
Juan membawa Mentari ke lorong yang cukup sepi karena jam istirahat sudah hampir habis. Sebenarnya Mentari tidak ingin berlama-lama karena ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya akan tetapi ia menghargai Juan, apalagi jika nanti ia dan Zio berjodoh maka pria ini akan menjadi adik iparnya.
Mentari juga bertanya-tanya kemana perginya perasaannya yang sudah menyatakan bahwa Juan adalah calon belahan jiwanya?
Ia heran karena perasaan menggebu-gebu itu cepat sekali berlalunya dan ia bahkan melihat Juan seperti biasa saja, sangat berbeda dengan saat pertama kali ia bertemu. Padahal dulu Mentari suka deg-degan kalau bertatapan dengan pria tampan yang dulunya terlibat sangat cuek dan dingin itu.
"Ada apa?" tanya Mentari menyudahi penyelidikannya terhadap perasaannya sendiri karena ujung-ujungnya pun ia menyadari bahwa ia memang sejak dulu hingga kini hanya jatuh cinta pada Zio saja.
Sangat wajar jika ia kehilangan rasa pada pria lain dengan cepat karena memang selama ini hatinya cuma mencintai pria yang sama dan satu-satunya begitu lama bertahta di hatinya.
"Itu ... gue cuma mau tahu gimana hubungan lu sama kakak gue? Lu masih bertahan atau udahan?" tanya Juan.
Mentari memicingkan matanya, ia sedikit tidak suka dengan pertanyaan Juan yang seolah berharap hubungannya dengan Zio berakhir. Namun Mentari tidak ingin menuding, mungkin saja Juan memiliki tujuan lain dan tidak seperti yang ia pikirkan.
"Masih, bahkan kami berniat melarikan diri dan kawin lari," jawab Mentari, ia hanya ingin mengetahui seperti apa reaksi Juan.
Benar saja, pria itu memekik terbata-bata. Ia kaget bukan main mendengar jawaban Mentari. Ia bukan tidak senang dengan hubungan Mentari dengan sang kakak, hanya saja ia terlanjur jatuh cinta pada gadis ini dan ia takut Mentari nantinya akan patah hati.
Walaupun itu adalah kesempatan untuk Juan, akan tetapi ia pasti akan sakit dan sedih jika melihat orang yang ia cintai juga terluka. Juan tidak sejahat itu bersenang-senang diatas duka yang dirasakan oleh Mentari.
"Kakek bukanlah orang yang mudah untuk diluluhkan. Kami semua tidak ada yang berani menengtangnya. Semalam kak Zio nggak pulang dan gue yakin dia bakalan berada dalam masalah kalau sampai berlarut-larut membenci kakek. Gue nggak mau nyakitin perasaan lu, gue juga nggak mau minta lu buat ninggalin kak Zio, tapi gue hanya peduli sama lu Mentari. Gue nggak mau lu dan kak Zio terluka dan saling melukai," ucap Juan panjang lebar sebab ia memang peduli.
__ADS_1
Mentari menyimak baik-baik ucapan Juan barusan. Ia juga tahu jika Zio semalam tidak pulang ke rumah mereka. Namun hati kecilnya juga terketuk, ia tidak ingin karena dirinya maka keluarga Zio dalam masalah apalagi mereka sampai saling memusuhi. Mentari tentu tidak ingin hal tersebut terjadi.
Namun hatinya sangat berat untuk meninggalkan Zio. Dia sudah pernah menangisi Zio selama tiga tahun dan selama itu pula ia gagal move on dan ketika mereka kembali menyatu dan berniat serius hingga ke pelaminan, sayang sekali badai datang menghantam hubungan mereka. Walau ia tahu Zio tetap berjuang dan berusaha untuk mereka, tetapi jika semua menentang atau semua tidak bisa membantu maka Mentari bisa apa selain merelakan saja hubungan mereka berakhir tragis.
Mentari tersenyum kepada Juan, "Semua sudah ada yang mengatur. Entah berjodoh atau bukan yang penting kami sudah berusaha dan sisanya tinggal Tuhan yang mengatur. Gue balik dulu ya, pekerjaan masih banyak soalnya," jawab Mentari berusaha diplomatis walau saat ini ia ingin berkoar kalau ia akan segera pergi dan kemungkinan akan tetap berjuang bersama Zio.
Mentari melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, Juan kembali memanggilnya. Mentari tidak berbalik, ia hanya menghentikan langkahnya saja sebab ia tidak ingin bersitatap dengan Juan yang akhirnya akan membuatnya sedih dan kesal dalam waktu yang bersamaan.
"Mentari, seandainya nanti hubungan lu sama kak Zio nggak berakhir indah, lu cari gue Mentari. Lu harus tahu kalau ada gue yang akan selalu nungguin lu. Datang ke gue, cari gue kalau lu udah lelah dan ingin berhenti berjuang dan butuh sandaran. Gue punya bahu yang kokoh untuk lu bersandar," teriak Juan yang membuat Mentari terkejut. Namun ia kembali melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Juan.
Sebenarnya Mentari peduli, ia sangat peduli dengan ucapan Juan hanya saja ia tidak ingin membahasnya saat ini sebab pekerjaannya sangat penting dan sudah menunggu.
Mentari kembali sibuk dengan pekerjaannya. Tinggal sedikit lagi, ia begitu serius hingga terkejut ada seseorang yang mengetuk meja kerjanya.
"Zio ada di dalam?" tanya Dini dengan gaya angkuhnya.
Mentari mengangguk kemudian ia mengiyakan. Jika diperhatikan lagi Dini ini jauh lebih cantik dibandingkan Helena dan Bella. Hanya saja sikap arogannya membuat Mentari begitu tidak suka kedatangannya.
Dini langsung masuk begitu saja tanpa sempat Mentari menghubungi Zio sebagai atasannya dan mengabarkan jika ada tamu.
"Zio sayang," panggil Dini begitu ia melihat Zio sedang sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Merasa tidak asing dengan suara tersebut, Zio pun menoleh dan kaget karena mendadak sudah ada Dini di ruangannya.
"Mau apa lu?" sentak Zio. Ia tidak senang dengan kedatangan Dini sebab ia sedang bekerja keras untuk hidupnya dengan Mentari kelak.
Tak mengindahkan pertanyaan Zio, Dini justru langsung berjalan ke samping Zio. Ia hendak memeluk Zio tetapi pria itu segera menghindar. Dini menjadi sedikit kesal juga keki karena Zio mengindar dan kini justru menekan nomor dan menelepon seseorang dari telepon kantor.
"Ke ruanganku sekarang," ucap Zio dan yang ia telepon hanya bisa menghela napas.
Sejujurnya Mentari sangat malas dengan semua ini namun ia tahu saat ini Zio sedang meminta perlindungannya atau ingin agar ia tidak berpikir macam-macam saat Dini berada di ruangan ini beruda dengannya.
Ceklek ....
Zio langsung memanggil Mentari dan meminta kekasihnya itu untuk mendekat.
"Ada apa Pak?" tanya Mentari.
"Bantu aku mengerjakan berkas-berkas ini disini," jawab Zio melirik ke arah tumpukan berkas tersebut namun ia tahu berkas itu tidak perlu di kerjakan lagi sebab ia yang sudah menyelesaikannya.
Mentari tahu betul jika ini semua akal-akal Zio agar ia dan Dini tidak berduaan dengannya sedang Mentari mungkin saja akan menaruh rasa curiga padanya.
__ADS_1
Zio ingin cari aman saja sekaligus ingin agar Dini tidak nekat dan berbuat macam-macam.
"Zio, kenapa ada dia? Kita 'kan mau berduaan katamu tadi?" tunjuk Dini pada Nurul yang membuat Zio kesal.