
Ada apa dengan gue? Kita udah putus lama kali, kenapa gue harus merasa cemburu?! Wait? Gue cemburu? Mustahil!
Zio menertawakan dirinya sendiri dalam hati, ia merasa lucu dengan perasaannya barusan. Mana Mungkin ia masih memiliki perasaan terhadap Mentari sedangkan mereka sudah putus selama lima tahun lamanya. Lagi pula ia sudah memiliki Bella dan masih ada lagi yang lainnya yang belum ia munculkan di kantor ini dan belum dilihat oleh Mentari. Mungkin saja Bella tidak termasuk kriteria yang wajib untuk Mentari cemburui, mungkin saja kekasih-kekasihnya yang lain ketika datang nanti ada salah satu yang membuat Mentari sakit hati.
Bella hanyalah salah satu dari wanita yang menemani Zio, seorang Casanova sepertinya tidak hanya puas dengan satu wanita seperti ketika ia pacaran dengan Mentari dulu. Tapi sayangnya, ketika ia menjalin hubungan dengan Mentari Ia menggunakan rasa, ia main hati dengan gadis itu, gadis yang selalu membuatnya merasa deg-degan ketika mereka bertemu, gadis yang selalu membuatnya tidak bisa melihat wanita hanya dari tubuh seksinya dan wajah cantiknya, gadis yang selalu bisa membuatnya merasa menjadi pria yang baik.
Sayangnya hubungan mereka hanya singkat karena Mentari mendapatinya sedang berselingkuh. Sejujurnya saat itu ingin menjelaskan bahwa ia hanya mencintai Mentari saja, untuk wanita-wanita yang selalu menemaninya hanya ia jadikan pelampiasan saja hingga akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan Mentari. Ia sudah berencana untuk bertobat setelah ia berhasil mendapatkan Mentari, tetapi apalah daya Mentari lebih dulu tahu kebusukannya hingga akhirnya mereka putus dan Ezio berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah S2 nya.
Mentari, lu emang udah nggak punya perasaan apa-apa sama gue? Kok gue ngerasa masih cinta ya sama lu atau hanya karena gue terbawa perasaan karena kita baru bertemu lagi sejak lima tahun yang lalu? Semoga deh, gue nggak mau baperan sama lu lagi. Takut gue, bisa-bisa gue jadi pria impoten kalau dekat dengan lu!
"Baby kamu melamun lagi. Ada apa sih, apa yang kamu pikirin? Jangan bilang kamu lagi mikirin orang lain ya, ku nggak suka lho," ucap Bella, ia dari tadi sudah merasa jengah melihat sikap Ezio yang sedikit-sedikit melamun sedikit-sedikit melamun itu.
Zio langsung mengalihkan pikirannya dari Mentari, ia kemudian menatap Bella dengan cermat. Tidak ada kurangnya dari wanita itu, sangat cantik dan body-nya sangat seksi serta selalu memuaskan Ezio.
Lalu apa yang membuatnya tertarik dengan Mentari yang sama sekali tidak ada seksi-seksinya itu? Wajahnya memang cantik dan manis serta tidak bosan dipandang, tetapi untuk ukuran body seperti Bella, Mentari tidak masuk dalam kriteria. Akan tetapi, apa yang membuatnya terpaut hingga sejatuh ini kepada Mentari? Ezio masih bingung.
"Nggak ada, aku cuma lagi banyak pikiran soal pekerjaan. Sebaiknya kamu pulang, aku masih harus mengerjakan banyak pekerjaan dan kayaknya juga bakalan lembur," ucap Ezio berdalih, ia sebenarnya ingin mengusir Bella karena ia ingin tahu ada hubungan apa Mentari dan Juan, apakah mereka akan pulang bersama atau tidak.
Dengan wajah cemberut Bella mengiyakan keinginan Ezio. Tak lupa ia mengecup mesra seluruh wajah Zio sebelum ia keluar dari ruangan tersebut. Mendadak Zio menjadi kehilangan selera untuk disentuh oleh Bella padahal Ia sendiri selalu tidak bisa jika tidak disentuh oleh para wanitanya.
Di luar ruangan, Juan dan Mentari masih mengobrol. Juan masih memaksa Mentari untuk pulang bersamanya sedangkan Mentari ingin sok jual mahal dulu.
Biasanya, dari yang Mentari pelajari para pria akan menjadi lebih penasaran pada wanita yang masih menolaknya di awal-awal pertemuan. Mentari tidak ingin gegabah, ia tidak ingin dianggap wanita murahan atau rendahan oleh Juan karena dengan cepat takluk dan mengiyakan ajakan-ajakan Juan tersebut. Mentari harus memahalkan dirinya, hingga akhirnya ia mendapatkan pria yang pantas untuk dirinya. Mungkin Juan, mungkin siapapun itu yang pasti pria yang betul-betul pantas untuk dirinya bukan seperti Dimas Ezio Rasyid yang hanya bisa mempermainkan hatinya.
"Sorry Juan bukannya gue nggak mau tapi gue bawa motor dan for your information gue masih bisa kok pulang sendiri. Nanti aja ya kapan-kapan gue nggak mau nyusahin lu," tolak Mentari.
Juan mendesah pasrah, "Ya sudah kalau lu nggak mau. Tapi kalau ada apa-apa sama lu tolong kabarin gue ya. Mana nomor ponsel lu, biar gue catat di ponsel gue. Kalau ada apa-apa hubungi gue," ucap Juan yang masih keukeuh untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi terhadap Mentari padahal Ia hanya menyiramkan kopi tanpa sengaja di kaki itu.
Yes, ternyata benar semakin kita menolak maka pria akan semakin penasaran. Selamat datang di hidup gue Juan, semoga lu bakalan stay. Dan yang penting semoga lu masih jomblo deh.
Mentari pun menyebutkan nomor ponselnya kemudian Juan mencatatnya di ponsel. Juan kemudian berpamitan setelah ia berhasil mendapatkan kontak Mentari. Mentari pun kembali duduk dan mengerjakan kembali pekerjaan yang sempat tercoret-coret oleh bosnya itu.
__ADS_1
Sebenarnya Mentari ingin protes, karena yang disalahkan hanya tanda baca dari kalimat-kalimat yang ada di dalam laporan tersebut. Sangat tidak masuk di akal, tetapi jika seorang editor mungkin akan mempermasalahkan itu. Mentari pikir kesalahannya adalah salah menaruh jumlah atau salah menempatkan bagian penting sehingga akan merugikan perusahaan, ternyata hanya itu kesalahannya. Mentari merasa Ezio sebenarnya sedang mempermainkannya dan ingin membuatnya kesal saja. Untung saja Mentari tidak terpancing, dan ia bisa lebih bersabar menghadapi bos segalanya itu
Dari dalam ruangan, Bella keluar kemudian ia menatap sinis ke arah Mentari. Ia sebenarnya merasa terganggu dan merasa curiga karena begitu datang Mentari ke ruangan itu, Zio selalu memperhatikannya dengan intens dan ia bisa melihat gelagat Ezio yang begitu memperhatikan Mentari. Bahkan ia sendiri mendengar komentar Ezio tadi soal laporan tersebut. Sangat tidak masuk akal, Zio menyalahkan laporan tersebut hanya karena tanda baca.
Bella merasa ada something diantara mereka berdua. Terlihat dari cara mereka berdua saling menatap, bahasa tubuh mereka tidak bisa berbohong jika memang sesuatu telah terjadi diantara keduanya.
"Heh lu sekretaris baru, lu ada hubungan apa sama bos lu?" serga Bella yang membuat Mentari terkejut saat ia baru saja mengetik laporan tersebutm
Mentari menoleh ke arah Bella, ingin sekali ia mengatakan "Gue mantannya, emang kenapa" tapi ia tidak jadi mengatakan itu karena ia tidak ingin membuat masalah baru.
Lagi pula ia sudah bertekad untuk tutup buku dengan Ezio. Ia tidak boleh lagi mengenang masa lalu itu walaupun rasanya sulit tetapi ia yakin ia mampu apalagi ada Juan yang mulai membuat harinya merasa berwarna.
"Maaf nona, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan bos Ezio. Lagi pula saya baru masuk hari ini, mana mungkin saya bisa memiliki hubungan spesial dengan bos itu. Saya hanya bawahan biasa, jangan cemburu dengan saya atau jangan curiga terhadap saya. Lagi pula Anda cukup cantik untuk merasa cemburu dari saya yang biasa saja ini," ucap Mentari menohok, sedikit menyelipkan kalimat yang mungkin membuat Bella akan merasa nyesek.
Tentu saja Bella merasa tidak terima dengan ucapan Mentari barusan. Ia merasa tersinggung, tetapi apa yang diucapkan Mentari ada benarnya juga. Tidak mungkin Mentari baru masuk dan langsung menggoda Ezio, ia yakin kekasihnya itu hanya sedang marah pada sekretaris barunya ini karena bekerja tidak becus. Mungkin saja juga Ezio memiliki banyak beban pikiran soal pekerjaan sehingga tidak fokus dan melampiaskan amarahnya pada siapa saja.
Tanpa menjawab perkataan Mentari tadi, bila melenggang pergi dengan pinggul yang melenggak-lenggok dan mulut mentari yang dewa monyong-monyongkan mengikuti gerakan pinggul membela tersebut.
.
.
Mentari kembali masuk dengan membawa laporan yang sudah ia perbaiki. Ia melihat Zio sedang fokus dengan berkas di tangannya. Mentari pun meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja kemudian ia pamit.
"Siapa bilang lu boleh keluar?"
Mentari yang baru saja hendak melangkah langsung menahan napas karena mendengar ucapan Zio barusan. Melalui gerakan matanya, Zio meminta Mentari untuk duduk. Sekretarisnya itu pun langsung duduk.
Zio memeriksa dokumen tersebut namun tidak benar-benar memeriksa karena sebenarnya tidak ada yang salah dari pekerjaan Mentari. Ia hanya ingin berlama-lama saja.
"Nah ini baru benar. Makanya kalau kerja itu ya kerja, jangan cuma pacaran doang kerjanya," sindir Zio yang membuat Mentari memelototkan matanya.
__ADS_1
"Maaf, anda menuduh saya pacaran? Bukankah sebaliknya," balas Mentari, sedetik kemudian ia segera menutup mulutnya. "Eh maaf Pak, saya salah. Ini kantor anda jadi anda bebas melakukan apapun," imbuh Mentari.
Bukan karena galau bukan pula karena sakit hati melainkan itu hanya ucapan yang tidak sengaja lolos dari mulut Mentari.
Tadinya Zio senang karena Mentari membalas perkataannya tetapi ucapan yang mengikut di belakangnya itu membuat Zio menjadi heran dengan perubahan Mentari yang se-drastis ini.
Zio mengibaskan tangannya menyuruh Mentari pergi, ia hanya tidak tahan dan tidak mau jika nanti ia melampiaskan kekesalannya pada Mentari. Ia hanya merasa aneh saja dengan dirinya yang terus saja memikirkan mantannya itu.
Begitu Mentari keluar, bertepatan dengan jam pulang. Ia juga sudah melihat Juan yang berada di dekat mejanya sedang berdiri sambil memainkan ponselnya. Mentari terkejut karena pria itu sudah berada di sana sedangkan ia tidak tahu apa-apa dan tidak meminta Juan untuk datang atau mungkin Juan ingin bertemu dengan bosnya.
"Juan, lu di sini lagi, ada perlu sama Pak Ezio?" tanya Mentari heran
"Enggak kok, gue sengaja ke tempat ini untuk nyusulin lu. Gue tahu kaki lu sakit, lu nggak bisa jalan jauh ke bawah. Biar gue yang bantu ya," jawab Juan, ia kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Mentari tersenyum, ia merasa diperhatikan oleh Juan. Pria ini cukup manis, tetapi Mentari tidak ingin terlalu dini untuk menerima perlakuannya ini. Mentari harus tetap pada misinya–sok jual mahal agar bisa mendapatkan pria yang pantas untuknya.
"Gue bisa kok, lu nggak perlu repot-repot," ucap Mentari kemudian ia mengemasi barang-barangnya, tak lupa ya membawa sepatunya yang ia sudah masukkan ke dalam kantong kresek.
Saat Juan memapah Mentari untuk berjalan ke lift, dari dalam ruangan Ezio keluar. Tangannya terkepal melihat Juan menyentuh pundak Mentari dengan begitu leluasanya.
Cih!
"Juan, kamu pulang lebih dulu dan biar saya yang akan membantu Mentari untuk turun," ucap Zio kemudian dengan langkah lebar ia menyusul dua orang yang hampir sampai di lift itu.
Mentari membulatkan matanya begitu ia berada di dalam gendongan Zio. Dengan tiba-tiba pria itu langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam lift meninggalkan Juan yang terbengkang melihat aksi bosnya tersebut.
"Pak, Anda jangan seperti ini, tolong turunkan saya," pinta Mentari, ia tidak ingin sedekat ini lagi dengan Zio, ia tidak ingin terbawa perasaan lagi.
"Enggak, gue yang bakalan bawa lu sampai ke bawa. Lu diam aja mendingan, daripada gue cium mau lu?!" bisik Zio.
Seketika Mentari langsung menutup mulutnya dengan rapat.
__ADS_1