CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~79


__ADS_3

Bright menggeleng tidak percaya, ia ternyata sudah salah dan lebih tepatnya ternyata Mentari tahu sifat buruk Zio. Dengan mereka yang setiap malam berkomunikasi berarti selama ini semua yang dilakukan olehnya adalah hal yang sia-sia. Entah seperti apa reaksi Mentari tiap kali ia mengirim pesan dan juga gambar editan dimana ada Zio bersama wanita lain di klub malam.


Mentari tersenyum miring melihat raut wajah terkejut Bright. Sebenarnya ia tidak mau mengatakan kebenarannya akan tetapi karena Bright terus saja mengganggu maka lebih baik ia memukul mundur pria ini agar pergi secepatnya membawa semua perasaan dongkol dan rasa malunya karena salah memilih lawan.


"Jika Anda sudah tidak memiliki kepentingan lain sebaiknya Anda pergi, Tuan. Saya sedang sibuk dan saya mohon untuk tidak mengganggu saya lagi karena itu adalah hal yang sia-sia. Waktu saya terlalu berharga jika dibuang percuma bersama Anda," ucap sarkas Mentari, ia tidak peduli apakah pria ini adalah rekan bisnis mereka atau tidak.


Bagi Mentari, kali ini Bright datang dengan membawa urusan pribadi sehingga ia tidak perlu takut terhadap keberlangsung kerja sama mereka. Jika saja Bright datang dengan membawa masalah pekerjaan, tentu saja sikap Mentari akan berbeda dan lebih sopan lagi.


Meski sudah diusir tetapi Bright tetap bersikeras untuk berdiri di samping Mentari. Dia memang kaget dan merasa malu luar biasa akan tetapi ia tidak akan meninggalkan Mentari terlebih lagi ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengungkapkan perasaannya. Entah apakah ia akan diterima atau ditolak yang penting ia sudah mengutarakannya karena prinsip Bright: selagi jalur kuning dia masih bisa menikung.


Merasa Bright tidak melakukan pergerakan apapun, Mentari kembali fokus pada pekerjaannya. Ia tidak peduli dan menganggap Bright adalah makhluk tak kasat mata. Asalkan dia hanya berdiri dan diam saja Mentari masih bisa memaklumi. Akan lain ceritanya jika pria ini banyak bicara dan Mentari merasa terganggu, maka sifat asli Mentari akan ia keluarkan.


"Mentari," panggil Bright setelah hampir lima menit ia diam saja mengamati gadis yang sedang sibuk dengan komputernya, seolah ia tidak berada disana dan dianggap sebagai makhluk tak kasat mata.


Jika saja Bright tahu, sejak tadi memang Mentari menganggapnya sedemikian rupa. Hanya saja pria ini terlampau percaya diri dan diam-diam ia mengagumi kecantikan dan ketekunan Mentari. Benar-benar wanita pekerja keras dan sangat cocok untuk dijadikan calon ibu dari anak-anaknya. Pantas saja dulu daddynya begitu menyukai Mentari, ternyata memang orangnya layak untuk dicintai.


"Hmm." Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Mentari. Bright menjadi buntu dan bingung harus berkata apa.


Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Bright mencoba kembali mengajak Mentari untuk berbicara. "Maaf ya, gue nggak maksud ngirim pesan dan foto itu sama lu. Gue hanya sedang berusaha mendekati lu dan gue paham kok kalau cara yang gue lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Gue keliru dan gue harap lu mau maafin gue," ucap Bright panjang lebar dan kali ini ia mencoba pendekatan informal.


Bright berharap caranya berbicara sesantai itu dengan Mentari akan membantu meluluhkan hati gadis ini dan bisa berbicara sedikit sopan lagi padanya.

__ADS_1


Eh? Dia lagi berkamuflase nih? Mendadak jadi sok akrab. Aneh!


Mentari bergumam dalam hati, ia sedikit kaget karena si pria perfeksionis ini mendadak sok akrab padanya. Dan permintaan maaf itu, jelas saja sangat mengganggu di pendengaran Mentari.


"Ya, sudah saya maafkan. Bisa tinggalkan saya sendiri?" ucap Mentari tanpa menengok ke arah Bright.


Kecewa, tentu saja. Bright mengira caranya itu akan membuat Mentari lebih bersikap santai dengannya. Nyatanya tidak sama sekali, dan bahkan ia mendapatkan pengusiran. Padahal Bright sudah bersikap sangat lembut dan memelas. Ia sudah membuang keangkuhannya dan juga gengsinya. Namun memang ternyata sangat sulit menembus benteng pertahanan Mentari.


Pantas saja sampai detik ini Dini sama sekali belum berhasil mendapatkan Zio yang katanya adalah seorang pemain wanita, ternyata pria itu mendapatkan seorang wanita berwujud bidadari dan punya keteguhan hati yang luar biasa. Mendadak Bright merasa iri karena yang lebih dulu bertemu Mentari adalah Zio.


Sangat sial baginya karena dulu tidak mencari tahu siapa orang yang selalu berkomunikasi dengannya dan membantunya mengurus segala keperluan. Ia hanya memendam kebencian karena mengira Mentari adalah pelakor lagi.


Sekarang dia aku-kamu lagi? Orang ini sebenarnya kenapa? Pertama saya-Anda. Kedua gue-elu. Dan sekarang Aku-Kamu. Geli banget gue. Dia ini jangan-jangan bipolar lagi. Ih ngeri banget!


Mentari mencibir tentu hanya dalam hati saja, ia tidak berani mengatai langsung karena mengingat orang ini adalah klien penting mereka. Ia juga tidak berniat menjawab karena jika ia ladeni maka akan menjadi pembicaraan yang panjang lebar. Mentari memang suka bercerita akan tetapi hanya dengan Zio dan orang-orang terdekatnya termasuk Juan.


"Itu karena Anda sangat membenci saya. Semua Anda lakukan untuk menghancurkan hubungan saya seperti dendam kesumat Anda yang mengira saya pelakor di rumah tangga orang tua Anda. Tidak sadar kalau ayah Anda adalah seorang pria yang gila akan wanita! Upss ...."


Mata Bright melotot sempurna, ia ingin marah karena terkejut Mentari mengatai daddynya akan tetapi perkataan Mentari itu benar adanya.


"Gue nggak maksud ya ke arah sana. Gue juga udah lupain masalah itu dan gue udah minta maaf. Semua itu gue lakuin semata-mata karena gue suka sama lu. Biar lu putus sama Ezio dan bisa dekat sama gue!"

__ADS_1


Kali ini giliran Mentari yang terbungkam. Ia sangat tidak menyangka kalau Bright menyukainya dan dengan lantang menegaskan perasaannya. Biasanya Mentari akan sangat senang jika ada orang apalagi pria itu tampan, mengatakan perasaan suka terhadapnya. Namun kali ini Mentari tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak memiliki ide sama sekali untuk membalas Bright.


"Iya, gue suka sama lu. Seenggaknya lu jadi teman gue. Siapa tahu dari teman jadi demen, 'kan?" imbuh Bright, sudah kepalang tanggung dan memang tujuannya adalah hal ini.


Mentari memijat pelipisnya yang mendadak terasa sakit. Bukan hanya bersikap lebay dan mengganggu waktunya, Bright juga kini membuatnya terkena serangan jantung mendadak dengan ungkapan perasaannya. Pria yang searogan Bright menyatakan cinta pada wanita yang dulunya ia kecam sebagai pelakor. Tidak pernah terlintas di pikiran Mentari sedikitpun.


"Jangan mimpi!"


Suara itu mengalihkan atensi Mentari dan Bright. Jika Mentari bernapas lega karena kedatangan pria itu, maka Bright bertanya-tanya siapa gerangan yang mengganggu waktunya bersama Mentari apalagi ini adalah momen menegangkan karena ia membutuhkan kepastian dari Mentari.


"Siapa kau?" hardik Bright.


Mendadak Mentari berharap dalam hati agar kejadian ini memanas dan terjadi adu jotos, ia sudah lama tidak melihat perkelahian, mungkin saja bisa membuat perasaan Mentari menjadi senang.


"Aku? Calon jodohnya," jawabnya. "Halo bidadari gue, apa kabar? Lama tak jumpa lu semakin cantik saja. Jalan bareng yuk," ajaknya.


Mentari menghela napas kasar, ia pikir dirinya akan dibuat senang tetapi justru ia dibuat kesal karena setelah sekian lama tidak bertemu, pria ini tetap saja menyebalkan.


"Aww, sakit dong Tari. Berani ya nyubit calon kakak ipar!" keluh Oliver ketika Mentari mencubit lengannya dengan sangat kuat.


"Kakak ipar?" pekik Bright.

__ADS_1


__ADS_2