CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 127


__ADS_3

Lidya sudah dipindahkan di ruang rawat VVIP oleh Juan dan sekarang ia tengah disuapi olehnya. Lidya begitu malu dengan perlakuan manis Juan akan tetapi karena Juan terus menegaskan jika mereka adalah pasnagan kekasih maka Lidya pun tidak mempermasalahkannya dan bahkan sejujurnya ia sangat senang karena seumur hidup ia baru merasakan yang namanya pacaran walau ia tidak ingat kapan mereka jadian.


"Aku kenyang Bunny," ucap Lidya yang sudah tidak mau lagi makan. Juan sedari tadi terus memaksanya untuk menghabiskan makanan yang dibawakan oleh suster saat mereka sudah pindah ke ruang rawat inap dan Lidya hanya bisa menurut saja.


Dan ya, Juan memaksanya untuk memanggilnya dengan kata 'bunny' agar mereka memiliki panggilan kesayangan sedangkan Juan memanggilnya dengan sebutan 'honey' yang menurut Juan sangat manis dan menggemaskan.


Untuk pertama kalinya Juan memiliki kekasih padahal mereka tidak pernah jadian. Juan memanipulasi keadaan sehingga Lidya pun mengakuinya sebagai kekasih. Tentu saja Juan sangat senang tetapi ia harus menghindari ketahuan oleh keluarganya dan juga keluarga Lidya — terutama Mentari.


"Sekarang aku pulang dulu ya, aku belum mandi dan masih pakai pakaian kemarin loh waktu aku nganterin kamu ke kampus. Tari sama yang lainnya juga udah di perjalanan kemari. Ada calon mertua dan aku mana boleh terlihat buruk di hadapan mereka," ucap Juan beralasan karena yang sebenarnya ia tidak ingin ditanyai ini itu oleh mereka, apalagi jika Lidya sampai kecoplosan tentang hubungan mereka.


Lidya tersenyum dan tersipu malu, wajahnya yang kemerah-merahan itu membuat Juan gemas dan rasanya ia ingin menggigit pipi Lidya.


Astaghfirullah Juan sadar Juan sadar. Baru juga lu mengklaim doi jadi pacar dalam keadaan amnesia pula, eh lu malah udah pengen nyosor pipi dia. Udah gila gue!

__ADS_1


Juan pun memberanikan diri mengecup puncak kepala Lidya, entah jika nanti gadis ini teringat kembali akan status hubungan mereka yang sebenarnya, Lidya pasti akan marah dengan perlakuannya ini.


"Aku pulang mandi terus aku balik lagi ya ke sini. Nanti pekerjaan aku biar di bawa di sini saja, aku nggak tega ninggalin kamu sendirian," ucap Juan dan Lidya kembali dibuat tersipu oleh perlakuannya.


"Nggak apa-apa bunny, nanti juga 'kan ada orang tua aku yang bakalan jagain. Jangan ninggalin pekerjaan kamu karena aku, nanti kamu kehilangan pekerjaan itu. Kita belum terikat hubungan yang sah, besok lusa masih bisa putus. Aku belum bisa jadi prioritas kamu ya, utamakan diri kamu dulu sebelum aku karena kita hanya pacaran bukan udah nikah," ucap Lidya yang membuat Juan terdiam.


Lidya melebarkan senyumannya ketiak melihat raut wajah keberatan Juan. Tapi ia tidak membenarkan perlakuan Juan karena menurut Lidya jika masih dalam tahap pacaran maka sebaiknya jangan berlebihan karena jodoh pun belum tentu.


Lidya baru tersadar ketika Juan sudah menutup pintu kamar tersebut dan ia kemudian kembali masuk dalam lamunannya. Ia tidak menyangka sudah memiliki pacar dan lagi pacarnya itu adalah seorang pria yang sangat tampan dan mapan. Benar-benar seperti sebuah mimpi belaka. Lidya tidak ingin bangun jika memang bersama Juan hanya dalam mimpi semata.


Tak lama berselang keluarga Lidya pun datang bersamaan dengan dokter yang hendak memeriksa keadaanya. Kedua orang tua Lidya begitu terharu melihat anak mereka yang kemarin masih dalam keadaan kritis kini sudah terlihat ceria. Mereka tidak tahu saja jika Lidya ceria begini berkat vitamin dari sang kekasih-kekasih-an


Mereka membiarkan dokter memeriksa keadaan Lidya dan dokter pun menjelaskan apa yang terjadi pada Lidya. Mereka merasa sedih tetapi juga lega karena Lidya masih bisa mengingat dirinya dan keluarganya. Lidya bahkan tidak mengingat Zio sebagai suami Mentari dan itu adalah sebuah kesyukuran bagi Zio karena Lidya tidak perlu lagi mengingat kejadian malam itu dimana ia salah memeluk orang.

__ADS_1


Setelah dokter selesai memeriksa Lidya dan memberikan keterangan, ia pun berpamitan disusul oleh Zio yang hendak pergi ke kantornya bersama Mentari yang akan ia antar lebih dulu ke perusahaan Mawar.


Di dalam mobil Zio terus menggenggam tangan Mentari. Ia sebenarnya ingin memberitahu kabar tentang Dini yang kabur akan tetapi ia khawatir nanti Mentari justru tidak bisa tenang karena merasa terancam dengan keberadaan Dini yang entah dimana dan bisa saja memata-matai Mentari.


"Sayang kamu mulai sekarang nggak usah lagi deketin Bright, udah selesai kok masalahnya," ucap Zio ketika ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk perusahaan Mawar.


Mentari menatap Zio sekilas kemudian ia mengangguk. "Tapi ada yang aneh, sayang. Dia kemarin mendadak aneh dan menjadi dingin padaku entah mengapa. Perasaanku jadi tidak tenang apalagi kami punya proyek bersama. Hmmm ... semoga hanya perasaanku saja ya," ucap Mentari kemudian ia bersandar di bahu Zio.


Mentari selalu mendapatkan kehangatan dan kenyamanan setiap kali berada di sisi Zio. Ia memang bodoh karena mau-maunya menikah dengan pria seperti Zio yang bejat dan bajingan.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Kalau nggak bisa kamu hubungi Oliver atau Juan ya," pinta Zio dan Mentari pun mengiyakan.


Mentari pun berpamitan pada Zio akan tetapi dengan cepat suaminya itu menarik kembali tengkuk Mentari lalu ******* bibirnya dengan rakus hingga Mentari mengeluhkan lipstiknya yang jadi berantakan.

__ADS_1


__ADS_2