CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~78


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit dan itu artinya waktu istirahat sekaligus jam makan siang telah sampai. Para karyawan begitu semangat untuk keluar dari ruangan mereka meninggalkan pekerjaan mereka untuk beristirahat. Berbeda dengan Mentari yang masih fokus dengan pekerjaannya. Ia memang tidak ada rencana makan diluar karena Zio sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota.


Mawar yang melihat Mentari sibuk dengan komputer di hadapannya lansung menepuk meja Mentari. "Gue bukan bos kejam, ya. Sekarang sudah waktunya istirahat dan gue perintahkan lu buat lepasin pekerjaan lu sekarang dan temani gue makan siang!" ucap Mawar dan Mentari hanya memutar bola matanya malas.


"Gue malas dan pekerjaan gue lebih penting. Tapi gue nitip makanan deh kalau lu nggak keberatan," ucap Mentari. Ia merasa sangat tanggung meninggalkan pekerjaannya yang masih tersisa sedikit lagi. sayang sekali jika ditinggalkan.


Mawar memutar bola matanya malas. Entah ia harus bersyukur atau kesal memiliki karyawan seperti Mentari. Sudah hampir sebulan Mentari bekerja dengannya dan ia sudah hafal dengan tabiat sahabatnya itu yang tidak akan meninggalkan pekerjaannya jika sudah hampir selesai. Kadang Mawar berinisiatif untuk membawa bekal makanan atau memesan makanan agar ia bisa membaginya dengan Mentari.


Hanya ketika Zio mengajak Mentari keluar maka sahabatnya itu mau tidak mau akan meninggalkan pekerjaannya sebab Zio adalah tipe pria pemaksa dan entah mengapa Mentari begitu cepat luluh pada keinginan Zio.


"Baiklah," ucap Mawar dan ia bergegas meninggalkan Mentari sebab ia sudah sangat kelaparan.


Tak lama berselang setelah Mawar pergi, Mentari yang masih sibuk dengan pekerjaannya kembali dibuat terhenti karena seseorang datang lagi mengganggunya. Ia menghela napas berusaha untuk bersabar karena ia tahu saat ini memang waktunya istirahat dan ia saja yang ingin terus bekerja.


"Ada apa la--" Ucapan Mentari terhenti ketika ia menyadari bahwa yang saat ini berdiri di sampingnya bukanlah Mawar melainkan pria yang ia hindari beberapa Minggu ini.

__ADS_1


"Hai," ucap Bright sambil tersenyum manis. Bagaimana bisa Bright datang mendekati Mentari lagi, itu karena ia tahu Zio sedang tidak berada di kota ini dan dari mata-mata yang ia tempatkan di perusahaan ini, ia selalu mendapat kabar tentang Mentari.


Bright sudah jatuh cinta dan ia bahkan lebih gila dari pada ketika ia merasakan cinta terhadap Dini kala itu. Mentari memang berbeda, banyak pria yang dekat dengannya akan jatuh cinta padanya namun bukan karena ia memiliki ilmu pengasih atau memakai susuk pemikat. Sikap dan wajahnya memang mengandung magnet yang bisa menarik orang agar menyukainya. Bukan kesalahan Mentari, sudah setelan pabrik.


"Ada apa? Apakah kita memiliki jadwal meeting hari ini?" tanya Mentari. Itu bukan sekadar pertanyaan, itu adalah sebuah singgungan karena Mentari sangat tahu ia dan Bright tidak memiliki jadwal pertemuan apapun karena urusan mereka sudah selesai dua hari yang lalu.


Bright memainkan lidahnya di dalam mulut. Memang sangat sulit mengajak Mentari untuk berbicara berdua diluar masalah pekerjaan. Akan tetapi bukan tidak mungkin karena Bright tahu jika ia bersungguh-sungguh maka Mentari akan luluh juga.


"Tidak, hanya saja kerja sama waktu itu berhasil dan saya berencana mengajak Anda dan nona Mawar untuk makan bersama jika tidak keberatan," jawab Bright.


Membawa-bawa nama Mawar adalah satu alibi yang paling pas agar Mentari tidak curiga. Bright tentu tahu jika Mawar sudah keluar lebih dulu, hanya untuk formalitas saja dan ketika Mentari mengiyakan maka ia akan pergi berdua saja karena Mawar tidak bisa turut serta.


Mentari tahu Zio pasti mengawasi walau tidak secara langsung dan bagi Mentari yang cintanya luar biasa berlimpah hingga tumpah-ruah terhadap mantan casanova itu, hanya dengan berbicara saja bersama Bright ia sudah merasa berselingkuh dari Zio dan ia sangat tidak suka situasi ini.


"Maaf tuan Bright, saya tidak bisa pergi bersama Anda dan Bu Mawar juga sudah keluar sejak tadi. Lain kali saja karena saat ini saya sedang sibuk," tolak Mentari, dia tidak peduli apakah penolakannya terkesan halus atau kasar karena itu tidak penting baginya.

__ADS_1


"Auh." Bright sedikit mende-sah karena lagi dan lagi keinginannya ditolak oleh Mentari. Ia sebenarnya bisa saja memakai cara yang kasar akan tetapi dia ingat betul siapa Mentari. Kekasih Dimas Ezio Rasyid ini tidak bisa diperlakukan sembarangan jika tidak ingin kehilangan kekayaan dan kemakmuran hidup mereka.


Ancaman Zio tentu saja sangat berlaku untuk Bright, hanya saja ia yang sudah jatuh cinta tetap keras kepala dan curi-curi waktu untuk bisa menemui Mentari. Ia bahkan melupakan keberadaan Dini dan fokusnya hanya untuk mendapatkan Mentari akan tetapi ia tetap memberikan Dini ide untuk terus memepet Zio dan akhirnya mereka bersatu lalu Mentari akan menjadi miliknya.


"Baiklah. Mungkin lain kali saja. Oh ya, maaf jika aku sering menghubungimu dan memberitahukan tentang tuan Ezio, akan tetapi aku hanya peduli denganmu karena aku melihat sendiri bagaimana dia bersama dengan seorang wanita di club' malam. Aku tidak bermaksud buruk, hanya cukup peduli padamu. Bagaimanapun kau adalah rekan bisnisku," ucap Bright mencoba mengajak Mentari mengobrol dan ia memang sengaja mengambil tema ini agar Mentari semakin terhasut padanya.


Mentari tersenyum, ia sudah mendapat wejangan dari Zio tentang dirinya yang tidak boleh merasa curiga dan harus bertanya langsung jika merasakan atau melihat dan mendengar sesuatu yang buruk tentangnya. Mentari tidak akan gampang terhasut karena yang ia rasakan adalah Zio selalu jujur padanya dan cinta Zio itu tidak bisa dianggap main-main.


Gadis cantik ini juga merasa jika Bright punya maksud terselubung dengan seringnya memberikan informasi tentang keburukan Zio padanya. Entah bagaimana bisa disetiap tempat selalu saja Bright menemukan Zio. Mentari sudah lama menyimpan curiga akan tetapi ia lebih memilih diam karena ia percaya pada Zio yang tidak mungkin menyakitinya.


"Ah ya, Anda benar sekali tuan Bright. Zio memang sangat suka ke club' malam dan bertemu dengan para wanita. Dia adalah seorang casanova kelas kakap dan saya memakluminya. Saya tidak menyalahkan laporan Anda karena memang itu benar adanya. Dia memang sangat suka mengencani banyak wanita di belakang saya. Saya sudah maklum, saya saja yang bodoh karena jatuh cinta padanya. Padahal dia itu nyata-nyata pria tidak baik. Otakku mungkin sudah salah," ujar Mentari.


Bola mata Bright seolah akan menggelinding keluar saat mendengar ucapan Mentari. Bagaimana bisa dengan sesantai dan sesemangat itu Mentari menceritakan keburukan Zio. Jika seperti itu maka yang ia lakukan selama ini hanyalah sia-sia saja. Jika tahu begitu maka Bright tidak perlu repot-repot mengikuti Zio atau mengedit foto dengan menyewa jasa pengedit foto tersebut.


"Oh ya? Kau memang sangat bodoh. Tinggalkan saja lelaki itu, masih banyak yang lainnya di luar sana. Kau tidak akan bahagia dengan pria yang mengencani banyak wanita," ujar Bright, ia berharap ucapannya akan didengar oleh Mentari dan Mentari akan melakukan apa yang ia katakan barusan.

__ADS_1


Mentari memasang pose seolah sedang berpikir, "Anda benar. Akan tetapi saya sangat mencintainya. Saya tidak mungkin meninggalkannya. Dia terlalu sesuatu bagi saya. Jadi berhentilah mencoba untuk menjatuhkan harga diri dan juga membuat fitnah buruk tentang Zio. Aku yang lebih tahu tentang dia. Setiap malam kami selalu melakukan panggilan Video dan Anda jangan coba-coba memfitnah Zio!" bentak Mentari yang sudah bosan meladeni permainan Bright.


"A-apa? Kau? Bagaimana bisa?!"


__ADS_2