
Pertanyaan Juan membuat Mentari bingung padahal ini adalah pertanyaan yang ia tunggu-tunggu tetapi ia tidak tahu harus menjawab apa setelah dihadapkan dengan keinginannya sendiri.
"Lu ngomong apa sih Juan," lirih Mentari yang bingung hendak menanggapi pertanyaan Juan bagiamana. Padahal ia selalu berkoar-koar pada Zio bahwa Juan adalah calon kekasihnya dan kini ketika waktu telah membuka peluang untuk hal tersebut, Mentari justru dibuat tidak berdaya.
Juan terkekeh, "Tidak usah dipikirkan kalau memang lu keberatan. Tapi apa yang gue katakan memang benar adanya," ucap Juan, sangat nampak dari wajahnya bahwa ia berharap Mentari akan mengizinkan perasaannya tersebut.
Mentari menatap Juan lekat, yang mencoba mencari kejujuran dari pria tersebut. Juan yang sedang mengemudikan mobil sesekali membalas tatapan Mentari dengan tak lupa senyuman manis itu menghiasi bibirnya.
"Wah, lu mau ngerjain gue ya Juan. Sorry ya, bukan gue nggak percaya tapi lu kenal gue baru sehari dan lu udah bilang sayang ke gue. Mustahil!" ujar Mentari, bagaimanapun juga ia akan tetap bersikap mahal dan elegan di depan Juan walau pria itu sudah tahu sifat aslinya. Tetapi ini tentang sebuah keputusan, Mentari merasa ini terlalu cepat!
Juan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Mentari barusan. Memang benar, tetapi Juan hanya mencoba mengatakan apa yang ia rasakan. Tapi daripada ia dan Mentari justru berujung ribut hanya karena masalah perasaan mendadak ini, Juan memilih diam hingga mereka sampai di sebuah restoran.
Juan dan Mentari turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Juan mengajak Mentari untuk mengambil tempat di arah belakan restoran, lebih tepatnya disana ada sebuah danau buatan tempat orang-orang yang ingin bersantai bersama keluarga atau orang-orang yang mencari ketenangan. Sebelumnya Juan sudah memesan makanan dan minuman untuknya dan Mentari.
Mentari dan Juan menatap danau tersebut tanpa saling berbicara. Mentari bingung mengapa Juan mendadak jadi pendiam atau memang Juan orangnya sudah pendiam sejak dari sananya. Ia ingat kemarin saat mereka bertemu di kantin, Juan memang terlihat cuek.
"Gue bukan anak yang beruntung," ucap Juan membuka percakapan.
__ADS_1
Mentari menatap Juan, ia merasa Juan akan mulai menceritakan tentang kehidupannya.
Juan menatap Mentari yang sedang fokus melihatnya. Ia melempar senyuman dan Mentari membalasnya.
"Gue nggak tahu harus mulai darimana menceritakan ini semua. Gue adalah anak yang kurang beruntung karena hidup di tengah keluarga yang tidak menginginkan keberadaan gue. Mungkin karena gue ini adalah anak hasil hubungan gelap bokap sama nyokap gue makannya mereka tidak menyukaiku. Gue nggak pernah minta dibawa ke istana mereka, gue masih punya ibu yang sayang banget sama gue."
Juan melanjutkan lagi mengatakan bahwa setelah ibunya tiada, ia dipaksa oleh ayahnya untuk ikut bersama dan masuk ke dalam keluarganya. Semua tidak menyambutnya sejak awal kedatangan bahkan ada yang terang-terangan membencinya hingga kini. Yang peduli dengannya hanya para pria yang dituakan dari keluarga tersebut termasuk ayahnya.
Dari semua perlakuan tersebut, Juan tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup tetapi menghasilkan banyak sekali kebanggan karena ia sangat cerdas. Tetapi semua itu justru membuat saudaranya merasa kesal. Dia dituding mencari muka dan berusaha merebut semua yang ia miliki. Juan yang memang berprestasi justru kembali mendapat pengasingan dari keluarganya.
"Iya. Masa tadi dia masih nekat buat lamar gue. Nggak sadar diri ya tuh orang. Gue mah ogah dilamar sama dia," jawab Mentari ketika Juan bertanya tentang pak Santoso.
Juan tertawa dan Mentari kembali bisa menikmati wajah tampan itu saat sedang tertawa. "Tapi kalau lu yang lamar gue kayaknya gue langsung bilang yes deh!"
Tawa Juan terhenti, ia kemudian menatap Mentari dengan lekat. "Lu serius?" tanya Juan. Jika saja Mentari menjawab iya maka hari ini juga Juan akan langsung melamarnya.
Melihat Juan yang begitu serius membuat Mentari tertawa. Juan yang sudah berharap langsung dibuat patah hati karena ternyata Mentari hanya mengerjainya saja.
__ADS_1
"Ck! Begitu saja sudah marah. Jangan dulu mikir tentang lamar melamar deh. Lu 'kan tadi bilang kalau lu minta izin ke gue buat sayang sama gue dan gue bakalan bilang itu semua hak lu. Gue sih sangat berterima kasih kalau lu emang sayang sama gue. Tapi satu hal yang harus lu tahu, gue nggak gampang jatuh cinta dan menjalin hubungan. Gue pernah cinta sama seseorang hingga orang itu membuat gue trauma akan cinta," ucap Mentari, ia paham jika Juan adalah seorang pria yang membutuhkan kasih sayang dari ceritanya tadi.
Menjadi anak dari selingkuhan ayahnya dan dibawa masuk ke dalam keluarga ayahnya tanpa sambutan dan justru yang ada ia malah terasingkan tentu saja membuat hati Juan hampa dan hidupnya tertekan. Ia memang selalu menarik diri dari orang-orang walaupun ia cerdas dan tampan. Hingga ia bertemu dengan Mentari yang dalam sekejap membuatnya merasa hidup itu tidak selamanya tentang duka.
"Gue juga belum sampai ke tahap itu. Kalau mengenai suka tentu saja gue suka sama lu tapi kalau jatuh cinta pun gue nggak bisa mastiin. Tapi kalau kita terus bersama bukan berarti gue nggak bakalan jatuh cinta sama lu. Lu adalah perempuan yang sangat mudah untuk dicintai. Lu apa adanya dan gue suka sama tipe wanita seperti lu. Mungkin jika kita terus bersama gue pastiin gue bakalan jatuh cinta sama lu dan ketika hari itu tiba gue harap lu juga punya perasaan yang sama kayak gue," ucap Juan sambil menatap Mentari dengan tulus dan sangat jelas dari matanya bahwa Juan tidak sedang membual.
Mentari tersanjung mendengar ucapan Juan, ia hendak membuka suara sebelum suara lain menginterupsinya.
"Wah wah, lihat siapa yang ada disini. Mentari, ternyata kamu juga ada di restoran ini ya. Oh jadi ini calon kekasih kamu, kalian udah jadian belum?"
"Pak Zio!" pekik Mentari dan Juan halus.
Entah bagaimana bisa Zio sudah berada di dekat mereka dan itu tanpa Helena. Mentari tentu saja kebingungan karena tadi ia sudah meninggalkan Zio dan dari percakapan mereka terakhir, ia dan Helena akan makan siang bersama untuk merayakan hari jadi. Lalu bagaimana bisa pria menyebalkan ini sudah bersama mereka dan oh .. oh .. kini dia sudah menarik kursi di tengah-tengah Mentari dan Juan.
"Boleh saya bergabung? Tadi saya datang ke tempat ini bersama Helena tetapi dia mendadak ada urusan penting. Saya hanya merasa aneh saja jika makan sendiri. Apa kalian keebratan?" tanya Zio dengan santainya.
Dia sudah duduk dan baru bertanya apakah kami keberatan? Dia memang diluar nalar dan mengapa dia selalu saja mengacaukan hariku?! Bisa tidak Tuhan menghilangkan dia saja dari muka bumi ini. Gue juga pingin hidup senang tanpa sang mantan!
__ADS_1