CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~37


__ADS_3

Mentari cukup terkejut karena di ruangan itu ada Oliver juga. Ia begitu heran karena Zio memintanya masuk tanpa menyuruh untuk membawa berkas atau dokumen apapun untuk diperiksa. Sepertinya ini bukanlah tentang pekerjaan melainkan ada hal lain yang ingin dibahas oleh mantan kekasihnya yang tadi baru saja memintanya untuk kembali menjadi kekasih.


"Yang, sini duduk sini bareng gue," ucap Zio yang membuat Mentari kebingungan.


"Yang?" pekik Oliver dan juga Juan bersamaan.


Mentari menatap ekspresi Oliver dan Juan yang terkejut ketika Zio memanggilnya dengan sebutan sayang, ia pun menjadi gugup sendiri. Mentari kemudian menundukkan kepalanya lalu ikut duduk di samping Zio.


Tak tanggung-tanggung Zio langsung memegang dan menggenggam tangan Mentari di hadapan kedua saudaranya itu.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa lu manggil gue kemari? Terus itu kenapa pakai sayang-sayang segala?" tanya Mentari sambil berbisik pada Zio.


Mendengar bisikan Mentari, Zio hanya bisa memasang senyuman agar tidak ada yang curiga pada mereka apalagi padanya yang saat ini sedang memainkan peran sebagai kekasih Mentari. "Nggak usah malu-malu gitu dong Yang, mereka berdua ini 'kan bukan orang lain, saudara gue dua-duanya!" ucap Zio yang membuat Mentari kebingungan.


Gue ngomong apa dia nyambungnya apa. Dia bilang dua-dua saudaranya? Itu berarti Juan ... ah apa iya Juan adalah saudaranya? Itu artinya yang Juan maksud di ceritanya waktu itu adalah Zio? Juan dan Zio kakak adik? Kok gue nggak tahu?


Mentari hanya bisa memekik dalam hati setelah mengetahui fakta yang cukup mengejutkan baginya.


"Oh ya, lu nggak tahu ya kalau sebenarnya Juan itu adik gue. Lebih tepatnya adik se-ayah sih, kita nggak se-ibu. Lu sebagai calon istri gue mendingan kenalan baik-baik deh dengan saudara gue, nanti setelah ini kita bakalan ke rumah gue dan gue bakalan kenalin lu sebagai calon istri gue. Gimana, udah mau 'kan?"


Keterkejutan Mentari semakin bertambah berkali-kali lipat. Tadi Zio hanya ingin mengajakkannya bermain pacar-pacaran atau ayang-ayangan di depan dua saudaranya yang ia ketahui memiliki perhatian lebih padanya, tetapi kali ini sudah terlalu kelewatan dengan ingin mengajaknya berkenalan dengan keluarganya. Mentari saja belum menyetujui mereka balikan tetapi Zio justru langsung ingin mengajaknya pergi berkenalan dengan kedua orang tuanya. Tentu saja Mentari tidak siap.


Ketika Mentari ingin membantah, tiba-tiba Zio kembali membuatnya terkejut ketika tiba-tiba Zio mengecup pipinya.


Bukan hanya Mentari, Oliver dan Juan pun begitu kaget karena Zio dengan berani mencium Mentari di hadapan mereka.


Dasar bos mesum, Casanova, cabul! Dia selalu saja seenaknya cium-cium gue nggak kenal tempat! gerutu Mentari dalam hati.


"Bro mandang tempat ya elah, masih ada kita disini. Jangan main pamer kemesraan, mentang-mentang lu udah balikan sama dia dan lu mau bikin gue cemburu, gitu maksud lu? Hebat ya, 'ngenes' banget," ucap Oliver yang merasa jengkel dengan kelakuan Zio.


Zio tersenyum puas, akhirnya Oliver terprovokasi juga dengan ucapannya yang mengatakan jika ia dan Mentari sudah kembali bersama. Zio yakin setelah ini pasti Mentari akan mengamuk lagi padanya. Belum hilang rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras Mentari tadi, kini ia sedang memikirkan hal apa lagi yang akan Mentari lakukan padanya.


"Nah, karena kalian udah tahu jawaban gue, sekarang tinggal kalian berdua nih yang diskusiin bagaimana kedepannya dengan kakek. Gue tentunya sudah tereliminasi ya," ucap Zio merasa senang karena ia berhasil membuat dua saudaranya terbungkam dan kini urusan perjodohan ia serahkan kepada Oliver dan Juan.

__ADS_1


Juan dan Oliver saling berpandangan. Keduanya kini berbicara lewat tatapan mata saja sedangkan Mentari langsung berpamitan ke luar karena ia merasa tidak memiliki kepentingan di ruangan ini. Jika saja ia tahu Zio ternyata memanfaatkannya untuk memamerkan sebagai kekasih pada kedua saudaranya itu, maka ia tidak akan masuk dan membuat Juan yang dianggap sebagai calon belahan jiwanya itu patah Hati.


Zio kembali mengecup pipi Mentari sebelum membiarkan Mentari kembali bekerja. Tak lupa ia mengatakan pada Mentari bahwa nanti ia yang akan mengantar Mentari pulang dan juga mereka akan makan siang bersama sebentar.


Mentari yang sudah begitu kesal dengan sikap Zio yang suka seenaknya menciumi pipinya hingga membuat Mentari merasa jika dirinya adalah gadis rendahan pun sudah tidak sabar menunggu momen dimana ia akan mencabik-cabik bibir bagus Zio itu.


Tak lama setelah Mentari keluar dari ruangan Zio, Juan pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya karena masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Juan menatap sesaat pada Mentari yang saat ini telah menatapnya dengan perasaan bersalah lalu Juan melenggang pergi tanpa memberikan sepatah katapun atau senyuman manis seperti biasanya.


"Semua gara-gara Zio!" gumam Mentari kesal.


.


.


Sudah seminggu setelah Zio mengatakan di depan Juan dan Oliver jika dirinya adalah kekasih Mentari, semenjak hari itu juga sudah tidak ada lagi pesan manis yang masuk ke ponselnya dari Juan. Tidak ada lagi pria gila seperti Oliver yang mengejarnya dan selalu berkata jika Mentari adalah calon jodohnya. Tidak ada lagi kebersamaannya dengan Juan seperti hari-hari sebelumnya. Dunia Mentari tiba-tiba berubah. Dan apakah Zio sudah mengajaknya balikan, tentu saja belum karena pria itu terlalu sibuk bolak-balik keluar kota untuk mengurus bisnisnya.


Mentari menatap hampa ruangan Zio yang tertutup rapat karena sudah dua hari pria itu kembali ke luar kota untuk mengurusi beberapa bisnisnya yang bermasalah di sana ditemani Ramon. Zio sama sekali tidak memberi pesan pada Mentari ataupun meneleponnya.


Mentari mencoba untuk mendekati Juan, Ia membutuhkan teman bicara tetapi yang terjadi justru Juan kembali seperti saat pertama kali ia melihatnya -- datar dingin dan tidak peduli padanya.


Juan bukannya tidak tahu jika Mentari sedang mencoba untuk membangun lagi kebersamaan mereka, tetapi ia sadar dirinya tidak mungkin mendekati Mentari dan akhirnya ia terbawa perasaan lagi namun ujung-ujungnya ia akan merasakan patah hati karena Mentari adalah kekasih Zio.


Kegiatan Mentari di kantor terasa begitu menyakitkan. Tidak ada teman, banyak pekerjaan yang menumpuk namun tidak ada yang menyemangati. Dan begitu setiap harinya hingga Mentari merasa hidupnya tidak berwarna lagi seperti sebelumnya.


Pulang dari kantor ia memutuskan untuk membawa dirinya memasuki semua kafe, ia ingin merilekskan pikirannya dengan bersantai sejenak.


Sudah lama sekali Mentari tidak bersantai dan menghabiskan waktunya di kafe seperti ini karena di kantor barunya ia tidak memiliki teman akrab seperti di kantor lama milik Pak Santoso, dimana ia memiliki rekan-rekan kerja yang selalu mengajaknya keluar walaupun hanya untuk sekedar minum kopi saja.


Mata Mentari menyipit, ia melihat sosok yang sangat ia kenali -- Oliver sedang duduk di salah satu meja sambil tersenyum manis pada wanita cantik.


Mentari tersenyum, rupanya pria gila itu sudah mendapatkan wanita lain. Daripada Oliver mengharapkan dirinya yang sama sekali tidak memiliki perasaan lebih padanya, akan lebih baik seperti ini -- Oliver memilih wanita yang bahkan jauh lebih cantik dari Mentari.

__ADS_1


Setelah makanan dan minuman Mentari habis, setelah pikirannya terasa jauh lebih plong, Ia memutuskan untuk pulang. Mentari mengendarai motornya dengan santai walaupun saat ini sudah hampir Maghrib dan ia yakin sekali pasti kendaraan bertumpuk di jalan karena macet.


Saat sedang menunggu lampu berubah menjadi warna hijau, Mentari tak sengaja mengamati jalan dan melihat mobil yang tidak ia kenal tetapi ia mengenali orang di dalamnya karena kebetulan kaca mobil itu terbuka.


Mata Mentari memicing, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Di dalam mobil itu ada Zio yang katanya berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis tetapi Mentari justru melihatnya di jalan, di dalam mobil bersama seorang wanita cantik.


Dada Mentari bergemuruh, hatinya begitu sakit melihat pemandangan di mana Zio mencium wanita itu, mereka bahkan tidak pandang tempat dan sengaja membuka kaca mobil agar orang-orang melihat betapa mesranya mereka dan dengan tidak tahu malunya mereka berciuman di dalam mobil.


Ingin rasanya Mentari turun dari motor dan mendatangi Zio lalu meminta penjelasan dengan apa yang ia lihat barusan, tetapi bunyi klakson mobil di belakangnya membuat Mentari mengurungkan niatnya dan ia langsung melajukan motornya pulang. Mentari ingin mengikuti kemana Zio pergi tetapi hatinya terlalu sakit untuk itu.


Mentari melajukan motornya pulang ke rumah. ia ingin segera sampai di rumahnya dan menghabiskan waktu di kamar untuk menangis. Menangisi kebodohannya yang kembali percaya pada kata-kata cinta Zio padahal Ia sudah tahu kalau mantan kekasihnya itu merupakan Playboy sejati.


Mentari hampir melewati mamanya begitu saja yang bertanya mengapa ia lambat pulang. Ia hanya berhenti sebentar dan berkata jika ia merasa lelah dan tadi ia sempat makan di luar bersama teman-temannya untuk merayakan sesuatu. Padahal Ia hanya ingin menghindari mamanya malam ini yang selalu saja bertanya tentang Zio semenjak kebaikan Zio yang ia tunjukkan ketika papanya meninggal.


Mentari bahkan tidak keluar dari kamarnya hingga mamanya masuk kembali ke dalam kamar karena sudah mengantuk setelah menonton acara TV favoritnya.


Di dalam kamarnya saat ini Mentari sedang marah tetapi ia tidak bisa lagi menangis karena ia sudah pernah menangisi pria itu. Entah suatu keberuntungan pada Mentari, air matanya tidak menetes walaupun hatinya terasa sakit dan dadanya terasa begitu sesak.


Ia hanya marah dalam diam, mengutuk dirinya sendiri dan juga mengumpati Zio. Hanya saja semua ia lakukan di dalam hati dan tidak blak-blakan seperti dulu.


Lama Mentari merenungi kebodohannya itu, kemudian ia memutuskan untuk tidak mempedulikan Zio lagi walaupun hal itu tidak bisa ia lakukan dengan mudah. Ia sudah mulai menyusun rencana-rencana ketika nanti ia masuk kantor dan ketika Zio mendekatinya, maka Mentari akan bersikap biasa saja. Mungkin ia akan menimpali candaan atau rayuan Zio tetapi ia tidak akan memasukkannya ke dalam hati.


"Gue harus bisa membalas perlakuan Zio ke gue selama ini. Dia pikir enak dibohongi berkali-kali dan dibuat patah hati berkali-kali. Semuanya nggak enak Zio. Dan lu ... lu bakalan ngerasain balasan dari gue," gumam Mentari dengan begitu banyak tekad yang membakar suasana hatinya.


Mentari yang sudah bosan lama berbaring di tempat tidurnya dan menatap langit-langit kamar itu pun beranjak dari tempat tidurnya kemudian ia keluar untuk mengambil air minum dan mengisi perutnya yang sudah keroncongan karena kelamaan berpikir di dalam kamar.


Setelah Mentari mengisi perutnya dengan makanan, ia kemudian masuk kembali ke dalam kamar lalu duduk di depan cermin riasnya sambil menatap pantulan dirinya yang terlihat mengenaskan.


Sepertinya gue harus menggenapkan sembulan kerja gue disana dan biarin aja dia mau motong gaji gue sesuai ketentuannya yang lalu. Mulai sekarang kayaknya gue harus menulis surat lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan lain walaupun perusahaannya lebih kecil dari milik Zio. Tinggal seminggu lagi gue bekerja di sana dan sudah sampai satu bulan dan selama seminggu ini gue harus bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain biar gue nggak jadi pengangguran setelah keluar dari perusahaan Zio.


Mentari pun mulai mencari-cari lowongan pekerjaan melalui ponselnya, kemudian setelah Ia mendapat beberapa lowongan pekerjaan dari internet, Ia pun mulai menulis surat lamaran pekerjaan.


"Baiklah Mentari, hidup lu nggak cuma seputar soal cinta doang. Jodoh itu tak akan kemana, lu nggak perlu repot-repot untuk mempertahankan cinta yang terlalu nyakitin lu. Fokus lu saat ini hanya satu, ngebahagiaan diri lu dan nyokap lu. Semangat Mentari!"

__ADS_1


__ADS_2