CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~17


__ADS_3

"Mentari, kau mau kemana?"


Mentari yang baru saja berjalan beberapa langkah dari mejanya dengan bersemangat karena Juan mengajaknya makan siang bersama langsung menghentikan langkahnya karena mendengar suara yang memanggilnya dan ia sangat hapal siapa pemilik suara tersebut.


Dengan malas Mentari berbalik badan. Tatapannya langsung jatuh pada tangan Zio yang sedang memeluk pinggang Helena.


Sakit? Tentu saja! Pria itu tadi sudah menciumnya dan sekarang sudah memeluk wanita lain. Sungguh brengsek!


"Ada apa ya Pak?" tanya Mentari. Ia tidak lagi memfokuskan pandangannya pada tangan Zio karena ia tidak ingin pria itu merasa dicemburui.


"Kami akan pergi makan siang, kau mau ikut tidak? Ah tidak, lebih tepatnya kau harus ikut karena ada pekerjaan yang harus kau kerjakan disana,"jawab Zio, ia kemudian mengecup rambut Helena sambil menatap penuh ejekan pada Mentari.


What? Apa maksudnya coba? Ini sedang jam makan siang dan gue seharusnya istirahat. Apa dia sengaja buat manasin gue?"


Mentari mencoba memberikan senyuman manis, "Tapi di agenda bapak, hari ini tidak ada jadwal pertemuan di jam makan siang. Apakah ini sebenarnya undangan bapak agar saya makan siang gratis? Wah kalau sudah seperti itu tentu saja saya sangat senang," ujar Mentari, ia sudah yakin sekali kalau ini hanyalah akal-akalan Zio saja untuk membuatnya merasa cemburu.


Apa-apaan dia? Kenapa dia justru merasa senang? Apakah memang dia sudah tidak punya perasaan sama gue? Apa benar Juan sudah berhasil merebut hatinya.


Helena terkekeh, "Kau benar sekali Mentari. Kekasihku ini sebenarnya ingin merayakan hari jadi kami tetapi ia bingung untuk mengundang kalian. Ah sayang, kau sungguh hebat mencari sekretaris, dia sangat cerdas!" puji Helena.


Mentari melihat Helena yang tertawa renyah dengan wajah yang memerah. Senyuman wanita itu sangat manis dan tulus, benar-benar wanita idaman. Kali ini bagi Mentari, Zio tidak salah pilih wanita. Helena lebih baik dibandingkan Bella.


Eh? Kenapa gue justru membanding-bandingkan pacarnya si Zio sih?


Mata Zio membulat sempurna. Ia tidak ingat jika hari ini ia dan Helena akan merayakan hari jadi mereka. Jangan ditanya lagi apa alasannya karena Zio tentu tidak ingat sejak kapan ia dan Helena memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih saking banyaknya kekasih milik Zio.


"Tapi nona Helena, akan sangat tidak baik jika saya menganggu kalian. Sebaiknya karena ini adalah momen spesial kalian berdua, sebaiknya kalian berdua saja yang merayakan biar lebih romantis. Jika ada saya takutnya akan menjadi orang ketiga diantara kalian. Saya bukan setan lho ya, hehe."

__ADS_1


Enak aja lu Zio, emang nggak kebaca gitu tujuan lu apa! Kecuali lu bolehin gue bawa teman maka gue bakalan bawa Juan. Lu pikir cuma lu doang yang punya gandengan. Sorry ya!


Helena nampak menatap Zio untuk meminta persetujuan. Yang ditatap hanya membalas dengan senyuman yang menandakan semua terserah pada Helena.


"Baiklah Mentari, sepetinya ucapanmu benar sekali. Kecuali jika kau memiliki kekasih maka aku rasa untuk double date itu cukup menarik," ucap Helena dan lagi wanita itu tersenyum manis pada Mentari seolah wanita itu tidak pernah punya wajah marah atau cemberut dan Mentari menilai bahwa wanita ini entah marah atau senang tetap saja bibirnya akan menyunggingkan senyuman.


Mentari menatap Zio kemudian ia tersenyum kecil, "Lain kali saya nona, kebetulan saya sudah memiliki janji dengan teman saya untuk makan siang bersama. Oh ya, dia itu incaran saya lho nona Helena. Doakan ya hari ini saya dan dia bisa jadian seperti kalian," ucap Mentari sengaja menambahkan kalimat tersebut hanya ingin melihat reaksi Zio.


Benar saja, pria itu langsung membulatkan matanya menatap Mentari. Jantung Zio berdetak tak karuan dan napasnya sedikit memburu. Ada rasa tidak senang mendengar Mentari akan jadian dengan Juan.


Lu tadi ciuman sama gue dan sekarang lu bilang mau jadian sama cowok lain! Nggak, ini nggak benar. Nggak boleh kayak gini Mentari.


Sayangnya rasa keberatan itu hanya bisa Zio tahan dalam hati. Bisa panjang urusannya jika ia mengatakan langsung sedangkan Helena masih berada disini. Beberapa saat kemudian Zio pun menyadari apa yang baru saja ia pikirnya.


Nggak, kenapa gue harus keberatan. Mentari mau jadian sama siapa aja itu terserah dia dong. Lagipula kenapa gue harus protes, gue 'kan masih punya banyak kekasih dan masalah ciuman tadi, Mentari aja nggak protes dengan gue yang punya banyak wanita. Apalagi waktu dia nggak sengaja lihat gue ciuman sama Bella. Dia biasa-biasa aja tuh. Mungkin memang benar Mentari udah move on dari gue.


Helena tertawa mendengar ucapan Mentari tersebut, ia pun mengamini membuat Mentari merasa senang. Helena juga meminta Mentari untuk cepat menemui temannya itu agar pria yang disukai Mentari tidak menunggu lama dan malah mencari wanita lain.


Lu bebas Tari, lu mau sama siapa aja terserah. Asal jangan bersama Juan. Mengapa harus Juan, sih Mentari?


.


.


Mentari sudah turun ke lantai satu, ia melambaikan tangan pada Juan yang sedang tersenyum padanya. Dengan langkah besar Mentari menghampiri Juan. Jaga image? Mentari sudah tidak memerlukan itu lagi sejak kemarin ia mengoceh dan mengomel di dalam mobil Juan. Pria itu sudah tahu seperti apa sifat asli Mentari.


Hal tersebut juga membuat Mentari menyadari bahwa ia tidak boleh meluluhkan hati seseorang hanya dengan menjadi manusia palsu. Ia harus menjadi dirinya sendiri agar kelak ia bisa mendapatkan suami yang mencintai dia apa adanya dengan segala kekurangannya.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Juan dan Mentari mengangguk dengan semangat.


"Siap dong! Yuk, gue udah lapar banget," jawab Mentari.


Juan terkekeh, satu tangannya ia gunakan untuk mengacak rambut Mentari. Gadis cerewet itu langsung mengerucutkan bibirnya dan menampilkan wajah kesal padahal dalam hati ia sedang bahagia karena Juan mulai menunjukkan tanda-tanda menyukainya lewat sentuhan kecil seperti itu.


Kejadian itu tak luput dari pandangan mata Zio. Satu tangannya terkepal, ia sangat tidak menyukai adegan yang baru saja terjadi di depan matanya.


Juan membukakan pintu mobil untuk Mentari, dengan cepat gadis itu masuk ke dalam mobil lalu Juan berputar kembali untuk segera masuk dan mengemudikan mobilnya.


Sepanjang perjalanan keduanya saling berbagi cerita dan lebih tepatnya Mentari yang paling banyak bercerita sebab itu adalah hobinya. Kadang Mentari berpikir mengapa ia tidak menjadi penyiar radio saja agar ia bebas berceloteh. Kadang Mentari juga merasa mengapa ia tidak menjadi aktivis saja agar ia bebas menyuarakan pendapatnya dan yang paling penting ia bebas berceloteh.


Juan selalu tertawa dibuat Mentari, apalagi ketika Mentari menceritakan tentang penyebab ia keluar dari kantor Pak Santoso. Juan terus saja tertawa dengan matanya yang sipit itu tertutup. Pria ini tidak tahu saja, tawanya itu sudah membuat Mentari salah tingkah dan ia meleleh. Wajah Juan memang sangat tampan dan sedikit mirip dengan Zio jika dilihat-lihat.


Sialan nih otak! Kenapa harus menyamakan Juan dengan si brengsek Zio. Jelas mereka tidak sama. Tapi melihat Juan tertawa gue seperti melihat sosok Zio ketika kami masih pacaran dulu. Mungkin hanya kebetulan saja sih mereka ada kesamaan. Gue mungkin yang masih kesal sama Zio sehingga mikirin dia mulu.


"Thanks Tari, lu udah bikin. gue terhibur dengan cerita lu," ucap Juan setelah menyeka air mata di sudut bibirnya karena kelebihan tertawa.


"Hmm ... sekarang giliran lu. Bagaimana tentang hidup lu?"


Juan terdiam, dari wajahnya terlihat ada sedikit luka yang terpendam. Wajah tampan itu mendadak menjadi murung dan nampak sekali Juan sedang memaksakan senyumannya. Mentari mendadak menyesal karena sudah bertanya seperti itu.


"Juan maaf kalau gue salah bertanya," cicit Mentari. Ia benar-benar tidak enak hati sudah mengganti tawa di bibir Juan menjadi kegetiran.


Juan menggeleng, "Nggak ada yang salah dan lu nggak salah. Gue hanya nggak tahu gimana caranya ceritain kehidupan gue," ucap Juan. Ia tidak bermaksud membuat Mentari merasa bersalah.


Juan menghela napas, ia berusaha menarik kembali keceriaannya tadi. Sangat tidak bagus bagi mereka yang tadinya sedang bercanda ria mendadak menjadi slow mellow seperti ini. Ia kemudian menatap Mentari dan melanjutkan lagi kalimatnya.

__ADS_1


"Sejauh ini semuanya datar-datar saja sampai lu datang dan bikin gue jadi merasa bahwa hidup ini nggak selamanya datar dan suram seperti hidup gue ...." Juan menjeda ucapannya, ia kemudian menatap Mentari dengan lekat seraya berkata, "Mentari, kalau misalnya gue minta agar lu ngizinin gue sayang sama lu, lu marah nggak?"


Degg ...


__ADS_2