
Malam ini terasa begitu panjang bagi Zio. Ia merasa kecewa terhadap papi dan juga kakeknya, karena mereka begitu cepat menerima kabar dari Dini dan menghakiminya. Semua masih tentang perjodohan dan masih tentang mereka yang menentang hubungannya dengan Mentari. Namun walau apapun usaha yang dilakukan oleh mereka, Zio tidak akan melepaskan Mentari lagi.
Semalaman ia berusaha mencari pekerjaan dengan menghubungi teman-temannya, ia butuh pekerjaan untuk keberlangsungan hidupnya dan modal untuk nantinya ia membina rumah tangga dengan Mentari.
Zio sudah membuat daftar hal-hal yang nantinya akan ia penuhi saat ia dan Mentari akan menikah. Sudah begitu banyak rencana dan rencana dan Zio tidak ingin gagal. Ia bukanlah pria yang pernah gagal kecuali mempertahankan hubungannya dengan Mentari dahulu.
"Sekarang tinggal menunggu hasilnya. Uang gue sebenarnya masih banyak dan gue sebenarnya bisa membuka usaha gue sendiri dengan menjual apartemen ini dan pindah ke rumah kontrakan untuk sementara waktu, tapi gue masih harus merencakan itu lebih matang lagi," gumam Zio sambil menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangan yang ia silangkan di bawah kepalanya sebagai bantal.
Ya, Zio berniat menjual apartemennya dan akan membuka usaha. Bukan usaha seperti milik keluarganya, ia lebih tertarik membuka kafe yang modern dan banyak digandrungi anak-anak remaja hingga dewasa. Zio sudah memiliki impian itu sejak beberapa tahun yang lalu hanya saja pekerjaan dari keluarganya yang turun-temurun harus ia tangani dan keinginannya itu belum bisa ia realisasikan.
"Oh, atau enggak nanti gue buka kafe dan Mentari bakalan mengelolanya. Gue sebenarnya nggak mau ninggalin keluarga gue, semua ini semata sebagai bentuk protes gue. Gue bukan nggak mau berbagi dengan Juan, tapi gue udah hafal style anak itu bukan di bidang yang gue geluti. Dia aja setengah-setengah kerja di kantor. Ahh ... perusahaan bisa bangkrut kalau Juan yang menjalankan tugas CEO!" Zio duduk dan mengacak-acak rambutnya.
Zio berpikir bahwa walaupun ia marah akan tetapi ia tidak ingin menghancurkan keluarganya apalagi bisnis milik sang kakek sebab papinya sudah memiliki bisnisnya sendiri. Zio tidak ingin perusahaan yang sudah membesarkan nama kakeknya itu hancur karena walau bagaimanapun ia begitu menyayangi kakeknya terlepas dari sikap keras kepala mereka berdua yang memang memiliki banyak kesamaan itu, Zio tetap peduli.
"Perjodohan sialan! Tapi entah mengapa gue merasa ada yang nggak beres. Tuan Vindex itu orang kaya raya dan terkenal, dia tidak mungkin memaksakan perjodohan sedangkan dia juga memiliki banyak rekan bisnis yang lebih mapan dari keluarga gue. Apa gue harus menyelidiki mereka? Tapi apa yang harus gue selidiki? Dini aja ngebet banget sama gue. Haiihhh!"
Akhirnya malam itu berlalu dengan Zio yang terus berperang dengan pemikirannya. Ia bingung dengan semua rencana di kepalanya dan berharap esok hari akan ada jawaban atas segala tanya yang ia pertanyakan.
__ADS_1
Sedangkan di tempat berbeda, Dini dan Bright sedang membahas tentang rencana mereka. Keduanya saat ini baru menyelesaikan olah raga panas itu dan Dini langsung meminta Bright untuk menolongnya.
"Bright, kalau lu ingin dia tetap baik-baik saja maka turuti semua keinginanku. Lu adalah harapan gue, Bright. Lu tahu sendiri kalau gue hanya sedang membantu kakek makanya gue lepasin lu. Gue mohon Bright, cuma lu yang bisa bantu gue!" ucap Dini dengan mengiba, ia berharap Bright mau ikut berpartisipasi dalam rencananya ini.
Bright nampak berpikir, padahal tadi sore ia sendiri yang mengatakan hal ini pada Dini akan tetapi entah mengapa ia mendadak diam saja dan seolah sedang menimbang keinginan Dini. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Dini merasa frustrasi.
Tidak semudah itu amor, gue ingin lu memohon. Dan sialnya kenapa sejak tadi gue malah memikirkan wanita murahan itu? Lihat dia marah tadi waktu meeting bikin jantung gue berdebar-debar nggak karuan dan waktu gue lihat dia jalan sama cowok dada gue juga mendadak terasa panas. Gue sebenarnya kenapa?
Bright tersentak saat Dini menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahnya. Ia seketika menatap Dini dan kini kekasihnya itu terlihat sedang cemberut. Bright harus memutar akal agar Dini tidak curiga padanya. Lagi pula, siapa wanita itu, kenapa berani sekali mengganggunya lewat pikiran. Bright mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Mentari hanya seseorang yang membuatnya pusing dan ia terus memikirkannya karena masih merasa kesal sebab pernah menggoda daddynya.
"I'm sorry amor, gue tadi lagi memikirkan rencana yang tepat sebagai langkah awal. Dan gue sudah punya ide untuk memulai rencana. Lu bilang dia punya kekasih, bukan? Gue bakalan mulai dari kekasihnya," ucap Bright.
"Bagus. Kalau bisa lu culik aja terus bunuh saja biar nggak ada pengganggu lagi. Atau terserah lu deh bagiamana baiknya. Intinya jangan sampai dia menghancurkan rencana gue sama kakek. Gue yakin lu lebih berpengalaman soal hal seperti ini. Lu pasti bisa lah mendekati gadis itu. Tapi lu harus hati-hati juga karena dia tipe wanita pemberani dan nggak mandang siapapun yang berbicara sama dia. Dan ya, meskipun gue nggak suka ngomong ini tapi dari yang gue lihat dia itu tipe wanita setia banget," ucap Dini sedikit banyak menjelaskan tentang Mentari.
Semakin menarik saja. Gue makin penasaran dan kalau emang wanita itu semenarik cerita Dini, biar aja Dini bareng Zio dan gue bakalan ambil wanita itu.
Bright menyeringai dengan rencana sendiri, ia akan segera melakukan permintaan Dini.
__ADS_1
"Lu punya foto orangnya?" tanya Bright.
Dini berdecak, "Lu ingat nggak cewek tadi yang gue fotoin di motor?" tanya Dini dan Bright mengangguk.
Bright mulai menerka-nerka karena ia tahu sosok yang tadi dimaksud oleh Dini. Wanita yang membuat dirinya menjadi aneh dengan perasaan dan tubuhnya sendiri.
"Ya, kenapa dengan wanita itu?" tanya Bright dan ia berharap mendengar jawaban yang tidak ia inginkan.
Dini menghela napas, mengingat tentang Mentari selalu saja membuatnya kesulitan bernapas. "Dia itu kekasihnya Zio. Dan sialnya lagi ternyata cowok di motor yang boncengan sama dia tadi itu ternyata adalah Zio. Gue sampai malu di rumah keluarga Ar-Rasyid waktu gue coba tunjukkin bukti kalau Mentari selingkuh eh ternyata cowok itu ya ternyata Zio. Itu tadi makanya gue bilang dia tuh tipe orang setia banget. Gue udah dengar cerita kalau mereka itu dulu pacaran dan karena Zio meneruskan pendidikannya di luar negeri makanya mereka putus dan sekarang udah balikan lagi."
Panjang lebar penjelasan Dini, Bright hanya bisa menangkap nama Mentari, kekasih Zio dan juga kesetiaan hubungan yang sudah bertahun-tahun. Ia mulai meragu jika dulu Mentari yang menggoda daddynya. Sebenanrya saat tahu data-data tentang sekretaris daddynya itu, Bright tidak percaya jika seorang gadis cantik dan berpendidikan mau dijadikan istri ke empat daddynya.
Akan tetapi setelah hal tersebut ia dengar langsung dari daddynya yang berkata ingin menikah dengan sekretarisnya, maka Bright mulai membenci. Ia yang awalnya masih meragu dibuat yakin karena daddynya bahkan menikahi gadis muda yang berstatus sebagai office girl di kantor daddynya.
Mentari ya, tunggu aja. Sebentar lagi kita bakalan ketemu dan gue mendadak jadi makin penasaran sama lu. Dan gue bakalan hancurin lu juga karena lu udah bikin ibuku meninggal dengan membawa rasa sakit hatinya. Lu harus mendapatkan balasan, begitupun dengan istri ketiga Daddy. Semua akan ada waktunya.
"Baik, gue bakalan mulai dari kekasihnya itu. Lu tenang aja amor, semua akan berjalan sesuai keinginanmu. Kau duduk manis saja dan tunggu kabar dari gue," ucap Bright dengan bibirnya menyeringai menakutkan namun Dini justru sangat menyukai ekspresi Bright saat ini.
__ADS_1
Sebentar lagi lu bakalan hancur Mentari! Dan gue yang bakalan nikah sama Zio. Bersiaplah!