
"Ada apa papi datang ke kantor ini?" tanya Zio to the point begitu papinya duduk di sofa di samping Zio dan keduanya langsung bertatapan.
Danu terkekeh, sepetinya memang benar jika Zio sedang menghindari keluarganya. Dia terlihat sangat waspada dengan kedatangan mereka ke kantor dan begitu menjaga agar mereka tidak mengusik hubungannya dengan Mentari.
Danu sendiri bisa melihat jika Zio kali ini memang benar menjalin hubungan serius dengan Mentari. Wajar saja, gadis yang ditaksir Zio memang berbeda dengan para wanita yang biasa ia bawa ke berbagai acara.
Zio memang selalu menemukan wanita di setiap acara. Awalnya berkenalan biasa lalu melakukan flirting beberapa saat sebelum ia berhasil mengajaknya berkencan di atas tempat tidur.
Semuanya diketahui oleh Danu karena walau bagaimanapun ia akan tetap memantau tingkah laku anaknya itu. Sejak zaman kuliah dimana Zio dilarang keras mengaku sebagai pewaris dari keluarga Ar-Rasyid saja sudah banyak wanita yang menjadi pengagum garis kerasnya, ditambah kepandaian Zio dalam hal flirting tentu saja membuat Danu ekstra mengawasi. Ia takut jika ada oknum yang menyalahgunakan kebebasan Zio untuk menjebaknya dan meminta pertanggung jawaban.
"Kenapa? Papi tidak boleh berkunjung ke kantor ini? Kau saja tidak datang mengurus perusahaan yang sedang papi pegang. Juan pun begitu, apalagi Oliver. Papi hanya ingin mengunjungimu karena kau tidak ikut sarapan dan kata mami kau tidak berada di rumah sejak semalam. Ada apa?"
Danu selalu tahu cara mendekati anaknya ini. Ia selalu bisa membuat Zio merasa senang berbicara dengannya dibandingkan dengan maminya. Danu memposisikan dirinya sebagai ayah sekaligus teman yang asyik diajak mengobrol dan curhat berbagai hal. Namun disamping itu ia juga tetap menerapkan ketegasan dan kedisiplinan untuk semua anak-anaknya.
Zio membuang muka, ia sebenarnya yakin sekali jika papinya datang untuk mengecek Mentari. Akan tetapi Zio tidak mungkin bersikap tidak sopan pada pria yang selalu memberinya semangat dan dukungan dalam menjalani kehidupannya ini.
"Ya enggak juga Pi. Hanya saja pasti papi sudah tahu lah kenapa Zio nggak ikut sarapan dan nggak ada di rumah," jawab Zio.
Danu terkekeh, "Jadi benar kamu sedang merajuk? Kamu protes sama kakek?" tanya Danu masih mengisahkan tawa di bibirnya.
Zio mengerucutkan bibirnya, "Jelas dong Pi. Ini sudah zaman modern walau Zio tahu tidak sedikit pasangan produk perjodohan yang berhasil dan berujung dengan jatuh cinta. Tapi Pi, Zio punya pilihan sendiri dan Zio udah jaga Mentari bertahun-tahun Pi," ucap Zio mengemukakan isi hatinya. Hanya pada pria ini Zio percaya bahwa curhatnya tidak akan sia-sia.
__ADS_1
Danu terkejut mendengar ucapan Zio barusan. Bagaimana mungkin Zio yang suka bermain dan berolah raga di ranjang itu bisa menjaga seorang wanita. Sangat mustahil, akan tetapi wajah anaknya ini begitu serius. Danu cukup kagum dengan gadis yang berhasil membuat Zio bertekuk lutut bukan karena kemolekannya atau kelincahannya memuaskan, melainkan membuat Zio jatuh cinta dan mampu menahan hasratnya. Danu semakin penasaran pada sosok Mentari.
"Yang benar kamu? Bukannya selama ini kamu selalu bermain dengan wanita bahkan yang baru kamu kenal sekalipun? Sangat mustahil jika kamu tidak pernah menyentuhnya," tuding Danu, ia hanya ingin memastikan sekali lagi.
Zio mengangguk pasti, ia juga mengatakan jika papinya boleh membawa Mentari ke rumah sakit untuk mengecek keperawanannya jika masih tidak percaya.
Plaakk ...
"Kau pikir papi ini gila sampai harus membawa kekasihmu untuk melakukan pemeriksaan keperawanan!" sungut Danu tidak habis pikir dengan ide gila yang keluar dari mulut Zio.
Zio mengusap kepalanya yang terasa panas, selain Mentari, hanya papinya saja yang selalu memperlakukannya seenak jidat.
Wajah Zio terlihat sangat meyakinkan sehingga Danu langsung percaya padanya. Ia tidak pernah meminta Zio bersikap seperti ini sebelumnya terhadap seorang gadis. Apalagi ia benar-benar mempertahankan dan juga berani menentang keluarganya khususnya sang kakek yang titahnya tidak bisa dibantah sama sekali.
Zio bahkan memilih kabur dari rumah walaupun Danu tahu jika putranya itu memiliki apartemen. Akan tetapi semarah apapun Zio, dia pasti akan tetap mematuhi maminya dan juga kakeknya. Ini untuk yang pertama kalinya dan Danu tahu Zio sangat bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan hubungannya dengan Mentari.
"Sebelumnya papi mau tanya, kenapa kau tidak tertarik sama calonmu itu? Dia itu cantik," tanya Danu penasaran.
Zio tersenyum kecut, "Dia itu sama kayak Zio, Pi. Dia itu pemain, walau tipis-tipis dan Papi harus tahu kalau Zio emang nggak mau yang lain sejak Zio pacaran sama Mentari waktu kuliah. Zio udah target kalau Mentari yang akan jadi istri Zio kelak!"
Danu tentu terkejut, ia tidak menyangka cucu dari Harun Vindex ini memiliki sepak terjang yang tidak kaleng-kaleng khususnya di dalam pergaulan bebas. Walau bagaimanapun ia tentu saja tidak ingin memiliki menantu yang memiliki nilai minus apalagi yang sudah terjebak dalam pergaulan bebas. Ia akui Zio bukanlah lelaki sempurna dan banyak kekurangan juga keburukan. Akan tetapi ia tidak ingin menjodohkan anaknya dengan wanita yang memiliki kehidupan sama persis seperti Zio. Akan jadi seperti apa nanti cucunya kelak.
__ADS_1
Jika membahas mengenai Mentari, Danu sendiri yang akan turun tangan langsung untuk mendekati gadis itu dan mencari tahu secara langsung seperti apa sikap dan sifat asli Mentari. Untuk hal itu, Danu memiliki caranya sendiri.
"Kau jangan mengada-ngada Zio. Dia itu cucunya Harun Vindex, tidak mungkin sampai terjun ke pergaulan bebas sepertimu," ucap Danu mencoba untuk tidak terpengaruh padahal ia yakin jika itu Zio yang mengatakan maka akan sangat besar kemungkinannya semua itu adalah fakta.
Zio mengibaskan tangannya, "Zio nggak sembarang ngomong ya Pi. Zio ini sudah berpengalaman dan sudah malang melintang dalam dunia peranjangan, Zio tahu lah seperti apa Dini. Lagi pula dia juga mantan Zio waktu SMA. Udahlah, nggak usah bahas dia, bikin rusak mood aja," ucap Zio.
Danu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya sekali lagi ia ingin menggeplak kepala Zio karena begitu bangga mengatakan jika ia sudah malang melintang di dunia peranjangan. Sungguh, Danu tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya yang dirinyw saja tidak pernah melakukan itu semasa remaja hingga menikah dan punya dua anak.
Dan mengenai ibunya Juan, sebenarnya itu adalah sebuah kesalahan dan ketidaksengajaan belaka namun berujung fatal dan akhirnya hadirlah Juan di dunia ini.
Namun untuk menjadi pemandu tour ranjang panas, tentu saja itu tidak pernah dilakukan oleh Danu.
"Begini saja, coba sekali lagi yakinkan kakekmu jika kau tidak ingin menikahi Dini. Berikan dia alasan yang kuat beserta bukti jika memang kau memiliki bukti keburukan Dini. Papi tidak bisa membantumu jika itu urusannya dengan kakek karena kau tahu sendiri bahkan kakekmu itu tidak bisa dibantah. Jadi kali ini silahkan kau berusaha sendiri."
Zio menghela napas, "Aku malas berhadapan dengan kakek. Mending aku bawa Mentari kabur saja! Kawin lari!"
Plaakk ...
"Sampai kau berani membawa kabur anak orang, papi bakalan sunat dua kali kamu! Biar sekalian kamu tidak bisa ninaninu sama siapapun lagi. Jangan macam-macam Dimas Ezio Rasyid!" ancam Danu dan Zio refleks langsung menutupi miliknya sambil membayangkan bagaimana nanti nasibnya bila miliknya habis dipotong.
Ih ngeri juga ya! Masa depan gue dan Mentari ini mah, jangan sampai habis tak bersisa.
__ADS_1