
Zio langsung membungkam mulut Mentari dengan ciumannya. Gadis itu tak sempat lagi bertanya apapun karena Zio tidak mengizinkannya. Bagi Zio, tidak boleh ada keraguan di hati Mentari terhadapnya. Ia tidak suka karena sejak awal mereka bersama, Zio sudah memperjuangkannya dan hubungan mereka akan berjalan sebagaimana mestinya seperti yang mereka harapkan.
Ciuman itu terlepas sebab Zio merasa Mentari tanya diam saja tanpa membalasnya. Ia benar-benar terkejut saat mendapati ternyata Mentari tengah menangis. Buru-buru ia menghapus jejak air mata tersebut dan langsung memeluk kekasihnya itu.
"Maaf," lirih Zio, ia sadar kalau kemungkinan Mentari menangis karena ia cium dengan begitu ganas.
Kepala Mentari menggeleng, ia kemudian memeluk Zio dengan erat. Ia bukan menangis karena ciuman itu melainkan karena teringat jika sebentar lagi ia akan meninggalkan Zio, meninggalkan tanpa berpamitan dan yang jelas Zio pasti akan marah besar padanya.
"Yang, kok makin kencang nangisnya? Aku minta maaf kalau ciuman aku bikin kamu nggak nyaman. Maaf Yang, jangan nangis lagi ya," lirih Zio, sungguh suara tangis Mentari ini membuat Zio resah.
Bukannya berhenti, Mentari justru semakin mengeratkan pelukannya dan juga mengencangkan tangisnya. Entah mengapa ungkapan maaf Zio semakin menusuk hatinya. Ia sadar benar dengan perubahan Zio dan ia merutuki dirinya yang tidak siap berjuang bersama. Mungkin karena ia terlalu banyak menemani mamanya menonton sinetron sehingga ia khawatir kisah-kisah itu akan terjadi padanya.
Mentari memang orang yang blak-blakan dan tidak takut jika tidak salah. Tapi ia juga memiliki hati yang sensitif dimana ia tidak siap jika harus menerima hinaan dan cercaan. Ia tidak mampu jika seseorang sudah menyinggung harga dirinya.
Sikapnya yang selalu saja tidak mau kalah itu hanya agar ia terhindar dari seseorang yang mungkin akan menyentil hatinya sehingga lebih baik ia menyerang lebih dulu. Dan juga tentang cinta yang tak direstui, rasanya Mentari tidak siap saat ini untuk melakukan misi agar menjadi kesayangan calon mertua, khususnya calon kakek mertua.
Tak ingin membuat Zio semakin khawatir dan kebingungan, Mentari pun menghentikan tangisnya dan mengelap wajahnya. Walaupun masih sesenggukan, ia berusaha memasang senyumannya sebelum ia kembali menatap Zio.
"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Zio begitu Mentari sudah kembali menatapnya.
__ADS_1
Kepala Mentari menggeleng, "Nggak, cuma terharu aja sama kamu. Jangan tinggalin aku ya, aku sayang dan cinta banget sama kamu," ucap Mentari dengan suara lirih, ia hampir menangis lagi kalau saja Zio tidak langsung memeluknya dengan erat.
"Buang jauh-jauh pikiranmu itu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Zio, ia mendekap erat tubuh Mentari seolah ia akan kehilangannya setelah ini.
Entah mengapa gue punya feeling nggak enak soal Mentari. Gue ngerasa ada yang bakalan terjadi, tapi apa? Semoga bukan hal yang buruk.
Cukup lama keduanya berpelukan, Mentari bahkan hampir tertidur di pelukan Zio karena ia merasa teramat nyaman. Khawatir kalau sampai benar ia tertidur, Mentari melepaskan pelukannya. Ia kemudian menangkup kedua pipi Zio dengan tangannya lalu ia menciumi wajah Zio. Ia kecup perlahan kedua pipi itu bergantian, lalu ia mengecup bibir Zio secara kilat dan berakhir dengan kecupan di dahi dengan durasi sedikit lebih lama.
Bibir Zio tersenyum, mendapat ciuman tanpa ia minta dari sang kekasih tentu saja merupakan bonus baginya. Bibirnya menyeringai, sepetinya ia harus membalas perlakuan manis dari Mentari.
Benar saja, setelah Mentari menjauhkan bibirnya dari dahi Zio, kekasihnya itu membalas menangkup kedua pipi Mentari lalu melakukan hal yang sama dengan yang tadi Mentari lakukan.
Keduanya kemudian saling menatap dan Zio kembali mendekatkan bibirnya untuk mencium Mentari namun baru saja hampir menempel, bunyi bel langsung mengagetkan Zio. Mentari pun refleks membuang muka sebab ia merasa malu ciuman mereka ada yang menginterupsi.
Dengan terburu-buru Zio berjalan ke arah pintu dan ketika ia membukanya, sebuah pukulan langsung mendarat di pipinya. Zio sampai tersungkur dan hampir jatuh di lantai jika saja punggungnya tidak membentur dinding.
"Dasar anak kurang ajar, papi sudah membebaskanmu pacaran dengan Mentari tapi ternyata sama saja, kau tetap saja menjadi pria brengsek!" umpat Danu, orang yang baru saja memberikan pukulan di wajah tampan Zio.
Merasa tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh papinya, Zio pun mencoba untuk bertanya. Namun belum sempat ia mengeluarkan suaranya, dari belakang Danu kini muncul Dini dan juga kakek, mami dan juga Juan.
__ADS_1
Zio merasa heran, mengapa tiba-tiba seluruh keluarganya sudah datang ke apartemen ini sedangkan ia tidak sedang membuat acara atau ajakan untuk berkumpul. Yang lebih mengherankan lagi, papinya yang datang dan langsung memberinya pukulan.
"Ada apa sebenarnya ini Pi, Mi?" tanya Zio, ia meringis begitu merasakan perut di sudut bibirnya.
"Dimana sekretarismu itu? Apa kau sudah selesai bermain dengannya?" tanya kakek Rasyid. Ucapannya itu tentu saja menohok hati Zio dan juga Juan.
Karena mendengar suara ribut-ribut dari luar, Mentari yang masih menunggu kedatangan Zio di ruang nonton pun berinisiatif untuk keluar. Ia terkejut karena melihat seluruh keluarga Zio ternyata berada di apartemen ini.
Belum ada yang menyadari kedatangannya, hingga Dini menangkap dengan tatapan matanya. "Itu dia disana," seru Dini sambil menunjuk ke arah dimana Mentari berdiri.
Semua pandangan tertuju pada Mentari, gadis itu menjadi bingung karena mereka menatapnya dengan tatapan aneh. Zio langsung berlari, perasaannya mengatakan bahwa ia harus melindungi kekasihnya ini.
"Zio, ada apa?" tanya Mentari, ia menjadi gugup karena melihat mereka semua menatapnya dan tatapan itu tidak ramah.
Dengan cepat Lolita mendekati Mentari dan langsung menamparnya tanpa ragu. Hal itu sontak saja membuat Zio kaget dan ia langsung memeluk Mentari dan juga membentak maminya karena sudah berani menampar kekasihnya tanpa tahu dimana letak kesalahan Mentari. Ia juga bertanya-tanya mengapa bisa maminya bersikap kasar seperti ini.
"Aku pikir anakku jatuh cinta dengan wanita baik-baik, ternyata dugaanku salah. Zio kembali jatuh cinta pada wanita murahan sepertimu. Sekarang sebaiknya kau pergi dan tinggalkan putraku. Aku sebagai maminya tidak akan terima jika kau menjadi kekasih anakku. Tinggalkan Zio dan katakan berapa banyak uang yang kau inginkan. Aku akan memberikannya untukmu asalkan kau meninggalkan putraku," ucap Lolita penuh emosi, ia menangkupkan kedua tangannya memohon di hadapan Mentari.
Merasa malu dan juga diinjak-injak harga dirinya, Mentari langsung melepaskan rangkulan Zio dan ia segera berlari keluar dari apartemen Zio dengan membawa air matanya yang kini sudah menjejak di pipinya.
__ADS_1
Zio berusaha mengejar namun langkahnya dicegat oleh papinya dan Juan pun kini berlari keluar untuk mengejar Mentari. Jujur saja ia tidak yakin dengan tuduhan yang dilayangkan terhadap Mentari. Namun sayang ia tidak mendapati jejak Mentari dan ia pun tidak mau tertinggal, ia menekan tombol pintu lift agar ia bisa segera menyusul Mentari.
"Gue sudah pernah bilang sama dia kalau hubungannya dengan kak Zio itu pasti akan sulit dan sekarang terbukti. Tapi aku tidak percaya dengan cerita Dini tadi. Mentari bukan gadis murahan dan gampangan, aku yakin itu!" gumam Juan di dalam lift.