
Mentari buru-buru menuju ke rumah sakit, ia bahkan tidak sengaja menabrak Juan yang berpapasan dengannya di lantai satu. Juan merasa heran dengan sikap Mentari tetapi ia tidak sempat bertanya karena Mentari sudah jauh melangkah.
"Dia kenapa?" gumam Juan.
Juan kemudian berpikir untuk menyusul Mentari tetapi ini masih jam kerja dan ia tidak boleh pergi keluar jika tidak memiliki kepentingan. Alhasil Juan memilih kembali ke ruangannya dan nanti ia akan menghubungi Mentari.
Sementara itu, di ruangan CEO saat ini Zio dan Oliver sedang membahas tentang Mentari, Zio yang selalu mengelak dan Oliver yang terus mendesaknya.
"Apa gue nggak salah dengar nih? Mentari pacaran sama Juan?" ulang Oliver, ia menolak percaya tapi Zio terus berusaha meyakinkan dirinya.
Tidak terima dengan langkahnya yang seolah diputus oleh Juan, Oliver segera keluar dan mencoba bertanya pada Mentari tentang kebenarannya.
Namun yang Oliver dapatkan hanyalah meja dan kursi yang kosong. Mentari tidak berada di tempat dan tasnya juga sudah tidak ada. Zio yang membuntuti Oliver juga dibuat heran karena Mentari pergi entah kemana.
"Kemana dia?" tanya Oliver pada Zio.
Zio menggeleng, ingin rasanya ia menggeplak kepala Oliver. Jelas-jelas tadi mereka sedang bersama di dalam ruangan, tentu saja Zio tidak akan tahu kemana Mentari pergi.
"Mungkin Mentari sudah terbenam karena sebentar lagi bulan bakalan datang," jawab Zio asal.
Oliver mendengus, bukan jawaban yang ingin ia dengar. Oliver kemudian menghampiri Ramon di ruangannya. Ia menanyakan soal Mentari, hatinya belum tenang bila belum mendengar langsung dari Mentari jika ia berpacan dengan Juan.
"Nona Mentari baru saja pulang. Orang tuanya kecelakaan dan ia meminta izin untuk pulang cepat," jawab Ramon ketika Oliver menanyainya.
"Kecelakaan?" tanya Zio dan Oliver bersamaan.
Ramon menjawab dengan anggukan. Zio mencecar Ramon tentang apakah dan dimana orang tua Mentari dibawa. Ramon mengatakan jika ia sama sekali tidak tahu karena tidak sempat bertanya.
__ADS_1
Oliver langsung pergi, ia ingin mencari Mentari dan menjadi sosok pahlawan di keluarga Mentari sehingga ia bisa mendapatkan simpati dan empati dari keluarga calon jodohnya itu.
Tak mau kalah, Zio juga melakukan hal yang sama tetapi setelah Ramon mengingatkan jika masih ada urusan penting yang harus Zio kerjakan, ia mengurungkan niatnya mencari Mentari dengan hati yang kesal.
Awas saja kalau lu sampai jadian sama Mentari, nggak bakal gue anggap saudara. Biar lu sama aja kayak anak sampah itu. Kenapa ayah dan nenek masih mempertahankan anak sialan itu di rumah utama, membuatku geram saja!
Mau tidak mau Zio kembali ke ruangannya. Nanti saja ia akan bertanya ada Mentari tentang kecelakaan orang tuanya. Zio harus tetap menyelesaikan pekerjaannya karena ini adalah tugasnya.
Sementara itu ...
Di kediaman rentenir Banyu, Maya terlihat menatap nyalang kepala pria yang baru saja berharap jadi menantunya ini. Jika dihitung-hitung usia pria ini sebaya dengan suaminya, mana mungkin ia tega membiarkan Mentari menikah dengannya.
"Saya bisa memberikan sertifikat rumah tuan Banyu," ucap Maya, ia tentu saja tidak mungkin menikahkan Mentari dengan pria tua.
Banyu terkekeh, memang tidak akan mudah untuk mendapatkan keinginannya yang satu ini. "Ya sudah, aku meminjamkanmu uang tetapi jika dalam waktu lima bulan kau tidak sanggup membayar, maka kau tahu apa yang harus kau lakukan," ucap Banyu.
"Terima kasih tuan Banyu, saya harus pergi," ucap Maya lega setelah ia mendapatkan uang pinjaman. Dengan cepat ia pergi menuju ke rumah sakit.
Nanti jika mas Rama sudah siuman dan kembali bekerja maka kami akan mudah membayar utang. Mentari pasti juga akan membantu membayarnya.
Maya memasuki area rumah sakit, ia langsung menuju ke bagian administrasi dan melunasi biaya pengobatan suaminya. Maya kemudian berjalan ke arah dimana suaminya di rawat. Disana juga sudah ada Mentari. Hanya saja dokter tidak mengizinkan mereka untuk menengok.
"Bagaimana Ma?" tanya Mentari.
Maya menganggukkan kepalanya, ia menyatakan pada Mentari jika pengurusan administrasi papanya sudah selesai dan kini dokter akan melakukan operasi juga beberapa penyembuhan pada luka-luka beratnya.
Mentari sedikit bisa bernapas lega karena masalah rumah sakit papanya sudah ditangani dan Mentari sangat yakin jika mamanya meminjam uang pada Banyu.
__ADS_1
Sekarang Mentari harus memikirkan bagaimana cara melunasinya karena ia bahkan sudah mendapat potongan gaji di dua hari pertama ia masuk kerja. Papanya yang tidak mungkin langsung bekerja juga mamanya yang memang tidak punya pekerjaan
"Berapa lama waktu yang diberikan Banyu untuk melunasi utang itu, Ma?" tanya Mentari.
"Lima bulan," jawab Maya.
"Apa?! Cuma lima bulan Ma?" pekik Mentari.
.
.
Sementara itu, di kantor jam kerja sudah selesai dan Juan berniat untuk mencari Mentari. Ia menghubungi ponsel Mentari dan senang sekali karena Mentari langsung menjawab panggilan teleponnya. Juan bisa mendengar suara lirih Mentari, ia pun menanyakan perihal tadi Mentari yang sama sekali tidak mempedulikannya.
"Oh maaf Juan, gue tadi nggak merhatiin lu. Gue buru-buru ke rumah sakit karena bokap gue kecelakaan dan sekarang lagi di operasi," ucap Mentari ketika Juan mengatakan tentang kejadian tadi di kantor.
Juan yang baru akan masuk ke dalam mobilnya lansung tersentak, "Bokap lu kecelakaan? Terus lu di rumah sakit mana, biar gue bisa datang untuk menjenguk."
Mentari pun menyebutkan alamat rumah sakit dan Juan mengatakannya kembali seolah ingin memastikan kalau yang ia dengar tidak salah agar tidak salah alamat.
Tanpa sepengetahuan Juan, di belakangnya ada Zio yang mencuri dengar pembicaraan Juan dan Mentari. Ia sangat kesal karena Juan lebih selangkah di depannya untuk merebut kembali hati Mentari. Tetapi Zio kembali tersadar, ia tidak boleh melakukan ini pada Mentari sebab ia sudah tidak memiliki rasa pada gadis itu.
Zio dikelilingi wanita cantik, mana mungkin ia akan kembali pada Mentari. Tapi entah mengapa ia selalu merasa gelisah ketika ada pria yang mendekati Mentari. Semacam perasaan tidak rela dan Zio bisa saja mengamuk pada orang yang menyukai Mentari. Namun ia menyangkalnya, Zio yakin ia tidak benar-benar jatuh cinta pada Mentari.
"Gue nggak mungkin masih cinta sama dia. Ini mungkin hanya karena bayang-bayang masa lalu. Ya, gue udah nggak cinta sama Mentari!"
Zio berusaha meyakinkan dirinya jika ia tidak memiliki lagi rasa yang sama. Namun beberapa saat kemudian ...
__ADS_1
"Sial! Gue harus segera ke rumah sakit sebelum Juan menjadikan Mentari kekasihnya jika mereka bertemu berdua nanti. Gue harus jadi orang ketiga!"