
"Keluar yuk, kita jalan-jalan sebentar," ajak Mentari, sebenarnya ia ingin berbicara berdua dengan Zio di luar. Ia ingin mengeluarkan segala unek-uneknya namun tidak di rumah karena tidak ingin di dengar oleh mamanya. Ia ingin membahas semua masalah ini, ia tidak ingin memendamnya sendiri dan kalaupun Zio mengelak, setidaknya Mentari sudah mengatakan segalanya.
Zio yang masih membenamkan kepalanya di pangkuan Mentari langsung mengangkat kepalanya. "Keluar? Terus gimana sama mama?" tanya Zio lalu melirik ke arah pintu kamar Maya.
"Nanti gue pamit, lu tunggu di sini biar gue siap-siap. Lagian kita nggak bakalan lama, cuma jalan bentar doang apalagi ini udah jam berapa juga," ucap Tari dan Zio hanya menganggukkan kepalanya.
Saat Mentari masuk ke dalam kamarnya, ponsel Zio berdering dan tertera nama 'Dini' di ponselnya.
Wajah Zio menjadi tidak enak dipandang begitu melihat nama yang meneleponnya. Dijawab tetapi dia malas, tidak dijawab tetapi pasti wanita itu akan terus menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Zio yang akhirnya memutuskan untuk menhawab panggilan tersebut.
"Beb kamu di mana?" tanya Dini.
"Stop, oke! Gue udah bilang gue nggak bisa sama lu. Gue menolak perjodohan itu dan silakan lu pilih Oliver atau Juan, bukan gue!" Tandas Zio, ia sangat kesal dengan wanita yang menjadi calon jodohnya yang dipilihkan oleh orang tua dan kakeknya.
Terdengar tawa dari seberang saluran, tawa itu menggelegar dan Zio merinding dibuatnya.
"Tapi gue jatuh cintanya sama lu, keluarga lu juga udah setuju kalau gue sama lu yang bakalan nikah. Gue nggak suka sama Oliver dan apalagi sama adik lu sih Juan. Gue cuma mau elu! Kita 'kan pernah pacaran waktu SMA, jadi gue cuma mau lu yang jadi suami gue nggak mau yang lain!" jawab Dini yang saat ini sedang duduk di depan meja riasnya, sambil menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin.
Gue ini cantik, dan gue yakin Zio masih cinta sama gue. Nggak yakin gue kalau pesona gue nggak mempan di depan Zio. Kecuali dia udah berbelok dan suka sama batangan.
Zio menggenggam erat ponselnya, ingin sekali ia membanting ponsel tersebut tetapi ia tidak mungkin menimbulkan keributan yang membuat Mentari curiga.
"Sekali gue bilang enggak ya nggak brengsek! Gue nggak mau balikan apalagi nikah sama lu! Lu juga mencoba manfaatin bokap nyokap gue sama kakek gue untuk bisa memperlancar jalan elu jadi istri gue. Gue udah punya pilihan lain, gue udah punya pacar sekaligus calon istri gue sendiri. Gue nggak mau sama lu!" umpat Zio, ia memang tidak akan memandang siapapun yang akan ia bentak ketika ia merasa sangat kesal, tentu saja Mentari pengecualian. Ia tidak akan mungkin membentak gadis itu.
Sedangkan di seberang san,a wanita itu hanya tertawa.
Dasar gila!
"Gue nggak peduli karena bagaimanapun pacar lu itu dan walaupun lu cinta sama cewek itu, lu hanya bakalan jadi suami gue!" ucap Dini tidak akan mau kalah dengan Zio.
Zio pun memutus panggilannya, sekaligus ia mematikan ponselnya agar tidak diganggu lagi oleh Dini.
Sialan nih cewek, udah nyium gue sembarangan di mobil waktu itu, dan sekarang dia justru maksain buat jadi istri gue lewat keluarga gue. Yang jelas gue nggak bisa. Apa sekalian gue ajak Mentari ke rumah gue sekarang ya? Gue bakalan kasih tahu ke mereka semua kalau gue udah punya pilihan sendiri.
Wajah kesal Zio berubah menjadi begitu manis dengan senyuman menghiasi bibirnya ketika melihat Mentari keluar dari dalam kamarnya dan sudah mengganti pakaian. Seperti Mentari inilah yang paling Zio sukai dari wanita. Cara berpakaian Mentari yang sederhana dan terkesan menutup dirinya agar lekuk tubuhnya tidak terlihat pria di luar sana dengan ia yang selalu mengenakan pakaian kebesaran dibandingkan wanita yang suka mengumbar auratnya sana-sini.
Kalau bokap nyokap dan kakek lihat nih cewek gue Mentari, mereka pasti bakal langsung oke sama pilihan gue. Apa langsung gue bawa ke rumah aja ya biar sekalian gue kenalin sama mereka, sekalian gue suruh dia main catur sama kakek hehe.
__ADS_1
Mentari merasa aneh melihat Zio yang senyum-senyum menatapnya. Ia menduga Zio saat ini sedang berpikiran mesum terhadapnya sehingga terlihat aneh seperti itu.
"Jadi keluar nggak? Kok cuma mantengin gue mulu?" tegur Mentari yang membuat Zio tersadar dari lamunannya.
"Jadi, langsung ke KUA juga jadi," jawab Zio yang membuat Mentari mendelik padanya.
"Dasar gendeng!"
Mentari pun meminta Zio untuk menunggunya sebentar karena ia akan berpamitan dengan sang mama.
.
.
Di dalam mobil Zio, keduanya saling diam. Mentari yang tadinya ingin berbicara serius dengan Zio tetapi justru kehilangan kata-kata yang ingin ia bicarakan. Begitupun dengan Zio yang tadi sangat bersemangat ingin mengenalkan Mentari sebagai calon menantu di keluarganya, ia menjadi bingung harus memulai semuanya dari mana.
"Kita turun dulu yuk," ajak Zio saat menepikan mobilnya di sebuah taman yang kini mulai sepi.
Mentari pun mengganggu kemudian ia segera turun menyusul Zio.
Keduanya berjalan menuju ke bangku taman yang saat ini hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang duduk menikmati angin malam di tempat ini. Untung saja Mentari menggunakan hoodie sehingga ia tidak merasa kedinginan dan Zio pun mengenakan jaket.
"Emangnya lu serius cinta sama gue?" tanya Mentari tiba-tiba yang membuat Zio memalingkan wajahnya ke arah Mentari dan ia mengangguk pasti.
"Kenapa, lu nggak percaya sama gue? Lu mau bukti apa? Pasti gue buktiin," jawab Zio.
Mentari menggeleng, ingin sekali ia mengatakan dan menanyakan perihal yang ia lihat di mobil itu, kejadian yang membuat dunia Tari tiba-tiba terasa berubah, ia yang sudah mulai mengharapkan Zio kembali tiba-tiba dibanting oleh kenyataan hingga membuat hatinya begitu remuk.
"Gue hanya khawatir aja kalau seandainya gue bener-bener menerima lu, apa lu nggak bakal ngulangin kesalahan lu yang dulu-dulu? Gini-gini gue masih trauma juga diselingkuhi berkali-kali sama lu," jawab Mentari sejujur-jujurnya.
Zio tersenyum lembut, rupanya hal ini yang membuat Mentari seolah menjaga jarak dan tidak mempercayainya. Zio kemudian meraih tangan Mentari kemudian ia genggam dengan erat.
"Gue tahu gue pernah jadi se-brengsek itu waktu gue pacaran sama lu, tapi lu harus tahu gue ngelakuin itu karena gue hanya ingin jagain lu dari gue yang nggak gak bisa ngontrol saat dekat dengan lu. Gue takut ngerusak lu sehingga gue nyari pelampiasan lain. Waktu itu juga walaupun gue ngajak lu nikah muda pasti lu nggak bakalan mau. Maaf untuk perbuatan gue waktu itu, gue sama sekali nggak main hati sama mereka, gue murni hanya untuk menuntaskan hasrat gue yang nggak bisa gue lakuin ke elu. Lu sendiri gue sayang sama lu, gue mana mungkin ngerusak lu."
Mentari tertegun mendengar ucapan Zio barusan, Ia tidak menyangka jika selama mereka pacaran Zio merasa tersiksa karena menahan hasrat padanya. Tentu saja Mentari tidak akan mau memberikan kesuciannya pada Zio yang bukan suaminya. Apalagi menikah muda di saat Mentari memiliki banyak cita-cita, tentu saja ia akan menolak. Dan ia kembali membenarkan ucapan Zio dalam hati, walaupun tidak sepenuhnya benar dengan Zio yang suka bergonta-ganti pasangan hanya untuk menjaganya. Mentari tentu tidak bisa menerima hal tersebut.
"Tari, emang gue akui gue terkenal dengan sifat Casanova gue, tapi lu harus tahu, gini-gini juga gue punya hati yang bakalan gue kasih sama wanita yang benar-benar gue cintai yaitu kamu. Lu pengen ngajak gue nikah sekarang ya gue langsung iyain. Dan lagi, kalau emang lu butuh bukti apakah gue serius sama lu, lu tinggal ngomong lu mau apa. Lu jangan ragu-ragu sama gue karena Cinta gue ke elu itu nggak ada keraguan sama sekali."
Mentari masih terdiam, ia mencoba mencerna setiap ucapan demi ucapan manis Zio yang mungkin itu berasal dari hatinya yang sesungguhnya. Mentari hanya tidak ingin kembali terluka apabila mempercayainya, padahal hatinya saat ini sudah begitu menerima setiap ucapan-ucapan yang keluar dari bibir manis Zio, hanya saja pikirannya masih menolak karena pikirannya itu masih mengingat bagaimana dulu ia begitu mempercayai tetapi akhirnya dikecewakan.
__ADS_1
"Atau gini deh, kayak anak-anak remaja pada umumnya pacaran, lu mau megang HP gue biar lu percaya sama gue? Gue punya ponsel tiga, lu mau pegang tiga-tiganya juga gue nggak masalah, asal lu siap ngangkat telepon dari klien. Lu mau nggak?" usul Zio.
Mentari menatap datar pada Zio yang memberi usulan seperti itu. Sebenarnya ia tidak masalah jika harus memegang ponsel Zio untuk menjadi barang bukti, akan tetapi untuk menerima panggilan dari kliennya tentu saja Mentari tidak akan sanggup. Belum lagi jika ada orang tua atau keluarga terdekat yang menghubungi Zio, Mentari tidak mungkin menjawab jika ia yang memegang ponsel Zio dengan alasan untuk membuktikan cinta.
"Nggak ada cara lain gitu?" tanya Mentari denhan malas.
Zio tersenyum menyeringai, "Ada!"
"Apa?"
"Nikah!"
Mentari langsung mencubit lengan Zio, dia yang sedang serius namun Zio justru bercanda. Melihat Mentari cemberut, Zio langsung tergelak dan membawa Tari ke dalam dekapannya.
"Gue serius dengan semua yang gue bilang, jangan raguin gue lagi," bisik Zio dengan lirih.
Mentari menghela napas, sepertinya ia memang harus bertanya pada Zio daripada ia memendamnya sendiri. Saat ini hatinya benar-benar luluh dengan semua sifat dan sikap Zio padanya.
"Gue mau nanya, emang sekarang nggak ada gitu cewek yang ngejar-ngejar lu. Secara, lu itu seorang Dimas Ezio Rasyid, nggak mungkin nggak ada yang ngejar lu," tanya Mentari, ia saat ini sedang gugup menanti jawaban dari Zio.
Zio mengusap kepala Mentari, "Pertanyaan lu menjebak banget tahu. Kalau gue bilang ada, lu pasti curiga dan nuduh ini itu. Gue bilang enggak ada, pasti lu bakalan bilang nggak yakin," ucap Zio yang membuat Mentari mengerucutkan bibirnya.
"Tuh bibir jangan digituin, gue ***** baru tahu rasa lu!"
"Tinggal jawab aja kenapa sih?" sergah Mentari kesal.
Zio menarik napas dalam-dalam kemudian ia menghembuskannya secara perlahan. Ia meminta Mentari untuk mendengarkannya dan tidak memotong ucapannya sama sekali agar mereka tidak berdebat atau saling salah paham.
"Kalau cewek yang suka sama gue emang banyak, gue bahkan nggak bisa hitung seberapa banyaknya. Tapi lu harus tahu kalau cewek yang gue suka itu cuma lu. Asal lu tahu, banyak cewek diluar sana yang selalu ngelakuin hal ekstrim ke gue hanya untuk bisa jadi cewek gue. Contohnya, kemarin ada yang nahan mobil gue. Gue kasih tumpangan karena kasihan eh dia malah modusin gue dan cium gue di mobil. Gila 'kan?"
Mentari terkesiap mendengar ucapan Zio barusan, dalam hati ia bertanya-tanya apakah wanita itu yang ia lihat di mobil. Dan apakah memang kejadiannya seperti itu?
"Makanya gue butuh lu buat jadi istri gue, biar wanita gila di luar sana itu sadar kalau gue udah ada yang punya. Gue capek tahu dikejar-kejar sama banyak wanita yang gue nggak suka. Coba deh lu yang ngejar gue, gue pasti bakalan suka," ucap Zio seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Mentari.
Mentari memutar bola matanya jengah, namun dalam hati ia begitu senang karena bisa berbicara berdua dengan Zio dari hati ke hati.
"Gue hanya takut kalau lu nyakitin hati gue lagi," lirih Mentari.
"Nggak akan! Kalau itu sampai terjadi, lu boleh hukum gue sesuka hati lu, asal jangan pergi lagi dari hati gue. Gue cuma mau lu doang!" tandas Zio.
__ADS_1