
Mobil Bright terparkir sembarang di depan IGD rumah sakit, ia berteriak memanggil petugas untuk membantu menangani Dini. Ia menggendong Dini dan langsung diletakkan di atas brankar dan dokter langsung menghampiri mereka.
"Tolong dokter, tolong istri dan bayi saya. Tadi perutnya mendadak sakit dan sekarang di pingsan. Cepat dokter," pinta Bright yang begitu panik. Ia terus mondar-mandir melihat dokter memeriksa keadaan Dini.
"Mohon tenang Tuan," pinta salah satu suster yang melihat Bright begitu cemas.
Ingin rasanya Bright memarahi suster tersebut, bagaimana bisa ia memintanya tenang sedangkan Dini dan calon anaknya entah bagaimana kondisinya. Namun Bright tidak melakukannya dan ia memilih memaksa untuk menenangkan dirinya sebab jika ia terus panik maka akan mengganggu konsentrasi dokter memeriksa keadaan Dini.
Bright memperhatikan bagaimana dokter dan suster bertindak cepat mengobati Dini. Wajah mereka terlihat sangat serius dan Bright menduga telah terjadi masalah serius pada Dini dan janinnya.
"Istir Anda mengalami pendarahan dan jika Anda terlambat membawanya ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan, istri Anda bisa mengalami keguguran," ucap dokter tersebut setelah ia memeriksa keadaan Dini dan memberikan penanganan.
Bright menjambak rambutnya, ia benar-benar merasa bersalah pada Dini dan anak mereka. Semua karena dirinya yang ambisi dan obsesi. Jika saja ia tidak gila ingin merebut Mentari yang jelas-jelas tidak akan pernah dilepaskan oleh Zio, maka semua ini tidak akan terjadi. Fantasinya terhadap Mentari membuatnya lupa akan keselamatan anaknya.
Bright benar-benar menyesal sudah bertindak sejauh ini. Ia seharusnya menjaga Dini dan bayi mereka, bukan malah membuat mereka berada dalam masalah. Ia mengakui dirinya sangat egois.
Dokter pun menjelaskan lebih lanjut tentang kondisi Dini dan janinnya serta apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil. Bright dibuat semakin menyesal karena salah satu larangan itu adalah hal yang setiap hari ia lakukan pada Dini.
"Maafkan aku amor, aku sudah membahayakan bayi kita. Setelah ini aku berjanji tidak akan menyakiti kalian lagi. Aku sudah salah dan aku menyesal,' lirih Bright dalam hati.
Setelah dokter selesai bersama suster menangani Dini, mereka pun meninggalkan keduanya dan mengatakan bahwa setelah Dini siuman maka ia bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
Bright menghampiri Dini yang terbaring lemas dengan mata yang masih saja terus terpejam. Ia menggenggam tangannya dan menangis di hadapan wanita ini. Rasa sesal dan juga cemas berlebihan menguat Bright tidak bisa membendung tangisnya. Ia mengecup berkali-kali punggung tangan Dini seolah dengan ia melakukannya Dini akan segera sadarkan diri.
__ADS_1
"Aku menyesal sayang, maafkan aku. Setelah ini aku janji akan membuatmu bahagia. Mari kita lupakan masa lalu dan membuka lembaran baru. Bukankah kita pernah saling mencintai? Keegoisan keluargamu membuat kita terpisah dan berjarak. Aku tahu di relung hatimu itu ada cinta yang besar untukku. Harusnya aku membantumu keluar dari masalah, bukan malah menjerumuskan dan terjerumus dalam masalah itu. Ini salahku," isak Bright kemudian ia mengecup dahi Dini dengan air matanya yang mengalir membasahi wajah Dini.
Di alam bawah sadarnya, Dini melihat Bright tengah menangis untuknya. Ia sangat bahagia karena Bright mau memaafkan dan menerimanya kembali. Tetapi ketika ia hendak memeluk Bright dan mengatakan ia memaafkannya, ia tidak bisa menyentuh pria itu.
....
Juan begitu memanjakan Lidya yang sudah mulai beraktivitas dengan normal. Kekasihnya itu sudah sehat tetapi masih harus dirawat di rumah sakit untuk satu dua hari hingga kondisinya pulih benar.
Kedua orang tua Lidya masih berada di kota ini dan mereka yang menemani Lidya beberapa malam ini di rumah sakit. Mereka tentu bisa melihat bagaimana Juan memperlakukan Lidya, dan mereka pun pernah muda sehingga tahu bentuk perhatian Juan ini bukanlah sebuah perhatian biasa.
Ada rasa was-was di hati kedua orang tua Lidya, Juan yang bersama Lidya ini melihat seperti apa kecantikan putri mereka dan ketakutan akan hal yang pernah menimpa putri pertama mereka terus menghantui pikiran.
"Apa yang paman dan Bibi pikirkan? Mengingat kakak Lidya?" tanya Mentari yang melihat kecemasan di wajah kedua orang tua Lidya.
Pasangan suami istri itu mengangguk. Mereka lalu menatap Lidya dan Juan yang terlihat asyik berbincang di taman. Ini adalah pagi minggu dan Mentari sudah berada di rumah sakit bersama mama Maya sebab Zio memiliki pekerjaan di luar kota.
Kedua orang tua Lidya merasa senang, setidaknya mereka bisa lega melepas Lidya melanjutkan pendidikannya di kota ini. Mereka juga sudah melihat bagaimana sosok Juan, pria itu tampak sangat sopan dan terlihat tulus.
"Paman hanya khawatir, Tari. Tetapi Paman juga sudah melihat seperti apa sosok Juan, dia anak yang baik dan mungkin memang cocok bersama Lidya. Hanya saja ... bukankah Juan adalah anak orang kaya? Apakah keluarganya setuju jika Lidya menjalin hubungan dengan anak mereka? Paman hanya tidak ingin dia sakit hati dan patah hati," ucap Rusno.
Mentari menggenggam tangan pamannya seraya berkata, "Keluarga mereka itu sangat murah hati, Paman. Jika pun mereka tidak setuju, itu adalah tugas Juan untuk membuat mereka setuju."
Mentari lalu menghela napas, ia begitu berani menenangkan pamannya sedangkan pernikahannya sendiri saja belum dipublikasikan dan Mentari belum bertemu keluarga Zio. Ia berharap Juan dan Lidya tidak menemui hambatan dan banyaknya kendala dalam hubungan mereka. Sejauh ini Mentari mengetahui keluarga besar Zio itu sangat baik, hanya hubungan mereka saja yang bermasalah sebab Zio dijodohkan dengan Dini walau akhirnya mereka tahu kebusukan keluarga Vindex.
__ADS_1
"Kakak tenang saja, semua akan baik-baik saja karena aku pun mengenal sosok Juan. Dia adalah anak yang baik dan sangat santun. Putri kalian akan aman bersamanya," ucap Maya mencoba untuk lebih meyakinkan sang kakak. Ia melirik anaknya yang terlihat murung, Maya merasa bersalah pada Mentari karena sudah mengizinkannya menikah dengan jalan tidak wajar seperti tempo hari.
"Jika kamu dan Tari sudah mengatakannya maka kami akan mempercayainya," ucap ibu Lidya kemudian ia tersenyum lega.
Sedangkan orang yang sedang mereka bicarakan itu tengah asyik bercanda di taman. Lidya sedang berjemur dan Juan menemaninya. Juan begitu siaga apalagi ini adalah hari libur, ia bisa bebas menjaga Lidya 24 jam.
Juan menatap Lidya yang tersipu malu setelah ia menggodanya. Sangat cantik dan Juan bahkan tidak bisa berkedip memandangnya. Ia teringat kembali seperti apa dulu sikapnya yang melihat penampilan Lidya, ia pernah sampai muntah entah apa sebabnya dan kini ia dibuat jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada gadis ini.
"Sayang, boleh aku bertanya padamu?" tanya Juan, sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin ia ingin berkata jujur pada Lidya, hanya saja ia tidak siap jika reaksi Lidya nanti diluar ekspektasinya.
Lidya menyudahi tawanya kemudian ia menatap Juan sembari tersenyum kecil. Kepalanya ia anggukkan pertanda Juan diizinkan untuk bertanya.
"Hmm, tidak jadi deh. Sebenarnya ini pertanyaan pun tidak bisa dijawab olehmu. Hehe ...."
Lidya mengernyit, ia menjadi penasaran karena Juan sudah meminta izin untuk bertanya tetapi tidak jadi.
"Ada apa bunny, aku jadi penasaran," desak Lidya.
Juan menghela napas, ia memikirkan pertanyaan berbeda agar Lidya tidak lagi mendesaknya. "Hmm, baiklah. Aku hanya ingin bertanya apakah setelah keluar dari rumah sakit kamu akan tetap berpenampilan seperti ini atau kembali seperti sebelumnya?" tanya Juan dan memang ini adalah salah satu yang menjadi tanda tanya besar di benaknya.
Lidya nampak terdiam, ia sepertinya sedang memikirkan hendak menjawab apa kepada Juan. "Kalau menurut kamu, baiknya seperti apa?" tanya Lidya kembali karena ia tidak memiliki jawabannya.
Juan merapikan anak rambut Lidya yang tersapu angin hingga menutupi sebagian wajahnya. "Jika kamu bertanya padaku maka aku berharap kamu kembali menutupi wajah cantik ini. Aku cemburu dan aku nggak rela ada orang lain yang menikmati kecantikan kamu selain aku. Tapi itu kembali lagi padamu, aku tidak bisa memaksa," ucap Juan dan dalam hatinya ia sangat berharap Lidya akan berkata iya.
__ADS_1
Lidya tersenyum menanggapi, ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku takut mengubah penampilanku seperti semula karena nanti ada seseorang yang akan menahan mual saat menatapku."
Deggg ...