
"Dimana orang gilanya?" tanya Oliver melihat sekeliling.
Mentari menarik napas dalam-dalam kemudian ia keluarkan dengan perlahan hanya untuk menenangkan dirinya. Ia berkacak pinggang, matanya menatap tajam pada Oliver.
"Lu lihat siapa aja yang ada disini?" tanya Mentari, bibirnya tersenyum tetapi senyuman itu cukup mematikan.
Oliver mengangguk, "Iya, gue sama lu doang nih," jawab Oliver.
"Nah, berarti orang gilanya siapa?"
"Gue. Eh?" Mata Oliver membulat sempurna begitu menyadari orang gila yang dimaksud oleh bidadarinya ini adalah dirinya sendiri.
Mentari tersenyum miring, Ia kemudian mendengus pada Oliver lalu kembali duduk di kursinya. Hari ini sudah diawali dengan perasaan kesal karena bertemu dengan pria gila ini, Mentari yakin setelah ini pasti akan ada susulannya.
Semenjak gue bertemu Zio, mendadak hidup gue penuh dengan kesialan. Apakah dia dewa kesialan dalam hidup gue?
Tidak memperdulikan Oliver, Mentari kembali sibuk dengan pekerjaannya. Oliver sendiri yang tidak dianggap oleh Mentari pun memilih masuk ke dalam ruangan Zio. Mentari hanya melihat sekilas Oliver yang masuk ke dalam ruangan itu kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Tak berselang lama, Ramon dan Zio datang.
Jika Mentari menyapa Ramon dengan senyumannya maka berbeda dengan sikap ha pada Zio. Ia bahkan berpura-pura tidak melihat Zio. Pria tampan itu memelototkan matanya pada Mentari namun dengan acuh Mentari malah memilih mengerjakan laporannya.
"Nggak lihat gue datang?" tegur Zio
"Lihat Pak, hanya saja saya sedang mengerjakan laporan saya agar supaya tidak ada yang salah dan bapak tidak akan kecewa dengan pekerjaan saya," jawab Mentari tanpa mau menatap Zio.
Zio yang merasa diacuhkan oleh Mentari rasanya ia ingin sekali menoyor kepala Mentari. Tetapi daripada ia harus berdebat dengan Mentari di awal pagi ini, ia memilih untuk masuk ke ruangannya karena Oliver sudah berada di dalam.
Mentari tersenyum kecut ketika Zio masuk ke dalam ruangannya. Ramon yang melihat CEO dan sekretarisnya ini tidak pernah akur hanya bisa menghela napas berat. Ramon yakin kedepannya dirinya akan menjadi saksi nggak bisu pertengkaran antara mantan kekasih dan ia berharap dirinya tidak akan dijadikan orang ketiga untuk mengurus masalah keduanya jika saja sampai terbawa ke dalam pekerjaan.
Di dalam ruangannya Zio langsung duduk bersama Oliver di sofa. Ia tidak langsung memeriksa pekerjaan karena masih ada pekerjaan yang lebih penting yang harus ia urus bersama Oliver selain pekerjaan perusahaan ini. Mata Zio menangkap sepupunya itu sedang senyum-senyum sendiri, jiwa penasaran Zio meronta-ronta sebab ia tahu senyuman Oliver ini adalah senyuman tanda bahwa saudaranya ini sedang terpesona pada seseorang.
__ADS_1
"Sekarang bidadari mana lagi nih yang bikin lu senyum-senyum kayak orang gila gini," sindir Zio.
Oliver mengerucutkan bibirnya, "Nggak ada! Masih bidadari yang sama dan ternyata gue ketemu sama dia di kantor ini dan gue nggak bakalan kasih tahu lu siapa dia karena gue nggak mau lu bakalan suka dia juga. Yang kali ini hanya khusus untuk gue. Nggak bakalan gue bagi-bagi sama lu!" tandas Oliver yang membuat Zio terkekeh dengan keposesifan sepupunya.
Sudah hal biasa, Zio dan Oliver sering berbagi kekasih. Lebih tepatnya kekasih yang mereka kencani hanya untuk bersenang-senang bukan untuk dimasukkan ke dalam hati. Mereka bahkan sering bertukar pasangan hanya untuk merasakan sensasi dari masing-masing wanita yang mereka bawa.
Oliver dan Zio hanya melakukan hubungan one night stand dengan wanita-wanita terpilih, tetapi hanya sekadar bersenang-senang saja. Dua sepupu yang sama-sama tampan itu tidak pernah membawa wanita-wanita itu ke dalam hati mereka.
Dan tentang beberapa kekasih Zio, semuanya adalah wanita yang merengek untuk terus bersamanya dan rela melakukan apapun agar siap tetap mempertahankan mereka di sisinya. Tidak pernah ada kekasih yang seperti Mentari di dalam hidup Zio. Hanya Mentari satu-satunya wanita yang pernah Zio pacari dan Ia menggunakan hati.
Terbukti dari Zio yang tidak pernah menyentuh Mentari selain menciumnya. Itulah yang ia lakukan agar bisa menjaga wanita yang ia pilih dengan hatinya. Namun sayang, Mentari lebih dulu mendapati kelakuan bejatnya hingga Mentari memilih mundur dan merelakan hubungan mereka berakhir begitu saja
Zio yang kalah itu kesal dengan Mentari pun memilih untuk membiarkan hubungan mereka bubar hingga pada akhirnya ia sadar bahwa ia sudah benar-benar bermain hati dengan Mentari namun ia tidak memiliki waktu untuk kembali memperbaiki hubungannya karena ia harus ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.
Hingga akhirnya ia kembali bertemu dengan Mentari setelah lima tahun lamanya dan kini mantan kekasih yang diam-diam masih ia cintai itu berada begitu dekat dengannya hanya saja ia merasa keduanya memiliki jarak yang cukup jauh. Seperti ada tembok yang membatasi mereka.
"Masih lima puluh-lima puluh persen sih, gue harus melakukan pendekatan dulu. Wajah kesalnya bikin gue semangat. Dan ketika gue bertemu dengan dia, gue malah dikatain orang gila sama dia terus gue dicuekin gitu aja. Benar-benar spesial pilihan gue itu. End for your information, gue nggak bakalan bagi tahu lu siapa dia. Lu cukup tahu namanya Rama dan jangan coba-coba cari tahu tentang dia!" ancam Oliver.
Zio berdecak dalam hati, ia berdoa semoga wanita itu bukan Mentari.
"Asal bukan Mentari, lu bebas milih siapa aja yang lu suka di kantor ini." ucapan Zio langsung ditanggapi anggukan kepala oleh Oliver.
"Mentari? slSiapa Mentari?" tanya Oliver penasaran.
"Dia itu sek--"
Ucapan Zio terputus ketika pintu ruangannya di ketuk. Dalam hati Zio berdoa semoga bukan Mentari yang masuk sebab seluruh ciri yang disebut eh Oliver itu merujuk pada sosok Mentari.
Ramon datang dan mendekati Zio. Tak lupa ia menyapa Oliver yang sudah lama tidak ia lihat.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, hari ini anda ada rapat penting dengan tuan Santoso. Kami sudah menjadwalkan bahwa pertemuan ini akan dilakukan di gedung kantor ini. Saya hanya datang untuk mengingatkan saja karena dari informasi yang saya dapatkan Pak Santoso sedang menuju ke kantor kita," ucap Ramon mirip seseorang sedang memaparkan hasil penelitiannya.
Zio menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Kau atur saja pertemuannya dan aku dan Mentari yang akan menghadirinya. Bukankah perusahaan itu bekas tempatnya bekerja dulu?" ujar Zio dan Ramon kembali menganggukkan kepalanya.
Ramon pun pamit undur diri, Ia pun segera menyuruh Mentari untuk bersiap-siap menemani Zio karena rapat kali ini Mentari-lah yang akan membantu sedangkan dirinya memiliki urusan lain di luar yang berhubungan dengan perusahaan.
Mentari mengangguk, kali ini ya harus bersama dengan Zio dalam rapat yang entah berapa lama. Ramon juga tidak mengatakan padanya jika klien mereka kali ini adalah pak Santoso, pimpinan Mentari di tempat ia bekerja dulu.
Tak berselang lama Zio keluar seorang diri, Oliver akan bersama Ramon pergi mengurus pekerjaan diluar.
"Sudah siap lu? Jangan malu-maluin gue," ujar Zio yang membuat Mentari terjungkit dari kursinya.
"Bisa tidak sih bos kalau mau bicara itu kasih aba-aba dulu? Jangan bikin kaget. Kalau saya serangan jantung dadakan gimana? Bos mau donor jantung buat saya? Nggak mau, 'kan?"
"Berhentilah bernyanyi Mentari Ramadhani binti Ramadhan. Sekarang lu mendingan ikut gue ke ruang rapat. Lu yang bakalan presentasi. Sekalian gue juga mau lihat gimana skill lu yang katanya udah berpengalaman," ujar Zio, ia masih belum siap untuk berdebat dengan Mentari saat ini.
Wajah Mentari menjadi datar, ia hanya mengangguk lalu mengikuti Zio dengan membawa berkas yang sudah diberikan Ramon padanya.
Zio berdecak, ia kemudian menarik tangan Mentari dan menggenggamnya dengan erat sambil berjalan ke arah lift.
Mentari hanya bisa memandang tangannya yang digenggam oleh Zio tanpa berani bersuara. Bahkan sampai ketika keduanya berada di dalam lift pun Mentari enggan kemhuka suara, ia takut salah bicara dan berujung baper.
"Mentari, lu pacaran sama Juan?" tanya Zio membuka percakapan karena ia pun kesal sedari tadi mantannya yang bawel ini justru memilih diam. Tidak seperti biasanya, pikir Zio.
Mentari menatap Zio lalu menggeleng. Zio tersenyum kecil, ia bersyukur karena apa yang ia pikirkan tidaklah benar jika Mentari dan Juan memiliki hubungan spesial.
"Saya belum pacaran dengan Juan, Pak. Tapi mungkin dalam beberapa waktu kedepan kami akan jadian. Mohon doa ya, Pak."
Tiba-tiba Zio seolah membeku. Mendadak Zio menjadi manusia batu di dalam lift mendengar penuturan Mentari barusan.
__ADS_1