
Bright menaikkan alisnya begitu melihat siapa yang berada di depan pintu apartemennya. Ia sebenarnya sudah menduga ini sebelumnya, jika benar Zio pergi ke luar kota dan berlibur bersama Dini, bagaimana mungkin ia melihat tanda merah yang jelas itu masih baru di leher Mentari tadi pagi. Ia sudah tahu jika Mentari sedang menipunya saja.
Bright melihat Dini yang kondisinya begitu kacau serta pakaiannya yang terlihat mengenakan seragam pasien rumah sakit serta beberapa noda becek di tubuhnya.
"Bright tolong gue. Zio jebak gue dan masukin gue di rumah sakit. Gue kabur Bright, gue harap lu bisa kasih gue tempat tinggal. Seenggaknya gue sama anak kita bisa mendapatkan tempat berlindung untuk sementara," pinta Dini, dalam hati ia sangat berharap Bright akan menolongnya karena hanya dia harapan terakhirnya untuk pulang.
Bright terdiam, ia sejujurnya sudah tidak menyukai Dini lagi. Ia sudah terobsesi terhadap Mentari dan tidak mungkin bisa menerima Dini lagi seperti dulu. Dulu dia sangat cinta pada Dini dan mungkin sekarang sudah tidak lagi karena masa kadaluarsanya sudah lewat. Cinta Bright untuk Dini sudah terhitung basi.
"Masuk aja dulu, tapi gue nggak bisa janji bakalan kasih lu tumpangan lama disini. Kita bukan suami istri dan gue nggak bisa nampung lu karena gue nggak mau ikut campur dalam masalah lu," ujar Bright.
__ADS_1
Dini tersenyum kecut, Bright memang benar-benar sudah menolaknya. Jika saja ia tidak mengandung anak Bright, mungkin mantan kekasihnya itu tidak akan mau menampungnya disini. Dini harus menerima semuanya sambil menyusun taktik untuk membalas Zio dan keluarganya dan juga memikirkan cara untuk bisa membuat Bright kembali menyukainya.
"Terima kasih, Bright. Gue sangat bersyukur lu udah mau ngasih gue tumpangan walau hanya sebentar. Apakah gue boleh istirahat Bright, gue lelah setelah berlari sangat jauh."
Bright mengangguk dan ia meminta Dini untuk pergi ke kamar yang satunya lagi. Dan untung saja di apartemen ini masih tersimpan pakaian Dini yang memang sengaja disimpan disini agar jika Dini menginap bersama Bright, ia sudah tidak perlu sibuk mencari baju ganti.
Tak beberapa lama kemudian Bright mengetuk pintu kamar Dini. Wanita hamil yang tengah berbaring itu pun dengan segera membukakan pintu untuk Bright. Ia bahkan siap memberikan layanan terbaik untuk mantan kekasihnya ini a.k.a ayah dari anak yang tengah ia kandung.
Dini tersenyum kecut setelah Bright pergi bahkan tanpa memberikannya kecupan atau pun bersikap sok manis padanya. Semuanya hilang dan Dini tahu jika ini adalah kesalahannya yang dulu serakah dan ingin mencari keuntungan besar dengan menjadi istri Zio.
__ADS_1
Ia harus bisa menerima kenyataan bahwa sekarang hidupnya tidak lagi semudah dan sebahagia dulu ketika menjadi kekasih Bright. Ia menyesali mengapa lebih terbuai oleh ajakan kakeknya dan ayahnya dibandingkan mempertahankan cintanya.
Dini hanya bisa menatap punggung Bright yang semakin menjauh. Ia kemudian masuk dan berganti pakaian sebab setelah ia mandi tadi, ia kembali mengenakan pakaian pasien rumah sakit tersebut.
"Gue akan membalasmu Zio, gue bakalan bikin lu takut dan akhirnya meminta kematian untuk diri lu sendiri. Gue berjanji setelah anak gue lahir nanti, dia bakalan jadi bayang-bayang kalian dan akan meneruskan dendam yang gue punya," gumam Dini, ia sangat bertekad untuk menghancurkan Zio dan keluarganya.
Kehilangan keluarganya, bisnis hancur, cintanya juga sudah tidak bisa ia gapai, Dini merasa semua kesengsaraan sedang bermain dengannya. Ia tahu ini juga bagian dari kesalahannya, hanya saja akan tidak adil jika hanya ia yang menderita. Zio dan Bright serta Mentari juga harus mendapatkan hal yang sama.
Dini mulai memikirkan cara dan langkah yang akan ia ambil kedepannya seperti apa. Yang pasti untuk punya kekuatan membalas dendam ia pun harus punya modal untuk itu semua.
__ADS_1
"Gue harus cari duit dimana buat memuluskan rencana ini? Apakah minta bantuan Bright? Gue nggak mungkin jualan di luar karena gue lagi hamil. Ini anak Bright dan dia bisa marah besar nantinya," gumam Dini.
Saat Dini sedang dilema, ia mendapat ide yang menurutnya akan berhasil. Walaupun ini gila, ia yakin pasti akan berhasil.