
Mentari merenung di dalam kamarnya, ia memikirkan banyak hal terutama hubungannya dengan Zio. Dulu ketika ia mencintai Zio, kekasihnya itu yang berselingkuh. Dan kini, ketika dua-duanya saling memiliki dan saling berharap memiliki hubungan serius, Zio justru dijodohkan. Mentari merasa hidupnya sangat tragis dan mengenaskan khususnya di bidang percintaan. Haruskah ia memilih mundur saat Zio berharap mereka bertahan dan berjuang?
Cinta memang tidak akan pernah berhasil jika hanya satu orang yang mau berjuang dan yang lainnya memilih mundur atau tidak ingin diperjuangkan. Mentari terlalu lelah melawan hatinya, sekali lagi ia berharap Zio bisa menjaga hatinya dan sekali ini saja, ia akan berjuang bersama Zio dalam genggaman pria itu.
Cinta itu belum hilang dan justru makin bertambah. Tidak ada tanggal kapan cinta itu kadaluarsa di hati Mentari.
Tidak tahu diri atau tidak tahu malu?
Tidak sadar diri atau memberanikan diri?
Mempertahan cinta atau membuat diri menjadi egois karena cinta?
Berbagai asumsi di hati dan pikiran Mentari tentang ia dan Zio.
Bukankah cinta itu terjadi ketika aku dan kamu menjadi kita? Lalu mengapa harus ada mereka diantara kita?
Mentari bertanya-tanya dalam hatinya, namun ia tidak bisa menemukan jawaban. Ia ingin mundur tetapi Zio berusaha keras menggenggam hati dan pikirannya. Zio mendominasinya dan menjanjikan akan memperjuangkan cinta mereka. Mentari tidak mungkin membiarkan Zio berjuang sendiri setelah selama ini ia akhirnya tahu, Zio selalu menjaga dan mengawasinya walau dari kejauhan. Satu hal yang bisa Mentari jadikan penguat hati, ia percaya Zio tidak akan merusak kepercayaan juga menghancurkan hatinya lagi.
"Ya, Zio pasti akan jagain hati gue. Mari kita berjuang bersama untuk cinta kita sekali lagi," gumam Mentari.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan kekasihnya, Zio pun saat ini sedang memikirkan hubungan mereka. Memikirkan berbagai cara agar ia bisa bertahan dengan Mentari, karena Zio merasa hanya Mentari saja gadis yang ia inginkan untuk menjadi pendampingnya. Ia tidak mau yang lain lagi karena ia sudah pernah mencoba tetapi memang tidak ada wanita yang mampu menggetarkan hatinya seperti saat ia bersama Mentari.
"Baru juga pulang gue udah kangen," gumam Zio. Bibirnya tersenyum, ia begitu bahagia setelah hari ini ia dan Mentari berjanji untuk berjuang bersama. "Kalau pun restu itu tidak kunjung datang, apa susahnya kalau gue kawin lari sama Mentari. Nanti juga bakalan direstuin sesudahnya," imbuhnya sambil tertawa lirih.
Zio menatap langit-langit kamarnya, ia berharap dari atas sana akan turun sebuah ide untuk menyelesaikan masalah restu dan juga menyudahi perjodohannya bersama Dini. Andaikan itu wanita lain, wanita yang sama sekali tidak mengenalnya, maka mudah saja bagi Zio untuk membuat wanita itu tidak menyukainya. Tetapi masalahnya wanita ini adalah Dini, mantan kekasih Zio yang sudah tahu seperti apa sepak terjangnya.
Zio mengacak-acak rambutnya frustrasi karena ternyata inspirasi itu tidak datang juga dari atas sana. Sepertinya ia harus berpikir keras dan mencari solusi terbaik. Kawin lari tentu akan jadi opsi ke sekian yang akan ia ambil jika saja ia tetap dipaksakan untuk menikah dengan Dini.
"Jika di dunia ini hanya ada Dini dan Domba, maka gue memilih tidak menikah. Gue nggak mau soalnya sama keduanya," gumam Zio kemudian ia mencoba memejamkan matanya dan perlahan-lahan ia mulai tertidur karena menurutnya, akan lebih baik ia membahas hubungannya ini dengan Mentari, keduanya harus punya pemikiran yang sama agar langkah yang mereka ambil nanti tidak memberatkan salah satunya.
.
.
Sangat tidak biasa istri dan ayahnya itu tidak saling bertegur sapa, apalagi biasanya Lolita lebih sering melayani sang mertua lebih dulu di meja makan. Tapi kali ini tidak lagi.
Zio pun tidak terlihat pagi ini. Biasanya Zio tidak akan melewatkan sarapan bersama jika tidak ada urusan yang mendesak. Sedangkan Oliver, dia sudah berangkat sejak pagi sekali karena ia ada urusan pekerjaan di luar kota. Hanya ada Juan yang menemani mereka, sedangkan anaknya itu pun terlihat diam saja.
Danu meletakkan sendok dan garpunya, "Ada apa ini? Kenapa aku merasa kalian semua sedang bermain bisu-bisuan. Coba jelaskan sayang," ucap Danu yang akhirnya memilih untuk bertanya. Ia tidak suka suasana ini dan ia harus tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan tanya aku. Tanya saja pada ayahmu," jawab Lolita ketus.
Danuarta alias Danu dibuat melongo oleh istrinya. Apa-apaan Lolita, bagaimana bisa ia menyebut mertuanya dnehan sebutan ayahmu. Selama ini Lolita tidak pernah berkata seperti itu, pikir Danu. Ia kemudian melirik ke arah ayahnya yang sedang asyik menyantap sarapannya, sedangkan yang ia tatap langsung memalingkan wajahnya.
Danu menghela napas, ia kini yakin sesuatu yang besar telah terjadi saat ia tidak berada di rumah. Mungkinkah ada hubungannya dengan absennya Zio di ruang makan, pikir Danu lagi. Ia kemudian melirik Juan, ia yakin putranya itu pasti tahu sesuatu.
Juan melepas alat makannya, ia tahu lewat tatapan mata saja kalau saat ini papinya ingin bertanya hal yang sama padanya. "Kak Zio tidak ada dan sedang merajuk pada kakek," ucap Juan tanpa diminta, ia langsung memalingkan wajahnya sebab sang kakek saat ini sedang menatap sengit padanya.
"Juan, kakek bisa menjawabnya sendiri. Kau tidak perlu membuka suara," gerutu kakek.
Anak kecil juga tahu kalau kakek tidak mau bicara tadi. Buktinya waktu papi natap kakek, kakek pura-pura buang muka nggak mau lihat papi. Haiihh ... semoga gue tidak mengalami nasib sama seperti kak Zio.
Kakek Rasyid menatap Danu, putra satu-satunya karena anak pertamanya adalah seorang putri dan itu adalah ibunya Oliver. "Anakmu itu menolak dijodohkan dengan cucunya Harun. Dia melakukan protes padaku dan juga istrimu mendukungnya," ucap kakek Rasyid akhirnya memilih bicara saja. Mungkin saja ... mungkin, Danuarta akan berpihak padanya.
"What? Ayah serius mau menjodohkan Zio? Dia pasti tidak mau Yah! Ayah ini bagaimana sih? Anak petakilan kayak Zio justru diaturkan sebuah perjodohan, ayah sama saja mencoba memancing ikan air laut di sungai, mustahil!" pekik Danu, rupanya Kakek Rasyid salah menduga jika putranya ini akan berpihak padanya.
Kakek Rasyid melepaskan alat makannya lalu ia berdiri karena selera makannya mendadak sudah hilang, padahal selidik punya selidik pun nasi goreng di piringnya sudah habis sejak tadi, hanya menyisakan susu setengah gelas lagi.
"Kalian ini harusnya mendukungku. Tidak ada kurangnya keluarga Harun sahabatku itu. Kalian akan mendapat menantu cucu satu-satunya dari keluarga itu dan Zio pasti bakalan beruntung karena harta miliknya akan semakin bertambah. Aku tidak mau tahu, kalian harus membujuk Zio untuk setuju. Dan kau Danu, itu adalah tugasmu. Pastikan Zio bersedia untuk tunangan!" ucap tegas kakek Rasyid tak ingin dibantah, kemudian ia bergegas meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya saja.
__ADS_1
...****************...
Maaf ya, slow update. Lagi tahap pemulihan 😁😁😁