
Oliver sedikit aneh melihat gelagat Zio yang wajahnya terlihat tidak baik-baik saja.
"Kenapa bro? Kenapa lu mendadak jadi pendiam? Jangan bilang lu naksir juga ya sama sekretaris lu! Oh, nggak bisa! Gue yang udah duluan nentuin dia jadi jodoh gue, lu mending cari yang lain aja deh!" ucap Oliver, ia tidak ingin bersaing dengan Zio sehingga ia meminta sepupunya itu untuk mencari wanita lain. Oliver sudah mengklaim jika Mentari adalah jodohnya, ia tidak ingin diganggu gugat lagi oleh orang lain.
"Haiihh ... lu apa-apaan sih, baru juga ketemu udah mau dijadiin jodoh," ucap Zio berdalih, ia tidak ingin ketahuan oleh Oliver juga kalau sebenarnya Mentari itu adalah mantan kekasihnya.
"Ya suka-suka gue dong, perasaan ini milik gue dan gue yakin dia itu masih single dan dari bentuk tubuhnya, gue yakin dia itu masih virgin, Bro!"
Dalam hati Zio, ia merutuki dirinya sendiri yang membiarkan Mentari terbebas dari cintanya dalam keadaan masih utuh. Jika saja tahu ketika ia melepas Mentari dan banyak jajaran pria tampan menginginkan Mentari yang masih tersegel itu dan harus disaksikan sendiri olehnya, maka sudah sejak lama Zio unboxing Mentari.
Tapi itu tidak mungkin mengingat dirinya jatuh cinta pada Mentari namun tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya yang merupakan seorang tour ranjang panas -- mengutip dari julukan Mentari untuk Zio.
Ya iyalah Mentari itu masih virgin, selama gue pacaran sama dia, gue nggak pernah tuh ngungkungin dia. Gue jaga banget tuh anak dan gue nggak pernah kepikiran untuk merusak dia karena gue tahu dia bakalan jadi jodoh, eh tapi ternyata hanya bisa menjaga Mentari sesaat. Sepertinya gue emang harus mengantisipasi dengan menjauhkan Mentari dari Oliver. Seenggaknya kalau bukan gue jodohnya, dia juga jangan berjodoh sama pria sejenis gue ini. Mentari gadis baik, ia harus dapat cowok baik-baik jyga seperti Juan contohnya.Eh ... jangan Juan deh. Jangan Juan juga, pokoknya jangan Juan jangan Oliver.
"Lu bisa aja menilai tubuh seseorang. Mending sekarang lu kerja dulu jangan mikirin sekretaris gue," ucap Zio mengalihkan.
Oliver memicingkan matanya, sejak tadi ia merasa Zio begitu melindungi sang sekretaris, sungguh tidak biasa dan Oliver yakin pasti ada sesuatu.
"Lu mending ngaku deh, lu suka juga 'kan sama Rama?" tuding Oliver.
Dengan cepat Zio langsung mengubah mimik wajahnya menjadi datar. Ia harus mencari akal agar Oliver tidak curiga padanya. Bukan karena ia tidak ingin diketahui jika Mentari adalah mantan kekasihnya, tetapi ini untuk lebih menjaga privasi Mentari.
Eh tapi tunggu, kalau gue bilang Mentari itu mantan gue mungkin saja Oliver bakalan mengurungkan niatnya buat jadiin Mentari calon istrinya. Tapi kalau sampai Oliver tahu kalau Mentari itu mantan gue dan gue belum pernah sentuh dia sama sekali, bukan tidak mungkin si Oliver akan sangat bersemangat untuk mendapatkan Mentari.
Zio menjadi pusing sendiri, langkah ini salah langkah, langkah itu lebih salah lagi. Ia memilih untuk diam berpikir dan mencari alasan yang lebih masuk akal lagi agar ia aman dan Mentari pun aman.
"Gue bukannya ada something sama dia, tetapi yang gue tahu dia itu pacaran sama anak satu kantor kita. Gue lihat sendiri kok tadi mereka bersama," jawab Zio yang tiba-tiba teringat akan Juan, ia rasa membawa nama Juan kali ini tidak masalah baginya. Lagi pula ini hanya untuk melindungi Mentari dari seorang Casanova seperti Oliver.
__ADS_1
Mata Oliver memicing, ia menatap Zio mencoba mencari kebohongan lain disana. Ia mendadak kesal karena mendengar bahwa Mentari sudah memiliki kekasih.
"Emang siapa sih yang berani ganggu jalan jodoh gue?"
Gue, gue yang akan mengganggu jalan lu menuju ke hati Mentari.
"Oh, itu adalah Juan," jawab Oliver asal, ia tidak peduli entah apakah Oliver percaya atau tidak padanya.
.
.
Braakk ...
Suara benturan keras menghantam sebuah mobil yang saat ini sedang melaju dengan kecepatan sedang. Tentu saja kecelakaan itu bukan disebabkan oleh pengendara mobil pick up ini melainkan sopir truk yang sedang mabuk dan mengantuk yang sudah menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
Dengan cepat para warga sekitar menolong pengemudi mobil pick up tersebut yang kini sudah tidak sadarkan diri dengan wajah banyak darah.
Dengan cepat mereka membawa Pak Ramadhan agar bisa dibawa menuju ke rumah sakit dengan menyetop mobil yang melintas, tak lupa seseorang yang mengenali sosok korban kecelakaan ini langsung menghubungi keluarganya.
Maya langsung datang begitu mendengar suaminya ini kecelakaan, tak lupa ia mengirim pesan pada Mentari jika ia datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Rama.
Mentari yang masih sibuk dengan banyak pekerjaan mengurungkan niatnya untuk menerima telepon.
Saat Maya sedang gelisah, seorang dokter dari ruang UGD keluar. Ia kemudian mendekati dokter tersebut dan menanyakan tentang keadaan suaminya.
Dokter pun mengatakan jika tuan Rama mengalami cedera di bagian pergelangan kakinya dan dokter menyarankan agar segara melakukan operasi agar tuan Rama cepat sembuh dan kakinya bisa digerakkan lagi. Selain itu masih ada beberapa bagian yang memang mengalami luka serius dan butuh penanganan ekstra.
__ADS_1
Dengan cepat Maya menju ke bagian administrasi, ia pun menanyakan perihal pembayaran rumah sakit. Ia tercengang karena rumah sakit ini mematok harga operasi setinggi langit sedangkan ia yakin Mentari pun tidak memiliki uang sebanyak itu.
Maya kembali ke ruang UGD sambil menunggui Rama selesai di tangani. Teringat pesan dokter yang memintanya untuk segera di operasi, mau tidak mau Maya segera mengambil jalan pintas dengan meminjam uang pada rentenir yang terkenal di kompleks mereka.
"Aku harus melakukannya karena keselamatan mas Rama jauh lebih penting. Uang bisa dicari jika mas Rama sembuh."
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Maya terlebih dulu menelepon Mentari. Mentari langsung menjawab panggilannya dan ia terkejut begitu tahu jika papanya masuk rumah sakit dan harus segera di operasi.
"Tapi dari mana kita bisa mendapatkan yang tersebut Ma?" lirih Mentari, ia yang tadinya sedang fokus bekerja justru mendapat kabar tidak mengenakan ini.
"Mama akan meminjam pada rentenir,"jawab Maya dengan keputusannya yang sudah final.
"What?! Ma mending jangan," sergah Mentari.
Namun Maya bersikeras untuk meminjam pada rentenir karena ia lebih peduli pada kesembuhan suaminya dibandingkan apapun lagi dan juga ia mengesampingkan persoalan biaya rumah sakit.
Mentari sebisa mungkin mencegah niat mamanya tetapi itu juga percuma karena ia sendiri pun tidak bisa membantu untuk mengoperasi papanya.
"Kalau begitu kau pinjam saja pada bosmu. Mungkin saja dia akan memberikan kau pinjaman," usul Maya.
Mentari terdiam, mana mungkin ia berani meminjam uang pada Zio yang notabennya ia baru bekerja dua hari dan sudah minta pinjaman, tentu akan langsung ditolak.
"Karena kau diam saja berarti mama akan segera pergi ke tempat pak Banyu dan akan segera meminjam uang. Nanti kau tinggal membantu dengan membayar tagihannya setiap bulan saat kau gajian."
Di kantor, Mentari menjadi kehilangan fokus dan konsentrasi dalam bekerja. Mengingat papanya yang masuk rumah sakit membuat Mentari tidak tenang apalagi sertifikat rumah akan melayang jika mamanya sampai mengambil uang dari lintah darat tersebut.
Mentari pun memutuskan untuk meminta izin pada Ramon untuk pulang cepat karena ia harus segera ke rumah sakit. Ramon pun mengizinkan Mentari pergi karena memang ini adalah keadaan gawat darurat.
__ADS_1
Sedangkan di kediaman Pak Banyu ...
"Aku tidak membutuhkan sertifikat rumahmu, kau boleh meminjam apa saja asalkan Mentari menjadi jaminannya. Bagaimana?"