
Juan sesekali melirik ke kaca spion lalu ia menghempaskan napas berat melihat bagaimana dua saudara itu sedang asyik dengan obrolan mereka dan kini ia cosplay lagi menjadi seorang sopir. Ia tidak masalah jika harus menjadi bodyguard kakak iparnya karena itu masih terdengar keren, tapi menjadi sopir dengan salah satu penumpang membuat Juan merasa mual tiap kali melihat wajahnya itu membuatnya tak nyaman.
Bahkan dua wanita itu tidak ada yang peduli padanya atau bahkan mengajaknya untuk ikut mengobrol sekadar basa-basi. Benar-benar seperti seorang sopir!
"Kak, kenapa sedari tadi sopirmu ini terus saja melirik kita lewat kaca spion?" tanya Lidya setengah berbisik tetapi sangat jelas bisa di dengar oleh Juan.
Juan tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar Lidya mengatakannya sebagai seorang sopir. Mentari sendiri hanya menahan tawanya saja, melihat Juan se-frustrasi ini merupakan satu kesenangan tersendiri baginya.
"Dia hanya sedang memastikan kita apakah kita duduk dengan aman dan tenang atau tidak. Dan juga spion itu berfungsi untuk melihat kendaraan di belakang. Dia sangat hati-hati dan fokus menjaga kita," jawab Mentari asal dan Juan hanya bisa pasrah.
Ingin sekali Juan menimpali ucapan Mentari, akan tetapi ia sangat malas karena pasti akan didengarkan oleh Lidya si manusia planet mengutip julukan Juan untuk Lidya.
"Oohh ... wah bagus ya! Sangat profesional," puji Lidya.
Juan tidak berekasi apapun dan pembahasan tentangnya lenyap begitu saja ketika dua wanita itu kembali sibuk membahas kampus baru Lidya nanti. Mentari mulai memperkenalkan seperti apa kampus tersebut dan Lidya sangat tertarik mendengarnya. Ia jadi semakin tidak sabar untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut.
Apakah ada universitas yang menerima makhluk aneh sepertinya? Mereka kayaknya sudah keliru, gumam Juan dalam hati.
__ADS_1
Lidya melirik ke arah spion dalam dan mendapati wajah Juan yang sedang fokus menyetir. Ia memekik dalam hati karena baru memperhatikan jika sopir kakaknya ini sangat tampan. Jantung Lidya langsung berdebar-debar kencang dan pipinya memerah.
Ya Tuhan, aku baru pertama kali melihat pria setampan dia. Kira-kira dia mau nggak ya jadi pacar aku?
Lidya menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pemikirannya barusan. Bahkan kini pipinya terasa panas ketika ia menyentuh dengan kedua tangannya. Dalam hati ia terus berteriak agar bisa mengusir bayang sang sopir dari benaknya.
Melihat gelagat aneh Lidya membuat Mentari langsung menyudahi berbalas pesan dengan Zio untuk sesaat. Karena wajah Lidya terlihat memerah, Mentari pun menyentuhnya dahi adiknya itu ia merasakan suhu tubuh adiknya itu meningkat.
"Dya, kamu sakit?" tanya Mentari mulai cemas.
Lidya menggeleng sebagai jawaban. "Lalu, apa yang terjadi?" tanya Mentari lagi.
"Ada apa sebenarnya ini, Lidya? Jangan membuat kakak cemas," tanya Mentari yang mulai resah.
Juan menatap dari kaca spion dan ia bisa melihat raut wajah Mentari yang sangat panik sedangkan Lidya terlihat biasa saja.
Apakah dia sedang acting? tanya Juan dalam hati.
__ADS_1
Lidya berusaha menenangkan Mentari dan mengatakan jika ia baik-baik saja akan tetapi Mentari tidak langsung percaya begitu saja. Ciri-ciri yang ditunjukkan oleh adiknya itu benar-benar membuat Mentari Ramdhani binti Ramadhan panik luar biasa.
"Kakak tenang ya, aku baik-baik saja kok. Hanya saja ini terjadi ketika aku tak sengaja melihat wajah sopir kakak dari kaca spion itu-" menunjuk ke arah kaca spion yang berada di dekat Juan-"Ketika aku tak sengaja melihat wajahnya yang sangat tampan, mendadak tubuhku bereaksi seperti ini. Mungkin aku sudah terpesona sama sopir kakak. Oh ya Pak Sopir, marah nggak kalau aku suka perhatiin pak Sopir?" tanya Lidya langsung to the point.
Rasanya Juan ingin berteriak tidak — nggak usah — nggak peduli. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan karena menghargai Mentari sebagai kakak iparnya.
"What, kamu suka sama Juan?" pekik Mentari dan Lidya hanya bisa memalingkan wajahnya.
Jika Mentari panik, lain halnya dengan Juan yang merasa ingin sekali mencekik leher wanita ini dan membantingnya atau melemparnya dari atas gedung.
Lidya begitu malu karena Mentari menanyakannya perasaannya terhadap Juan..
"Mending nggak usah deh suka sama gue, oke?!" sambar Juan sebelum ia mendengar lagi bocah itu bercerita.
Lidya yang hendak bertanya lagi dan menatap ke kaca spion langsung bungkam ketiak menangkap Juan sedang melirik tajam padanya.
"Loh, kok gitu sih Juan?" tanya Mentari heran karena Juan langsung mematahkan harapan kedua wanita tersebut.
__ADS_1
"Itu karena ...."