CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~88


__ADS_3

Plaakk ...


Satu tamparan mendarat di pipi Zio ketika ia sampai di rumah dan disana sudah ada Dini dan keluarganya yang ternyata sudah menunggu kedatangannya. Suasana hati Zio yang tadinya sangat baik bahkan di atas kata baik itu mendadak berubah 360 derajat saat berada di rumah. Harusnya tadi ia tidak memutuskan untuk pulang, andaikan ia menetap di apartemen, mungkin ia tidak akan bertemu dengan mereka semua.


"Papi tidak menyangka kau melakukan ini pada Dini!" bentak Danu setelah ia menampar pipi Zio dengan keras. "Video syur kalian sudah tersebar dimana-mana dan sekarang papi seperti sudah tidak memiliki muka untuk keluar dari rumah. Kita bisa saja menekan media tapi kemungkinan video itu sudah tersebar luas dan kita akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat," imbuh Danu, ia sangat marah saat ini.


Zio menatap Dini yang sedang tersenyum puas menatapnya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Zio sudah terjebak dan Dini kali ini sangat yakin akan memenangkan pertarungan mereka. Tidak bisa berkutik lagi karena jika Zio tidak menikahinya maka mereka pasti akan sangat malu dan dikucilkan dari masyarakat.


Dengan emosi yang meledak-ledak, Zio menghampiri Dini dan menarik tangan wanita itu hingga ia berdiri dari duduknya. Cengkraman tangan Zio sangat kuat di lengan Dini hingga wanita itu merasa kesakitan.


"Zio lepasin!" pinta Dini. "Rasanya sangat sakit dan kau tidak boleh melakukan ini padaku. Belum cukup kau memperkosaku malam itu dan sekarang kau mau melakukan kekerasan padaku? Jangan mentang-mentang aku cinta kamu terus kamu berbuat semaunya sama aku!" Dini membentak, ia harus bisa mengambil simpatik semua orang agar jalannya menjadi mulus mendapatkan Zio.


Zio menghempaskan tangan Dini seraya berkata, "Dasar wanita ular!" umpat Zio. "Udah puas lu bikin semuanya jadi kacau kayak gini? Dasar wanita tidak punya otak, apa yang kau dapatkan dengan semua ini, kerugian? Asal kalian tahu, dia yang sudah menjebakku dengan memberikan minuman yang sudah dicampurkan obat perangsang dan dia juga yang membuat video itu lalu dia yang menyebarnya. Dasar manusia sampah!"


"Dimas Ezio Rasyid!" bentak kakek Harun Vindex, ia tidak terima cucu kesayangannya diperlakukan sekasar itu, ia juga tidak terima Zio merendahkan Dini.


Zio tersenyum kecut, ia kemudian berjalan ke arah Lolita, mencoba mencari bantuan dari maminya. Wanita yang masih begitu cantik itu hanya bisa menangis karena memikirkan nasib anaknya.


"Mami nggak bisa bantu kamu, Zio. Jalan satu-satunya kalian harus menikah," ucap Lolita kemudian ia membuang muka, tak sanggup melihat keadaan putra semata wayangnya.


Zio mengumpat kasar, ia tidak mungkin menikah dengan Dini sedangkan ia dan Mentari saling mencintai. Mentari memberikan dukungan padanya dan Zio tentu tidak akan menggantikan posisi Mentari.


"Menikah sama dia? Lebih baik aku mati, Mi!" teriak Zio, ia kemudian berjalan keluar dengan tergesa-gesa menuju ke motornya dan baru saja motor Zio keluar dari gerbang rumahnya, suara benturan keras terdengar hingga ke ruang tamu rumah keluarga Ar-Rasyid.


Pak satpam berlari masuk dan mengabarkan bahwa Zio kecelakaan. Seluruh keluarga dibuat panik dan mereka berhamburan keluar untuk melihat keadaan Zio.


Wajah itu penuh darah dan tubuhnya sepertinya mengalami patah tulang. Mentari yang kebetulan lewat di dekat rumah Zio pun berlari dan memangku Zio yang masih sadarkan diri.

__ADS_1


"Sayang, kamu kuat. Kamu jangan merem, sebentar lagi ambulans akan datang. Kamu akan segera baik-baik aja," ucap Mentari.


Zio mengambil tangan Mentari untuk ia genggam dan suaranya yang sudah mulai terdengar lirih pun berkata, "Sayang, aku sangat mencintaimu. Hiduplah bahagia dan ingatlah bahwa aku sangat mencintaimu dan tidak pernah mengkhianati cinta kita. kejadian malam itu murni aku dijebak. Jaga dirimu baik-baik, I will always love you Mentari Ramadhani binti Ramadhan ...."


Genggaman tangan itu terlepas bersamaan dengan lolosnya air mata Mentari yang jatuh tepat di bibir Zio.


"Zioooo!!!"


.


.


Napas Mentari terengah-engah, ia menyeka bulir keringat bak biji jagung di dahinya. Mimpi buruk itu bahkan sangat buruk, ia sangat ketakutan dan dengan cepat ia mengambil ponselnya dan mencari satu kontak lalu ia menghubunginya.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan panggilan tersebut tersambung dan baru di nada pertama panggilan tersebut langsung mendapatkan tanggapan.


Mentari menangis. "Hikss sayang ... aku kangen."


Mendengar Mentari yang menangis dan ternyata merindukannya membuat hati Zio menghangat. Bahkan ia tidak pernah membayangkan Mentari akan seromantis ini.


"Aku juga kangen sama kamu. Aku kesana sekarang nih?" canda Zio dan siapa sangka Mentari justru mengiyakan dan berkata bahwa ia akan menunggunya datang.


Dengan bersemangat namun hatinya bertanya-tanya mengapa mendadak Mentari menangis dan merindukannya, Zio turun dari apartemennya dan bergegas menuju ke parkiran. Ia sempat kebingungan apakah ia akan membawa motornya atau mobilnya.


Panggilan yang masih tersambung dengan Mentari itu membuat Mentari mendengar apa yang sedang Zio gumamkan. Ia pun meminta Zio untuk mengendarai mobil saja.


Beberapa saat kemudian mobil Zio sudah berhenti di depan rumah Mentari. Begitu ia turun dan hendak menghubungi Mentari, Zio melihat pintu rumah Mentari dibuka dan disana ada Mentari yang sedang memanggilnya untuk segera masuk.

__ADS_1


Keduanya pun kini sudah berada di dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Mentari bahkan langsung memeluk Zio ketika kekasihnya itu duduk di sampingnya.


"Zio, nikah yuk!"


ucapan Mentari dadakan itu membuat Zio kaget bukan main. mendadak kekasihnya yang katanya sedang memperjuangkan restu itu justru meminta untuk dinikahi.


"Ka-kamu serius sayang?" tanya Zio berusaha untuk tidak langsung senang karena Mentari bisa saja hanya mengerjainya.


Mentari mengangguk mantap seraya berkata, "Lebih serius dari yang pernah serius."


Zio mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menatap ke arah Mentari. Ia menangkup kedua pipi Mentari dan mencium bibir Mentari berulang kali dengan cepat hanya untuk membuktikan apakah ia tidak salah dengar.


"Tentu saja aku mau. Ini yang paling aku nantikan. Tapi katakan padaku bagaimana bisa kau meminta menikah secepat ini. Apakah baru saja kesambet?" tanya Zio, jelas saja ia harus mendapatkan penjelasan karena Mentari dulunya sangat sulit untuk diajak menikah.


Mentari pun mengatakan bahwa ia sangat mencintai Zio dan takut kehilangannya. Mentari juga mengaitkan jika mereka sudah menikah maka Zio tidak akan menikah dengan Dini tanpa seizinnya. Ataupun dengan menikah mereka bisa sama-sama mencari jalan keluarnya.


Tapi Mentari juga menegaskan bahwa pernikahan mereka sebaiknya jangan dipublikasikan dan biarlah menjadi rahasia mereka saja. Intinya Mentari hanya ingin memiliki Zio seutuhnya.


"Ya udah, aku terserah kamu. Mau malam ini pun aku siap,' ucap Zio dengan semangat.


Mentari menyandarkan kepalanya di bahu Zio. Keduanya sudah sepakat menikah dua hari lagi. Selain mereka harus menyiapkan berkas dan mendaftarkan pernikahan mereka, mereka juga harus mengurus keperluan menikah walau hanya sederhana saja.


Jika di dalam rumah Mentari dan Zio sedang bermesraan, berbeda dengan para hansip yang sedang patroli.


"Eh, bukannya ini mobil punya pacar Mentari. Kenapa bisa ada disini?" tanya salah satu dari mereka.


"Wah jangan-jangan sedang berbuat apa-apa lagi. Ayo sekarang kita sergap;"

__ADS_1


__ADS_2