
Mentari sampai di kantor Zio satu menit terlambat, ketika ia tiba di ruangannya di sana sudah ada Zio yang sedang duduk di kursinya sambil menunggunya. Mentari merasa gugup, tetapi sesaat kemudian ia mencoba untuk menetralkan perasaannya agar tidak terlihat tegang di hadapan Zio. Ia harus bisa mendapatkan ide yang baik untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin akan Zio berikan kepadanya.
"Maaf Pak saya terlambat satu menit," ucap Mentari pada Zio yang saat ini sedang berputar-putar di kursi Mentari
Zio berhenti melakukan aksinya berputar-putar di kursi kemudian ia menatap Mentari. "Dari mana saja lu?" tanya Zio sambil menatap tajam Mentari.
Mentari pun tersenyum, "Maaf Pak, tadi saya bertemu dengan teman lama saya, sahabat baik saya waktu di bangku sekolah dan kami berbicara banyak sehingga lupa waktu. Jika anda ingin memotong gaji saya, tidak apa-apa. Saya tahu saya salah," ucap Mentari memberi penjelasan kepada Zio dan tak lupa ia menambahkan kata 'potong gaji' agar Zio tidak lagi memperpanjang urusannya.
Sejujurnya Mentari khawatir jangan sampai Zio tahu yang sebenarnya jika ia berniat mengundurkan diri dari perusahaan ini dan dia sudah menerima pekerjaan di tempat lain. Walaupun kantor itu jauh lebih kecil di bawah perusahaan Zio.
Zio kemudian menepuk pahanya dan Mentari duduk di atas pangkuannya. Mentari berusaha untuk selalu memahami kode-kode yang diberikan Zio dan menurutinya agar ia tidak terlalu lama bersama Zio dan tidak mendapatkan masalah. Lagi pula hanya duduk di atas pangkuan Zio, tidak melakukan yang lainnya.
Zio memgusap-usap rambut Mentari yang panjang tergerai. Ia kemudian menatap lekat mata Mentari, "Nanti malam kita kencan ya," ucap Zio dan Mentari langsung memelototkan matanya, ia kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Kencan? Nanti malam ya ... sepertinya aku nggak bisa," jawab Mentari sambil memikirkan alasan apa yang tepat untuk dia berikan kepada Zio, agar Zio percaya dirinya tidak bisa keluar malam ini.
Zio mengerucutkan dahinya, "Lho kenapa tidak bisa Tari? Bukankah dari dulu juga kita terbiasa berkencan, kenapa kali ini tidak?" tanya Zio heran karena seharian ini Mentari sepertinya terus menolak keinginannya kecuali ia meminta duduk di pangkuannya Mentari tetap melakukannya dengan senang hati.
"Semenjak papa tidak ada, aku selalu kasihan sama mama yang sering aku tinggal sendiri ketika berangkat kerja. Jadi malam harinya aku tidak ingin kemana-mana dan fokus sama mama. Tapi jika kamu ingin ke rumah aku untuk berkencan, bagaimana kalau kita kencan di rumahku saja? Nanti aku goreng 'kan pisang deh," ucap Mentari. Entah dari mana ia mencomot ide tersebut yang langsung membuat Zio tertawa terbahak.
"Pisang goreng? Menu kencan? Ya ampun Mentari lu dapat ide dari mana sih? Tapi nggak masalah sih, yang penting kencan bareng lu. Dimanapun dan apapun makanan dan minumannya, minumnya teh botol Sosro eh maksudnya yang penting sama lu," ucap Zio masih tergelak sedangkan Mentari hanya tersenyum kaku.
Sial! Kenapa dia tetap juga mau sih? Tapi nggak masalah deh, yang penting dia nggak ngajak gue keluar dan terima alasan gue.
"Jadi gimana, mau tidak di rumah saja?" tanya Mentari memastikan dan Zio langsung mengangguk keras.
"Nanti malam jam 08.00, di rumah kamu, dengan pisang goreng dan jangan lupa kopi susu ya," ucap Zio kemudian ia mengecup lembut pelipis Mentari dua kali.
Mentari menggangguk, sejujurnya ia merasa risih dengan Zio yang selalu saja suka menciumnya sesuka hati walaupun kali ini tidak dicium di bibir, tetapi tetap saja setelah melihat kejadian dimana Zio berciuman dengan wanita lain di dalam mobil, Mentari semakin merasa risih padanya.
Zio pun kemudian menurunkan Mentari dari pengakuannya karena ia akan segera masuk ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan.
Setelah Zio masuk ke dalam ruangannya, Mentari pun langsung bernapas lega. Ia bahkan tidak peduli dengan Ramon yang sedari tadi terus berdehem menggodanya.
__ADS_1
Sabar Mentari sabar, sebentar lagi kok, gumam Mentari dalam hati.
.
.
Seperti yang sudah mereka sepakati bersama, Zio datang ke rumah Mentari tepat di waktu yang sudah Ia janjikan. Mentari cukup terpesona melihat Zio yang mengenakan kaos berwarna hitam lengan pendek ditutupi jaket yang tidak ia kancing lalu memakai celana jeans panjang berwarna senada dengan bajunya.
Zio terlihat seperti anak muda, lebih tepatnya terlihat seperti ABG yang masih duduk di bangku kuliah.
Sungguh tidak akan ada yang mengira jika Zio saat ini adalah pria berusia hampir 30 tahun dengan tampilannya yang sekarang ini. Ia terlihat sangat muda.
Di depan pintu Mentari langsung menyambut kedatangan Zio yang aroma parfumnya sangat membius indra penciuman Mentari. Sangat lembut dan menenangkan dan terkesan sangat maskulin.
Zio mengucap salam dan Mentari langsung menjawabnya. Sedikit bingung karena Zio mengulurkan tangannya, namun Mentari menyambutnya dan mencium punggung tangan Zio hingga membuat Zio terkekeh.
"Nggak sabar nunggu sah," ucap Zio menggoda Mentari. "Mama mana?" tanya Zio.
"Di dalam lagi nonton, masuk yuk," ucap Mentari dan Zio pun mengekor di belakang Mentari.
Mentari meninggalkan Zio bersama mamanya sambil berbincang-bincang karena ia akan pergi ke dapur untuk mengambil pisang yang sudah ia goreng beserta kopi susu pesanan Zio.
Benar-benar dikasih pisang goreng!
Zio hampir saja tertawa melihat Mentari yang membawa nampan berisi kopi susu dua gelas dan juga segelas teh beserta sepiring penuh pisang goreng yang masih panas. Zio pikir tadi Mentari hanya bercanda dengan menawarkannya pisang goreng. Tetapi ternyata hal tersebut benar adanya, Zio tidak habis pikir ternyata Mentari tidak bercanda dan bersungguh-sungguh. Jika tahu begini makanannya, Zio akan membeli beberapa camilan dari luar, pikir Zio.
"Ya udah kalian makan aja, Tante mendingan masuk ke kamar deh. Mau bobo," ucap Maya, ia tidak ingin mengganggu acara anaknya dan Zio.
Mentari sedikit tidak senang mendengar mamanya yang akan masuk ke dalam kamar, dia pikir dengan mengajak Zio datang dan duduk di ruang nonton bersama mamanya maka mereka akan menghabiskan waktu bertiga. Tetapi Mentari salah perhitungan, rupanya mamanya sangat mendukung hubungannya dengan Zio hingga membiarkan anak perawannya ini duduk berdua dengan sang Casanova.
"Iya Tante, selamat istirahat," ucap Zio dengan ramah dan Maya hanya menganggukkan kepalanya. Ia juga berpesan agar Zio tidak sungkan-sungkan untuk menghabiskan makanan yang sudah Mentari sungguhkan.
Begitu keadaan sudah aman, Zio kemudian menepuk pahanya agar Mentari datang duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Lu nggak tahu ini rumah gue? Nggak takut kedapatan nyokap duduk di pangkuan lu?" ucap Mentari berusaha menolak.
"Nyokap lu udah masuk. Sekarang lu duduk di pangkuan gue atau mau gue paksa mau?! Zio menyeringai, iq langsung membuat Mentari menuruti keinginannya.
Zio memandangi wajah Mentari yang begitu cantik alami, ia kemudian membelai pipi Mentari dengan tatapan matanya begitu mendamba. Zio tak pernah lepas dari wajah Mentari seolah matanya itu mengunci pandangannya hanya untuk wajah cantik yang ada di pangkuannya ini.
"Oh ya, sekarang udah nggak puasa 'kan?" ucap Zio menyeringai.
Mentari kesulitan menelan salivanya, jika pertanyaan Zio sudah seperti ini, ia yakin apa selanjutnya yang akan Zio lakukan.
"Lu nggak lihat dari tadi gue makan minum? Emangnya ada orang puasa makan dan minum? Gimana sih lu!" jawab Mentari ketus, berbeda jauh sekali dengan Ia yang berada di kantor yang berusaha berbicara sopan pada Zio selaku atasannya.
Zio terkikik, kemudian ia berusaha untuk menempelkan ciumannya di bibir Mentari tetapi buru-buru Mentari mengalihkan pandangannya hingga ciuman itu jatuh di pipi Mentari.
"Kok lu cium pipi gue? Dasar mesum!" ucap Mentari ketus bercampur kesal.
"Ya tadinya gue mau cium bibir lu, tapi lu malah menoleh ke samping, jadi jatuhnya di pipi deh," jawab Zio seolah Mentari yang salah padahal dia memang yang selalu suka nyosor sembarangan.
"Please Zio, lu jangan selalu suka cium gue sembarangan. Nanti calon kekasih gue marah tahu, kalau tahu bos gue suka cium gue sembarangan," serga Mentari yang membuat Zio tertohok.
"Sekarang cowok mana lagi yang lagi deket sama lu? Bilang sama gue, biar gue singkirkan ?"ucap Zio geram.
Mentari gelagapan, ia sedikit takut dengan tatapan Zio yang saat ini menggelap seolah ingin membabat habis semua yang ada di hadapannya.
Mentari mencoba untuk berpikir, mencari alasan yang tepat untuk membuat Zio kembali tenang dengan jawabannya.
"Nggak ada Zio, gue cuma bilang kalau ada calon cowok gue yang tahu kalau bos gue suka nyosor sembarangan dia pasti bakalan marah lah. Tapi kalau untuk sekarang, gue belum punya cowok," jawab Mentari dengan lembut, ia kemudian mengusap pipi Zio tak kalah lembutnya dengan ucapannya barusan.
Zio kemudian menangkap tangan Mentari yang saat ini sedang membelai pipinya. "Jangan pernah lu bicara kayak gitu lagi di hadapan gue. Harusnya lu sadar cowok lu itu adalah gue! Bukannya gue udah minta lu jadi pacar gue lagi? Kita udah balikan 'kan? Cuma emang gue belum nembak lu lagi secara resmi di tempat yang romantis, gue sibuk. Tapi gimana kalau sekarang aja gue nembak lu? Lu mau nggak jadi pacar gue lagi? Balikan yuk!"
Sibuk konon, sibuk pacaran iya! Gerutu Mentari dalam hati.
"No, gue nggak mau. Gue bilang gue cuma mau jadian dengan lu dan balikan dengan lu di tempat yang romantis. Kayak dulu tuh, lu nembak gue pertama kali pada saat kita masih di bangku kuliah. Lu nggak mungkin lupa 'kan waktu itu?" tolak Mentari dengan alibi yang membuatnya aman karena ia mengingatkan Zio dengan hubungan manis mereka kala itu.
__ADS_1
Zio tersenyum, "Oke, nggak masalah. Tapi yang jelas lu harus tahu kalau gue adalah pemilik lu. Jangan dekat-dekat dengan cowok lain kalau lu nggak mau cowok itu tiba-tiba menghilang!"