CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~71


__ADS_3

Zio menghentikan motornya di depan sebuah gedung perusahaan yang cukup besar namun tidak sebesar miliknya dan bahkan bisa dikategorikan ini seperti kantor cabang dari anak-anak perusahaannya. Namun di dalam sana ada yang menarik hatinya yang tidak lain tidak bukan adalah kekasihnya Mentari Ramadhani Binti Ramadhan. Demi dia, Zio rela menunggu di atas motor dan memantau satu per satu orang yang keluar dari perusahaan tersebut.


Zio hanya ingin memberi kejutan pada Mentari, ia tahu jika Mentari datang dengan motornya, tapi ia juga ingin berboncengan dengan kekasihnya itu dengan motor sport baru miliknya. Zio sudah membayangkan keintiman mereka di atas motor seperti yang pernah ia lihat di jalan.


Banyak pasang mata yang menatap pria tampan tersebut terutama kaum wanita. Jika dulu ia mendapat tatapan mendamba padanya tentu ia akan segera melakukan flirting, tapi kali ini ia justru menampilkan wajah datar hingga membuat seorang gadis yang sedang berjalan di antara kerumuman itu tersenyum, ia yakin pria pilihannya itu sudah benar-benar berubah.


"Kamu datang untuk tebar pesona?" tanya Mentari yang membuat Zio terkejut sebab sejak tadi ia memperhatikan pintu keluar masuk gedung tersebut tetapi ia tidak menemukan Mentari.


Jelas saja karena Mentari lebih dulu menangkap kehadiran Zio dengan kedua matanya hingga ia menyelip diantara banyak orang agar Zio tidak melihatnya.


"Kamu emang nggak kerja? Bajunya kok gini?" cecar Mentari.


Celaka bagi Zio, ia lupa dengan penampilannya saking semangat untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Sejenak ia terdiam dan memikirkan jawaban apa yang tepat agar Mentari percaya padanya.


"Emm ... tadi gue pulang cepat dan mampir buat beli motor ini. Gue 'kan udah pernah bilang kalau gue mau naik motor sama lu. Nggak lucu juga kalau gue pakai pakaian formal di atas motor. Gimana, penampilan gue udah oke nggak?" ucap Zio mencoba meyakinkan sebisanya. Ia berharap Mentari tidak akan curiga padanya lagi dan bertanya ini dan itu.


Mentari memperhatikan penampilan Zio dan memang benar jika kekasihnya itu terlihat jauh lebih tampan tanpa mengenakan pakaian formal, pipi Mentari sampai bersemu merah karena lagi dan lagi ia jatuh pada pesona seorang Dimas Ezio Rasyid.



"Yuk naik, Yang. Biar kita pulang bareng dan mengenai motor kamu ya biarin aja di situ atau nanti aku minta tolong orang deh buat ambil dan anterin ke kamu. AKu nggak menerima penolakan lho," ucap Zio, seperti yang ia tegaskan bahwa kali ini Mentari dilarang untuk menolak.


Mentari tersenyum, "Siapa juga yang menolak jika pulang kerja di jemput Ayang yang tampan. Yuk pulang," ucap Mentari kemudian ia naik ke atas motor Zio.

__ADS_1


Zio mulai menghidupkan mesin motornya dan ia masih menahan motor tersebut dengan kakinya lalu kedua tangannya mencari-cari tangan Mentari untuk ia lingkarkan di pinggang kuatnya. Kini keduanya sudah terlihat begitu mesra dan unutng saja Mentari hari ini mengenakan setelan kerja dengan bawahan celana panjang sehingga tidak susah baginya dibonceng oleh Zio dengan motor ini.


"Udah siap Yang?" tanya Zio dan Mentari pun mengiyakan. Zio menarik gas motor dan kini keduanya sudah melaju di atas aspal.


Mentari menjatuhkan dagunya di atas bahu ZIo, pelukannya ia eratkan karena ia memang sengaja ingin menunjukkan jika pria tampan yang pernah menjabat sebagai seorang cassanova kelas kakap dan pemandu tour ranjang panas -- mengutip istilah Mentari untuk Zio adalah miliknya. Ia yang bebas memeluk dan memiliki Zio sekarang dan berharap untuk selamanya. Walaupun wajah tampan Zio tertutup helm full face, Mentari tetap ingin menunjukkan pada dunia jika Zio dia adalah pasangan kekasih.


Zio sendiri bisa merasakan sikap Mentari dan ia sangat senang dan bersyukur karena memilih membeli motor ini. Jika di dalam mobil, belum tentu mereka akan seintim ini.


Di belakang motor mereka, Dini yang berada di dalam mobil bersama Bright langsung meminta untuk mengikuti Mentari. Bright sendiri merasa malas karena yang ia tahu wanita yang berada di boncengan motor bersama pria itu adalah Mentari -- dulunya calon ibu tirinya. Dini ingin membuktikan pada seluruh keluarga Zio dan pada Zio pula bahwa kekasihnya itu bukanlah wanita baik-baik karena sudah berboncengan dengan sedekat itu dengan seorang pria bahkan tanpa ragu memarkan kemesraan.


"Zio pasti bakalan sakit hati dan mutusin dia," gumam Dini, ia pun meminta Bright untuk lebih cepat lagi akan tetapi Bright tidak mendengarkan dan bahkan ia justru memperlambat laju kendaraannya.


Dini tersenyum setelah ia berhasil mengambil beberapa gambar Mentari di atas motor bersama seorang pria yang terlihat begitu mesra. Ia menyeringai, sebentar lagi ia akan pergi ke rumah keluarga Ar-Rasyid dan akan memberikan bukti bahwa Zio salah memilih pasangan. Dini yakin dengan cara ini ia pasti akan mendapatkan Zio kembali.


Tadi saja sok menjunjung harga diri tapi sorenya udah boncengan sama cowok lain. Hahaha ... dasar wanita rendahan. Untung tidak jadi istri Daddy lagi.


Motor yang membawa Mentari pun melaju dan berbelok arah sehingga Dini dan Bright kehilangan jejak mereka karena sejak tadi keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Dini mengumpat, sebenarnya ia ingin langsung melabrak dan mempermalukan Mentari akan tetapi karena ia kehilangan jejak, ia langsung meminta Bright untuk mengantarnya ke kediaman Ar-Rasyid.


.


.


Dini yang sudah beberapa kali datang ke rumah ini langsung dibukakan pintu oleh petugas keamanan dan mempersilahkannya masuk sedangkan Bright langsung pergi karena ia tidak punya urusan disini.

__ADS_1


Kebetulan saat Dini datang, kakek Rasyid sedang duduk di teras samping rumah dan tengah menikmati teh hangatnya. Kakek Rasyid tersenyum melihat kedatangan Dini, ia kemudian langsung mengajaknya bergabung dan menuangkan secangkir teh untuk Dini. Biasanya Lolita akan selalu menemani ayah mertuanya ini untuk menikmati sore hari akan tetapi pasca kejadiannya mertuanya yang memaksakan Zio untuk menikah dengan Dini, Lolita bersikap cuek dan cenderung menolak bertemu dengan ayah mertuanya walaupun di meja makan sekalipun.


"Maaf kakek sudah datang mengganggumu di sore hari," ucap Dini setelah ia menyesap tehnya sedikit.


"Tidak masalah, justru aku senang karena kau datang menemuiku. Aku merasa sangat kesepian di rumah besar ini, aku harap kau segera menikah dengan Zio dan berikan aku cicit yang banyak agar aku tidak lagi kesepian," ujar kakek Rasyid sambil menatap senang ke arah Dini.


"Kakek tenang saja, aku pasti akan memberikan kakak cicit yang sangat banyak hingga kakek kewalahan untuk mengurus mereka semua," timpal Dini dan kemudian keduanya tertawa.


Dari arah berbeda, Lolita yang sedang menyambut kepulangan Danu tak sengaja mendengar tawa mertuanya dan seorang wanita. Keduanya pun merasa penasaran dan langsung menghampiri tempat favorit ayah. Mereka terkejut karena di sana ada Dini yang digadang-gadang karena akan menjadi menantu mereka.


"Dini, kamu ada di sini? Sejak kapan kamu datang?" tanya Danu, Dini pun segera berdiri dan menyambut kedua calon mertuanya itu dan mencium punggung tangan mereka masing-masing agar terlihat seperti anak manis dan sopan.


Namun perlakuannya tersebut tak lantas membuat hati Lolita merasa senang, ia masih merasa kesal karena wanita yang ada dihadapannya ini adalah pemicu ia berpisah dari anak semata wayangnya.


"Tadi aku sedang jalan-jalan dan tak sengaja mendapatkan sebuah berita sehingga aku buru-buru datang ke sini. Apakah Zio belum pulang? Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadanya dan ini tentang Mentari, dia pasti akan sangat kaget saat melihat apa yang aku bawa," ucap Dini, dalam hati ia begitu berhasrat untuk menjatuhkan Mentari agar saingan terberatnya itu hilang dan pasti akan langsung jatuh ke pelukannya.


Ketiga orang dewasa itu saling menatap, mereka justru jadi semakin penasaran jika sudah membawa-bawa nama Zio dan Mentari. Dengan tidak sabarnya mereka meminta Dini untuk menjelaskan apa yang baru saja ia maksudkan.


Dini kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas kecilnya lalu membuka galeri dan memperlihatkan foto-foto di mana Mentari sedang berboncengan mesra di atas motor dengan seorang lelaki. Mata Danu dan kakek Rasyid seakan ingin melompat keluar melihat bagaimana Mentari memeluk pria tersebut dengan begitu mesranya, sedangkan di hadapan mereka terlihat Mentari begitu mencintai Zio dan seolah memperjuangkan hubungan mereka.


Merasa garam, kakek Rasyid langsung meminta Danu untuk menghubungi Zio dan Danu pun langsung melakukannya karena saat ini ia ingin membuka mata anaknya itu dengan apa yang baru saja yang diperlihatkan oleh Dini. Danu merasa sangat kecewa karena dulunya ia berpikir bahwa Mentari adalah orang yang paling pantas menjadi menantunya dan mendampingi Zio, akan tetapi fakta hari ini membuatnya tahu wanita yang mencintai anaknya itu selalu saja sama -- hanya menginginkan kesenangan dari Zio semata.


Hanya Lolita yang terdiam sambil terus memperhatikan foto tersebut dan diam-diam ia tersenyum tipis.

__ADS_1


Aku ini ibunya, dalam bentuk apapun aku pasti tahu ciri-ciri putraku. Aku disini terus menggalaukan nasibnya sedangkan dia di luar sana dia terus saja berkencan. Dasar anak durhaka! Tapi Mami sangat merindukan Zio, Nak.


__ADS_2