CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~89


__ADS_3

Dua hansip dan dua lagi warga yang ikut patroli RT malam itu langsung memasuki pekarangan rumah Mentari. Apalagi pintu rumah itu terbuka lebar, mereka jadi makin penasaran. Dalam pikiran mereka Mentari tidak sedang melakukan hal buruk melainkan mungkin saja ada hal buruk yang terjadi. Dengan langkah lebar mereka sampai ke teras dan memberi salam dengan suara yang tidak begitu besar.


Mentari yang sedang bersandar di bahu Zio dibuat kaget dengan kedatangan empat orang tersebut. Ia dan Zio langsung terkesiap, bagaikan orang yang baru saja kedapatan melakukan kejahatan.


"Maaf neng Tari, kami melihat ada mobil pacar neng Tari di depan dan pintunya terbuka lebar. Kami mengira ada masalah," ucap Pak Urip, salah satu warga yang memakai seragam hansip.


Mentari menghapus jejak air matanya itu kemudian ia tersenyum. "Tidak kok Pak, tidak ada masalah sama sekali," jawab Mentari.


"Tapi maaf kata nih neng Tari, ini itu sudah lewat tengah malam dan kalian berdua-duaan. Jika tidak ada masalah apa mungkin kalian yang membuat masalah. Kita tidak ingin berprasangka buruk tetapi kalian berduaan dan bukan pasangan menikah, kalian pasti tahu apa yang kami maksud," timpal pak Sahar, hansip yang satunya lagi.


Dan dua orang lainnya yang diketahui bernama pak Hajar dan Pak Rudi pun turut menimpali. Mereka tidak berkata kasar, buruk atau mengecam. Justru mereka bertanya baik-baik dan tidak menekan keduanya.


Mentari menjelaskan kembali jika mereka tidak melakukan apa-apa. "Pak, jika saya dan Zio berniat melakukan perbuatan yang melanggar norma asusila, yang pertama pasti mobil Zio akan diparkir jauh biar nggak ada yang curiga. Yang kedua, pintu rumah nggak mungkin saya biarin terbuka lebar kayak gitu, 'kan Pak. Dan yang ketiga, nih kami cuma duduk di ruang tamu doang. Harusnya 'kan di kamar ya kalau mau ninaninu."


Keempat warga tersebut pun mengangguk mengiyakan ucapan Mentari. Tidak terlihat adanya tanda-tanda pasangan kekasih ini telah berbuat mesum ataupun baru akan melakukannya. Apalagi mereka sangat mengenal Mentari yang sangat jarang membawa teman pria dan mereka hanya mengenal Zio saja semenjak meninggalnya Rama, papa Mentari.


Zio sendiri memilih diam menyimak. Ia baru akan membela jika mereka bertindak tidak wajar tetapi dari yang ia lihat, tetangga Mentari ini justru sangat ramah dan begitu perhatian. Akan tetapi karena iseng dan terbesit niat terselubung di pikiran Zio, ia pun bertanya kepada keempat orang tersebut.


"Lalu Pak, kami 'kan tidak melakukan apapun nih ya ... memangnya apa yang akan terjadi jika ada warga yang kedapatan melakukan tindakan asusila? Biasanya diapain tuh?" tanya Zio, senyuman tipis terukir di bibirnya.

__ADS_1


Dengan cepat Pak Hajar menjawab, "Biasanya akan langsung kami nikahkan detik itu juga. Siap nggak siap mah harus nikah."


"Nah benar, entah mereka benar melakukan hubungan terlarang atau tidak ya kami tetap akan menegakkan hukum yang berlaku di lingkungan ini. Tapi beda kasus dengan neng Tari yang memang tidak memperlihatkan tanda-tanda melakukan tindakan asusila. Pintu rumahnya aja dibuka lebar, biar kami bisa tahu ya Neng kalau di rumah ada tamu," timpal Pak Rudi.


Mentari tersenyum, ia sangat suka dengan perangai para tetangganya yang tidak akan langsung menghujat. Ia menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan pak Rudi.


"Benar sekali Pak. Saya memang sengaja membuka pintu agar bapak-bapak yang lagi ngeronda bisa lihat pintu rumah saya kebuka dan biar nanti bapak-bapak bisa masuk dan melihat kalau kami sama sekali tidak melaku –"


Ucapan Mentari terpotong saat dengan cepat Zio menarik tengkuknya dan mencium bibirnya di depan keempat bapak-bapak tersebut.


Bukan hanya Mentari yang membulat sempurna matanya, tetapi dua hansip dan dua warga itu pun turut terkejut.


Dada Mentari terlihat naik-turun, jelas sekali ia sangat emosi saat ini. Baru saja ia akan kembali memarahi Zio, tetapi ucapan Zio selanjutnya justru membuat Mentari terbengang.


"Nah bapak-bapak sudah lihat sendiri 'kan, kami baru saja berciuman. Ayo Pak, nikahkan kami sekarang. Saya siap lahir batin." ucap Zio dengan senyuman mengembang di bibirnya, ia tidak peduli Mentari akan marah yang penting mereka menikah!


Empat bapak-bapak itu justru dibuat tidak bisa berkata-kata dengan apa yang baru saja terjadi. Roh mereka seolah ditarik keluar untuk beberapa saat kemudian dimasukkan kembali. Mereka mengerjapkan kedua mata mereka menatap Zio yang baru saja memberikan kejutan luar biasa.


Keempat bapak-bapak itu saling bertatapan, mereka seolah satu pemikiran. Lalu mereka menatap Zio dan Mentari secara bergantian.

__ADS_1


"Ehkmm ... begini Nak Zio, menikah itu bukan hal yang main-main. Dan saya juga teman-teman saya ini tidak bisa menikahkan kalian hanya karena nak Zio mendadak mencium neng Tari di hadapan kami. Jika memang ingin menikah ya disegerakan lah. Kalian bahkan bisa menikah dengan cara yang baik-baik, bukan di tangan hansip begini," ucap Pak Urip, ia jelas tahu hal ini sengaja dilakukan Zio.


Ucapan pak Urip diangguki oleh ketiga temannya termasuk Mentari. Tetapi Zio tidak ingin kehilangan momen ini, ia harus menikah malam ini walau di tangan hansip.


"Apa saya harus ninaninu di depan kalian agar segera dinikahkan? Oh ayolah Pak, jika bukan kalian yang menikahkan kami, maka saya yakin Mentari pasti akan menghindar lagi kalau saya ajak menikah," rengek Zio.


Mentari semakin membulatkan matanya mendengar ucapan Mentari. Mereka tadi baru saja merencanakan pernikahan tetapi Zio justru mengubah rencananya secepat ini dan lagi, Mentari bahkan tidak pernah berpikir akan menikah di tangan hansip.


"Eh, eh, bukan seperti itu juga Nak Zio. Kalian ini 'kan hubungannya baik-baik saja, jadi menikahlah dengan cara yang baik-baik. Anda seorang pria terhormat dan terpandang di kota ini, apa Anda tidak peduli dengan image Anda jika harus menikah di tangan hansip?" ucap Pak Hajar yang tidak habis pikir dengan kegilaan Zio.


Zio menghela napas, ia memasang tampang memelas agar empat orang ini membantunya. "Tapi Pak, saya hanya ingin mengikat Mentari. Ini bukankah hal yang baik, bisa saja setelah ini kami justru melakukan hal-hal yang semua pasangan inginkan. Nah, kalau sudah menikah 'kan aman, Pak," bujuk Zio tak ingin niatnya terhalang.


Mendengar ada keributan di luar, Maya yang terbangun karena kehausan pun keluar dari kamarnya dan melihat ada banyak orang di ruang tamu. Ia segera mendekat dan mengenali siapa saja yang tengah duduk sambil berdiskusi itu.


Melihat Maya mendekat, dengan cepat Zio berdiri dan menghampirinya. Belum sempat Maya bertanya, Zio langsung membuatnya terkejut dan hampir saja jatuh pingsan.


"Tante, maafkan saya tapi saya harus menikahi Mentari karena saya sudah membuatnya hamil. Tolong nikahkan kami segera."


"Dimas Ezio Rasyid!! Gue bunuh lu!!"

__ADS_1


__ADS_2