
Tidak ada yang bisa dilakukan Zio seharian ini selain rebahan di tempat tidurnya, ia merasa begitu senang dalam hidupnya karena setalah sekian lama akhirnya ia merasakan lagi liburan di hari Senin. Sesekali ia saling berbalas pesan dengan Mentari, menanyakan rutinitas yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Mengetahui Mentari sangat sibuk, Zio menjadi tidak percaya diri karena sekarang justru kekasihnya yang memiliki pekerjaan sedangkan ia hanyalah pengangguran.
Zio juga mendapat pesan dari Juan jika Dini mendatangi kantor dan setelah itu mendadak ia seperti seseorang yang sedang gelisah. Juan meminta Zio untuk menyelidiki kehidupan Dini selama masa ia menganggur. Dan Zio berpikir ucapan Juan tersebut ada benarnya. Ia bisa mendapatkan info tentang Dini dan jika ada hal buruk yang dilakukan wanita itu maka Zio bisa menjadikannya bukti untuk membatalkan perjodohan ini.
"Gue harus ikuti Dini. Tapi gue mulai dari mana ya?" gumam Zio yang kini ia sudah tidak lagi rebahan melainkan duduk sambil berpikir langkah apa yang pertama ia lakukan untuk mendekati Dini tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Tapi nanti kalau sampai Tari lihat gue sama Dini, dia pasti bakalan curiga dan nuduh macam-macam. Gue nggak berani soal yang satu ini," lanjut Zio lagi. Ia merutuki dirinya yang mendadak lupa caranya untuk bermain dengan perasaan dan wanita setelah ia kembali mendapatkan cinta dari Mentari.
"Gue dulunya seorang pemain yang handal tapi mendadak otak gue buntu!" gerutunya.
Sedangkan di kantor tempat Mentari bekerja, ia masih menekuk wajahnya karena teringat akan ucapan Bright tadi. Menteri tidak menyangka jika pak Santoso sampai membawa namanya ke pembicaraan keluarga. Mentari pikir waktu itu pak Santoso hanya sedang menggodanya, ternyata bahkan pria bangkotan itu sudah memberitahukan anggota keluarga tentang dirinya.
Mendadak Mentari merasa ingin muntah.
Mawar memperhatikannya dan ia sudah tahu apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Ia juga tidak menyangka pria tampan itu akan melontarkan bahasa pedas pada sahabatnya. Harusnya Bright tidak berbicara seperti itu tanpa menanyakan dulu pada Mentari. Bahkan sekelas Bright masih kalah jauh dengan Ezio Rasyid -- kekasih Mentari.
"Nggak usah dipikirin. Nanti biar lu tampar dia dengan kenyataan dengan cara lu gandeng Zio ketemuan sama dia di perusahaannya nanti," usul Mawar, ia berharap ucapannya barusan bisa membuat Mentari semangat lagi.
Mentari menganggukkan kepalanya. Akan tetapi beberapa saat kemudian ia kembali teringat akan ucapan Danuarta kemarin. Mentari harus menjaga jarak dengan Zio jika ia tidak ingin Zio berpisah dengan keluarganya.
Sungguh kisah cinta yang rumit. Disaat keduanya saling mencintai dulunya Zio mematahkan hatinya karena berselingkuh. Dan ketika bertahun-tahun kemudian mereka kembali saling mencintai eh keluarga Zio tidak merestui. Mentari jadi frustrasi.
__ADS_1
"Nanti lu aja deh yang ketemu tuh orang kalau ke perusahaannya. Gue nggak mau dan nggak mood juga ketemu dia. Menyebalkan!" ucap Mentari setelah ia memikirkan jika ia tidak akan pergi bersama Zio.
Mawar menghela napas, "Ya udah. Lihat saja nanti," ucapnya kemudian ia bergegas pergi.
Awas aja lu Bright, gue bakalan balas penghinaan ini. Dasar pak Santoso sialan!
.
.
Dini menatap kesal pada pria yang saat ini ia temui. Tadi ia yang berada di kantor Zio terpaksa harus bergegas pergi karena pria ini memaksanya untuk segera bertemu. Padahal mati-matian Dini menghindarinya akan tetapi ia tetap saja selalu dibuat datang dengan sendirinya ke tempat pria ini.
"Kali ini apa lagi? Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, gue mau nikah. Mending lu jauh-jauh deh dari gue. Gue nggak mau ada masalah dengan pernikahan gue nanti. Gue bakalan benci banget sama lu kalau lu sampai gagalin pernikahan gue!" ancam Dini.
"Jangan membuat dan mengambil langkah yang salah, Dini. Lu jangan bohongi diri lu sendiri dan menipu banyak orang. Kenapa lu harus milih dia, gue juga masih sanggup untuk menafkahi lu kalau lu balik lagi sama gue," ucap pria tersebut dengan begitu yakin.
Dini berdecih, "Gue tahu apa yang harus gue lakukan dan lu nggak berhak untuk mengatur hidup gue!" sentak Dini namun pria tersebut hanya tertawa.
"Kau akan hancur jika terus memaksa untuk menikah dengannya. Dan kehancuranmu itu akan dihitung mundur mulai detik ini. Jangan bodoh Dini, lu masih punya gue!" ucapnya lagi sambil terus menatap Dini dan menguncinya lewat tatapan tajam tersebut.
Dini mendengus, ia kemudian berniat pergi namun pria itu justru menarik tangannya hingga ia jatuh tepat di pangkuan pria itu. Dini kesal, ia memberontak akan tetapi ia kalah tenaga hingga akhirnya ia memilih diam saja.
__ADS_1
Pria tersebut menyeringai, ia menyukai Dini yang tidak banyak bergerak dan berbicara karena ia sangat menyukai ketenangan. Hanya ada satu keributan yang ia sukai yaitu saat ia sedang menyalurkan hasratnya di atas tempat tidur bersama wanita-wanita yang ia pilih.
"Menurutlah amor, lu itu hanya milik gue," bisiknya lirih di telinga Dini hingga wanita itu merasa seperti tersengat.
"Ini tidak benar Bright! Kita sudah berpisah dan gue mau melanjutkan hidup gue bareng pria yang gue sukai. Kita udah dijodohin dan lu mending menjauh dari gue," ucap Dini kesal.
Bright, lelaki itu menggeleng. Ia tidak akan menjauh dari Dini dan justru kini tangannya bergerak liar menyentuh seinci demi seinci kulit Dini hingga wanita itu merasa merinding keenakan.
"Lepaskan amor, gue suka suara lu saat lu menikmati semua sentuhan gue," ucapnya dengan suara yang begitu berat.
Dini menggigit bibirnya, sepertinya keputusannya untuk menemui Bright di kantornya ini justru membuatnya terjebak dengan hasrat gila pria yang sudah menjadi mantan kekasihnya ini. Ia terus berpikir bagaimana caranya untuk pergi dan bagaimana caranya agar Bright yakin dan tidak lagi mengejarnya yang sudah tidak memiliki cinta untuk Bright.
"Gue sebenarnya tahu kenapa lu sama kakek lu nargetin mereka, gue tahu alasannya," ucap Bright yang membuat Dini tersentak.
Wajah cantik wanita itu langsung menoleh menatap Bright dengan tatapan penuh tanya. "Bagaimana lu bisa tahu?" tanya Dini sangat penasaran.
Bright menyeringai, "Gue akan selalu tahu tentang lu, amor. Termasuk tentang dia yang coba lu sembunyikan dari gue. Gue tahu keberadaannya dan kedatangannya, lu nggak bisa lagi mengindar dari gue," ucap Bright yang membuat wajah Dini mendadak pias.
"Gue bisa bantuin lu, tapi ada syaratnya," tambah Bright lagi.
"Syarat? Apa syaratnya?" tanya Dini tidak sabar.
__ADS_1
Bright menyeringai, "Akan gue kasih tahu setelah lu bikin gue berkeringat," ucap Bright.