CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 132


__ADS_3

Jari tangan Dini mulai bergerak, Bright yang terus menjaganya tanpa lelah bahkan pekerjaannya ia bawa serta ke rumah sakit langsung bergegas memanggil dokter dan suster yang berjaga. Ini adalah sebuah progres yang baik sebab sudah tiga hari Dini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


Bright kemudian kembali masuk dan menunggu petugas medis datang menghampiri. Ia juga memperhatikan kembali jari-jari Dini semakin aktif bergerak hingga tanpa sadar air mata Bright jatuh di pipi.


Beberapa saat kemudian datanglah dua perawat dan satu dokter yang memang bertugas menangani Dini serta kebetulan ia sedang berada di jam piketnya. Dokter tersebut pun mulai memeriksa keadaan Dini dengan teliti.


"Ini sebuah kemajuan dan dalam beberapa menit kemudian pasien pasti akan membuka matanya. Detak jantungnya sudah kembali normal begitupun dengan janin yang juga sehat dan tumbuh dengan baik di dalam rahim sang ibu," ucap dokter tersebut menjelaskan dan betapa bahagianya Bright mendengar kabar tersebut.


"Syukurlah. Tapi, bagaimana bisa bayi kami berkembang dengan baik sedangkan ibunya tidak mengonsumsi makanan, Dokter?" tanya Bright penasaran dan juga heran.


Dokter pun menjelaskan jika sangat mungkin mempertahankan aliran darah ke rahim dan plasenta pada saat kondisi ibu sedanh koma. Selama tekanan darah sang ibu normal dan jantung bekerja dengan sangat baik, perfusi (proses dimana darah deoksigenasi mengalir ke paru dan mengalami reoksigenasi atau dapat dikatakan sebagai sirkulasi darah di dalam pembuluh kapiler paru) plasenta akan cukup untuk bayi di dalam kandungan. Janin akan terus tumbuh sampai waktu optimal yang ditentukan untuk persalinan walaupun saat itu ibunya masih dalam keadaan koma.


Walaupun sedikit banyak tidak paham dengan ucapan dokter tersebut, Bright hanya mengangguk-angguk kepalanya mencoba untuk meyakinkan dokter tersebut jika ia memahaminya.

__ADS_1


Mereka pun kembali fokus menatap Dini yang matanya perlahan-lahan mulai terbuka. Tetapi, karena pencahayaan yang menusuk indera penglihatannya itu, Dini kembali menutup matanya dan ia mulai menyesuaikan cahaya yang masuk dan ia akhirnya berhasil membuka kedua matanya.


"Haus ...," lirihnya, suster yang berada di sampingnya pun dengan cepat memberikannya minuman yang sudah tersedia di atas meja yang sewaktu-waktu pasien bangun lantas ia meminta air minum. Dini hanya meminum sedikit saja hanya sekadar membasahi tenggorokannya.


Bright langsung mendekat ke arah Dini dan mulai terisak memeluknya. Dini merasa heran tetapi ada rasa syukur karena Bright memeluknya tanpa embel-embel mengingat sosok Mentari.


"Bright aku dimana?" tanya Dini yang sebenarnya tahu ia berada di rumah sakit hanya saja ia ingin memastikan apa yang terjadi hingga ia dirawat di rumah sakit.


"Ini semua salahku, amor. Jika aku tidak egois maka kamu tidak akan berada di rumah sakit dan koma berhari-hari. Terima kasih sudah kuat dan memperhatikan bayi kita," ucap Bright dan Dini sedikit tidak paham namun melihat Bright yang sangat sedih dan terlihat menyesal, Dini pun langsung memaafkannya.


Dalam hati Dini terus bertanya-tanya apakah Bright sungguh-sungguh dengan ucapannya atau hanya karena ada dokter dia memainkan sandiwara agar mereka percaya dengan apa yang tengah terjadi. Tetapi untuk apa juga Bright berusaha meyakinkan mereka? Tidak ada untungnya sama sekali dan Dini juga merasa ini bukanlah tentang pencitraan.


Dokter mengambil alih suasana, ia meminta izin untuk memeriksa keadaan Dini. Mulai dari memeriksa tekanan darah, detak jantung dan juga yang lainnya hingga akhirnya ia berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Dokter tersebut pun berpamitan keluar dan memberikan ruang bagi pasangan suami istri — sepengetahuan mereka demikian padahal Dini dan Bright sama sekali tidak terikat hubungan pernikahan.


Setelah dokter dan perawat pergi, Bright pun duduk di atas ranjang pasien untuk menemani Dini. Ia menggenggam tangan Dini dan tersenyum manis pada wanita yang sudah ia buat koma beberapa hari ini.


"Maafkan aku, amor. Aku tahu ini kesalahanku dan aku yang terlalu naif serta obsesimu sudah sangat tidak wajar hingga membuat kamu dan bayi kita hampir tiada. Maafkan aku. Setelah ini aku ingin kita membuka lembaran baru. Kita akan menegaskan status hubungan kita dan mari kita bersama-sama membangun rumah tangga yang bahagia. Menanti kelahiran bayi kita dan membesarkannya bersama-sama. Aku berjanji tidak akan lagi menyakiti. Aku khilaf dan aku sadar semua yang aku lakukan hanya akan menyakiti kita bertiga. Apakah kamu mau memaafkan aku?"


Air mata Dini menerobos keluar tanpa permisi. Ia begitu terharu dengan ucapan Bright dan dengan antusias ia menganggukkan kepalanya. Dini benar-benar merasa terharu dan bahagia. Ia berharap ini bukanlah mimpi dan jika pun ini adalah sebuah mimpi, ia tidak ingin bangun bahkan sampai ia mati.


"Apakah ini bukan mimpi?" tanya Dini saat Bright memeluk erat tubuhnya.


Bright menggeleng. "Ini bukanlah mimpi, amor. Aku memang ingin kita kembali menjadi pasangan dan memulai semuanya dari awal. Kita akan hidup bahagia setelah ini. Apakah kamu bersedia?" ucap Bright dan Dini langsung membalas dekapa erat Bright.


"Aku bersedia. Sangat bersedia, Bright. Terima kasih karena kamu kembali menerima aku. Maafkan aku Bright, aku juga telah bersalah padamu," isak Dini dalam dekapan erat Bright.

__ADS_1


__ADS_2