CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 118


__ADS_3

Lidya memandangi mobil Juan yang belum bergerak sama sekali. Ia juga belum ingin masuk karena kurang percaya diri berjalan seorang diri. Mata Lidya terus memperhatikan Juan yang entah sedang apa di dalam mobil dan mengapa belum juga pergi. Dalam hati Lidya menduga-duga jika Juan sebenarnya sedang menunggunya menyelesaikan urusan di kampus.


Baru saja Lidya akan masuk, ia melihat Juan turun dari mobilnya. Mata Lidya terus mengawasi dan melihat jika Juan ternyata hendak menyeberang jalan dan mengarah pada mesin ATM.


Sebenarnya Juan mendapat telepon dari Mentari yang mengatakan bahwa ia lupa memberikan Lidya uang untuk ongkos pulang nanti. Mentari sudah menghubungi Lidya akan tetapi tidak mendapat respon dan itu karena ponsel Lidya memang dalam mode silent.


Juan sempat menggerutu dan berkata bahwa ia masih berada di area kampus. Ia pun mengecek dompetnya dan rupanya ia tidak membawa uang tunai. Ia pun segera turun dan menyeberang jalan menuju ke mesin ATM.


Mata Lidya terbelalak saat melihat ada kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi sedangkan Juan sibuk menerima telepon dari perusahaan. Dengan cepat gadis itu berlari dan mendorong Juan hingga jatuh terjerembab tak jauh dari tempat ia berdiri sedangkan Lidya justru tidak bisa menyelamatkan dirinya dan akhirnya ia tertabrak dan pengendara mobil tersebut melarikan diri.


Juan yang tadinya sempat berpikir ingin memarahi Lidya justru kini bergegas berlari dan menghampiri Lidya yang sudah terkapar dengan banyaknya darah di tubuhnya. Banyak yang berkumpul karena ada banyak mahasiswa yang sedang berada di sekitar kampus. Tak lama kemudian bunyi benturan keras terdengar dan mobil yang mengarak Lidya pun menabrak pohon besar.


"Lidya bangun!" teriak Juan panik, ia pun langsung menggendong Widya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Dengan kecepatan tinggi Juan mengemudikan mobilnya agar mereka bisa cepat sampai di rumah sakit. Juan tidak terpikir untuk menghubungi siapapun karena ia sangat panik dan terus bergumam meminta agar Lidya tetap bertahan.


Sekitar lima belas menit Juan berhasil sampai di rumah sakit. Ia menggendong tubuh pingsan Lidya dan berteriak memanggil perawat. Dengan cepat perawat membawakan brankar untuk Lidya dan Juan meletakkannya disana.


Pintu ruang instalasi gawat darurat di tutup dan Juan terus mondar-mandir di depan pintu sambil menunggu kabar dari dokter. Beberapa menit kemudian perawat keluar dan mengatakan bahwa Lidya kekurangan banyak darah dan harus segera mendapatkan pendonor.


"Golongan dari Lidya apa, Suster?" tanya Juan dan berharap golongan darah mereka sama.


"O positif," jawab suster tersebut.


"Kalau begitu ambil darah saya, Sus. Golongan darah saya sama dengan Lidya," ujar Juan dengan begitu lega karena ia bisa membantu gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Kalau begitu mari ikut saya, Pak!"


Juan pun mengikut suster tersebut dan ia melewati serangkaian proses pendonoran darah hingga akhirnya di dapatkan dua kantung darah dari Juan.

__ADS_1


Rasa pusing setelah mendonorkan darah tidak dipikirkan oleh Juan, ia segera kembali ke ruang IGD dan menanti kabar dari dokter setelah Lidya mendapatkan donor darah.


Beberapa saat kemudian suster pun keluar bersama dokter yang memeriksa keadaan Lidya. Juan langsung menghampirinya dan menanyakan bagaimana kondisi Lidya saat ini.


"Pasien baru saja mendapatkan penanganan dan kami akan terus memantau kondisinya karena saat ini kami belum bisa mengatakannya dalam keadaan stabil. Kita akan menunggu beberapa saat sampai pasien menunjukkan tanda-tanda bahwa dia telah melewati masa kritisnya," jawab Dokter tersebut menjelaskan tentang keadaan Lidya di dalam sana.


"Apakah saya boleh melihatnya, Dok?" tanya Juan penuh harap.


"Tentu," jawab Dokter tersebut kemudian ia meminta perawat untuk memberikan izin kepada Juan dan juga menemaninya masuk menemui Lidya dan melihat kondisinya seperti apa.


Juan pun dibawa masuk oleh suster tersebut dan di sana ia langsung ditinggalkan berdua dengan Lidya yang masih setia memejamkan matanya dengan erat.


Juan cukup bingung melihat gadis yang terbarinh di atas ranjang pasien tersebut. Ia seperti tidak mengenalnya, akan tetapi suster sudah mengatakan jika itu adalah Lidya — pasien yang dibawa oleh Juan sendiri.


"So beautiful!" gumam Juan sambil matanya tak berkedip menatap kecantikan Lidya walaupun wajahnya terlihat pucat.


Juan pun duduk di dekat Lidya sambil terus memandangi wajah Lidya yang terlihat sangat cantik dan masih begitu muda. Sangat berbeda dengan penampilannya beberapa saat yang lalu dengan kecamata tebalnya serta rambutnya yang diikat dua yang mengutip dari perkataan Juan — persis seperti anak TK.


"Kenapa lu lakuin itu semua? Harusnya lu biarin aja gue ditabrak karena selama kita kenal beberapa hari ini gue selalu bersikap tidak baik sama lu. Harusnya gue yang di sini bukan lu. Harusnya lu ke kampus, ngikutin arahan dari para senior dan dosen, bukan malah berbaring di sini dalam keadaan kritis," ucap Juan lagi, ia sebenarnya sangat menyayangkan tindakan Lidya yang tanpa pikir panjang langsung menolongnya.


Sekali lagi Juan menatap wajah cantik dengan kulit yang terlihat pucat. Juan benar-benar mengagumi kecantikan yang tersembunyi dari sosok Lidya, gadis yang membuatnya hampir muntah karena melihat penampilan yang menurutnya begitu aneh.


Wajah cantik Lidya menghipnotis Juan hingga pria itu hanya fokus menatapnya saja. Juan bahkan mengulurkan tangannya untuk mengelua wajah Lidya lalu ia tarik kembali tangannya karena merasa sudah begitu lancang.


Juan kembali mengajak Lidya untuk berbincang walaupun dia tahu Lidya tidak akan meresponnya. Ia meminta maaf dan juga memuji Lidya yang berhasil menyembunyikan identitasnya sampai selama ini.


Juan sudah tahu tentang Lidya karena Mentari yang menceritakannya tadi jika Lidya selalu mendapatkan perundungan karena penampilannya tanpa menceritakan jika Lidya memiliki kecantikan lain dibalik penyamarannya tersebut, sebelum mereka berangkat kerja dan sebelum Mentari memiliki ide konyol untuk menyuruhnya mengantar Lidya ke kampus hingga berakhir di rumah sakit.


Mengingat hal tersebut Juan langsung teringat akan Mentari. Ia pun langsung menghubungi kakak iparnya tersebut karena tidak ingin disangka menyembunyikan keadaan Lidya sekarang.

__ADS_1


Mentari yang saat ini sedang melakukan pembukaan proyek baru bersama dengan Bright langsung menjawab panggilan dari Juan karena perasaannya memang sadari tadi tidak enak.


"Halo Juan, ada apa? Gue lagi kerja," tanya Mentari setelah ia mengambil jarak beberapa meter dari Bright yang saat ini terus menatapnya.


"Tari, lu harus ke sini deh, ke rumah sakit. Adik lu si Lidya masuk rumah sakit ditabrak mobil!" ucap Juan to the point yang membuat Mentari seakan kehilangan tulang pada tubuhnya.


Mentari yang hampir pingsan dengan cepat disanggah oleh Bright yang memang terus mengawasi Mentari hingga melihat ekspresinya yang begitu terkejut.


Bahkan ponsel Mentari jatuh di tanah dan Juan bisa memastikan jika saat ini Mentari tengah syok karena ia sempat mendengar bunyi dengungan yang begitu kuat sebelum panggilan tersebut terputus.


"Mentari kamu tidak apa-apa?" tanya Bright yang begitu panik melihat Mentari dalam keadaan syok.


Mentari mencoba untuk mengatur napasnya sedangkan Mawar langsung berjalan mendekat karena kaget juga melihat Mentari yang sudah berada dalam rangkulan Bright.


"Tari! Lu kenapa?" tanya Mawar penasaran.


"Gue ... oh saya boleh minta izin? Saya harus segera ke rumah sakit karena barusan saya mendapat kabar adik saya kecelakaan dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit," tutur Mentari dengan suara yang terdengar begitu gelisah juga terbata-bata.


"Biar saya antar!"


"Biar gue antar!"


Bright dan Mawar sama-sama berucap. Mereka ingin mengantar Mentari namun Mentari yang terlanjur panik tidak dapat memilih siapa yang bisa mengantarnya sedangkan Bright mengambil kesempatan ini untuk meminta Mawar mengawasi jalannya pembukaan proyek mereka bersama dengan Pram sedangkan ia yang akan mengantar Mentari ke rumah sakit.


Mentari berjalan di papah oleh Bright setelah Bright memberikan ponsel Mentari yang tadi ia pungut dari tanah. Mentari yang merasa sudah bisa menguasai dirinya langsung meminta Bright untuk melepaskan rangkulannya karena ia bisa berjalan sendiri. Ia tidak ingin Bright mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menyentuhnya sedangkan ia adalah istri dari Zio.


"Maaf tuan Bright, saya hanya ingin mengikat rambut saya karena ini terasa gerah," ucap Mentari beralasan dan Bright langsung mengiyakan karena ia percaya begitu saja, padahal Mentari sebenarnya ingin menolak disentuh olehnya bukan hanya ingin tetapi sangat menolak.


Bright memperhatikan Mentari yang sedang mengikat rambutnya secara acak dan itu terlihat mempesona hingga matanya melebar sempurna saat melihat sesuatu yang membuatnya merasa curiga.

__ADS_1


What?! Apa itu apa gue nggak salah lihat? Kalau memang itu beneran ... sial apa gue sedang ditipu?


__ADS_2