
Mentari menatap heran pada Zio yang tumben sekali membawa bunga saat menjemputnya. Zio bahkan terlihat lebih tampan dari biasanya dan juga lebih wangi dari biasanya. Ia sudah mengganti pakaiannya karena Mentari melihat bukan pakaian yang tadi siang Zio kenakan. Dan jangan lupa, ia kini mengendarai motornya dan gayanya ketika membuka helm itu terlihat sangat badas.
Bukan hanya Mentari yang dibuat melongo, tetapi para karyawan wanita yang sedang berjalan keluar dari gedung perusahaan pun dibuat terpana oleh kedatangan Zio. Mereka bahkan berlama-lama di parkiran hanya untuk bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.
Namun entah mengapa, Mentari tidak pernah cemburu saat orang menatap Zio penuh dengan kekaguman. Mungkin karena hal itu sudah lumrah dan sangat biasa terjadi sejak mereka masih berpacaran dulu.
Zio seakan memperlihatkan ketampanannya dan betapa mempesonanya ia dihadapan para wanita dan juga pria yang sedang terpaku menatapnya saat berjalan ke arah Mentari. Tapi sejujurnya ia memang sengaja karena ia ingin pamer pada semua orang jika dirinya adalah kekasih Mentari dan yang lebih penting lagi adalah Mentari memiliki kekasih setampan dirinya.
Wajah Mentari terlihat tidak enak dipandang karena saat ini ia begitu kesal dengan kecentilan dan kenarsisan Zio.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap Zio kemudian ia segera memberikan bunga tersebut kepada Mentari dan dengan senyuman yang dipaksakan Mentari menerima bunga tersebut.
"Tumben," ucap Mentari kemudian ia menghirup aroma bunga tersebut, sangat lembut dan juga menenangkan.
Zio berdecak, "Aku pikir kamu bakalan bilang I love you, I miss you too atau terima kasih sayang," ucapnya kemudian ia mencebikkan bibirnya sok merajuk.
Mentari terkekeh, dari semua ekspresi Zio, ia paling suka saat melihat Zio merajuk. Sangat menggemaskan.
"Katanya sibuk, kenapa mendadak nggak sibuk," sindir Mentari.
Zio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia kemudian mengatakan bahwa ia sudah meminta Ramon untuk menunda jadwalnya karena ada hal yang lebih penting yang ingin ia bahas dengan Mentari.
__ADS_1
Mentari langsung tanggap, ia yakin sekali memang ada yang sangat penting yang ingin dibahas oleh Zio. Tanpa pikir panjang Mentari langsung mengiyakan saja ucapan Zio dan seperti biasa, Zio pasti akan membuat pengaturan dengan motor Mentari yang akan sampai lebih dulu di rumahnya sebelum ia sampai.
Perjalanan terasa begitu lambat, Mentari melingkarkan tangannya di pinggang Zio dan Zio menikmati setiap waktu yang mereka lewati bersama. Ia juga sengaja melambatkan laju kendaraannya agar bisa semakin lama berada dalam pelukan Mentari.
Perjalanan yang biasanya mencapai waktu sekitar lima belas menit menuju ke apartemen Zio, sekarang justru harus ditempuh hingga lebih dari tiga puluh menit. Tanpa Zio sadari, sebenarnya sejak tadi Mentari terus menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi pada Zio. Ia yakin sekali ada masalah besar yang sangat mempengaruhi suasana hati Zio.
Sesampainya di apartemen, Zio langsung membawa Mentari untuk duduk di sofa ruang tamu. Zio seperti biasa, menghindari membawa Mentari masuk ke dalam kamar karena disana sepetinya ada banyak setan yang akan menghasut Zio untuk berbuat dosa.
"Sayang, sebenarnya ada hal penting yang harus aku sampaikan. Tapi aku takut kamu marah. Emmm ... bagaimana kalau kita makan dulu. Aku pesan makanan ya, biar ngobrolnya lebih rileks," ucap Zio sambil memilah kata yang tepat untuk disampaikan dengan baik kepada Mentari.
Mentari memikirkan ucapan Zio, sangat jarang Zio berbicara dengan gemetar seperti ini. Mentari yang sangat penasaran mengabaikan keinginan Zio untuk memesan makanan dan baginya lebih baik langsung saja ke intinya.
Mendengar Mentari yang tidak ingin berbasa-basi lagi, Zio semakin gelisah. Mendadak kata-kata yang sudah ia susun itu hilang entah kemana. Kini pelipisnya mulai mengeluarkan keringat dan semua itu tak luput dari pengamatan Mentari.
Hati Mentari mulai terasa tidak enak, jantungnya berdebar-debar kencang dan ia bisa tahu jika ada hal buruk telah menimpa Zio dan itu berhubungan dengan ia dan juga hubungan asmara mereka.
"Katakan yang sebenarnya Zio, aku nggak akan tahu jika kau tidak mengatakannya padaku," pinta Mentari, ia bersiap apapun itu yang akan terjadi. Ia bisa melihat kesungguhan Zio dan jika pun nanti yang akan Zio katakan padanya adalah hal yang sangat menyakiti hatinya maka ia tidak akan langsung mengambil keputusan.
"Bangunlah sayang, aku akan mendengarkan dan in syaa Allah aku akan menjadi pendengar yang baik dan tidak akan langsung menghukummu. Aku berjanji. Bicaralah agar aku memahami apa yang menjadi masalahmu," ucap Mentari sejak suara lembut dan tak lupa ia juga membelai lembut rambut Zio berharap dengan sentuhan lembutnya Zio akan percaya jika dirinya siap mendengarkan semua cerita Zio.
Merasa mendapat dukungan dan juga kepercayaan dari Mentari, dengan perasaan tak karuan dan dengan bibir yang bergetar Zio menceritakan masalah yang tengah membelitnya.
Tak ada yang ia tutupi dari awal ia berada di acara jamuan makan malam hingga ancaman Dini terhadapnya.
__ADS_1
Mentari bukan wanita hebat dan wanita luar biasa, tentu saja mendengar cerita Zio ia beraksi besar. Bahkan ada rasa marah dan benci serta kecewa pada Zio yang ia ucapkan dengan lantang. Marah, berteriak dan juga mengumpati serta menampar Zio, semua itu Mentari lakukan dan Zio hanya bisa pasrah saja.
Mentari menjambak rambutnya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Ia bukan hanya marah pada Zio tetapi pada Dini juga si wanita ular itu.
Zio sendiri tidak berani bersuara, ia tahu kesalahannya dan ia siap dimarahi dan dihujat oleh Mentari. Ia tahu kesalahannya sangat sulit untuk diterima.
Setelah sepuluh menit keduanya sama-sama diam dimana Mentari duduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang menunduk dengan kedua tangannya, sedangkan Zio masih duduk di lantai di bawah kaki Mentari.
"Aku sangat marah Zio, aku kecewa padamu. Berkali-kali kau membuatku kecewa dengan tidur dengan wanita lain. Entah aku bisa memaklumi ini lagi atau tidak. Kau sangat kotor dan kau bahkan sudah celap-celup sana sini dan aku saja masihlah seorang perawan. Tapi ... tapi sialnya aku sangat mencintaimu dan hatiku percaya padamu," tangis Mentari yang sudah tak bisa ia bendung.
Ia ingin menyalahkan hatinya yang tetap saja mencintai Zio, tetapi bagaimana caranya ia memarahi dirinya sendiri? Menghukum diri sendiri dengan menjauh dari Zio, apakah ia akan sanggup.
"Aku tahu sayang, aku sangat tahu aku salah dan sangat bersalah. Jika kau ingin membenciku itu adalah hakmu. Tapi kau harus tahu kalau aku tidak pernah mengkhianati perasaanku padamu. Aku cinta kamu Mentari Ramadhani binti Ramadhan!"
Mentari memalingkan wajahnya saat Zio berteriak mengungkapkan cintanya. Air matanya kembali menetes dan ia bingung harus apa.
"Zio, aku ingin pulang sekarang. Aku akan memikirkan ini semua dengan kepala dingin. Maaf tapi aku gagal memaksa hatiku untuk diam saja dan tidak marah padamu. Aku sangat kecewa tapi aku juga sangat mencintaimu. Biarkan aku berpikir dulu Zio. Dan kau, jangan sampai berbuat nekat karena aku hanya butuh waktu untuk menangkan diri, bukan untuk pergi!"
Zio mengangguk senang, rupanya dibalik semua kemarahan Mentari, kekasihnya itu tidak langsung meninggalkannya. Zio sangat bersyukur memiliki Mentari dalam hidupnya. Wanita yang selalu mau mendampinginya dalam susah maupun senang.
Mentari pun berdiri dari duduknya lalu ia berkata, "Berdiri dan peluk aku. Kau sangat brengsek tapi hatiku lebih brengsek lagi karena mencintai pria brengsek sepertimu. Sialan sekali kau ini, dasar mantan bangsat!" umpat Mentari yang kini justru jatuh terduduk di sofa setelah dengan brutalnya Zio memeluknya.
Zio terlalu senang mendengar ucapan Mentari hingga tanpa sadar ia kini sudah menindih tubuh Mentari di atas sofa.
__ADS_1
"I love you Mentari. Aku beruntung banget dicintai sama kamu," ucap Zio kemudian ia mengecup lembut kening Mentari.