CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~36


__ADS_3

Juan terus memperhatikan Mentari yang sadari tadi terus senyum-senyum sendiri sambil menikmati makanannya setelah kembali dari toilet. Mentari menjadi aneh, ia lebih banyak tersenyum dibandingkan sebelumnya. Entah apa yang sudah terjadi tadi di sana, Juan tidak tahu dan ia tidak ingin mencari tahu karena tidak ingin dianggap sibuk dengan urusan Mentari.


Saat Juan sedang menikmati makanannya juga menikmati senyuman Mentari, ponselnya berdering. Ia terkejut karena nomor ini sangat jarang menghubunginya, namun walau bagaimanapun Ia tetap harus menjawab panggilan tersebut.


"lu di mana?"


"Di kantin Kak, ada apa?" tanya Juan gugup.


"Habis makan ke ruangan gue cepat."


"Baik kak."


Juan menatap ponselnya yang sudah menggelap karena panggilan itu diputus sepihak. Sangat jarang kakaknya itu meneleponnya dan selalu saja berakhir dengan panggilan yang diakhiri tanpa pemberitahuan sekalipun.


Juan hanya bisa menghela napas pasrah, memang sudah seperti itu nasibnya dan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membela dirinya atau meyakinkan sang kakak jika ia tidak seperti yang selama ini dituduhkan.


"Siapa?" tanya Mentari begitu melihat Juan menjadi murung setelah mengangkat telepon.


"Kakak gue. Lu udahan makannya?" tanya Juan setelah melihat piring Mentari kosong


Mentari mengangguk, ia kemudian mengajak Juan pergi karena makanan Juan sedari tadi sudah lebih dulu habis karena ia meninggalkan Juan ke toilet sebentar.


Juan dan Mentari pun meninggalkan kantin, namun kali ini Juan mengatakan jika ia tidak bisa mengantar Mentari sampai ke ruangannya karena ia memiliki urusan yang lebih penting untuk segera ia kerjakan.


Mentari hanya mengiyakan saja, lagi pula ia tidak butuh untuk diantar sampai ke ruangannya karena ia bisa pergi dengan sendirinya.


Juan merasa lega karena Mentari tidak marah atau kecewa dengan dirinya yang tadi datang untuk menjemput namun pulang ia tidak mengantarnya. Mentari terkekeh, ia mengatakan jika mereka masih satu kantor dan Juan tidak perlu bersikap seperti itu padanya, ia tidak suka sesuatu yang berlebihan.


Setelah sampai di mejanya, Mentari kembali melanjutkan pekerjaannya. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan karena setumpuk dokumen yang diberikan oleh Ramon baru dia kerjakan beberapa saja karena Zio tadi terus mengganggunya.


Memikirkan Zio, Mentari kembali teringat dengan mantan kekasihnya yang tadi menyatakan cinta di depan toilet wanita dan mengajaknya untuk balikan. Mentari jadi senyum-senyum sendiri, tidak pernah ia bayangkan jika ia akan kembali menjalin hubungan dengan Zio.

__ADS_1


"Apa ini alasan Zio memutuskan dua pacarnya itu? Apa karena dia mau balikan sama gue?" tanya Mentari pada dirinya sendiri.


Takut terlalu berharap, Mentari menepis pemikirannya tersebut. Bisa saja dia juga hanya ingin mempermainkannya karena ia bosan dengan Helena dan Bella. Mentari sudah pernah menjalin hubungan dengan Zio, ia tahu seperti apa sepak terjang mantan kekasihnya itu.


Nggak Mentari, lu nggak boleh percaya dengan kata-kata dia. Lagian lu juga nggak usah balikan lagi sama dia karena lu tahu sendiri dia orangnya sangat Playboy dan juga dia sudah menebar benih sana-sini. Masa iya gue yang masih perawan harus mengakhiri keperawanan gue dengan cowok yang sudah celup-celup sana sini. Nggak, nggak boleh. Masih banyak cowok lain yang lebih baik daripada Zio meskipun gue sayang sama dia.


Hati yang pikiran Mentari saling berperang, di satu sisi pikirannya menolak untuk menerima Zio sedangkan hatinya masih begitu mencintai sang mantan. Ternyata cinta di hati Mentari itu tidak ada tanggal expirednya, meskipun sudah lama berakhir ternyata cinta itu belum juga kadaluarsa.


Harusnya setelah ditinggal ketika patah Hati dan juga diakhiri karena sakit hati, cinta di hati Mentari sudahlah harusnya lama berlalu. Namun sampai detik ini cinta itu masih bertahta di hatinya dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk menghilangkannya. Walaupun saat ini dia mengatakan masih mencintainya dan juga ingin mengajaknya kembali menjalin kasih, Mentari seolah tidak siap karena ia tidak ingin menjadi wanita yang kembali disakiti sebab ia tahu mantannya itu sangat suka berkencan dengan banyak wanita.


Mungkin dia cuma penasaran sama gue karena dia belum pernah nyentuh gue. Ya, mungkin itu alasannya kenapa Zio ngajak gue balikan. Mending gue buang jauh-jauh perasaan gue ke Zio karena gue nggak mau dibuat hancur lagi sama dia.


Saat Mentari sedang sibuk membatin, ia tak sengaja melihat Juan berjalan ke arahnya. Mentari langsung memasang senyuman manis, tetapi Juan hanya menyapanya sebentar kemudian ia mengetuk pintu ruangan Zio.


"Oh, mungkin dia ada keperluan dengan bos," gumam Mentari karena Juan sama sekali tidak mengajaknya berbicara atau berbasa-basi lebih dulu. Hanya sebuah senyuman manis lalu berlalu begitu saja.


Juan memasuki ruangan Zio, ia langsung diajak duduk di sofa oleh Zio dan Oliver. ketiga pria itu kini saling bertatapan, belum ada yang ingin membuka suara.


"Sebenarnya kak Zio memanggil aku datang ke ruangan ini untuk apa?" tanya Juan penasaran


"Begini, lu 'kan yang paling dekat sama kakek, dia bakalan bawa perempuan buat dijodohin di antara kita bertiga dan apakah lu mau menerima perjodohan itu?" tanya Zio


"Iya, soalnya kalau gue nggak bisa karena gue udah punya pilihan sendiri," tolak Oliver


Juan kini mengerti maksud dari Zio menelponnya dan memintanya untuk datang ke ruangannya. Rupanya Kakek mereka sudah menyiapkan wanita untuk dijodohkan dengan salah satu dari mereka, tetapi dua kakaknya ini malah menolak.


"Tapi kenapa harus saya? Bukankah saya yang paling adik, nanti jika saya menikah maka kalian berdua akan dilangkahi" ucap Juan, sejujurnya ia menolak secara halus karena ia sudah memilih Mentari untuk menjadi kekasihnya walaupun belum ia ungkapkan secara langsung.


Zio dan Oliver saling berpandangan, mereka membetulkan ucapan Juan dalam hati. Oliver saja yang lebih tua beberapa tahun dari Zio dan Juan, tidak mungkin ia dilangkahi untuk menikah sebab usianya bahkan sudah masuk usia menikah. Begitupun dengan Zio, ia tidak mungkin dilangkahi oleh Juan karena nanti bisa-bisa anak Juan yang akan mengambil seluruh kepemimpinan di perusahaan ini.


"Gini aja deh, lu pdkt-in aja, terus kalau lu nggak suka ya tinggal putusin lah," ceplos Zio yang langsung mendapatkan pukulan pelan di kepalanya dari Oliver.

__ADS_1


Rasanya Zio ingin membalas pukulan kakaknya tersebut tetapi saat ini bukan waktunya untuk baku hantam. Juan sendiri hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Oliver dan Zio yang memang sejak dulu selalu seperti ini di mana Oliver selalu menindas Zio dan Zio Tidak Bisa membalasnya.


"Lu gila ya? Cewek itu pilihan kakek, kalau sampai dipermainkan seperti itu, kita yang bakal dapat dampaknya dari kakek. Emang lu mau?" omel Oliver yang membuat Zio terbungkam.


"Kenapa bukan kak Zio saja, bukan kak Zio yang paling mahir dalam mengurus wanita?" usul Juan memberanikan diri.


Zio tersenyum, Ia memang paling ahli dalam urusan wanita namun kemudian Ia menggeleng. "Nggak bisa, gue udah balikan sama Mentari jadi mana mungkin gue nerima cewek lain!"


"What?"


"Apa?"


Oliver dan Juan sama-sama memekik begitu mendengar jika Zio sudah kembali berpacaran dengan Mentari. Oliver sangat tidak menyangka, Ia yang ingin berjuang untuk Mentari namun mengapa tiba-tiba Mentari sudah kembali berpacaran dengan Zio?


Begitupun dengan Juan, ia yang baru saja ingin mengatakan perasaannya pada Mentari mendadak dibuat terhenti langkahnya setelah mengetahui jika Mentari memilih Zio lagi.


Jika keduanya begitu syok maka saat ini Zio begitu senang melihat keterkejutan di wajah dua saudaranya ini. Ia sangat senang karena berhasil memukul mundur dua pria tampan yang menjadi rival terberatnya. Dalam hati ia merasa jumawa karena setelah ia berhasil menyingkirkan Fardan yang nota benenya saingan paling kuat dari yang terkuat, ia sekarang ini berhasil lagi menghentikan langkah pria yang merupakan kandidat terkuat saat ini yang sedang mengejar Mentari.


"Lu jangan mengada-ngada, lu ngigau ya. Mentari mana mau balikan sama cowok Casanova kayak lu!" ejek Oliver.


Dalam hati Juan mengiyakan ucapan Oliver. Sebenarnya itu adalah pertanyaannya juga tetapi tidak mungkin ia tanyakan kepada Zio. Bisa-bisa ia akan mendapat amukan dari kakak yang selalu membuatnya sakit hati itu. Untung saja Oliver bisa membaca isi hatinya walaupun sebenarnya tidak seperti itu karena Oliver memang ingin bertanya hal demikian.


"Ya bisalah, tanya aja sendiri sama Mentari di luar," ucap Zio merasa percaya diri padahal sejujurnya Mentari tadi menolaknya.


Zio sengaja mengatakan jika ia sudah balikan dengan Mentari dan begitu percaya dirinya ia menyuruh Juan dan Oliver bertanya kepada Mentari. Hal itu sebenarnya hanya sebuah gertakan agar mereka percaya dengan kata-katanya. Mana mungkin dia mengatakan jika ia tadi ditolak oleh Mentari secara mentah-mentah.


"Jadi apakah ini alasan Mentari sepanjang makan di kantin dia terus senyum-senyum tidak jelas?" gumam Juan, terjawab sudah apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya karena melihat Mentari yang kembali dari toilet justru terus memasang senyuman manis.


Gumaman Juan tersebut tak sengaja terdengar oleh Oliver dan juga Zio. Oliver begitu terkejut karena ternyata benar apa yang dikatakan Zio sedangkan Zio merasa senang karena ada Juga yang membantunya untuk memuluskan kebohongannya, walaupun Juan tidak bermaksud demikian.


"Nah itu lu tahu Juan. Dan lu bro, lu udah denger sendiri 'kan dari Juan. Masih berani nggak percaya lu sama gue? Sana lu keluar, tanya langsung sama Mentari kalau masih belum percaya!" ucap Zio dengan begitu bangga dan terkesan arogan.

__ADS_1


"Gue tetap nggak percaya!" ucap Oliver sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Merasa kesal dengan Oliver yang tidak mau percaya dengan kebohongannya, Zio langsung mengambil telepon di atas meja kerjanya dan menghubungi Mentari. Tak lama kemudian Mentari mengetuk pintu dan Zio menyuruhnya untuk masuk.


__ADS_2