
Mentari menatap kesal pada pak Frits yang beranggapan jika ia dan Zio sudah melakukan sesuatu dengannya. Ia langsung menggeleng keras, menolak asumsi pak Frits barusan.
"Ya kali Pak. Anda tahu sendiri bahkan saya keluar dari kantor lama karena saya tidak mau dijadikan istri ke empat. Nggak mungkin saya pindah ke kantor ini karena saya dininaninu sama Pak Zio," jawab Mentari sewot.
Ya walaupun emang benar kalau CEO itu sangat suka sekali cium gue dan berbuat sesukanya sama gue.
Namun hal tersebut hanya bisa Mentari ucapkan dalam hati karena tidak mungkin ia katakan kepada pak Frits, ia tidak ingin dicap rendahan oleh orang ini.
"Lantas apa alasan kamu mengundurkan diri? Jangan bilang karena gajinya kurang dan kamu masih ingin mencari pekerjaan di tempat lain?" terka Pak Frits.
Mentari menggeleng, bahkan gue berniat pindah ke perusahaan kecil dengan gaji lebih kecil dari perusahaan ini. Tapi setidaknya di sana gue bareng Mawar. Gue nggak tahan lama-lama di kantor ini. Gue pernah baca novel, biasanya kalau dalam studi kasus gue ini, cewek yang dijodohin sama CEO as known as Zio a.k.a pacar gue itu pasti bakalan seiring datang dan neror gue. Dan pasti orang tua atau si kakeknya Zio itu nggak bakalan nyerah buat merusak hubungan kami. Gue sih realistis aja, gue nggak akan tahan buat bertahan di kantor ini. Gue emang cinta dan gue juga nggak mau jadi bodoh apalagi gila karena cinta.
__ADS_1
Mentari hanya diam saja sambil memikirkan Zio. Ia sejujurnya tidak ingin meninggalkan Zio di kantor ini dan berjuan sendiri. Hanya saja Mentari tidak ingin melukai hatinya dengan segala drama yang akan disuguhkan oleh keluarga Zio. Mentari tidak ingin terlibat dan dia lebih baik menjauh dari Zio agar hubungan mereka baik-baik saja.
"Sebenarnya saya menemukan pekerjaan baru Pak. Tetapi di luar kota Pak," jawab Mentari asal-asalan.
Pak Frits tidak langsung percaya. Baginya, tidak akan ada yang menolak bekerja di perusahaan besar seperti ini atau mendadak keluar tanpa ada penyebabnya. Ia tahu jika Mentari sebenarnya sedang menyimpan sesuatu hanya saja ia tidak ingin bertanya lebih lanjut.
"Ya sudah, karena itu sudah kemauan kamu dan tekad kamu sudah bulat untuk keluar dari perusahaan ini, maka akan saya bantu," ucap pak Frits pada akhirnya, ia pun menerima surat resign milik Mentari. "Saya harap kamu berubah pikiran. Saya masih menyimpan surat ini dan berharap kamu bisa kembali bekerja di perusahaan ini," imbuh Pak Frits.
Mentari mengangguk, sebenarnya ia tidak ingin keluar dan sudah nyaman dengan kantor ini, akan tetapi Mentari tidak ingin menanggung beban hati dan mental jika terus berada di kantor ini.
"Lu dari mana? Ini juga udah jam kerja dan lu habis ngapain?" tanya Zio agao kesal karena sedari tadi ia buru-buru ke kantor hanya untuk bertemu dengan Mentari akan tetapi setelah sampai di parkiran justu ia hanya melihat motor Mentari tanpa melihat orangnya.
__ADS_1
Mentari mulai memikirkan ide apa yang bisa diterima oleh Zio. Ia tidak akan memberitahukan Zio perihal ia yang baru saja menemui Pak Frits untuk memasukkan surat resign.
"Tadi itu gue dari kantin, gue lapar karena belum sarapan," jawab Mentari beralibi.
Zio langsung tersenyum, ia merutuki dirinya sendiri yang tadi sempat merasa Mentari sedang bersama Juan dan merencakan pernikahan. Zio tidak akan mungkin terima jika Juan yang akan menjadi pendamping Mentari.
Walau bagaimanapun Mentari adalah sosok yang akan selalu ada di hati gue.
"Oh ya Tari, gimana? Lu udah mikirin soal ucapan gue semalam?" tanya Zio mengalihkan pembicaraan.
Mentari nampak mengernyit, ia bingung sedang memikirkan ucapan Zio yang mana, sedangkan ia sama sekali tidak ingat apapun, lebih tepatnya ia mengingat banyak hal tentang semalam.
__ADS_1
"Soal apa ya Pak? Beneran saya lupa!" ucap Mentari mencoba meyakinkan Zafran.
"Soal gue yang bilang kalau kita enggak direstui maka kita akan kawin lari. Udah dipikirin belum sih? Gimana, jadi nggak kita kabur dari rumah?" tanya Zio berusaha meyakinkan Mentari jika ia siap melawan segala kemungkinan demi cinta mereka.