
Dari sudut lain, Juan yang memang bertugas sebagai bodyguard Mentari untuk sementara waktu dan ia yang sudah diberitahu tugasnya oleh Oliver dan Zio pun mulai beraksi. Ia pula tadi yang mengantar Mentari datang ke tempat ini dan mereka juga yang minta agar Mawar tidak turut serta. Semua ini sudah disusun secara rinci oleh Oliver dan Zio.
Juan sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari arah Mentari dan Bright. Bisa ia lihat bagaimana Bright menatap Mentari penuh cinta dan itu harus diwaspadai karena tugasnya adalah melindungi Mentari dari pria ini yang diketahui juga memiliki perasaan lebih terhadap Mentari, lengah sedikit saja mungkin akan berakibat fatal dan ia yang akan menerima imbasnya dari Zio.
Setelah selesai membahas tentang pekerjaan tersebut Bright menawarkan diri untuk mengantar Mentari pulang akan tetapi Mentari menolaknya secara halus ia tidak ingin langsung bergerak pada tujuannya untuk mendekati Bright karena itu akan membuat Bright merasa curiga karena perubahan sikap Mentari yang tiba-tiba.
"Tidak apa-apa, saya bisa pulang sendiri. Lagi pula masih ada hal yang ingin saya kerjakan selain ini, belum langsung pulang ke rumah," jawab Mentari kemudian ia kembali membuat wajahnya ditekuk.
"Saya perhatikan wajah kamu dari tadi menunjukkan jika kamu sedang tidak baik-baik saja. Saya khawatir sehingga saya menawarkan diri untuk mengantar dan kebetulan malam ini saya tidak sedang sibuk, jadi saya bisa menemani. Mau kemanapun kamu ingin pergi dan apapun urusanmu di luar, akan saya temani," ucap Bright begitu bersemangat, berharap ia bisa melewati malam ini bersama Mentari walaupun hanya menemaninya saja.
Mentari kembali menggeleng, ia harus melangkah perlahan-lahan agar bisa membuat Bright percaya pada Mentari jika saat ini ia memang benar-benar dalam masalah bersama Zio.
"Terima kasih, Tuan. Tapi lain kali saja, saat ini saya benar-benar ingin sendiri," tolak Mentari kemudian ia berpamitan pada Bright dan memberi kode kepada Juan jika ia ingin segera pergi dari tempat ini.
Sementara itu, Zio kini tengah mengajak Dini untuk bertemu sesuai dengan rencana mereka. Ada Oliver yang menemaninya tetapi tidak semobil. Kali ini Zio harus bisa berhasil mengambil kepercayaan Dini agar wanita itu masuk ke dalam perangkapnya.
Tugas kali ini memang agak berat karena tadi pagi ia sudah membuat Dini merasa malu dan mengabaikannya, dan tiba-tiba ketika malam ia sudah kembali mendatangi Dini. Sungguh sangat tidak akan masuk di akal Dini dan wanita itu pasti tidak akan mudah percaya padanya.
Harun Vindex membukakan pintu untuk Zio, ia menyambut dengan sukacita kedatangan calon cucu menantunya tersebut. Kali ini Zio datang dengan wajah penuh kegembiraan. Untuk bisa menarik perhatian dari keluarga ini dan mendapatkan kepercayaan mereka maka Zio harus tampil maksimal.
"Silahkan masuk Nak Zio," ajak kakek Harun sambil merangkul pundak Zio.
__ADS_1
Zio mengangguk, ia kemudian duduk di sofa bersama kakek Harun dan pria tua itu meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk memanggil Dini.
Beberapa saat kemudian Dini pun turun dari lantai du, ia menatap kaget dan juga heran karena Zio ada di rumah ini. Dalam pikirannya Dini menerka-nerka apakah Zio datang dalam maksud yang baik atau membawa berita yang buruk untuknya. Ia harus bersiap dengan dua hal tersebut dan jika saja Zio berani menolaknya lagi, maka ia akan menghancurkan lewat video tersebut.
"Zio ngapain di?" tanya Dini dengan ketus.
Zio menggulum senyuman, sudah ia duga jika Dini pasti akan bersikap ketus padanya. Namun ia harus bisa mengambil hati wanita ular ini agar jalannya bisa mulus untuk mendapatkan video tersebut dan membuat Dini mengakui jika bayi itu bukan miliknya.
Zio berdiri dan menghampiri Dini dengan wajah yang mulai dibuat sesedih mungkin. Dan oh, oh, matanya mulai berkaca-kaca dan ia segera membawa Dini ke dalam pelukannya.
"Din, maafin aku ya. Tadi aku udah bersikap keterlaluan sama kamu. Kamu pasti nanya kenapa aku kayak gini, tiba-tiba datang dan langsung bersikap peduli. Tadi gue mimpi didatangi calon anak kita dan dia bilang aku adalah ayah yang jahat dan dia tidak mau melihatku. Aku — aku takut tidak bisa jadi ayah yang baik untuknya," ucap Zio panjang lebar dan tak lupa air mata sebagai pelengkap sandiwaranya.
"Udah, aku udah maafin kamu. Sebaiknya kita duduk dulu ya, kita bicarakan baik-baik," ajak Dini dengan suaranya yang begitu lembut.
Bagaimana tidak, saat ini Zio begitu manis padanya dan ia akan memanfaatkan hal ini untuk segera menjerat Zio dalam ikatan pernikahan. Dengan mimpi Zio dan bayi dalam kandungannya Dini yakin Zio pasti tidak akan menolaknya lagi. Ia merasa langkahnya semakin dekat ke pelaminan bersama Zio.
Melihat Dini dan Zio yang sudah akur membuat kakek Harun senang luar biasa. Ia yakin sebentar lagi mereka akan menikah dan bukan hanya mendapat suntikan dana, ia akan membuat Dini menguasai seluruh harta keluarga Ar-Rasyid kelak.
"Kek, maaf karena sikap saya kemarin kurang baik. Saya benar-benar menyesal dan berharap bisa membangun hubungan baik dengan Dini," ucap Zio kepada kakek Harun.
"Sudah dimaafkan. Kakek berharap kalian akan terus akur," sambut kakek Harun dengan senang hati.
__ADS_1
Zio mengangguk sedangkan Dini terus bergelayut manja di lengan Zio. Ingin rasanya Zio mematahkan tangan Dini yang begitu liar menyentuhnya, namun ini belum saatnya. Zio harus bisa menahan diri untuk tidak memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu untuk mengakrabkan diri. Oh ya Kek, besok saya ada proyek di luar kota dan itu akan memakan waktu satu minggu. Dan kalau diizinkan saya ingin mengajak Dini turut serta karena disana juga ada pembukaan resort baru dan Dini pasti akan suka."
Kakek Harun tersenyum kemudian ia mengangguk bahkan tanpa Zio meminta izin pun ia akan mengizinkan Dini untuk pergi bersama calon suaminya ini. Begitupun dengan Dini yang begitu bahagia mendengar ajakan Zio tersebut. Ia tentu saja tidak akan menolak apalagi diajak liburan oleh pria yang ia cintai dan sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Nah kalau begitu bagaimana kalau malam ini kita tidak usah keluar dulu, kamu istirahat karena besok pagi sekali aku akan datang untuk menjemputmu. Atau jika kau masih ingin jalan-jalan bersamaku ya tidak masalah. Tapi awas ya kalau sampai telat bangun, aku bakalan ninggalin kamu!" ucap Zio dengan suara yang begitu manja serta ia mengacak-acak rambut Dini dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya, padahal saat ini dalam hati ia begitu mengumpati rencana Oliver yang membuatnya harus dekat dengan wanita ular ini.
Kalau bukan karena rencana Oliver gue mana mau disentuh sama wanita ular ini. Jangankan disentuh, senyum aja sama dia gue nggak mau! Gerutu Zio dalam hati.
Dini nampak berpikir, ini adalah wanita yang paling sulit untuk bangun pagi walaupun sudah memasang alarm dengan bunyi yang paling keras sekalipun. Ia tidak ingin telat bangun hingga akhirnya Zio meninggalkannya dengan mereka yang tidak akan pergi bersama untuk berlibur. Tapi di sisi lain, ia juga ingin meluangkan waktu malam ini untuk bisa berjalan-jalan bersama dengan Zio.
"Gimana keputusannya, mau jalan atau langsung tidur aja?" tanya Zio sekali lagi, padahal dalam hati saat ini ia berharap Dini akan berkata tidak karena ia sudah sangat merindukan Mentari. Entah bagaimana Mentari menjalankan rencananya untuk mendekati Bright. Membayangkan istrinya itu berbicara manis pada pria lain yang jelas-jelas menyukainya juga membuat hati Zio menjadi panas.
Dini mulai gelisah, dihadapkan dengan dua pilihan yang begitu sulit untuk ditolak membuat dia menjadi bimbang. Akan tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi jalan-jalan bersama Zio karena akan lebih baik ia menunggu hingga pagi nanti agar ia bisa pergi bersama Zio selama seminggu lamanya.
"Gadis pintar! Kalau begitu aku permisi dulu ya, aku juga harus beristirahat karena besok aku harus berangkat pagi-pagi. Jangan lupa langsung tidur dan istirahat yang cukup, jangan begadang dan jangan lupa mimpiin aku ya," ucap Zio seraya mengacak-acak rambut Dini, berusaha terlihat seperti orang yang sedang gemas.
Dini tersenyum mengangguk, kemudian ia menggandeng tangan dia untuk mengantarnya sampai ke mobil. Sebelum itu Zio sudah berpamitan pada kakek Harun. Ia kemudian meminta Dini untuk masuk karena ia akan segera pergi.
Begitu mobil Zio bergerak menjauh dan ada mobil Oliver yang sudah menantinya, mereka pun bergegas menuju ke apartemen Zio karena disana sudah Mentari menunggu bersama dengan Juan.
__ADS_1