CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~80


__ADS_3

Usai dipukul mundur oleh Oliver, Bright meninggalkan kantor tersebut dan ia akan memikirkan cara lainnya untuk bertemu lagi dengan Mentari. Bukannya kapok, ia semakin bersemangat karena sudah berhasil mengungkapkan perasaanya kepada Mentari dan ia yakin sekali Mentari pasti akan memikirkan ucapannya tadi. Secara tidak langsung Mentari pasti akan mulai memikirkannya.


Sementara di kantor, Mentari sedang menatap Oliver yang tiba-tiba saja mendatanginya di kantor ini padahal mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Mentari tidak perlu bertanya darimana Oliver mengetahui keberadaannya karena jika bukan Zio, pasti Juan yang memberitahukan.


"Bukan Zio atau Juan yang ngasih tahu gue kalau lu disini," ucap Oliver seolah mendengar kata hati Mentari.


Jelas saja hal itu membuat Mentari mengernyit. Siapa lagi yang tahu dan memberitahu Oliver jika bukan kedua adiknya itu. Namun ternyata ia salah dan kini Mentari tidak memikirkannya karena ia bukan tipe orang yang suka penasaran dengan sesuatu hal kecuali pekerjaannya dan juga ending dari kisah cintanya bersama Zio.


"Jadi dia cowok yang ngedeketin lu? Tapi dari yang gue lihat kalian nggak akrab kok. Dia bukan selingkuhan lu, 'kan?" cecar Zio dan Mentari langsung menatap tajam ke arah Oliver. "Oke, oke. Gue tahu lu setia sama Zio. Natapnya biasa aja dong, ngeri tahu," imbuh Oliver begitu melihat wajah menakutkan Mentari.


Mentari mendengus, ia sendiri bingung kenapa Oliver bisa menanyakan Bright adalah pria yang sedang dekat dengannya sedangkan yang tahu hanyalah Zio dan tadi Oliver mengatakan jika bukan Zio yang memberitahunya.


"Kenapa nuduh gitu sih? Zio nyuruh lagi buat cecar gue?" tuding Mentari, ia sebenarnya tidak yakin jika Zio yang menuduhnya. Tetapi untuk memperjelas, bukankah ia harus memberi pertanyaan yang salah untuk mendapatkan jawaban kebenaran?


Oliver menggeleng, ia mengibaskan tangannya dan mengatakan bahwa ia belum bertemu dengan Zio karena saat ia datang Zio sudah berangkat ke luar kota.


"Gue ketemu sama wanita yang dijodohkan sama Zio dan dia bilang lu sering jalan bareng sama cowok tadi dan katanya lagi lu udah dekat banget sama dia," jawab Oliver.


Wajah Mentari memerah, ia tidak menyangka lagi dan lagi Dini membuat berita palsu untuk menjatuhkannya. Mentari mulai curiga dengan Dini dan Bright karena keduanya seolah bekerja sama dengan Dini menjatuhkan Mentari di mata Zio dan keluarga, lalu Bright berusaha menjatuhkan Zio di depan Mentari.


Sebuah pertanyaan dan praduga yang akan Mentari analisa bersama Zio nantinya. Selama ini mereka selalu berbagi cerita dan tentang Bright dan juga Dini tidak ada yang mereka sembunyikan sehingga ada masalah apapun keduanya saling memberitahu.

__ADS_1


"Dia lagi? Selalu saja membuat masalah," celetuk Mentari yang membuat Oliver mengernyit.


Belum sempat Oliver bertanya, Mawar sudah datang dan memberikan Mentari makanan. Ia menatap Oliver dengan penuh tanya begitupun dengan Oliver yang langsung tebar pesona karena ia mengira Mawar menatapnya karena terpesona.


Gue emang tampan dan nggak heran kalau tiap wanita yang memandang gue langsung terpesona kecuali Mentari!


"Anda siapa ya?" tanya Mawar dan dengan percaya diri tinggi Oliver mengulurkan tangannya.


"Saya Oliver. Kalau nona cantik ini namanya siapa?" tanya Oliver.


Mawar menatap tangan Oliver yang terulur kemudian ia menatap Mentari dengan penuh tanya. Oliver yang merasa tidak mendapat sambutan langsung menarik kembali tangannya dan menatap Mawar dengan kesal.


"Hei nona, kenapa lu cuekin gue?" tanya Oliver tidak terima, "Mau lu kalau gue aduin sama pemilik perusahaan ini? Asal lu tahu ya, gue kenal dan akrab dengan pemilik perusahaan dan lu bisa aja dipecat karena udah mengabaikan sahabatnya," celetuk Oliver dengan wajah sok meyakinkan.


Mentari menahan diri untuk tidak tertawa, sedangkan Mawar bersiap untuk mempermalukan Oliver. Ia cukup kesal dengan pria sok percaya diri padahal sangat jelas jika ia sedang berbohong.


"Oh ya? Gue jadi takut. Gue disini hanya karyawan biasa, setahu gue bos gue itu galak. Jangan laporin gue please," mohon Mawar yang mulai bermain drama.


Oliver menyombongkan diri, ia menggeleng dan seolah tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Mawar. Ia akan membuat wanita ini memohon karena jujur saja Oliver tertarik dengan wajah imut Mawar.


"Emang benar kalau lu kenal sama pemilik perusahaan ini?" tanya Mentari dan Oliver langsung mengangguk pasti. "Oh ya? Siapa coba?" tantang Mentari.

__ADS_1


Oliver berdecak, "Udahlah, lu nggak usah ikut campur calon adik ipar, ini urusan gue sama teman lu. Gue bakalan maafin lu kalau lu mau nyebutin nama lu beserta nomor ponsel lu, alamat dan nama orang tua," ucap Oliver mengalihkan, ia lebih tertarik pada Mawar dibandingkan meladeni pertanyaan Mentari yang jelas ia tidak memiliki jawabannya.


Mentari memutar bola matanya malas, ia memilih menyantap makanan yang dibawakan oleh Mawar dibandingkan mendengar ocehan tak jelas dari Oliver. Ia juga sudah tahu siapa yang membawa Oliver sampai ke kantor ini, selanjutnya akan ia bahas dengan Zio nanti. Mentari butuh makan karena setelah ini ia akan bekerja lagi.


"Lu nanya atau mau ngelamar gue? Pertanyaan sampai bawa-bawa nama orang tua? Eh, apa lu itu petugas sensus?" cibir Mawar.


Mata Oliver membulat sempurna, ia tidak menyangka Mawar akan mengatainya seperti itu. "Wah, lu emang minta dilapor sama atasan lu biar lebih sopan sama sahabatnya," ancam Oliver.


"Ya udah panggil atasan gue. Biar sekalian gue mau tahu kalau lu kenal banget sama bos kita," tantang Mawar.


Oliver nampak diam, ia melirik Mentari yang tidak peduli dan hanya sibuk dengan makanannya. Merasa ditatap oleh Oliver, Mentari pun angkat suara, "Nama bos kita itu Mawar, Mawar Putri Pratama," kata Mentari.


"Gue tahu kali," ucap Oliver tetap percaya diri padahal baik Mawar maupun Mentari ingin sekali memecah tawa mereka.


Baru saja Oliver hendak masuk ke ruangan yang tertulis direktur tersebut, seseorang datang menghampiri mereka dengan membawa beberapa map. Jam istirahat masih berlangsung tetapi karena berkas yang dibawa oleh staf ini sangat penting maka Mawar menerimanya.


"Permisi Bu Mawar, ini ada berkas dari klien yang tadi meeting bersama kami. Ada beberapa poin yang mereka ingin ubah dan perlu diskusi bersama Anda. Mereka menanti penjadwalan ulang rapat berikutnya dan mereka berharap Bu Mawar bisa datang," ucap Jonas, salah satu ketua divisi di perusahaan tersebut.


Oliver terbengang mendengar percakapan Mawar dan juga Jonas. Mendadak ia ingin kabur saja dari kantor ini agar Mawar tidak mempermalukannya namun terlambat karena Mawar sudah mencegahnya untuk pergi dan mau tidak mau Oliver harus bertahan.


Nggak masalah, gue udah duluan tertarik dan apa salahnya dibuat malu lebih dulu. Anggap aja bagian dari flirting, hehe.

__ADS_1


__ADS_2