CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~69


__ADS_3

Hari pertama bekerja, klien yang sangat penting, punya utang pada rentenir, masalah percintaan yang begitu rumit, Mentari mana mungkin memaki pria di hadapannya ini. Ia memilih untuk sabar karena jika ia berbuat kesalahan sedikitpun maka semua akan berimbas pada kehidupannya dan Mawar. Sahabatnya itu pasti akan kecewa padanya dan Mentari akan mengalami kerugian berkali-kali lipat entah dengan pekerjaan atau persahabantya.


Akhirnya Mentari memilih untuk diam saja sambil mengatur napasnya yang memburu. Ia tidak akan meladeni pria ini dan nanti saja jika ia sudah berhasil berjuang hingga ke pelaminan bersama Zio, ia akan membungkam mulut pedas pria ini.


Senyuman terbit di bibir Mentari, ia kemudian menatap tenang pada Bright sambil berkata, "Setiap orang memiliki penilaiannya masing-masing. Saya tidak akan sibuk menjelaskan tentang diri saya kepada Anda karena setiap orang berhak untuk menilai saya sesuai kacamata mereka," ucap Mentari yang membuat tiga orang di dekatnya itu menatap Mentari dengan tatapan yang berbeda-beda.


Dalam hati Bright berdecih, ia tetap saja tidak akan melupakan bagaimana ia mendengar langsung dari orang tuanya jika sekretaris yang tidak lain adalah Mentari akan menjadi ibu tirinya.


Lain halnya dengan Pram, dalam hati ia mengagumi sosok Mentari bahkan sebelum Mentari berbicara. Ia menatap bergantian bosnya dan juga Mentari. Senyuman tipis terbit di bibirnya. Ia sangat ingin menjodohkan keduanya mengingat Bright yang sampai detik ini tidak pacaran dengan alasan trauma terhadap daddynya yang sangat suka mengoleksi istri.


"Pertemuan hari ini selesai, kami pamit dan sampai ketemu nanti di perusahaan saya," ucap Bright dan sebelum ia beranjak dari kursinya ia sempat menatap tajam ke arah Mentari.


Gadis itu adalah Mentari, ia tidak akan takut. Bahkan sekelas tuan Ar-Rasyid alias kakek Rasyid saja bisa ia bantah, apalagi hanya seorang Bright.


Ketika kedua pria itu sudah tidak lagi berada di hadapan Mentari dan Mawar, mereka pun bernapas lega. Terutama Mwar, ia sejujurnya dari tadi sedang merasa was-was karena ia sangat tahu Mentari adalah orang yang tidak akan menahan amarahnya entah pada siapapun itu.


"Eh emang benar kalau lu itu pernah kerja dan hampir jadi istri dari daddynya tuan Bright?" tanya Mawar penasaran.


Mentari mengangguk, ia kemudian menceritakan duduk perkaranya dan Mawar pun paham bahkan ia sampai tertawa terbahak-bahak setelah mengetahui sahabatnya yang cantik dan cerdas ini eh dak dijadikan istri ke empat.

__ADS_1


Setelah puas mendengar cerita Mentari, keduanya pun bergegas untuk kembali ke kantor.


.


.


Semua mata kini tertuju pada wanita muda nan cantik yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju ke lift. Banyak pasang mata yang mengaguminya hingga akhirnya ia hilang di balik pintu lift tersebut.


"Gue bakalan bikin Zio cinta lagi sama gue. Bagaimanapun caranya bakalan gue lakuin asal Zio balik lagi sama gue. Kita udah ditakdirkan untuk berjodoh Zio. Lu nggak bakalan bisa menolak," gumam Dini.


Pintu lift terbuka dan Dini langsung berjalan ke arah ruangan CEO. Ia melirik ke meja kerja Mentari dan ia sangat senang saat tahu disana sudah tidak ada lagi Mentari sang pengacau perjodohannya.


Ia tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk. Juan terkejut dengan kedatangan Dini hingga ia berdiri dari kursi CEO milik Zio tersebut namun kini untuk sementara waktu ia akan menggunakannya lebih dulu.


Dini kini mulai sibuk menerka-nerka bagaimana bisa Juan yang berada di ruangan Zio. Ia teringat kembali akan meja Mentari yang kosong. Tangannya terkepal kuat, ia yakin jika Zio pergi bersama Mentari.


"Apakah kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" tegur Juan merasa kesal karena Dini bukannya keluar justru pergi ke sofa dan duduk manis sambil memainkan ponselnya.


Dini balik menatap Juan dengan tatapan meremehkan. "Harusnya lu yang keluar dari ruangan ini. Gue mau nungguin Zio datang. Dia lagi keluar makan siang, 'kan?" ujar Dini dengan penuh percaya diri tinggi.

__ADS_1


Juan tertawa sumbang, ia tahu Dini pasti akan berpikiran seperti ini. Ia berjalan menghampiri Dini dan berdiri tepat di hadapan wanita itu. Sebelah tangan Juan ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Apa motif lu mendekati kakak gue? Mau dibilang kaya ya lu juga adalah anak orang kaya di negara ini. Kalau cinta, gue nggak yakin. Lu sebenanrya sedang merencakan apa? Mending lu mundur sebelum lu batalin semua rencana busuk lu dan biarkan kakak gue hidup tenang. Lu sama sekali nggak diinginkan dan harusnya lu sadar diri bukan malah nggak tahu diri seperti ini!" ucap Juan panjang lebar, ia sudah sangat lama menanti waktu dimana ia akan berbicara berdua dengan Dini agar ia bisa memberi peringatan pada wanita ini.


Dini sama sekali tidak takut, ia berdiri dan menatap lekat pada Juan hingga pria tampan itu memundurkan kepalanya karena khawatir Dini akan menciumnya mendadak. Walaupun itu mustahil akan tetapi Juan hanya mencoba untuk mencegah saja.


Dini menyilangkan kedua tangannya di atas perut, "Lu anak kecil mending diam. Ini urusan gue sama Zio dan lu juga jangan sok tahu tentang gue serta niat gue ke Zio. Gue emang benar masih cinta sama dia. Gue bakalan berusaha untuk mendapatkan Zio bagaimanapun caranya. Lu nggak akan bisa hentiin gue. Mending sekarang lu keluar dan biar gue disini nungguin calon suami gue," ucap Dini sama sekali tidak merasa takut terhadap ucapan peringatan dari Juan tadi.


Juan mendengus pelan, ia tidak mau kalah akan tetapi ia juga merasa muak jika harus berdebat dengan wanita yang menurutnya 'tidak tahu diri' ini. Juan memilih kembali ke kursinya. Entah mengapa semua terasa menjadi tidak aman setelah kedatangan Dini. Juan tidak ingin lengah, ia tidak akan meninggalkan ruangan ia karena pikirannya terlalu khawatir jika saja Dini berniat melakukan sesuatu lewat perusahaan.


Hari pertama Juan menjabat sebagai CEO tentu membuatnya semakin meningkatkan kewaspadaan seperti Zio dulu.


Pantas saja kak Zio selalu bersikap dingin dan terlihat mengerikan selama ini. Ternyata bekerja sebagai CEO itu sangat berat dan harus kuat dalam menghadapi segala hal. Tidak boleh terlihat lemah dan harus menonjol serta yang paling penting harus membuat orang merasa segan terhadap kita. Arrghh ... harus sampai kapan gue di posisi ini?


Dari tempatnya duduk, bola mata Dini terlihat gelisah setelah membaca pesan tersebut. Ia juga terus mengumpat dalam hati sebab Zio tak kunjung datang dan Juga pun tidak beranjak sedikitpun dari kursi itu.


Bagaimana ini? Ah brengsek! Kenapa dia harus menghubungiku disaat seperti ini? Gue harus secepatnya mendapatkan Zio.


Tangan Dini menggenggam erat ponselnya dan wajahnya terlihat begitu tegang dan semua itu tidak luput dari pantauan Juan. Ia semakin penasaran dengan sosok Dini.

__ADS_1


Juan memang sengaja tidak memberitahukan pada Dini tentang Zio dan Mentari yang sudah tidak bergabung lagi di perusahaan ini. Semua semata-mata karena Juan ingin memantau pergerakan Dini selama di ruangan ini.


Dia pasti memiliki sesuatu yang dia coba sembunyikan. Gue yakin dia menginginkan kak Zio bukan semata-mata karena cinta. Gue harus menyelidiki semua ini. Gue nggak suka hanya karena hama seperti Dini, keluarga gue menjadi tercerai berai.


__ADS_2