
Mentari menggelengkan kepalanya, ia bingung harus berkata apa. Namun yang pasti ia tidak akan memberitahukan pada Zio, biarlah Zio akan mengetahuinya sendiri di hari Senin. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Zio, kekasihnya itu pun langsung mengusap rambutnya dengan lembut.
"Zio, emm ... lu mau nggak jalan-jalan sama gue nanti malam? Semalam kencan kita gagal dan lu mau nggak kalau malam ini kita meneruskan kencan yang gagal. Kita jalan-jalan aja mengukur jalan, nggak perlu singgah sana-sini," tanya Mentari dengan suara lirih.
Zio tersenyum, "Tentu saja. Apa sih yang enggak buat lu, Tari," jawab Zio merasa senang karena Mentari masih ingin berkencan dengannya. Ia mengira jika Mentari akan menolak pergi bersamanya setelah kejadian semalam. Tetapi ternyata dugaannya salah, justru Mentari yang lebih dulu mengajaknya.
Senyum terbit di bibir Mentari, ia ingin menghabiskan malam ini bersama Zio dan ia juga harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini karena besok ia harus mempersiapkan diri bersama Mawar.
Sebenarnya Zio merasa heran, hanya saja ia akan menyusun rencana untuk tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan Mentari hingga bersikap aneh seperti ini. Zio tidak bodoh, ia tahu jika ada sesuatu yang aneh dari sikap sang kekasih, hanya saja ia memilih menyembunyikan rasa penasarannya itu dan nanti malam ia pastikan akan segera mengetahuinya.
"Sekarang sebaiknya lu pulang dulu. Gue tahu lu nggak tidur nyenyak semalam. Sampai jumpa nanti malam ya," ucap Mentari kemudian ia memberanikan diri mengecup pipi Zio.
Pria tampan itu tersenyum sambil menyentuh pipinya yang baru saja mendapat kecupan. Andai ia tahu Mentari akan menciumnya maka ia akan memalingkan wajahnya hingga bukan pipinya yang akan terkena ciuman melainkan mendarat tepat di bibirnya.
"Gue mau balas," ucap Zio menyeringai dan Mentari tak sempat mengelak karena Zio sudah menangkup pipinya.
Zio tidak mengecup bibir Mentari melainkan mengecup lembut kedua pipi Mentari bergantian. Ia kemudian menyandarkan dahinya di dahi Mentari dan memejamkan matanya. Mentari pun turut melakukan hal yang sama dengan Zio, seolah detik ini adalah detik terakhir mereka bersama.
Gue emang egois dengan pergi tanpa berpamitan. Tapi gue juga punya prinsip yang nggak bisa gue langgar. Gue emang miskin tapi gue nggak terima kalau harga diri gue diinjak-injak.
Tak sampai lima menit, Zio memundurkan kepalanya dan ia mengusap rambut Mentari. "Gue pulang dulu, nanti malam gue jemput," ucap Zio kemudian ia mengecup lembut dahi Mentari.
Mentari mengangguk, ia menemani Zio hingga di depan pagar dan Zio bergegas masuk ke dalam mobil milik Juan yang semalam ia pinjam.
Setelah mobil Zio tak terlihat lagi, Mentari pun masuk ke dalam rumahnya.
.
.
__ADS_1
Mobil milik Juan terparkir sempurna di garasi dan Zio dengan langkah besar masuk ke dalam rumah. Ia datang dengan membawa kemarahan besar karena semalam ia tidak sempat meluapkan amarahnya karena sibuk mencari Mentari.
Namun sayang sekali, di ruang tamu justru ia mendapati kakeknya sedang duduk bersama Dini dan juga kakeknya -- Harun Vindex. Zio tidak akan mungkin marah di depan kerabat sang kakek karena walau bagaimanapun ia masih memiliki tata Krama dan ia juga tidak ingin membuat kakeknya malu walaupun ia sangat ingin melakukannya.
"Nah kebetulan sekali Zio sudah datang. Ayo sini, kenalan sama calon kakek Dini. Sebentar lagi kau juga akan menjadi cucu menantunya," panggil kakek Rasyid yang langsung membuat mood Zio berantakan.
Baru saja moodnya membaik setelah bertemu dengan Mentari, kini harus dirusak lagi oleh sang kakek dan juga kedatangan Dini. Namun Zio tetap menurut karena ia menghargai tamu kakeknya dan tidak ingin membuat orang lain mengira jika keluarga Ar-Rasyid tidak bisa mendidik tata krama terhadap anak cucunya.
"Halo tuan Harun Vindex, apa kabar?" ucap Zio sembari menjabat tangan kakek Dini tersebut.
"Kabarku sangat baik. Ternyata kau sangat tampan, tak salah Dini begitu menyukaimu dan aku pun sama terpesona dengan wajahmu. Aku jadi tidak sabar untuk segera menikahkanmu dengan Dini," ucap kakek Harun yang membuat Dini merasa terbang melayang.
Wajah Zio berubah datar, tentu saja ia sangat tidak suka dengan pembahasan ini sedangkan sang kakek justru tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan usul sang sahabat.
"Maaf semua, aku permisi ke kamar. Aku baru pulang dan harus membersihkan diri dulu," ucap Zio memilih pergi daripada ia harus bergabung dengan orang-orang yang membosankan.
Saat hendak masuk ke kamarnya, ia berpapasan dengan Juan. Adiknya itu hendak bertanya namun Zio justru masuk ke dalam kamar dengan cepat tanpa memberi waktu Juan untuk bertanya. Alhasil Juan hanya bisa menghela napas dan ia tak sengaja menengok ke bawah hingga akhirnya ia tahu ternyata disana ada sumber dari segala sumber rasa kesal sang kakak.
Satu jam ...
Dua jam ...
Tiga jam ...
Zio sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Kakek Rasyid menjadi tidak enak hati pada sahabatnya dan juga Dini. Ia bisa melihat raut wajah kecewa dari calon besannya ini dan juga ia beberapa kali mengindar saat Harus bertanya berbagai hal tentang Zio.
Tadinya Dini memutuskan untuk menyusul Zio ke kamar namun sayang sekali Juan menghadangnya di depan pintu kamar Zio saat melihat Dini diantar oleh salah satu pelayan.
"Sebenarnya yang murahan itu elu atau Mentari? Lu itu udah ditolak mentah-mentah tapi masih merasa diatas angin. Sadar diri itu perlu Dini Vindex. Jadi perempuan itu mahalan dikit, kalau pria yang lu suka udah mencampakkan dan menolak lu mentah-mentah maka hanya satu jalan keluarnya, sadar diri dan pergi!"
__ADS_1
Ucapan sarkas Juan membuat Dini kesal namun ia tidak bisa apa-apa. Melihat tatapan Juan saja sudah membuatnya ketakutan apalagi jika sampai berurusan panjang lebar dengannya.
Alhasil, Dini pun turun dan langsung mengajak kakeknya untuk pulang dengan alasan Zio sedang sibuk melakukan meeting virtual sehingga ia tidak bisa diganggu.
"Kau sangat hebat karena memiliki cucu yang sangat giat bekerja. Sepetinya aku akan mempercayakan seluruh perusahaannya pada cucumu nanti setelah mereka menikah," ucap kakek Harun merasa bangga dengan Zio.
Kakek Rasyid tertawa sumbang, ia sepetinya tidak yakin dengan alasan Dini. Ia merasa jika sebenarnya Dini pasti tidak mendapatkan perlakuan buruk dari Zio.
"Tentu saja, dia adalah cucuku. Dan maaf karena kedua orang tua Zio tidak turut serta dalam pertemuan kita kali ini. Mereka pagi-pagi sekali sudah keluar karena ada urusan penting.
"Tidak mengapa, besok lusa 'kan masih bisa," ujar kakek Harun.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat dan kini sudah hampir malam. Mentari merentangkan tangannya setelah ia menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Tadi, setelah Zio pulang Mentari bergegas mandi dan pergi ke perusahaan untuk mengerjakan pekerjaannya yang masih tersisa.
Gadis itu sempat merasa gugup karena ada dua satpam yang berjaga. Namun karena ia mengenakan ID karyawan dan mengatakan ada pekerjaan lembur maka kedua satpam pun menginginkannya masuk.
"Tiga hari lagi saya akan menikah, Pak. Saya kasihan jika pekerjaan saya tidak diselesaikan dan Pak Zio serta pak Ramon akan mengalami kesulitan. Saya akan mengambil cuti dan pasti selama saya cuti Pak Zio akan melakukan banyak pekerjaan di luar sehingga saya harus menyusun jadwal dan juga beberapa dokumen penting Pak."
Begitulah kiranya alasan Mentari tadi pagi hingga dua satpam tersebut langsung mengiyakan.
Mentari tersenyum senang, setidaknya ia bisa meninggalkan Zio dengan tenang karena pekerjaan untuk satu Minggu kedepannya sudah ia selesaikan. Sisanya tinggal Ramon yang megurus karena ia yakin Zio tidak akan langsung mendapatkan sekretaris baru.
Setelah merapikan mejanya, Mentari pun memutuskan untuk segera pulang sebab malam ini ia ada janji dengan Zio.
"Mentari Ramadhani binti Ramadhan, sebenarnya lu lagi ngapain di kantor? Jawab gue!"
__ADS_1
Deggg ...
"Zio!"