
"Apa? Zio sudah menikah dengan Mentari? Dasar anak kurang ajar, berani sekali dia mengambil keputusan senekat itu. Dia sudah tidak menganggap kami sebagai orang tuanya!"
Danu yang mendapat informasi dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk memata-matai Mentari dan Zio langsung syok luar biasa. Ia tidak menyangka Zio akan melakukan aksi nekat dan belum lagi caranya yang ektrem dengan menjebak Mentari lewat petugas keamanan setempat.
Lebih lanjut orang suruhannya tersebut kembali mengatakan jika saat ini Zio sedang pergi bersama dengan Dini ke suatu tempat, semakinlah bertambah pusing kepala Danu memikirkan kelakuan anaknya yang satu itu.
"Kemana?" tanya Danu.
"Tadinya arah mereka ke Bogor, Tuan. Tapi setelah itu mobil tuan muda Zio hilang entah kemana dan saya kehilangan jejaknya. Sedangkan nona Mentari saat ini sedang berada di rumah karena yang saya tahu mereka keluar dari hotel pagi-pagi sekali," jawab orang tersebut menjabarkan.
Danu memijat pilipisnya yang terasa pusing, memikirkan kelakuan Zio yang baru saja menghabiskan malam bersama dengan istrinya, kemudian pagi harinya ia pergi bersama wanita lain yang dijodohkan dengannya — wanita yang dia tolak karena mengatakan bahwa Dini adalah wanita yang sangat buruk dan ia tidak akan pernah memilihnya.
"Sekarang kau pergilah, cari tahu kemana Zio pergi bersama Dini dan juga tempatkan anak buahmu yang lain untuk mengawasi Mentari," titah Danu.
Orang suruhannya tersebut pun pergi untuk menjalankan tugas sedangkan Danu masih memikirkan perilaku Zio yang menurutnya sangat keterlaluan.
"Jangan sampai Lolita dan ayah tahu masalah ini. Mereka pasti akan syok berat dan entah apa yang akan ayah katakan jika tahu Zio sudah melewati batas," gumam Danu.
Andaikan dia tahu, ayahnya saat ini sudah mengetahui semuanya dan turut andil dalam permainan yang para cucunya sedang mainkan, ia pasti lebih syok lagi.
Danu memikirkan soal Mentari, baginya gadis itu tidaklah buruk, hanya saja bukan seperti ini caranya masuk ke dalam keluarganya. Jika Mentari adalah wanita baik-baik, maka seharusnya dia menunggu untuk dilamar secara resmi, bukan menikah di tangan hansip seperti itu.
Menurut Danu, sebenarnya Mentari bisa membela diri dan menuntut Zio untuk berbicara sejujurnya pada para warga, akan tetapi dia tetap diam dan menerima semua perlakuan Zio, seakan ia juga membenarkan semua kebohongan Zio.
"Entahlah, aku juga bingung wanita mana yang pantas untuk Zio," gumam Danu, ia juga sebenarnya tidak bisa menyalahkan Mentari karena semua ini adalah rencana busuk anaknya.
__ADS_1
Triinggg ...
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Danu. Matanya langsung terbelalak begitu melihat isi pesan tersebut, dimana orang kepercayaannya yang mengelola bagian keuangan di perusahaan yang dipegang oleh Zio mengabarkan bahwa Zio menyuntikkan dana yang sangat besar kepada perusahaan milik keluarga Vindex.
Tentu saja hal ini semakin membuatnya bingung. Zio seolah memperlihatkan kepada mereka jika ia menyukai Dini dan keluarganya. Namun di sisi lain ia juga mengikat Mentari dalam hubungan yang sakral.
"Lalu mengapa dia menikahi Mentari? Apa dia berniat poligami?" keluh Danu yang saat ini membutuhkan obat sakit kepala karena kelakuan putranya itu.
"Tentu saja tidak!"
Suara tersebut mengalihkan perhatian Danu yang sedari tadi terus memikirkan masalah yang diperbuat Zio. Ayahnya datang dan berdiri dengan santainya seolah apa yang baru saja ia dengar bukanlah sebuah masalah besar.
Kakek Rasyid berjalan mendekati Danu dan duduk di hadapannya. Ia tersenyum melihat bagaimana Zio berhasil membuat papinya se-frustrasi ini.
Kali ini Danu semakin dibuat terkejut dengan perkataan ayahnya yang ternyata sudah tahu lebih dulu. Ia merasa dicurangi sebagai ayah dari Zio.
Lebih lanjut, Danu meminta ayahnya untuk menjelaskan dan dengan senang hati kakek Rasyid menceritakan bagaimana permasalahan Zio serta rencana yang sudah ia susun dengan memberikan modal pada perusahaan Vindex.
Danu dibuat tercengang karena bahkan Oliver yang tinggal di luar negeri pun sudah ikut terlibat dan ia menjadi orang terbelakang yang tahu masalah ini dan tidak memiliki peran apapun untuk melindungi anaknya.
"Tenang saja, kau juga punya bagian. Tugasmu mengawasi perusahaan Vindex dan dapatkan bukti akurat dari money loundry yang mereka lakukan. Juga kebusukan-kebusukan mereka agar nanti kita akan membuat ledakan pada keluarga mereka sekaligus. Dan ya ... tidak perlu khawatir soal cucu menantuku karena Juan sudah mengambil peran sebagai bodyguardnya," ucap kakek Rasyid panjang lebar dan Danu hanya bisa mengerang frustrasi.
....
Dini harap-harap cemas menanti jawaban dari Zio yang menggantung ucapannya setelah ia bertanya bagaimana nanti mereka akan menginap. Zio hanya terus menatapnya dan terlihat senyuman Zio sangat mengerikan.
__ADS_1
Dini mulai berkeringat dingin, tatapan Zio seakan menusuk tepat di jantungnya. Ia pernah melihat tatapan seperti ini dulu, ketika Zio tidak menyukainya dan kini ia melihatnya lagi. Dini waspada, ia yakin sekali ada yang tidak beres dari sikap Zio sejak kemarin.
"Kenapa lu? Takut heee," ejek Zio yang melihat jelas bagaimana wajah Dini terlihat waspada.
"L-lu ..."
Dini tidak meneruskan ucapannya begitu melihat seseorang dari arah depan berjalan ke mobil mereka. Zio menyeringai ketika pria itu mengetuk pintu mobil di sebelah Dini. Secara otomatis Zio membukakan kunci untuknya dan dengan cepat ia menarik paksa Dini keluar dari mobil.
"Zio ini apa-apaan?" pekik Dini tak terima saat Oliver menyeretnya paksa.
Dini juga baru sadar kalau saat ini mereka sudah berada di jalan buntu dan di seberang jalan ada sebuah gubuk yang tidak ditempati.
"Inilah liburan kita sayang, kita akan tidur bersama di dalam gubuk itu. Jadi nikmatilah," ucap Zio kemudian membantu Oliver membawa Dini masuk ke dalam gubuk tersebut.
Dini membelalakkan matanya ketika melihat di alam gubuk tersebut ternyata ada beberapa pria yang berbadan kekar serta berwajah sangar. Ia didudukkan secara paksa dan tangan serta kakinya diikat dengan tali hingga Dini berusaha memberontak tapi ia justru menjadi bahan tertawaan.
"Sekarang lu pilih, jujur sama gue itu anak siapa atau lu mau gue kurung disini selamanya. Dan ya, berikan video itu ke gue atau lu harus siap digilir oleh mereka berempat," ucap Zio yang semakin membuat Dini terkejut.
Dini menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak mungkin memilih salah satu dari semua opsi yang diberikan oleh Zio. Semua memiliki risiko tinggi dan Dini tidak mau berada dalam masalah karena salah memilih. Tapi ... semua pilihan itu adalah kesalahan baginya.
"Dasar brengsek lu Zio! Lu udah nipu gue sialan! Beraninya lu main keroyokan kayak gini. Dasar banci!" bentak Dini, ia benda-benda kesal dan geram dengan sikap Zio yang sudah menipunya dengan bersikap manis hanya untuk menjebaknya.
"Uhhh ... manis sekali bibirmu sayang, ucapanmu sangat indah di telingaku ini," ucap Oliver yang mulai memainkan pisau ala seorang psikopat untuk menakut-nakuti Dini.
"Apakah kau mau jika beberapa detik kemudian kau sudah tidak bisa berbicara lagi?" ancam Oliver dengan benar-benar memerankan seorang pembunuh berdarah dingin.
__ADS_1