saja mengganggumu ya, Kak. Mengapa dia tidak sadar diri sih? Apa gue harus memberikannya pelajaran biar kapok dan nggak datang lagi? Lama-lama geram juga dengan tingkahnya," tanya Juan yang merasa geram bahkan sudah sejak lama.
Zio menggelengkan kepalanya, ia belum akan melakukan sesuatu kepada Dini karena kartu Ace-nya masih berada di tangan Dini. Mentari sendiri sudah tahu, jadi bukan Mentari lagi yang dikhawatirkan Zio melainkan keluarga besarnya dan tindakan negatif yang mungkin akan Dini lakukan seperti menyebarluaskan video mereka tersebut. Zio tidak suka jika harus mendapat kecaman publik.
__ADS_1
Juan hanya mengangkat bahunya begitu Zio masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Ramon pun kembali ke meja kerjanya yang berdekatan dengan Juan. Sesama orang yang dingin dan jarang berbicara, Juan sebenarnya penasaran tetapi ia tidak ingin bertanya lebih kepada Ramon karena Ia berpikir bahwa mereka berdua pasti ada urusan pekerjaan lain yang tidak tercantum dalam jadwal dan agenda harian Zio.
.
.
Mentari uring-uringan di dalam kamar, ia sama sekali tidak mendapatkan kabar dari Zio padahal Ia berharap Zio akan membujuknya lalu mereka akan kembali baik-baik saja. Seharian ia merasa lelah karena tidak memperdulikan Zio dengan niat memberikan hukuman karena kejadian semalam tetapi justru ia dibuat kesal sendiri karena Zio pun sama sekali tidak mencarinya.
Mentari menatap jam dindingnya dan sekarang sudah pukul sepuluh malam. Ia memaksakan dirinya untuk terpejam karena besok harus kembali masuk kerja. Ia terus saja menatap ponsel yang sama sekali tidak berdering ataupun menandakan sebuah notif pesan dari Zio.
Baru saja beberapa saat Mentari terpejam, sebuah ketukan di jendelanya membuat ia terkejut lalu dengan waspada ia mendekati jendela.
"Sayang bukain dong jendelanya, ini aku."
Ucapan tersebut membuat Mentari merasa lega tetapi juga bingung karena mengapa Zio justru datang dari jendela sedangkan ia biasanya melenggang masuk dengan begitu leluasa melewati pintu rumah.
Namun karena Mentari yang juga merindukan Zio karena seharian mereka tidak bertemu, ia langsung membukakan jendela agar Zio bisa segera masuk.
Happ ...
Zio berhasil mendarat di dalam kamar Mentari melewati jendela. Mentari sendiri langsung bertanya mengapa Zio datang tanpa memberi kabar bahkan lewat di jendela pula. Dan Zio hanya menjawab jika ia ingin memberikan Mentari kejutan saja. Mencoba pacaran gaya ekstrim seperti yang diceritakan para hansip semalam.
Keduanya pun duduk di atas tempat tidur Mentari,Zio memeluknya dan meminta maaf karena seharian sudah mengacuhkan Mentari. Ia juga menjelaskan jika seharian ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Mentari langsung maklum sebab kekasihnya ini adalah pengusaha sukses dan waktunya pun lebih banyak tersita dengan pekerjaan.
"Tari ... Mentari ...."
__ADS_1
Suara panggilan tersebut mengejutkan Mentari karena seseorang mengetuk jendela kamarnya. Tanpa berpikir lain-lain, Mentari langsung membuka jendela kamarnya dan ia terkejut karena sangat banyak warga yang berada disana.
"Oh ... jadi setelah semalam kalian gagal dan sekarang kalian melanjutkan ya di kamar. Keluar dan biar kamu diberikan sangsi untuk kalian berdua."