CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~25


__ADS_3

Malam ini suasana di rumah Mentari begitu ramai, dimana banyak tetangga yang datang melayat di rumahnya. Suasana haru penuh duka menyelimuti rumah tersebut dimana biasanya ada suara sang ayah yang selalu meledek atau mengoceh tak jelas padanya. Kini suara itu tak ada lagi, berganti dengan suara isak tangis Mentari dan Maya yang kini sedang duduk sambil menatap tubuh Rama yang terbaring di atas kasur di lantai.


Suara lantunan ayat suci terdengar di dalam rumah tersebut, disana juga ada Zio yang sama sekali tidak meninggalkan Mentari sejak dari rumah sakit. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya dan sudah bersibuk membantu menata kursi dan tenda yang akan digunakan oleh para pelayat hingga beberapa hari kedepan di rumah Mentari.


Juan sendiri sudah pulang beberapa saat yang lalu, ia juga mengatakan pada Mentari bahwa ia akan kembali lagi.


Dokter Fardan yang akhirnya diketahui oleh Zio adalah mantan kekasih Mentari sejak SMA itu, belum terlihat di rumah duka. Mungkin ia masih sibuk di rumah sakit dan banyak pasien yang membutuhkan pertolongannya sehingga ia tidak bisa membantu Mentari rumah ini.


Diam-diam Zio merasa senang karena hanya Ia yang ada di saat Mentari dalam kondisi terpuruk. Bukannya dia ingin senang di atas kesedihan Mentari, ini hanya wujud dari kebahagiaan dimana hanya Ia yang bisa mendampingi Mentari dalam suka maupun duka. Orang-orang di sini juga hanya akan mengenalnya sebagai pendamping Mentari di mana tidak ada Oliver, Juan dan juga Fardan.


Maya terus menangis sambil menatap jenazah Rama yang sudah ditutupi kain batik panjang. Sedangkan Mentari, ia memilih untuk membantu Zio di luar menyambut para pelayat yang datang. Hari sudah semakin malam tetapi Zio masih berada di rumahnya dan menggantikan tugasnya untuk menyambut juga mengatur tempat untuk para pelayat.


"Pak Zio , anda tidak mau pulang dulu? Maaf sudah merepotkan Anda, saya sangat tidak enak hati jika sudah begini. Anda sudah melakukan hal yang seharusnya saya lakukan. Maafkan saya ya Pak, tidak seharusnya anda berada di sini dan melakukan semua ini," tutur Mentari yang kini sudah berdiri di samping Zio.


Zio yang sedang bercengkrama dengan salah satu warga yang ada di dekat rumah Mentari langsung menoleh ke samping di mana gadis cantik yang kini matanya begitu sembab dan bengkak itu berada.


"Lu ngomong apa sih Tari. Gue nggak ngerasa direpotin. Dan tolong lu nggak usah pakai bahasa formal sama gue kalau di luar kayak gini. Gue kasihan tahu sama lu. Lagi pula lu di sini nggak punya siapa-siapa, lu nggak punya kerabat laki-laki yang bisa bantuin lu ngurus ini itu, jadi gue inisiatif. Biar gue aja, lu nggak usah mikirin gue. Gue nggak selemah yang lu kira," ujar Zio, satu tangannya ia gunakan untuk mengusap rambut Mentari.


"Terima kasih Zio, kalau nggak ada lu di sini gue nggak tahu bakalan gimana jadinya. Gue emang nggak punya saudara laki-laki jadi dengan adanya lu di sini gue udah merasa terbantu banget. Makasih ya sekali lagi," ucap Mentari dengan tulus.


Zio mengangguk, yang menatap wajah Mentari lamat-lamat, hingga gadis itu kembali menitikkan air matanya. Dengan sigap Zio membawa Mentari ke dalam pelukannya ia tahu seperti apa rasa sedih Mentari saat ini.

__ADS_1


"Lu kalau mau nangis-nangis aja, ada gue di sini tempat lu buat bersandar. Lu boleh cerita apa aja ke gue, keluh kesah lu, gue siap buat dengerin. Gue punya bahu buat lu nyandar. Ingat, dulu gue juga selalu bilang kayak gini sama lu: gue ini adalah a shoulder to cry on. Lu jangan sungkan. Dulu dan sekarang nggak ada bedanya. Gue tetap Zio yang sama kok," ucap Zio sambil mengusap-usap punggung punggung yang terlihat naik turun karena sedang menangis.


Mendengar ucapan Zio tersebut Mentari semakin tersedu-sedu. Ia tentu saja tidak lupa dengan ucapan Zio tentang a shoulder to carry on. Dulu sekali, ketika mereka pacaran Mentari sedang dalam masalah, kesal, Zio akan selalu ada untuk. Ia yang memberikan bahunya untuk tempat Mentari bersandar. Jadi, mana mungkin Mentari lupa dengan semboyan tersebut.


Setelah cukup puas menangis dalam dekapan Zio, Mentari pun melepaskan pelukannya. Tapi ia kemudian membuang muka, ia baru sadar jika sudah memeluk Zio sedari tadi dan bahkan kemeja Zio basah oleh air matanya.


"Lu kenapa malu? Santai aja kali, cuma gue juga lho. Bukannya tadi pagi juga kita udah ciuman ya," goda Zio seraya berbisik di telinga Mentari. Untung saja di dekat mereka tidak ada orang yang mendengar percakapan absurd tersebut.


Zio tersenyum begitu melihat Mentari mengalihkan pandangannya. Ternyata masih sama, ia masih suka menggoda Mentari hingga membuat pipinya memerah.


"Lu cantik kalau lagi malu-malu meong gitu, sumpah!"


Mentari langsung memutar bola matanya jengah, "Hari ini lu udah ngomong itu ke berapa cewek?" cibir Mentari dan Zio hanya tertawa saja menanggapinya.


"Lu udah makan?" tanya Mentari mengalihkan pembicaraan. Ia sempat merutuki dirinya dalam hati karena berani sekali ingatan masa lalunya bersama Zio merusak pikirannya hingga ia hampir saja gagal move on lagi.


Zio menggeleng, "Lu sendiri udah makan? Nyokap lu juga udah makan belum sih?" Zio balik bertanya.


Mentari menggeleng lemah, ia mengatakan jika dirinya tidak memiliki nafsu makan begitupun dengan mamanya. Mentari juga mau minta sih untuk pergi mencari makanan agar tidak kelaparan. Ciuman nolak karena ia tidak ingin makan sendirian jika ia harus makan-makan Mentari dan mamanya pun harus ikut makan juga.


bentar kembali menolak dia juga meminta shio untuk kembali dulu ke rumahnya setidaknya berganti pakaian karena mencari tahu sih sudah sangat keren mengadakan setelan jas tersebut walaupun kini jas itu sudah ia lepas dalam mobilnya dan hanya menyisakan celana panjang dan juga kemeja putih tetapi itu adalah pakaian yang siapkan akan sadari pagi bentar yakin sekali dia sudah gerak dan membutuhkan air untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Gue nggak apa-apa kok masih bisa ketemu ini gue juga nggak lagi sibuk lagi ada urusan lain dan nggak lagi ada kerjaan sama siapapun malam ini pokoknya malam ini buat mama dari anak-anak gue kelak ujar shio yang membuat Mentari menggeplak kepalanya.


Ya sakit dong tari aku masih aja jadi cewek baru-baru sekretaris gue juga ntar juga jadi nangis sama lu ledek Zio.


Oh … oh … andai saja Zio tahu ucapannya barusan sudah membuat Mentari merasa sedih dan kecewa. Ia mengira dirinya lah yang tidak menginginkan oleh Zio sehingga untuk menatapnya atau mengajaknya balikan pun sama sekali tidak. Kini justru dengan gampangnya Zio menyebut nama pria lain untuknya.


Gue mikir apa sih? Harusnya gue nggak usah ngerasa kayak gini juga kali, nggak usah baper sama Zio. Dia mah emang orangnya kayak gitu, buaya buntung, Playboy cap kadal, Casanova dan masih banyak lagi hal buruk yang melekat pada dirinya. Harusnya gue itu senang lepas dari cowok model kayak dia, bukan malah gue tangisi kayak dulu dan gagal move on kayak saat ini.


"Mending lu masuk deh, temenin nyokap lu di dalam. Gue bisa kok di luar sini, sekalian kalau ada berapa pelayat lagi yang datang atau masih ada lagi yang dibutuhkan, gue bisa stay di sini buat bantu-bantu," ucap Zio menegaskan, ia meminta Mentari untuk masuk ke dalam karena sejujurnya ia dari tadi sudah diteror telepon oleh para kekasihnya. Tetapi ia urungkan niat untuk menjawab panggilan telepon dan membalas pesan-pesan tersebut, sebab ia masih merasa bertanggung jawab atas Mentari saat ini.


Bertanggung jawab konon emang gue ini suaminya apa sampai mikir harus bertanggung jawab atas Mentari. Ada-ada aja sih pikiran gue.


"Lu benar nih gue tinggal sendiri?" tanya Mentari memastikan karena sebenarnya ia memang ingin masuk dan melihat keadaan mamanya. Mentari tahu mamanya itu sangat rapuh apalagi mudah hilang kesadaran jika sudah terlalu sedih atau syok.


Zio mengangguk, "Lu masuk, temani nyokap lu. Gue nggak apa-apa kok. Nanti lu juga bakalan balik lagi 'kan kesini. Lu prioritaskan dulu tuh Tante Maya. Gue gampanglah," ujar Zio berusaha meyakinkan Mentari.


Sedikit berpikir akhirnya Mentari mengiyakan ucapan Zio. "Nanti gue balik lagi. Gue bikin lu minuman dulu deh. Tunggu ya, gue nggak repot kok kalau lu mau bilang nggak usah repot-repot," ucap Mentari seraya berlalu dari hadapan Zio.


Begitu Mentari masuk ke dalam rumah, dengan cepat Zio mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia melihat ada beberapa panggilan dari Oliver, Helena dan Bella. Terlebih dahulu menghubungi Oliver dengan beralasan ia sedang berada di tempat kliennya. Lalu ia menghubungi Bella dengan meminta maaf jika jatah bertemu mereka malam ini ditunda karena ia sedang dalam perjalanan keluar kota. Dengan alasan yang sama pun ia berikan pada Helena. Ia kemudian menyimpan ponselnya begitu melihat Mentari keluar dengan membawa nampan berisi secangkir minuman.


"Assalamu'alaikum Tari, maaf ya aku baru datang. Tadi masih ada beberapa pasien aku. Tante Maya gimana keadaannya? Rumah kamu udah rame ya sama pelayat. Besok kayaknya lebih ramai lagi. Kamu yang kuat ya Tari. Kalau ada apa-apa bilang saja sama aku, jangan sungkan."

__ADS_1


Mentari mengangguk, "Pasti Fardan. Ya udah ayo kita duduk disana, kebetulan disana ada atasanku di kantor. Aku akan mengenalkanmu padanya," ajak Mentari.


Apa-apaan sih Mentariii!! Lu kok bisa aku-kamu-an ngomong sama dia sedangkan sama gue lu nggak gitu. Gue 'kan juga mantan lu yang pernah Ayang-ayangan juga pernah aku-kamu-an!


__ADS_2