
Zio menatap kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana dari jendela kamar pribadinya di kantor. Seolah tak ada pekerjaan lain selain menghitung berapa mobil dan motor yang lewat. Pikiran Zio sangat kacau dan ia butuh menenangkan diri namun ia tidak bisa berlari pada Mentari karena masalah ini belum siap ia bicarakan.
Masih jelas teringat ketika ia terbangun di pagi hari dan mendapati Dini sedang tidur di sampingnya dengan keadaan keduanya sama-sama tidak memakai busana. Zio perlahan teringat akan dirinya yang telah tak sengaja atau disengaja untuk mengonsumsi obat perangsang. Ia langsung turun dan membersihkan diri lalu di kamar mandi ia mengumpat dan juga berteriak karena sebuah kesalahan yang ia lakukan dan itu bersama Dini.
Jika saja ia menuntaskan bersama salah satu wanita panggilan mungkin tidak akan ada masalah kedepannya, tetapi ini dengan Dini yang pasti akan berbuntut panjang.
Kebohongan Zio akan dirinya yang masih lama di lokasi proyek hanyalah alibi untuk menutupi jika sebenanrya ia sudah pulang dan Dini memaksa menuntut pertanggung jawaban atas kejadian malam itu. Ia bahkan mengancam dengan rekaman video yang sengaja ia ambil untuk menjatuhkan Zio.
Ia diberi waktu berpikir selama seminggu dan jika tidak maka ia akan melihat keluarganya menonton video tersebut termasuk Mentari. Dini memang sudah merencakan semua ini dengan sangat matang.
"Arrrghhhh! Sialan! Brengsek!"
Zio meninju kaca jendela yang tidak akan mungkin pecah karena terbuat dari bahan khusus atau bulletproof bahkan peluru pun tidak mampu menembusnya.
"Kenapa semua harus seperti ini disaat gue ingin menjatuhkannya. Gue udah dapat semua kebusukan Dini dan ternyata keluarganya itu diambang kehancuran tetapi justru gue yang terjebak. Sial!"
Kembali Zio mengumpat, ia memang belum berkata iya untuk menikah dan ia juga masih memikirkan rencananya untuk membongkar kebusukan keluarga Vindex.
Saat Zio sedang menyandarkan dahinya di dinding dengan tangan terkepal mengungkung kepalanya sendiri, pintu ruangannya di ketuk dan ia bergerak malas untuk membuka pintu tersebut. Ia yakin itu adalah Ramon dan mungkin ini sangat mendesak karena ia sudah berpesan untuk tidak diganggu dulu.
Betapa terkejutnya Zio, yang berdiri di depan pintu bukanlah Ramon melainkan Mentari. Senyuman Mentari yang begitu hangat membuat hati Zio menjadi sejuk. Ia yang tadinya kacau balau sekarang menjadi sedikit bersemangat karena kehadiran sosok ini.
Tapi tunggu dulu, bagaimana bisa Mentari mengetahui Zio berada disini? Bahkan seharusnya Mentari tidak datang ke kantor mengingat ini masih jam kerja.
Mentari langsung menghambur memeluk tubuh Zio. "Gue kangen," ucap Mentari kemudian ia mendorong Zio agar segera masuk ke dalam kamar dan Zio menutup pintu tersebut.
__ADS_1
Keduanya saling berdiri berhadapan. Mentari mendongak menatap Zio dan ia tersenyum miris. "Katanya kita akan saling terbuka, tapi mengapa menghadapi masalah seperti ini justru memilih menjauh dan tidak mau membaginya denganku. Apa aku tidak berarti lagi buat kamu?"
Zio terkejut, darimana dan bagiamana mungkin Mentari bisa mengetahui jika ia memiliki masalah besar. Satu pun keluarganya tidak ada yang tahu tetapi Mentari mendadak tahu segalanya.
"Aku tahu semua tanpa kamu bicara. Aku hanya nggak nyangka aja kalau kamu masih memilih untuk tidak menceritakannya padaku dan memendamnya sendiri padahal aku selalu terbuka padamu. Bukankah jika dibahas bersama-sama kita akan mendapatkan jalan keluarnya?" ucap Mentari, satu tangannya terangkat dan membelai lembut pipi Zio. "Ada aku bersamamu!" lanjutnya.
Mata Zio berkaca-kaca, ia langsung memeluk erat Mentari. Ia tidak peduli Mentari tahu dari mana yang penting saat ini ia memang sangat membutuhkan sosok hangat dan dewasa seperti Mentari untuk membantunya lepas dari masalah yang sedang membelitnya.
Tanpa sadar Zio meneteskan air matanya, dalam hati ia berteriak dengan lantang jika ia sangat beruntung mendapatkan Mentari dan akan berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan gadis ini. Hanya ia yang boleh memilikinya, tidak boleh ada yang lain karena Zio sudah menyerahkan seluruh hatinya pada Mentari Ramadhani binti Ramadhan.
Zio mengajak Mentari untuk duduk di tepi ranjang, ingin sekali ia meminta Mentari untuk duduk di pangkuannya akan tetapi ia tidak akan melakukannya karena takut terpancing pada sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.
"Cerita sama aku gimana bisa kamu sampai kayak gini? Aku akan bantuin kamu buat nyelesaiin masalahnya. Tapi dari yang aku lihat sekarang kamu lagi nggak siap buat membahas apapun. Nggak masalah, tenangin aja dulu diri kamu. Aku bakalan nunggu kok sampai kamu siap buat cerita," ucap lembut Mentari. Mata beningnya menatap penuh kehangatan dibarengi kelembutan pada Zio.
Zio memalingkan wajahnya sesaat kemudian ia menunduk, ia mulai bercerita dari awal kejadian tanpa ada yang ia tutupi hingga selesai.
Raut wajah Mentari terlihat tidak baik-baik saja. Zio langsung menghambur memeluk Mentari dan menangis bagai anak kecil dalam pelukan kekasihnya itu. Mentari membalas pelukannya dan mengusap punggung Zio untuk menenangkannya.
"Aku salah Tari, aku nggak bisa ngendaliin diri aku dari pengaruh obat itu. Aku bahkan merasa sangat jijik pada diriku sendiri dan aku yakin kamu bahkan lebih dari itu. Aku nggak bisa jadi pria yang baik buat kamu, kenapa aku selalu saja terjatuh seperti ini. Apakah ini tanda kalau kita nggak jodoh?Tapi aku maunya kamu!"
Zio tidak peduli tentang apa yang ada dipikiran Mentari karena baginya saat ini lebih baik ia menumpahkan segala keluh kesannya dan juga kegundahan hatinya kepada Mentari, toh gadis ini adalah orang yang paling ia kasihi dan tidak akan pernah mengejeknya sekalipun ia bertingkah bagaikan balita.
"Aku tahu, aku juga bisa melihat bagaimana kau berubah menjadi lelaki yang baik selama bersamaku. Tapi bukankah semua ini di luar kehendakmu Zio? Jangan menyalahkan dirimu seperti ini karena aku tidak marah padamu, hanya sedikit kecewa. Tetapi kau tenang saja, selagi kau selalu terbuka dan berkata jujur padaku maka aku akan terus mempertimbangkan untuk tetap bertahan di samping.
"Aku hanya membutuhkan sebuah kejujuran dan keterbukaan. Masalah sebesar apapun dan seberat apapun itu, jika kamu membaginya denganku maka aku tak akan salah paham dan pasti aku akan membantumu menyelesaikannya. Percayalah."
__ADS_1
Zio semakin mengeratkan pelukannya, ia mengecup berkali-kali puncak kepala Mentari sambil bergumam dalam hati betapa beruntungnya ia memiliki gadis tangguh seperti Mentari. Dia tidak akan melepaskannya walau badai apapun yang menerjang hubungan mereka, Zio akan tetap terus menggenggam tangan Mentari dan tidak akan pernah ia biarkan terlepas lalu disambut oleh tangan yang lainnya.
Mentari kemudian melepaskan pelukannya, ditangkupnya kedua pipi Zio kemudian dengan perlahan ia mendekatkan ke wajahnya lalu ia kecup mesra bibir Zio untuk beberapa detik dan kemudian ia mengecup kedua pipi Zio bergantian dan berakhir di dahi Zio dengan kecupan yang cukup lama hingga Zuo memejamkan kedua matanya.
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
Bunyi ketukan di pintu kamar pribadi Zio membuatnya membuka mata dan terkejut karena tiba-tiba saja Mentari sudah tidak ada di hadapannya. Ia mencoba memanggil-manggil dan juga mencari bahkan hingga ke toilet tetapi ia tidak menemukan Mentari. Ia justru menemukan dirinya sendiri hanya sedang duduk di atas tempat tidur bersama dengan hawa dingin tanpa kehangatan sang mentari kehidupannya.
"Apakah gue baru saja berhalusinasi?" gumam Zio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Zio membuka pintu tersebut dan nampaklah Ramon yang berdiri dengan wajahnya terlihat sangat kusut. "Tuan, di luar ada nona Dini, dia memaksa untuk masuk. Saya harus bagaimana?" tanya Ramon kebingungan.
Zio mendengus, sebenarnya ia tidak siap bertemu dengan Dini karena ia pikir Dini tidak akan menghampirinya di kantor tetapi mungkin wanita iblis itu sudah menaruh mata-mata atau sengaja memata-matai dirinya agar bisa menemukan jejaknya kemanapun ia pergi.
Zio kemudian teringat kembali akan halusinasinya atau mimpi sesaatnya bersama Mentari. Ia yakin dari kejadian barusan, hal itu merupakan sebuah tanda dimana ia harus mengandalkan hubungannya bersama Mentari untuk bisa lepas dari jerat masalah bersama Dini.
"Baiklah, suruh dia masuk ke ruanganku dan jangan pergi sebelum aku keluar dari kamar ini," titah Zio.
Ramon kemudian pergi sedangkan Zio menutup pintu lalu ia menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya.
"Terima kasih banyak karena kamu sudah datang ke dalam halusinasi atau mimpiku. Semua itu akan aku jadikan pertanda bahwa hubungan kita adalah penyelamat dari segala masalah yang tengah membelitku. Maaf sayang, tapi setelah ini aku akan terbuka padamu. Aku yakin kau pasti akan mengerti dan memahamiku lebih dari diriku sendiri. Sekali lagi maafkan aku yang sudah menyembunyikan ini semua. Tetapi itu semua karena aku bingung harus melakukan apa!"
Zio bergumam sambil memandangi wajahnya di depan cermin. Ia kemudian membasuh wajahnya dan wajahnya yang dari tadi begitu lusuh mendadak tersenyum dan penuh dengan semangat. Ia sudah kembali menemukan cahaya hidupnya.
Baiklah Dini karena kau sudah mencoba menyentuhku di bagian yang paling fatal maka kau akan merasakan akibatnya setelah ini kau sudah bermain-main dengan seorang Dimas Ezio Rasyid.
__ADS_1